Harapan, Kenyataan Dan Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 May 2016

“Teruslah berjuang meskipun harus mengorbankan tangan dan kakimu, berjuanglah, hadapilah, sampai kau mendapatkannya.” Itu adalah kata-kata yang didapat Risceal dari film yang baru saja ditontonnya. Setelah mendengarnya Risceal langsung membayangkan apa yang dia inginkan. Entah kenapa, meski dia masih SMP, dia sudah bermimpi untuk menjadi miliarder kalau ia dewasa nanti. Atau setidaknya punya rumah megah, mobil mewah, dan hidup bahagia. Risceal bertanya pada ibunya.

“Ibu, apa yang Ibu impikan saat berusia sepertiku?”
“Ibu hanya berpikir cukup menjadi guru saja. Pekerjaan yang mulia.”
“Lalu kenapa Ibu sekarang tidak bekerja apa pun?”
“Ya, anakku, orangtua Ibu menyarankan kalau wanita cukup menjadi ibu rumah tangga saja.”

Dalam hati ia berkata, “Kenapa mimpi mereka hanyalah sebatas apa yang di depan mata saja?” Dan ucapan hati itu seolah terdengar oleh ibunya, sehingga ibunya memberi nasihat, “Risceal, Ibu takut untuk bermimpi yang tinggi, Ibu takut jatuh, memikul mimpi yang tinggi itu sangatlah berat. Jika kamu ingin bermimpi, anakku, janganlah seperti Ibu, bermimpilah setinggi langit.”

Memang keluarga Risceal tidaklah kaya, tapi tidak miskin juga. Seperti di tengah-tengah jembatan antara kaya dan miskin. Beda dengan Karin, yang paling kaya di kelasnya. Pernah Risceal ke rumahnya, dan memang ia sangatlah kaya. Di sinilah ia mulai bermimpi menjadi miliarder. Ia juga ingin merasakan diantar pulang-pergi ke sekolah, makanan berlimpah, fasilitas-fasilitas canggih, fashion jutaan. Meskipun begitu, keluarga Karin sangatlah dermawan, ia berani menyumbangkan hartanya untuk masyarakat miskin di kotanya. Karena alasan itulah ia ingin hidup seperti Karin.

Ada banyak cara untuk menjadi orang kaya, dan semua orang berhak untuk kaya, kecuali mungkin untuk orang yang sudah ditakdirkan miskin sejak lahir. Masalahnya, apa yang harus dilakukan untuk usianya yang baru 15 tahun. Walaupun begitu, Risceal tetaplah optimis apa pun caranya, akhirnya ia menemukan ide untuk membuat film. Ada satu temannya yang cukup mahir dalam editing video, dan fasilitas-fasilitas yang Karin miliki, juga teman-teman di kelasnya membuatnya makin semangat untuk membuat film. Lalu, ia mendiskusikan idenya itu di kelas.

“Fiq, kamu hebat dalam video editing, kita buat film yuk!” ajak Risceal. “Aku bisanya hanya sedikit kok, dan juga mungkin butuh biaya besar,” Fiqih ragu.
“Kita bisa terkenal, dan juga menghasilkan uang loh!” Risceal meyakinkan.
Tidak sedikit di kelasnya yang masih ragu, juga termasuk Ketua Kelasnya. Dia berpikir realistis bagaimana mereka bisa di umurnya yang masih SMP. Ia adalah Dimas, dia dipilih menjadi Ketua kelas sejak kelas 1, karena pemikirannya yang realistis itu. Ada juga yang menolak rencana itu, tetapi Risceal bersikeras atas idenya itu dan meyakinkan.

“Kita kan tidak tahu sebelum mencobanya, iya kan? Juga ada Karin kan, jadi faslitasnya pun lengkap,”
“Hah, aku hanya dijadikan alat, kamu kejam sekali loh!” Karin memulai candaan.
“Hahaha…” mereka sekelas tak bisa menahan tawa saat melihat Karin cantik dengan ekspresi dinginnya itu.
“Yahoo.. akhirnya!!” Risceal sangat senang. Akhirnya mereka pun setuju.

Pembuatan film pun dilakukan, mereka sangat semangat tiap pulang sekolah.
“Iya kan, seru membuatnya, kita akan sukses loh, juga akan banyak uang!” Ricseal sangat yakin.
“Apa akan diterima film ini, kita kan belum profesional,” ujar Dimas.
“Iya, apakah memang akan ada banyak uang?” kata Billy yang juga masuk karakter di film tersebut.
“Iya, iya, yakin. percayalah!” Risceal sangat percaya diri.

Dan akhirnya filmnya pun selesai, mereka membuatnya hanya selama satu bulan. Mereka membuatnya sangat cepat walaupun masih SMP. Dan tanpa pikir panjang, mereka langsung menawarkan film buatannya itu ke tempat hiburan lokal di kotanya. Tetapi, tidak ada yang menerimanya. Alasannya karena filmnya kurang jelas, terdapat banyak kesalahan, dan tentunya masih amatiran.

“Kalian masihlah amatiran, kalian masih SMP, belajarlah dulu, dasar bodoh!” itulah kata-kata dari produser hiburan itu yang membuat teman-temannya berubah.
“Jika ingin membuat film lagi, jangan ajak aku lagi, buat saja sendiri!” Fiqih memulai masalah.
“Ya, ya Fiq, tapi tapi… kamu kan…”
“Katanya akan sukses, akan banyak uang, tapi jadinya sangat memalukan, dasar bodoh! Kalau kau ingin kaya, kau harus terlahir dari keluarga kaya!” Billy memotong pembicaraan.
“Sudah ku bilang, kita kan masih SMP, mana bisa kita, lagian jika ingin kaya, harus bekerja, harus cukup umur, dasar otak uang!” ujar Dimas yang membuat Risceal sakit hati.
“Bukannya terkenal, malah malu-maluin, dan menghabiskan uang, menghabiskan waktuku saja,” Fiqih menekannya. Lalu mereka meninggalkan Risceal sehingga membuatnya depresi. Ia sangat sakit hati. Dia memikul masalahnya sendiri. Risceal mencoba meminta maaf kepada Fiqih.

“Bukankah kita akan berjuang bersama, dan kau sudah berjanji?”
“Bukankah kau pertama kali yang berbohong! Mana kita terkenal, mana uang?!” Fiqih memarahinya.
Satu-satunya yang tidak menghinanya adalah Karin. Ia tahu Risceal tidaklah salah. “Ini kan pertama kalinya, orang sukses mencobanya berkali-kali sampai ia sukses, seperti Ayahku.” Tetapi Risceal sudah sangat sakit, “Ini bukan tentang keluargamu, dasar anak kaya! Aku memanglah bodoh, aku miskin, aku egois, hanya memikirkan uang!” Karin pun terdiam mendengar jawabannya.

Risceal menangis dan pulang ke rumahnya, ia langsung masuk kamar dan marah-marah karena depresi, melampiaskannya dengan membenturkan dirinya ke dinding. Ia mengunci pintu, ia terus-terusan mengingat-ngingat masalah dan perkataan teman-temannya yang membuat sakit hati. Entah kenapa ia sangat memikul masalahnya itu sampai-sampai ia tidak makan. Hidupnya sangat kacau, ia terus minum kopi setiap 4-5 jam, dan terus-terusan menonton film yang ditolak itu. Jika battery laptopnya belum habis ia terus menontonnya berulang-ulang. Hanya itulah yang dilakukannya, bahkan sampai-sampai ia tidak tidur. Tetapi ia masih menjaga kewarasannya dengan menghitung mundur dari 1000, 999, 998, 997, 996,.. sampai seterusnya. Hatinya yang sudah sangat sakit, rasa malunya yang sangat tinggi, dan keputusasaan yang membuat hidupnya begitu kacau. Melihat sikap anaknya yang berubah, ibu Risceal sangatlah iba, ia mencoba menyadarkan anaknya. Ia terus mencoba menormalkan anaknya, ia mencoba menyuruh anaknya makan.

“Bruukk.”
“Braakkk..,”
Tetapi tiap kali ibunya mencoba, jawabannya selalu suara pintu yang dipukul dan marah-marah.

Sudah tiga hari keadaan Riscea sangat memburuk, tiap kali ia membuka mata, membuka laptop, minum kopi, dan mendengar suara ibunya, selalu terdengar kata, “Jika ingin membuat film lagi, jangan ajak aku lagi, buatlah sendiri!” Selalu terasa kesalahannya karena mengecewakan temannya. Teman-temannya menyesal apa yang mereka lakukan kepada Risceal, mereka juga iba mendengar keadaannya yang cukup gila. Mereka mencoba datang ke rumahnya. Tiap kali ia mendengar temannya datang, dia terus menendang dan memukul pintu, melukai dirinya sendiri.

Pada hari keenam, kopi-kopi itu mulai merusak tubuhnya, keadaannya sangat memburuk. Matanya memerah, perutnya menyusut, tangannya membengkak, dan dadanya terasa sakit. Ia mulai berkata-kata tidak jelas dan berucap kata yang sama. Dia hanya berucap, “U…uang. Aku kaya. Hahaha!” Sepertinya ia sudah tidak waras. Wali kelasnya sangat sedih, bagaimana anak asuhnya yang berusia 15 tahun itu memikul masalah kecil dan memikirkannya hingga tidak waras? Berita itu sudah tersebar sehingga walikotanya pun mengetahuinya dan kebingungan, bagaimana anak sekecil itu sudah memikrkan uang, bagaimana ia menyikasa dirinya sendiri, bagaimana pikirannya sehingga ia tidak waras? itulah yang terus menyelimuti pikirannya. Bukan hanya Risceal yang kurang waras, ibunya juga merasakan sakit anaknya. Sampai-sampai ibunya pun jatuh sakit. Ibunya terus menangis dan berucap, “Anakku, anakku, maafkan Ibu.” Derai air mata ibunya terus menetes bagaikan banyaknya air hujan, seperti semudah turunnya air terjun.

Di samping itu, Karin tidak hanya diam, dia juga coba menenangkannya. Karin sangat tahu kalau Risceal mudah dipengaruhi kata-kata, entah itu kata motivasi, ataupun ejekan hinaan yang membuatnya sampai seperti itu. Karin menemukan kata inspiratif dari orang yang sangat terkenal di dunia ini, terkenal karena kekreativitasannya itu, siapa lagi kalau bukan Steve Jobs. Karin berniat memberikannya besok pagi. Surat itu dijaganya dengan baik, dan dia sengaja menulisnya acak-acakan. Entah dari mana, mungkin intuisinya berkata, “Kalau orang yang kacau, akan mengerti sesuatu, jika sesuatu itu juga kacau.”

Pada malam harinya, yaitu malam ketujuh, Risceal tertidur. Tubuhnya yang masih muda itu tidak kuat menahan hati pikirannya yang melayang-layang tanpa tujuan dalam kesakitan. Dalam mimpi, ia bertemu seorang anak kecil, yang selalu mengikutinya dan berkata, “Kakak, apa aku harus menunggu, untuk menjadi yang terbaik?”
Anak kecil itu terus mengikutinya ke mana pun ia pergi, hingga ia terbangun di pagi harinya. Saat ia membuka mata, ia mendengar Karin akan datang ke rumahnya. Dan itu benar, sambil membawa surat, Karin berdoa agar semuanya lancar. Sampai di rumahnya Karin memberikan surat itu lewat celah pintu bagian bawah.

“Risceal, aku tahu, aku hanya memberikan ini,” ucap Karin sambil menyodorkan surat itu.
“Bruukkk. Braakkkk,” tanpa diduga, Risceal malah memukul pintu itu dan berkata, “U…uang. Aku kaya. Hahaha!”
Meskipun begitu, ia tetap membuka surat itu dan membacanya. Saat itu ia menangis. Isi suratnya sederhana, “Jika saya mencoba yang terbaik dan gagal, setidaknya saya telah melakukan yang terbaik.” -Steve Jobs.

Ajaibnya, setelah membaca itu pikirannya menjadi normal lagi. Ia langsung ke luar dari kamarnya. Memeluk tubuh ibunya yang basah oleh air mata, ditambah lagi melihat tubuh anaknya yang memburuk air matanya makin deras. Jiwanya memang sudah waras, tapi karena kebiasaannya yang buruk, Risceal mengidap kanker otak. Ibunya mencoba membawanya ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, tak ada dokter yang sanggup mengobatinya. Penyakitnya bisa sembuh, tetapi, yang terdapat fasilitas-fasilitas dan obatnya hanya ada di Negeri Matahari Terbit. Artinya, jika ia ingin sembuh, harus dibawa ke Jepang.

“Dok… dok… ini anakku satu-satunya dok, aku ingin dia sembuh dok.”
“Kami siap membantu Bu, tapi hanya ada di Jepang, kalau mau, silahkan membayar tagihannya,” kata dokter muda itu sambil menyerahkan rincian biayanya.
“2 milyar? Untuk apa itu dok, untuk apa?” ibunya terkejut melihat rincian itu.
“Biaya perjalanan juga mahal Bu, biaya hidup di sana sangatlah tinggi, dan harus menginap selama 2 bulan,” ucap dokter itu berusaha tegar.
“Tapi, tak bisakah di sini dia juga sembuh, tolonglah coba dia dirawat di sini dok,” ibunya memelas.

Karena kasihan, akhirnya pihak rumah sakit pun menyetujuinya. Saat di ruang operasi, terdengar percakapan, “Kasihan sekali kamu Nak, malang sekali,”
“Dokter… dokter… kenapa harus ada uang? karena itulah dokter… aku ingin menjadi miliarder.”
Dengan sabar dokter itu menjawab, “Berkeinginan memang sangat penting, Nak. Tapi jangan lupakanlah siapa dirimu itu.”

Sudah 3 jam berlalu pemeriksaan itu, tibalah waktu jam besuk. Di sana sudah ada ibunya, Karin, wali kelasnya, beserta teman-temannya yang dulu menghinanya juga datang. Saat melihat ibunya, Risceal bertanya, “Ibu… Ibu… Apakah aku harus terlahir kaya, untuk menjadi kaya?” Mendengar itu, sakit ibunya makin parah, ibunya tak bisa menahan tangisannya dan berucap terbata-bata.

“Ma…ma…afkan ibu.. karena Ibu… kau terlahir miskin. Juga.. ka-karena Ibu. Maafkan Ibu. Ibu menyuruh-mu bermimpi yang tinggi.” Stela mengucapkan kata-kata itu, yang juga merupakan kata terakhirnya, ibunya pun meninggal. Melihat ibunya tak bernyawa, tubuh Risceal serasa tak bisa gerak. Lalu, dia pun menyusul ibunya. 10 detik sebelum menghembuskan napas terakhirnya, mulutnya tak henti-hentinya bicara dan waktu pun memaksanya untuk berhenti. Hanya terdengar satu kalimat terakhirnya.

“Ibu… Ibu… apakah aku harus terlahir kaya, untuk menjadi kaya?”

Cerpen Karangan: Mf Ansory
IG: mfansory

Cerpen Harapan, Kenyataan Dan Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Halusinasi

Oleh:
Sebagian besar orang bilang aku adalah anak yang aneh, Aku duduk di tempat paling belakang karena dipindahin sama wali kelasku. Dulunya duduk agak ke depan atau bisa dibilang tengah-tengah,

Sahabat Jadi Musuh

Oleh:
Hari itu aku bersiap-siap untuk masuk sekolah baru. Aku cepet cepet mandi dan langsung ke bawah. “hai sayang tumben cepet cepet” tanya mama. “nggak ma, cuma mau melihat sekolah

Menanti Datangnya Hujan

Oleh:
Hari ini langit tampak cerah. Awan putih menggulung indah di seantero langit yang biru. Indah, seperti permen kapas bewarna putih yang menggantung di angkasa. Sinar matahari menerobos celah di

Kopi Pending

Oleh:
Naples, Italia. Tempat paling pas untuk ngopi sepulang kerja. Ditambah pemandangan kota yang perlahan menelan senja tepat di depan mata. Keindahan yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Setelah pulang

Tersenyumlah Untukku

Oleh:
Aku Dikenal sebagai siswi yg Berprestasi dan Ceria, aku selalu ceria dengan di temani Sahabat2ku dan juga Pacarku. Sahabatku yang bernama Sari, Cyntia dan Farhan. Pacarku Bernama Fino. ***di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *