Harapan Kecilku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 13 February 2019

Hari ini tahun ajaran baru dimulai. Semua pelosok penjuru telah bersiap-siap melangkah untuk bersekolah kembali, berbeda halnya denganku dengan langkah terseok-seok seakan tak mampu lagi untuk melangkah mencari sedikit pertolongan mengaitkan selehai keberanian untuk meneruskan langkah kaki yang tidak pasti ini. SEKOLAH? aku sering membayangkan layakkah gadis kecil dekil dan kotor seperti diriku ini untuk bersekolah. Aku ingin sekolah bemain bersama teman mengukir kenangan Indah yang tercipta, pasti menyenangkan.

Aku memikirkan diriku adakah seorang yang berhati malaikat membantuku. Paling tidak untuk memupuh diri ini yang terkulai lemah. Aku menangis memperhatikan dari kejauhan sebuah sekolah dasar yang penuh dengan siswa dan siswi serta para orangtua menemani anaknya.

Tangis dengan tawa bercampur menjadi satu suatu kesatuan yang tak satu namun berusaha disatukan. Percuma aku menangis karena aku menangis berapa banyak pun airmataku tetap diam. Kemudian aku memilih untuk beranjak agar luka ini tidak tergores lagi.

Aku berjalan menikmati udara pagi meski suara bisingan kendaraan mengatup tak beraturan terdengar begitu menggema. Aktivitas rutinitas ibukota memang selalu menjadi idaman yang biasa terjadi. Mengingat kota metropolitan. Kota yang dengan penduduk begitu padat dan dambaan setiap orang yang datang untuk mengubah nasib tak jarang hal ini hanya sebuah cerita lalu yang pemiliknya lupakan. Tidak semua yang mengunjungi kota impian ini berhasil mendapatkan pekerjaan banyak diantaranya menganggur. Pada akhirnya mengakibatkan pengemis, pengamen juga kejahatan serta kriminalitas yang menggaung tidak dapat berhenti. Bak air mengalir begitulah katanya.

Aku diam menatap keramaian. RAMAI? Aku tidak terlalu suka ramai berada di sini aku merasa terkucilkan. Seolah dunia ini sedang mengejekku yang berjalan seorang diri tanpa ayah dan ibu. Aku berteriak sekeras apapun nyatanya aku sendiri. Aku lelah bekerja menjadi pesuruh demi mengganjal perut kosong. Beginilah aku demi sesuap nasi aku harus mengamen dari bus satu ke bus lainnya. Dengan caraku sendiri aku buat amplop kecil karyaku untuk mengharapkan belas Kasih orang lain. Meniti satu persatu amplop untuk kusetorkan. Diriku terlalu miris untuk diceritakan. aku rasa untuk mencari sedikit kebaikan dari orang lain bisa kulakukan dengan cara begitu kutuliskan harapanku di atas amplop itu untuk berbagi sedih tak terderu yang menghimpun. Paling tidak ada yang mengetahui rasa gundahku. Berharap sedikit rasa ini berkurang.

Saat malam tiba aku tidur beralaskan kardus mengeratkan tubuh akan dingin angin malam menerpaku. Aku aneh, malam kedinginan, siang kepanasan. Andaikan ada kemilau datang membawaku pergi mengikuti jejaknya. Sinar yang amat kunantikan untuk memulai hidup di masa depan. Aku tertidur dalam mimpi.

Pagi tiba, tidak ada yang istimewa di hidupku kegiatan yang kulakukan terus saja berulang setiap harinya. Sebetulnya aku lebih bosan dengan keadaanku.

Aku menangis dengan sekujur tubuh yang Membelenggu hingga akhir tetes deraan air mata tidak dapat tertahankan. Mengaung mencari tempat singgah untuk membekap tubuh ini yang lusuh penuh keluh.
Menjerit sampai jeritan ini hanya mampu aku yang mendengar. Tanpa ada yang merengkuh untuk memberi kekuatan dalam jiwaku. Derit ini membusang akan usang meraba masuk ke dalam kesah. Jiwa ini telah hancur membuih tak bertautan membuat sesak di hati. Kalau kini aku di bawah apa esok aku akan ada di bawah. Aku ingin di atas menggambarkan sesosok manusia lain yang menampilkan wajah senangku atas takdir yang menyatu bersamaku. Lalu apa semua hal itu hanya perumpamaan yang harus segera aku hilangkan dalam ingatanku.

Sebuah tempat bercerita yang baik adalah menulisnya. Aku lelah jika harus memikirkannya. Lalu aku berpijak di lain tempat agar kekosongan yang menghantuiku ikut menghilang. Pikiranku melayang jauh. Aku seakan manusia yang paling teraniyaya. Seharusnya aku bersama sabar agar kelak semua yang aku dambakan akan tercapai.
Bila aku menangis biarkanlah aku karena aku menginginkannya, dan bila aku tertawa biarkanlah karena aku menginginkannya. Terima Kasih untuk harapan kecilku semoga menjadi nyata seperti yang selalu aku inginkan dalam hidupku.

Cerpen Karangan: erlinda septiawati
Blog / Facebook: erlinda septiawati

Cerpen Harapan Kecilku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Terhalang Pagar Gereja

Oleh:
Cinta.. tak mengenal kata siapa, kapan, dan di mana. Kita tidak bisa menyalahkan perasaan yang hadir dalam hati. Jika benar cinta tak selalu harus memiliki, maka bukankah akan ada

Malin Tambang

Oleh:
“Nak, ingek pasan Bundo, satinggi-tinggi tupai malompek pasti jatuah juo. Kok hujan batu di nagari awak, hujan ameh di nagari urang, nagari awak tetap nan utamo. Dek ulah tangan

Si Anak Jalang

Oleh:
Embun pagi ini masih begitu terasa. Sayup-sayup kokokan ayam itu perlahan-lahan mengecil dan akhirnya menghilang. Mataharipun baru sedikit menampakkan sinarnya yang begitu terang dan berarti bagi kehidupan. Terlihat sesosok

Tour Leader

Oleh:
Tepat pukul delapan malam empat bus mulai meluncur dari sebuah SMP yang menggunakan jasa travel wisata tempatku bekerja. Aku kebetulan yang ditunjuk menjadi Tour Leader bersama tiga orang tour

One Night at The Airport

Oleh:
Baru saja pengumuman bahwa pesawatku akan segera lepas landas. Aku berlari menyusuri terminal keberangkatan, dengan tas yang lumayan besar di punggung dan kantong plastik oleh-oleh yang kutenteng, aku kehabisan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Harapan Kecilku”

  1. Harapan itu pasti aoan srlalu menjadi kenyataan sesulit apapun itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *