Hari Pertama di Ibu Kota

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 22 April 2017

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Aku segera mengambil koperku berniat ingin keluar dari pesawat yang kutumpangi semalam. Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki beranjak dari bangku yang aku duduki semalam, menuju pintu keluar pesawat. Tiba di pintu, aku menghirup udara Jakarta yang segar terlebih lagi saat itu masih pagi, mataku memandang keramaian orang-orang di Bandara, disertai dengan senyuman tipis atas keselamatanku sampai tujuan. Tiba-tiba ada orang dari belakang yang menegurku untuk segera berjalan menuruni anak tangga pesawat berhubung orang itu mau lewat.

Kutarik koperku, melangkah mengelilingi Bandara sambil memikul jaket berwarna abu-abu di bahu kananku. Saat berjalan, aku melihat dompet seorang Perempuan jatuh tepat di depanku. Perempuan itu berpenampilan agak seksi, memakai baju berwarna biru dengan lengan di bagian bawah berwarna putih di sertai motif kekinian di seluruh penjuru baju, menarik koper pake tangan kanan, memikul jaket berwarna hitam di bahu sebelah kiri. Aku berlari mengambil dompet perempuan itu, mengejarnya yang tidak lain tujuannya adalah untuk mengambil dompet itu.

“Mbak permisi, bukankah dompet ini milik mbak?”
“Iya, kok bisa ada sama kamu?” tanya perempuan itu heran.
“Tadi dompet ini jatuh di depan saya, pas tadi kamu lari-lari” kataku singkat.
“Makasih ya, mungkin kalau gak ada kamu, mungkin dompet ini udah keburu di ambil orang, sekali lagi makasih ya!” katanya dengan sopan.
“Sama-sama!” jawabku singkat.

Perempuan itu melihat seisi dompetnya, memastikan apakah dompetnya masih utuh atau tidak, usai hal itu, dia mengambil sejumlah uang ratusan ribuan yang saya sendiri tidak tau tujuannya apa.
“Ini buat kamu!”
Perempuan itu menarik tanganku meletakkan uang beberapa lembar di atas tanganku.
“Eh, gak usah, saya ikhlas kok nolongin kamu, ini kan udah kewajiban kita sebagai manusia harus saling menolong.”
“Udah terima aja!” ujarnya dengan nada memaksakan.
“Sekali lagi maaf mbak, saya gak bisa terima.”

Perempuan itu menunjukkan wajahnya sedikit kesal karena aku tidak menerima pemberiannya dia. Tapi wajah kesalnya tidak berlangsung lama berhubung malu dilihatin orang di sekitar Bandara yang jalan kesana kemari.

“Kamu baik bangat deh, baru kali ini aku melihat laki-laki sebaik kamu, udah ganteng, baik lagi, pasti orangtuamu sangat bangga melahirkan kamu!”
“Ah kamu bisa saja. Oh ya saya Muhammad Nasir, panggil saja Nasir, kamu siapa?” kataku mengulurkan tangan melepas koperku dari tangan kanan yang dari tadi tak pernah lepas ibarat gembok dengan anak kuncinya.
“Saya Rizky Harianti, panggil saja Rizky!” ucapnya membalas uluran tanganku sembari tersenyum tipis.

Senyumnya mengingatkan aku pada ibuku di rumah, mempunyai lesung pipit di sebelah kanan dengan hidung yang sedikit mancung. Aku menarik nafas, merenungi kerinduan pada ibuku, padahal baru dua hari saja tidak bertemu pada ibuku, rasanya sudah tidak bertemu 1 tahun. Apakah ini namanya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya?

“He kok bengong?”
Aku hanya diam, tidak menanggapi apa yang baru saja dia bilang, lagian buat apa ngomongin masalah pribadi ke orang lain, malah nambah beban nantinya.
“Aku pergi dulu ya! By salam kenal.” ucap Rizky melangkah menuju pintu gerbang Bandara.
“Salam kenal too!” Batinku.

Begitu juga denganku. Kulangkahkan kakiku menuju pintu gerbang Bandara untuk menuju kostan temanku, kutarik koperku, mengambil sehelai kertas yang bertuliskan alamat kostan temanku. Langkah demi langkah ku langkahkan kakiku, melihat sekitar Bandara yang sebagian besar dihuni oleh anak pemulung. Aku kasihan melihat anak pemulung itu, masih kecil sudah bekerja keras untuk mencari makan, walaupun sebuah nasi basi yang mereka temukan di sebuah tempat sampah Bandara, bagi mereka itu sudah lebih dari cukup. Padahal sudah jelas di dalam UUD 1945 Pasal 34 ayat (1) berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara” tapi, buktinya mana? Alangkah lucunya negeri ini.

Aku teringat untuk yang kedua kalinya kepada keluargaku di rumah, aku bersyukur masih mempunyai keluarga, walau itu dari kalangan yang serba kekurangan. Bagiku status keluarga bukanlah alasan untuk tidak mampu menggapai impian setinggi langit. Buktinya, bpk Chairul Tanjung walaupun ia dari kalangan keluarga tidak mampu, ia tetap berusaha untuk bersekolah, meskipun waktu kuliah semester 1, ibunya sempat menjual sehelai kain untuk biaya kuliahnya. Dan sampai sekarang ia sudah termasuk daftar 10 orang terkaya di Indonesia, semoga saya bisa mengikuti jejaknya, amin. Batinku.

Dari kejauhan, saya melihat sebuah taksi meluncur sangat cepat. Tanpa saya kira, taksi itu berhenti di hadapan saya, yang dari tadi kedatangannya kutunggu-tunggu baru saja datang.
Kubuka bagasi taksi, mengangkat koperku ke dalamnya, sementara jaketku masih kupikul di sebelah kananku. Kini aku ada di dalam taksi, memberikan sehelaian kertas yang berisikan sebuah alamat, menandakan bahwa tujuanku tertera pada alamat itu. Maklum orang dari kampung, belum mengenal kota Jakarta.

Sampai di kostan temanku. Aku memastikan alamat yang ada di kertasku ini, apakah alamatnya benar atau tidak. Setelah kuperhatiin dengan cermat, kini aku sudah percaya bahwa rumah ini adalah kostan temanku. Rumahnya indah berwarna pink, berlantai dua, mempunyai puluhan pot bunga yang berbaris di pinggir teras membuat mata ingin melihatnya terus menerus. Di samping rumah, juga terdapat taman dengan ayunan berwarna putih di tambah pohon hijau seger dan asri. Wah, ini pasti pemilik kost annya baik bangat, demikian juga dengan penghuninya. Kan jarang ditemukan rumah kost bertemakan tanaman.

Kutekan bel yang ada di samping pintu kost, mengucap salam dengan kesan sopan, tapi gak ada orang yang membukakan pintu untukku. Apa nggak ada orang? Masa iya sih, kost segede ini di pagi hari penghuninya pada gak ada? Pada ke mana tu orang pagi-pagi? Apa mungkin sekolah? Aduh, kok kamu jadi dodol gini sih? Secara ini kan hari Minggu, mana ada orang sekolah hari Minggu. Pertanyaan itu tanpa sengaja muncul dalam benakku yang tidak jelas asal usulnya.

Setelah cukup lama berdiri, tiba tiba ada seorang cowok yang keluar dari dalam kost, berpenampilan kusut dengan kesan masih ngantuk, menggunakan kacamata, dan sedikit lebih tinggi dari aku.
“Cari siapa?” tanya cowok itu dengan mata sedikit terpejam berhubung masih ngantuk.
Ya Ampun, ni anak pemalas atau ini sudah kebiasaan mereka? Masa sih, udah jam 10 pagi masih tidur manis di kamar? pikirku bingung.
“Saya anak baru di kostan ini!”
“What, kamu anak baru?” tanyanya heran.
Aku mengangguk bingung.

Tiba-tiba dia yang dari tadi masih mengantuk, berubah menjadi segar alias tidak mengantuk lagi. Berlari ke dalam kost seraya berteriak “Guys, kita kedatangan teman baru”. Kemudian anak-anak yang lain pada keluar menemuiku, belum lagi anak-anak cewek turun dari lantai dua hanya untuk menemuiku. Aku hanya bingung melihat tingkah laku mereka yang sangat unik bagiku. “Di mana anak barunya?” tanya seorang cewek dari dalam kost. Selain itu, langkahan kaki mereka terdengar dari luar menuju tempatku berdiri.
“Oh, jadi ini anak barunya?” tanya seorang cowok berkulit putih, dan ganteng.
“Hy Bro, selamat datang di kost an ini! By the way, kapan sampenya?” tanya teman cowok ku.
“Hanif lo kenal ama dia?” tanya seorang cewek berambut kemerahan.
“Yoi, orang gue yang kasih alamat ini ke dia”.
“Guys, kalian ini gimana sih? Dia ini kan tamu, masa ngobrolnya di luar, di ajak dong ke dalam!” ucap cowok yang membukakan pintu tadi.

Kedatangan ku disambut dengan gembira oleh penghuni kost ini, mereka menggiringku ke ruang tamu, belum lagi koperku mereka yang bawa. Aku merasa diperlakukan terlalu berlebihan, tapi, I don’t care, selama itu membuat mereka happy, aku mengikut saja.

Cerpen Karangan: Nasir Muhammad
Facebook: Nasir Muhammad

Cerpen Hari Pertama di Ibu Kota merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rizki dan Cita-Cita

Oleh:
Butiran air bening menghiasi pagi-pagi rizki sang anak pesantren, sekaligus anak yang terpandang rajin di pesantren darul ihsan, semua teman-temannya senang bergaul dengannya setiap malam puncak di pesantren tersebut

Selamat Ulang Tahun, Emak !

Oleh:
Aku masih sibuk mondar-mandir diantara keranjang-keranjang bunga. Warna-warni harum mewangi menggoda mata, namun tetap saja belum ku temukan yang menarik hati. Hampir 1 jam aku disini, di toko bunga

Mutiara Hati Yang Terlupakan

Oleh:
Bukan orang yang sepandai Albert Einsten. Bukan juga orang yang sekaya Presiden Obama di Amerika. Sederhana, tidak banyak tingkah, lugu, pendiam, itulah diriku. Tidak banyak teman yang kumiliki, ‘sendiri’

Perjuangan Ayahku

Oleh:
Perjuangan seorang ayah baru disadari Abeng sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dirinya baru menjelang melihat pergulatan ayahnya mencari penghidupan sebagai Pegawai Negeri. Sementara temannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *