Hemimetabola

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 April 2021

Aku sepenuhnya sadar, bahwa kini, satu-satunya hal yang tersisa dari wanita itu hanyalah bayi mungil ini. Kedamaian yang kurasakan, kala menatap wajah bayi ini, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa bayi ini adalah anaknya. Aku yang tak kunjung beristri di usia yang tak muda lagi, merasa seperti seekor kecoak yang telah ditakdirkan hidup dalam ketidaksempurnaan, bahkan dalam proses metamorfosisnya. Kegagalan dan keputusasaan adalah teman setiaku setiap hari, sebelum aku bertemu dengan wanita itu—ibu dari bayi ini.

Ketidakmampuan menerima kenyataan sempat menyiksa dan membuatku ragu, mengingat tak ada setetes pun darahku yang mengalir di nadi bayi ini. Aku sempat menganggap bayi tak berdosa ini sebagai benih parasit. Tetapi memang beginilah kesempurnaan hidupku, menerima orang yang kucintai sebagai korban kebejatan nafsu seorang perampok yang sampai sekarang pun tak pernah teradili.

Sebenarnya, mendiang Embah pernah memperingatkan tentang cinta dan mengapa falsafah dasar kedamaian itu disebut parasit tiga tahun tahun silam. Pada masa-masa kritis yang absurd. Ketika Embah tak ingin lagi mencuci darah, sementara tubuhnya kian legam seirng ginjalnya yang sudah tak bekerja. Seperti katak tebu yang menyimpan racun di balik kulitnya. Hari demi hari, beliau semakin ringkih digerogoti penyakit. Di tengah igauan-igauan Embah tentang “pulang” dan “rumah”, sempat-sempatnya beliau menyitir perihal klise yang bernama cinta.

“Kamu sakit, Le?” tanyanya di suatu sore. Saat itu aku melamun di tepian pembaringannya. Aku mengacuhkan pertanyaan itu lantaran jiwaku sibuk mendebat diriku sendiri. Memikirkan alasan mengapa orangtuaku, yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Embah, justru menelantarkannya di kampung seorang diri.

Ingatanku mengembara lebih jauh. Tiba di masa ketika orangtuaku mengatakan hal menggelikan: sebuah ide tentang memasukkan Embah ke panti jompo.
“Agama kita terlalu mulia untuk memperlakukan Embah seperti barang habis pakai!” protesku. Mungkin itu kemarahan pertamaku pada mereka setelah sekian lama. Tetapi aku sangat yakin, kemarahan itu ada di jalan yang benar. Berbekal sebuah gelar, dan beberapa pengalaman mengajar, aku menerima tantangan tak langsung mereka untuk merawat Embah dengan biaya sendiri.

“Le ..” Embah menyeru lagi. Lamunanku buyar seketika tak bersisa.
“Eh i iya, wonten punapa, Mbah?” tanyaku agak linglung. Sebuah senyum terukir di bibirnya.
“Aku semalam ngimpi kamu masuk rumah sakit, benar kamu sakit?”
“Iya, Mbah.” Aku tak mungkin berbohong saat itu.
“Sakit apa?”
“Sakit hati.”
Hening. Beliau hanya mengedip-edipkan matanya penuh tanya. Padahal celetukan itu sempat mengocok perut seluruh warga SMA Taruna saat lomba Stand Up Comedy pada acara class meeting waktu aku kelas dua belas dulu. Tetapi di hadapan orang sepuh seperti Embah, candaan itu tak lebih sekadar kacang garing belaka. Aku terpaksa menjelasnya maksud ucapanku tadi secara manual.

“Ndak papa, Le. Itu hal yang lumrah untuk orang seusiamu.” Embah terbatuk hebat hingga kuambilkan segelas air. Beliau lalu meneguknya penuh lega.
“Kamu memang sudah usianya menikah, Le.”
Hanya kata “nggih” dan “nggih” yang berulangkali kuucapkan. Teori pengalaman adalah guru yang terbaik belum sirna bagiku. Bukankah samudera pengalaman terbaik adalah orang-orang sepuh seperti Embahku ini?

“Tresna itu ibarat hama, Le.” timpal Embah. Dahiku mengerut seketika.
“Kok saged hama, dos pundi, Mbah?”
Embah menatap langit-langit ruangan, seperti meragukan sesuatu. Mungkin karena perkara menikah itu membuatku perih. Karena itu Embah lebih memilih memberikan saran.
“Beda dengan tani. Dalam tresna, kamu harus mau menerima dampak dari hama itu. Terima sebagai penyempurna hidupmu. Lalu kamu akan tahu apa itu kebahagiaan.” Kalimat itu menjadi PR penuh misteri. Sebab esoknya Embah sudah tak ada lagi di dunia untuk memberikanku pencerahan. Ia meninggalkanku dengan seutas senyum terukir abadi.

Meski Embah telah tiada, aku belum bisa kembali ke kota. Tanggung jawabku mengajar TPQ di musala kampung, seolah menahanku di sini. Dan misteri itu semakin sublim, terasa gatal untuk dipecahkan, mengingat di TPQ itulah aku menemukan cahaya baru. Fajar Sadik yang memancar dari pesona seorang ustazah bernama Nirmala.

Aku mengenalnya sejak mulai merawat Embah di kampung ini. Awalnya memang tak ada niatan untuk mendekati wanita berjilbab lebar dan berniqab sepertinya. Alasan lainnya, barangkali karena trauma pada wanita. Meskipun hanya sekali, tetapi ditinggal rabi oleh orang yang kucintai, terlalu cukup untuk mendoktrinku bahwa cinta adalah parasit. Benda merugikan penghisab daya hidup manusia. Prinsip itu getol kupegang. Seperti batu yang bercokol, hunjam ke dalam tanah jiwaku.

Akan tetapi kehadiran Mala—begitu aku memanggilnya—dalam hidupku seperti air yang menetes dari dinding atas sebuah gua. Setiap hari, setiap saat menyentuh lapisan demi lapisan batu yang menyelubungi tanah di dalam diriku. Dua tahun selalu bertemu dan bercengkrama, tanpa kusadar sosok anggun itu telah merembes ke dalam, melewati pori-pori keraguanku akan cinta. Dia telah menyentuh dan mengaktifkan kembali pesona cinta yang selama ini telah kukutuk sebagai parasit.

Hujan mengguyur begitu syahdu sore itu ketika pembelajaran di TPQ usai. Kulihat Mala berdiri sambil menawarkan senyum terbaik pada para santri yang berpamit pulang. Asal kalian tahu, aku entah bagaimana bisa melihat senyumannya bukan dari bibir melainkan mata. Kami melepas kepergian santri-santri, satu persatu tanpa sekalipun membuang senyuman. Para santri telah tandas, menyisakan kami berdua, aku gegas merapikan meja dan mengembalikan buku-buku iqra’ ke tempatnya semula. Begitu pula Mala. Tetapi ia selesai duluan.

Dari dalam kulihat Mala duduk tercenung memandangi hujan. Dagunya bergerak-gerak hingga aku berasumsi dia tengah memuroja’ah ayat-ayat suci. Mungkin bagi orang lain tak ada yang membelai mesra jilbab hitam besarnya, selain angin. Tetapi di mataku, sekawanan kupu-kupulah yang beterbangan dan mengibas-ibaskan sayapnya di atas jilbab itu secara bergantian. Hal itu menjelma daya magis tersendiri yang menarikku untuk menawarkan payung.

“Mau bareng?” Aku mengibarkan payung. Mala membalas dengan senyuman serupa yang ditujukannya pada para santri. Senyum itu berlanjut pada sebuah anggukan. Lalu di bawah guyuran hujan itu, di antara cubitan rasa sungkan yang sesekali nyelekit, aku seolah diajarkan kembali, meskipun parasit, cinta tetaplah mampu menghasilkan bahagia.

Di ujung perjalan jauh yang terasa begitu cepat itu ia berpamit.
“Terima kasih.” Katanya. Ia gegas berlari kecil di halaman rumahnya sambil menutupi kepala. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu ia sempat berbalik, mengangguk, dan tersenyum lagi padaku melalui tatapannya. Meski di luar hujan, tetapi di dalam hatiku pelangilah, yang justru terbit, melukiskan warna cinta kala itu.
Aku mulai dibuat percaya lagi pada cinta dan kebahagiaan yang ditawarkannya tersebab Mala. Tetapi saat aku benar-benar berazzam akan mengungkapkan rasa padanya. Mala malah tak lagi muncul di tempat biasa kami bertemu. Aku tak tahu bahwa senyumnya sore itu adalah seyuman terakahir yang kulihat.

Para santri mulai mengadukan kehilangan mereka akan Mala. Bagaimana bisa aku menjawab sementara pikiranku telah lebih dulu diteror pertanyaan yang sama? Kulihat pesan WhatsApps yang kukirimkan padanya berulangkali. Tak kunjung membiru.
Lalu aku beringsut, bertanya pada para tetangga. Dan akhirnya kudapat info bahwa Mala dan keluarganya telah pindah ke luar kota. Tetapi mereka enggan mengatakan alasan pastinya.

Rasa sesak mulai berhamburan bersama sepi yang kurasa saat mengajar TPQ tanpa Mala. Aku seperti mengalami de javu. Kebodohanku percaya pada cinta telah membuatku terpuruk kedua kalinya. Setiap hari aku berjalan melewati rumahnya berharap rumah itu kembali bercahaya. Akan tetapi, hanya lubang menganga di salah satu jendela dipenuhi jelaga yang menyapaku.

Begitulah Tuhan, suka menolong hambaNya lewat hal-hal sederhana. Seperti fajar menyambut hari, sebuah pesan WhatsApps menyusup ke gawaiku usai tujuh bulan lamanya sejak terakhir aku memeriksa nomor itu. Dari Mala, Bisa ketemu, aku mau ngomong sesuatu?

Jelas aku menemuinya. Entah mengapa perjalanan ke tempat yang dijanjikan itu terasa berat walau sebenarnya aku bersemangat. Pikiranku terus bekerja. Berjibaku dengan sebagian kekecewaan yang mungkin kudapat di pertemuan nanti. Kata-kata embah kembali menghantui, pengalaman burukku, pun rasa sakit tak tertahankan lantaran ditinggal rabi. Berlesakkan berebut tempat untukku mengambil keputusan di sepanjang jalan.
“Cinta adalah parasit. Kau harus membuangnya!” kata sebagian dirku.
“Tidak. Bukankah cinta adalah sumber utamamu merengkuh bahagia? Bodoh jika kau membuangnya!” timpal sebagian yang lain.
Jantungku semakin berdegub kencang seiring langkah kakiku mendekati wanita itu. Kini tinggal beberapa langkah saja sebelum aku benar-benar bertemu Mala. Tetapi pikiranku masih getol berdebat.

Ternyata benar. Kekecewaan yang menang. Dari dekat, di sebelah jajaran bunga bakung, kulihat perut Mala telah membesar. Seketika, jiwaku seolah terombang-ambing di tengah badai. Kehilangan arah.
“Maafkan aku.” Ia menyapa dengan suara parau. Aku duduk berjarak satu meter darinya. Mendengarkan semua penjelasan perihal perut besarnya. Suara-suara yang keluar dari mulutnya tak lebih angin lalu. Menembus batinku yang kosong terhisap kecewa. Aku tak ingin diluluhkan, meski saat itu ia meyuapku dengan air mata.

Keheningan menguasai waktu beberapa saat.
Angin berembus damai kala itu. Lagi-lagi, Yang Maha Pencinta seperti telah menakdirkan aku, untuk menepis semua keraguan, kekecewaan, dan rasa sakit itu begitu saja. Mulutku digerakkanNya. Bergetar memberanikan diri, melakukan hal tersulit di dunia: menerima ketidaksempurnaan.

“Aku memang mencintaimu,” tuturku terdengar lirih, kalah saing dengan nyanyian angin kala itu.
“Dan cintaku padamu hanya merugikan jiwaku saja. Menebar luka tak terkira. Menyesap daya hidupku untuk hal yang sia-sia. Tetapi…,” sergahku, “memang kita hanyalah manusia biasa. Tak ada yang sempurna termasuk cinta. Jadi, jika cinta memanglah parasit, seperti kata Embahku. Maka untuk bahagia, aku tetap harus menerimamu apa adanya. Barangkali itulah makna, di balik namamu. Nirmala.”

Klaten, Februari – April 2021

Cerpen Karangan: Adnan Jadi Al Islam
Blog / Facebook: Senju Adnan Hashirama

Cerpen Hemimetabola merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Summer Love

Oleh:
Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, bermaksud untuk mengakrabkan diri sebelum tinggal untuk beberapa waktu lamanya. Udara yang semakin menghangat padahal jam baru menunjukkan pukul 8 pagi, pantaslah ini

Cinta Ku Busway

Oleh:
7 bulan jomblo itu rasanya parah-parah banget, kalau setiap malem kaga ada yang ngucapin “selamat malam sayang, semoga mimpi indah ya” dan kalau pagi pun enggak ada yang ngucapin

Hidupku Tak Sepahit Jamu Ibuku

Oleh:
Tak ada yang istimewa dalam hidup Rofan. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia mempunyai seorang kakak perempuan, satu adik cewek dan satu adik cowok. Kakak perempuannya sudah

Dijaga, Kalau Bicara!

Oleh:
KALAU sudah bicara kasar atau bicara seenaknya tanpa pakai otak. Terimalah hasilnya tanpa pakai otak juga. Sesuatu yang diawali tanpa pikir harus diterima dengan tanpa pikir juga. Tak usah

Ku Temukan Hati Yang Tak Biasa

Oleh:
Aku wanita yang tak begitu peduli dengan cinta. Entah mengapa aku sendiri pun terasa tak punya alasan untuk menjawabnya. Ketidakpedulianku ku buktikan hingga saat ini, aku masih betah sendiri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *