Hewan Patuh dan Manusia Pembangkang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Hewan yang diharamkan bagi umat Islam ada dua. Pertama babi, kemudian anjing. Dua hewan ini merupakan hewan yang paling dihindari oleh umat muslim. Jika terkena atau melakukan kontak fisik dengan mereka -biarpun hanya sedikit seperti menyentuh rambutnya- maka wajib dibersihkan. Jika tidak, maka ibadah yang dilakukan tidak akan diterima, karena masih ada najis yang menempel.
Ya, dua hewan tersebut sebenarnya tidak seburuk yang kelihatannya. Hanya saja, itu sudah ketentuan bagi umat Islam, jadi harus diikuti.

Sebenarnya, kedua hewan tersebut merupakan bagian kecil dalam dunia ini, yang cukup penting dalam pergerakan dunia. Babi dibiakkan sebagai bahan makanan dan pembersih alami, sedangkan anjing sebagai hewan domestik yang banyak dipelihara. Tidak hanya dipelihara saja, anjing juga punya banyak fungsi penting. Contoh kecilnya, adalah sebagai penjaga rumah. Anjing diparkirkan di kawasan rumah, kemudian dilatih untuk menggonggong jika ada penyusup yang tidak diinginkan masuk. Mereka sudah seperti alarm hidup dengan fungsi lebar.
Ada juga anjing yang digunakan sebagai pekerja lapangan. Seperti jenis Herder sebagai anjing pelacak di satuan kepolisian, khusus untuk mengejar kriminal dan mengendus barang-barang berbahaya -narkoba, bom, dan sebagainya- saat melakukan inspeksi.

Ada juga jenis German Sheppard yang dilatih sejak kecil untuk menggembala domba. Biasanya wujud di Eropa dan Amerika daerah pedesaan. Anjing tersebut dipelihara untuk memudahkan penggembala menggiring domba-dombanya pergi ke lapangan rumput atau kembali ke kandang. Mereka juga menghalau serigala atau hewan buas lainnya yang akan merusak. Di ladang, anjing ini dipelihara untuk menghalau burung-burung perusak -gagak dan sejenis- juga pencuri lainnya.

Ada lagi jenis Balto yang bertugas untuk menarik kereta di daerah Alaska dan Kanada. Di zaman keemasannya pada abad di mana kendaraan bermotor belum tercipta, anjing ini digunakan sebagai media transportasi satu-satunya. Karena kuda sulit untuk berlari di daerah bersalju, makannya anjing ini digunakan. Mereka menarik sebuah kereta luncur -empat sampai delapan ekor- dari satu daerah ke daerah lain. Anjing ini tahan dengan cuaca ekstrem, di bawah 0 derajat Celsius, dan tahan dengan perjalanan jauh. Mereka sangat kuat, dan begitu penurut.

Ada suatu acara yang kutonton di National Gheographic Channel sebelumnya, tentang anjing-anjing Balto ini. Sebuah kecelakaan terjadi pada tahun XXXX, menyebabkan kereta luncur masuk ke dalam jurang. Hal ini terjadi karena si pengendara sulit untuk mengendalikan anjing-anjingnya saat melintasi jalur berbadai. Muatan kereta yang terlalu berat juga merupakan penyebabnya. Kereta tersebut anjlok saat melewati sebuah jalan dengan salju tebal, yang tidak begitu kuat tumpuannya, menyebabkan kereta, anjing-anjing, serta pengendaranya jatuh ke jurang.
Si pengendara tidak mengalami luka apa-apa, begitu juga para anjing-anjingnya. Namun, keretanya hancur, tidak bisa digunakan lagi. Syukurnya, muatan yang dia bawa-obat-obatan yang akan dikirim ke kota lain -tidak mengalami kerusakan. Mengetahui hal itu, si pengendara pun memutuskan untuk berjalan kaki ke kota tujuannya -yang berjarak cukup jauh.

Tentu, dia bisa mencapai lokasi tersebut jika tidak ada halangan lain. Mungkin hanya perlu beberapa jam saja agar tiba di sana. Hanya saja, dalam kondisi badai salju seberat itu, dia tidak mungkin bisa bertahan lama jika berjalan kaki.
Hanya saja, pengendara tersebut tidak punya pilihan apa-apa. Dia terpaksa harus berjalan kaki. Bertahan di sana dan berharap ada yang akan lewat, lalu menumpang ke kota tersebut bukanlah pilihan bagus. Dia akan mati kedinginan duluan. Jadi, dia melangkah maju, pergi dengan kedua kakinya, menggendong muatannya, bersama keenam anjing Balto-nya.

Setelah beberapa kilometer, si pengendara tersebut kehabisan tenaga. Tubuhnya mulai kaku, hampir beku. Pergelangan kaki dan tangannya mulai berdecit seakan-akan darah dalam tubuhnya telah mengeras. Temperatur tubuhnya juga menurun, sedikit saja lagi akan mencercah angka bahaya.
Dalam sekejap, dia pun terjatuh di tengah jalan, di dalam badai salju yang tak mungkin bisa dilaluinya. Dia ingat benar, bahwa jarak yang ditempuhnya sudah dekat. Namun dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia tak akan bisa beranjak menggapai tujuannya.
Di saat itu, dia sudah yakin bahwa dia pasti akan tewas.

Tapi, situasinya berubah total. Kematiannya bukan ditetapkan hari itu. Dia selamat, tidak membeku dan terkubur dalam salju. Dia hidup hari itu, dan bisa kembali ke kotanya dengan selamat.
Bagaimana dia bisa selamat…?
Ya, caranya sangat ajaib. Dia diselamatkan oleh keenam anjing Balto-nya. Anjing-anjingnya menyelimuti si pengendara tersebut. Lima anjing menutupi tubuhnya; menutupi punggungnya; menutupi perutnya; menutupi kaki-kakinya; menjadi bantal untuk kepalanya; dan menghangatkan tangan-tangannya. Sementara kelima anjing lain mencoba menstabilkan suhu tubuh tuan mereka, anjing ke enam yang-paling tua -berlari ke kota tujuan mereka, menggonggong sepanjang jalur kota, menarik-narik siapa pun yang dia temui.
Tentu saja, dia terus ditolak, bahkan ditendang karena mengganggu. Namun anjing tersebut tidak menyerah sedikit pun. Dia tetap melakukan hal yang sama: menggonggong keras-keras, menarik-narik jaket tebal siapa pun yang ditemuinya, lalu berlari ke arah pintu keluar kota-memberikan isyarat pada mereka untuk pergi bersamanya.

Setelah beberapa lama, anjing tersebut tak kunjung mendapat respons yang diinginkannya. Sementara si Enam tak kunjung dijawab oleh orang-orang kota, lima temannya yang menyelubungi tuan mereka sudah mulai kedinginan. Mereka terselimuti salju, mulai terkena hipotermia, sedikit demi sedikit. Tapi demi tuan mereka, tidak ada satupun yang bergerak untuk menyelamatkan diri, pergi untuk berlindung di tempat hangat. Tak satupun dari mereka yang meninggalkan tuan mereka-walaupun secara insting mereka paham kalau mereka akan mati jika tetap berada di sana. Semuanya malah makin kokoh menutupi tubuh tuan mereka, menjaganya dengan segala kekuatan yang mereka miliki.
Sampai akhirnya Enam kembali, bersama dengan beberapa buah kereta luncur lainnya.

Untungnya, sherrif kota tersebut memperhatikan tingkah anjing ke enam. Karena saat itu sedang terjadi badai besar, sherrif tersebut memperkirakan bahwa suatu kecelakaan telah terjadi di suatu tempat -pengalaman opsir veteran. Dengan cepat, sang sherrif pun mengeluarkan kereta luncurnya, mengikat Enam pada keretanya, dan meluncur bersama beberapa peluncur lain di kota, menuju ke lokasi yang dibawa Enam.
Sampai akhirnya, mereka tiba di lokasi tersebut.

Sherrif menganggung si pengendara -yang sebenarnya petugas logistik yang sering mengantar perbekalan obat ke kota mereka- lalu membawanya dan anjing-anjingnya kembali ke kota.
Syukur, semuanya selamat. Tidak ada satu botol pun yang rusak, ataupun tubuh yang luka. Setelah mendapat perawatan di klinik kota, si pengendara tersebut pun kembali sehat, begitu juga keenam anjingnya. Mereka kembali lagi ke kotanya dua hari kemudian.

Apa yang dapat kita petik dari pohon- Maksudku, cerita di atas?
Ya, benar. Sebuah pelajaran berharga yang berasal dari anjing.
Kasih sayang, kepatuhan, dan kegigihan, serta keinginan untuk berbakti.
Anjing-anjing Balto tersebut merupakan bagian kecil, yang diharamkan dalam Islam, dan telah menjadi hewan najis untuk kaum muslimin sejak zaman B.C. Mereka hewan berisik, suka menjulurkan lidah, kotor, berliur, dan juga cukup mengganggu-dengan gonggongannya.
Tapi di balik itu semua, anjing tetap bukanlah makhluk yang tidak berguna. Lebih dari itu, mereka merupakan hewan yang paling penyayang dan bersahabat pada manusia. Hewan patuh yang begitu jernih hatinya.
Mereka sayang pada pemiliknya. Jika ada hal yang akan membahayakan si tuan, maka mereka akan menghalanginya. Itu terbukti dari sikap keenam anjing Balto tadi. Mereka bahkan rela dipukuli dan menghadapi maut untuk bisa menyelamatkan tuan mereka. Itu adalah bentuk kasih sayang, serta bakti dari para Balto tersebut. Keinginan kuat yang mereka miliki untuk menyelamatkan tuan yang mereka sayangi adalah hal yang paling besar dalam diri mereka.

Mereka juga sangat patuh. Jika disuruh duduk, mereka akan duduk. Jika disuruh bersalaman, maka mereka akan bersalaman. Jika disuruh berguling, maka mereka akan berguling, walau mereka tidak tahu apa fungsi dari perintah-perintah tersebut. Bahkan Samantha, anjing betina dalam film I’am Legend, menurut ketika disuruh pemiliknya untuk makan salad, walau dia tak menyukainya.

Ada juga kisah Hachikou, seekor anjing Akita yang menunggu kepulangan tuannya, Ueno Hidesaburou yang telah wafat di sebuah stasiun di Shibuya, Jepang, selama sembilan tahun sembilan bulan dan lima belas tahun. Anjing dengan bulu emas itu dikenal dengan kesetiaan luar biasanya, yang selama hidup, tidak pernah membantah perintah tuannya. Selama hidupnya -ketika Hidesaburou masih hidup- mereka selalu pergi ke stasiun tersebut untuk berpisah sekejap saat tuannya akan berangkat kerja. Hachikou akan menunggu di stasiun tersebut, sampai akhirnya tuannya pulang dengan kereta di jam yang sudah ditentukan. Kemudian keduanya pun akan kembali ke rumah bersama.
Tapi, pada satu hari, tuannya tak kunjung pulang.
Hachikou yang sangat menyayangi tuannya pun tetap menunggu, sampai akhirnya waktu kerja kereta selesai. Sampai akhirnya esok tiba, sampai musim panas pertama sejak tuannya tak pulang datang, sampai daun terakhir di pepohonan musim gugur jatuh ke tanah, sampai salju Desember 24 menghujani bumi, dan kembali putik-putik sakura bermekaran, menebarkan keharumannya di seluruh Tokyo, siap untuk dinikmati. Hachikou bahkan melewatkan April indah itu, tetap menunggu tuannya, tetap menanti ia kembali dengan kereta yang sama, dan senyum yang selalu ia tebarkan, kemudian berkata, “Tadaima, Hachikou.” padanya.
Selama sembilan tahun, dia tetap menunggu, tanpa mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Seekor hewan haram yang tahu betul, bahwa tuan yang baik, sangat penting baginya. Seekor hewan tanpa akal, yang begitu patuh, dan tak mengerti kata ‘menyerah’.
Baik para Balto itu, maupun Hachikou, mereka merupakan makhluk-makhluk yang mengerti dengan cinta, lebih besar dari apa pun. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada bersama tuan mereka, dan tak ada kebanggaan selain bisa berguna bagi tuan mereka.

Aku ingin menyembunyikannya, tapi merasa malu jika tidak mengatakannya. Aku menangis haru setelah menonton film Hachikou, juga kisah para Balto tersebut. Tidak tahu apa yang terjadi, aku bahkan menangis saat menulis bab ini. Aku merasa bahwa aku merupakan salah satu dari mereka yang menyaksikan langsung dua kejadian itu. Seolah aku ada di sana, merasakan betapa dinginnya badai salju yang menerpa para Balto tersebut, juga memperhatikan kesepian Hachikou selama sembilan tahun lebih.
Tapi, yang membuatku sedih bukan hanya itu saja. Namun, kekecewaan pada kehidupan kontemporer yang kulaui selama ini. Aku merasa malu pada para Balto dan Hachikou. Aku malu karena para manusia kontemporer tidak ada yang memiliki sifat mulia seperti mereka.
Orang-orang yang tak memiliki kasih sayang merupakan mayoritas. Tak berbakti adalah makanan harian mereka. Sedangkan sikap mementingkan diri sendiri adalah minumannya.

Guru-guru mengacuhkan para murid, begitu juga para murid yang tidak menghormati para guru mereka. Istri durhaka pada suami. Sedangkan anak-anak sering mengecewakan orangtua mereka. Lalu para orangtua tak peduli pada anak-anak mereka: membiarkan mereka merok*k, pacaran, main motor di jalan yang salah, atau menyakiti individu lain.
Sikap mereka bahkan lebih buruk dari anjing. Dan kebanyakan dari mereka adalah kaum muslimin.

Aku tidak mengerti. Ketidak-patuhan kaum muslimin selalu saja terselip di dalam keseharian mereka. Padahal tahu diri disuruh Sholat, tapi masih saja meninggalkannya untuk alasan-alasan yang tak penting, bahkan konyol, seperti takut ketinggalan acara TV favorit. Memangnya mana yang lebih penting, TV atau Allah. Jika mereka lebih memilih TV yang sebenarnya banyak mengirimkan hal-hal subhat, maka mereka lebih teruk dari anjing.

Hachikou tahu benar, kepatuhan adalah kewajiban baginya. Dia menganggap bahwa tuannya, merupakan orang yang telah memberinya tempat bernaung, dan mencurahkan segenap kasih sayang padanya hingga dia bisa hidup dengan nyaman. Karena dia mengerti hal itu, dia ingin menyambut tuannya tiap kali ia pulang, agar bisa menjaganya, kalau-kalau ada yang membahayakannya. Begitulah cara Hachikou berbakti pada tuannya, setiap waktu, setiap hari, tanpa lupa, bahkan saat tuannya tak kunjung muncul, hingga akhirnya ia mati pada 8 Maret 1935. Kepatuhan tanpa akhir.

Apa manusia ada yang seperti itu…?
Hanya mereka yang mengerti siapa diri mereka, tak lain hanyalah hamba Allah, yang akan mengerjakan perintah, patuh pada ketetapan Tuhan-nya.
Namun untuk mereka yang tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, mereka tidak akan pernah patuh, ataupun menyayangi Tuhan-nya.
Jika mereka tidak bisa menjaga kepatuhan terhadap orangtuanya, lantas apalagi pada Tuhan-nya. Semua itu sungguh ironis. Sangat tidak patut dimiliki manusia. Padahal kita diberi akal dan hati, lantas kenapa tidak menggunakannya dengan benar, pada jalan yang sebaik-baiknya.
Jika kita tidak bisa memunculkan perasaan dan pemikiran positif dalam diri kita, lantas apa kita masih bisa disebut manusia…? Sifat bongkak itu hanya milik satu makhluk, yaitu syaitan. Dan syaitan adalah selaknat-laknat makhluk.
Bahkan anjing tahu bagaimana caranya patuh dan berbakti.
Jika kita, para manusia, terus-terus saja membantah perintah Al-Karim, maka, apa kita masih layak menerima tanggung jawab sebagai Khalifah di dunia ini…?
Kita bahkan lebih rendah dari anjing. Lebih mirip syaitan.

Aku memang tidak memelihara anjing, karena kami dilarang untuk memeliharanya-jika tidak dibutuhkan. Namun aku tak pernah membenci mereka. Karena mereka bukanlah makhluk pembenci seperti syaitan.
Aku tak pernah hidup dengan anjing, diselimuti saat hampir mati waktu kehabisan tenaga di tengah badai salju, atau ditunggui oleh anjingku di stasiun setiap hari ketika aku pulang kerja. Aku tidak memiliki pengalaman semacam itu.
Tapi, aku pernah memiliki satu pengalaman yang mengesankan soal anjing. Seekor anjing hutan di pedalaman kampungku, yang pernah kuberi makan waktu dia kulihat kelaparan, tergeletak di tengah hutan, waktu aku ziarah kubur.

Suatu hari, setelah lama sekali, saat aku sedang lari kocar-kacir karena dikejar babi hutan, aku pun diselamatkan oleh anjing itu. Dia menggonggong, menakut-nakuti babi hutan tersebut, sampai akhirnya babi itu berlarian masuk ke hutan lagi.
Anjing itu mengenalku. Kurasa itu wajar, karena anjing punya ingatan yang sangat kuat dengan bau yang pernah mereka cium -apalagi bau manusia. Mereka bisa membedakan baik atau buruknya seseorang dari baunya.
Jika anjing tersebut menyelamatkanku hari itu, kuyakin dia mengenali bau tubuhku. Dan dia mengerti, bahwa aku bukan orang jahat -dan kuharap begitu.
Dia, seperti tersenyum saat kami kembali bertemu. Aku tak pernah tahu seperti apa hewan tersenyum, karena kurasa mereka tidak bisa mengukir senyuman di wajah mereka. Tapi, perasaan tersebutlah yang kurasakan waktu itu.
Dia seperti mengatakan, “Terima kasih sudah menyelamatkanku hari itu, aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi, karena aku belum sempat mengucapkannya waktu itu. Sekali lagi, terima kasih.”
Tidak ada kalimat, “Sekarang kita impas.” darinya. Dia tak menolongku agar melunaskan hutang budinya atas bantuan yang kuberikan, namun menolongku karena dia merasa berterima kasih padaku. Anjing sangat berbeda dengan manusia. Sekali kita berbuat baik pada mereka, maka berkali-kali, mereka akan menyukai kita.
Sungguh hewan yang mengagumkan.

Entah kapan manusia bisa berubah dengan persepsi buruk mereka, bersikap selayaknya manusia, dan tak terus-terusan bersemayam dalam kecongkakan mereka…?
Kuharap ada yang punya jawabannya.

Cerpen Karangan: Faz Bar
Profile I’m just an ordinary guy, with no talent or awesomeness. I like to write, especially a light novel. My dream is to write a light novel that then being adapted into an anime series (I’m serious about this). I like anime and J-Pop music, and all about Japan. My favourite protagonist is Hikigaya Hachiman, whether the heroine is Yukinoshita Yukino from Oregairu. I’m still an amature. But, I sure can be one of like those great writer whom had made history with their works. I want to be one like that. A famous writer (once again, I’m serious about this).

Cerpen Hewan Patuh dan Manusia Pembangkang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teringat Frankenstein

Oleh:
Siang itu usai gempa 5.9 skala richter mengguncang Kota Bengkulu, suasana kota cukup lengang, masyarakat khawatir guncangan gempa susulan. Gempa tentunya bukan momok yang baru bagi masyarakat Bengkulu yang

Pencopet Ulung

Oleh:
“Kukkuruyuukkk… Kukkkuurrruuuyyuukkk…” Suara ayam jantan yang sedang berkokok dengan gagahnya membangunkanku di tengah kegelapan pagi. Suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari bergantian hingga tak terhitung jumlahnya. Suasana

Maaf Yang Tertunda

Oleh:
Ketikaku menghadapi kehidupan yang pelik ini, mampukah diriku hanyut dalam suasana yang sangat bertentangan dengan hatiku, Ya Allah hamba malu pada engkau, hamba tak mampu menghadapkan wajah kepada akhirat-Mu.

Arti Kehadiranmu Di Hidupku

Oleh:
Namaku Deasy. Sebelum memulai kisahku, aku ingin mengajakmu kembali ke tahun 2003, saat aku masih berusia 27 tahun. Kehidupanku berjalan normal dan menyenangkan. Ketika itu, aku bekerja sebagai sekretaris

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hewan Patuh dan Manusia Pembangkang”

  1. Tanaka Yoshie says:

    Kereeeennnnnnnnnnnn…..
    Membuat mata berkaca-kaca :’) amanatnya ngena sekali…

    Sukses selalu! Semoga impiannya membuat light novel jadi anime terwujud 😀 Itu cita-cita saya juga ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *