Baca Juga Cerpen Lain’nya:

Gelandangan Cilik

Ku sibak jalanan yang sunyi pagi itu, langkah lemah kakiku menapak perlahan. Tak seorang pun aku temui di jalanan itu. Langit masih nampak remang dan berkabut. Ku lirik jam tanganku, oh benar saja, baru jam setengah 5 pagi....

Robot Berikutnya

Hari lebih sunyi dari biasanya. Namun lebih terang-benderang. Aku jadi sedikit memuji rumah sakit ini. Karena penerangan dan tata cahayanya. Yang begitu putih dari ratusan neon yang bahkan tak terlihat satu pun kecuai yang...

Kopi Perjuangan

Wajah ayah belum lama murung pada duka yang melata masuk tanpa sapa. Ibu masih sibuk dengan ekonomi yang tidak seberapa yang selalu ayah hasilkan dari aktornya menjadi sosok karyawan pengibar gelas-gelas kaca disebuah Universitas....

Restu dan Maaf Sangat Mengharukan

Herman Putranto adalah orang yang baik, guru yang disukai anak-anak didiknya. Guru teater dan sastra di SMK berasrama. Para laki-laki semua, murid-murid yang berasal dari berbagai daerah, bisa menyatu dalam pagelaran drama,...

Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu

Entah kenapa, hari ini kursor komputer ku me ‘open new tab’ picture seorang teman di homepage facebook. picture itu adalah capture gambar teman saya. isinya adalah wall selamat ulang tahun dari temannya yang sudah...

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga…?”

"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?

Leave a Reply