Hidup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 October 2016

Kata mereka harus begini. Tidak seharusnya aku begitu. Tapi aku tidak bisa. Semua harus sesuai rencana, semua harus di bawah kendaliku. Mereka mulai menatapku, mencela, mencerca, karena apa yang aku lakukan salah. Tidak sesuai harapan mereka. Karena aku tidak mengikuti mereka, makanya aku salah. Makanya hasilnya salah.
Bukan untuk pertama kali, bukan juga kedua kalinya. Ini sudah keseringan. Aku bak boneka yang ditalikan dan dikendalikan. Suaraku sudah lama hilang arti. Keberadaanku tidak lain hanya sebagai ojek kekuasaan untuk meraih kepuasan. Aku tidak berharga diri. Tidak ada ruang untukku miliki. Semua terisi penuh dengan keinginan-keinginan mereka.
Tapi tidak untuk kali ini. Aku akan berdiri, mempertahankan apa yang aku kehendaki. Tidak peduli mereka mengancamku hingga mati. Tidak ada lagi rasa takut yang bersarang, terhimpit kemuakan, kemurkaan. Aku manusia. Aku juga bisa begitu; memaksa, menuntut, mengendalikan.

“Aku akan pergi!” Tekadku sudah bulat. Terserah mereka mengataiku dengan caci maki.
“Kau tidak bisa hidup sendiri.”
“Itu jauh lebih baik ketimbang hidup dengan orang yang tidak menganggapku hidup.”

Aku muak dengan permainan ini. Tapi ini bukan permainan, namun penindasan. Di dalam sebuah permainan, kau memiliki peluang untuk menang. Tapi di sini, aku dipaksa untuk harus kalah telak. Karena kalau tidak, mereka akan marah dan mengatai, dan mencerca, dan menghina.

“Kau akan jadi anak durhaka kalau begitu. Juga istri durhaka. Dosamu berlipat ganda.”
“Biarlah urusan dosa Tuhanku yang memperhitungkannya. Dia memberiku hidup tentu bukan untuk ditindas.”
“Tapi kewajiban kita sebagai anak untuk patuh pada kedua orangtua, dan setelah menikah, kita harus tunduk pada suami.”
“Aku akan begitu jika mereka menghargaiku. Menganggap dan memperlakukanku sebagai manusia. Bukan sebagai pabrik pencetak kebanggan, investasi yang harus menghasilkan keuntungan, atau robot yang bisa memuaskan. Aku manusia.”
“Tapi tetap saja salah jika kau melanggar kodratmu.”
“Kodratku sebagai apa? Pembantu? Pel*cur?”
“Jangan bodoh.”
“Kau juga mengalaminya. Jangan tanya aku bagaimana rasanya selama ini. Kalau kau sanggup menahannya, berarti kau sendiri sudah tidak menganggap dirimu manusia.”
“Aku mohon, jangan buat masalah.”
“Aku menyelesaikan masalah. Masalah hidupku adalah mereka. Aku akan menjauh dari masalahku. Itu saja.”
“Bagaimana kau akan hidup nanti?”
“Aku akan benar-benar hidup nanti. Aku akan memiliki kendali untuk diriku sendiri. Di sini, aku hanya robot dengan tombol pengendali yang ada pada perintah suamiku, orangtuaku.”

Pakaianku sudah diberesi. Suamiku baru akan pulang malam nanti, dan aku sudah akan pergi sebelum dia mulai mengeluarkan suara, siap mencaci aku yang terlambat membukakan pintu, atau makan malam yang tidak sesuai seleranya, atau kamar kami yang terasa begitu memuakkan, atau lantai yang terlalu licin. Semua hal yang hanya memiliki satu tumpu kesalahan. Aku.

Berita kepergianku tentu akan sampai di telinga kedua orangtuaku. Aku ingin sekali menyaksikan ekspresi wajah mereka ketika mengetahui hal itu dan aku akan tertawa terbahak-bahak. Saat itu mereka baru akan sadar bahwa aku juga punya kendali untuk diriku sendiri setelah sejak aku bisa bicara mereka menjentik bibirku jika aku mengatakan hal tidak patut yang kudengar dari anak tetangga, atau mematahkan mainanku jika aku tidak menghabiskan malam, atau melarangku memiliki telepon genggam hingga aku menikah, membakar hangus novel-novel yang kubeli dengan uang hasil kerjaku sendiri, atau memaksaku menikahi seorang monster seperti mereka.

“Ayo ikut denganku.”
“Kau gila.”
“Kita memang sudah gila karena bertahan selama ini. Aku tidak tahu darimana aku dapatkan keberanian ini. Selagi kita belum memiliki anak. Apa kau rela anakmu merasakan rawit di bibirnya hanya karena dia berbeda pendapat denganmu? Atau mendapat pukulan di pantatnya karena pakaian yang dia kenakan kekecilan? Padahal tubuhnya yang bertambah besar, kau hanya perlu membelikannya baju baru.”
“Aku…”
“Jangan menangis. Tidak lelahkah kau menangis terus-terusan tiap hari? Lebih baik kulitku disayat daripada perasaanku diinjak-injak tak berkesudahan.”
“Ta-tapi, di mana kita akan tinggal? Kau tidak punya uang. Aku juga. Kenalanpun tidak ada. Kita mau makan apa? Bagaimana kalau mereka lapor polisi dan menangkap kita, lalu kita akan lebih disiksa lagi.”
“Aku punya cukup uang. Aku menabung, menyisihkan sedikit demi sedikit uang belanja dari suamiku. Aku juga bisa menjual cincin kawin ini. Sudah tidak ada artinya. Kita bisa mengontrak kamar kost-kostan. Kita sudah dewasa, bukan anak di bawah umur. Kita bisa bekerja. Soal polisi aku rasa kau tidak perlu khawatir. Mau ditaruh di mana muka mereka jika banyak orang tahu kita meninggalkan rumah? Sama saja dengan mencoreng muka sendiri kalau begitu.”
“Baiklah.”
“Kau mau?”
“Aku akan pulang mengambil baju-bajuku. Kita bertemu di stasiun saja.”
“Baiklah.”

Ini akan menjadi jauh lebih ringan daripada yang aku bayangkan. Adikku juga akan ikut serta denganku. Kami akan benar-benar hidup bersama. Tidak ada lagi teriakan-teriakan untuk memenuhi kehendak. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa dengan bebas mencoba resep-resep baru yang kubaca di majalah, atau menonton televisi di atas pukul sepuluh, atau memilih sabun dan sampo yang aromanya sesuai keinginanku.
Semua akan menyenangkan, aku yakin itu. Tidak ada lagi piring pecah karena suara sendok dan garpuku yang terlalu ribut, tidak ada lagi suara-suara menjijikkan yang kudengar setiap kali kami bercinta, tidak ada lagi telapak tangan kasar yang meremas payudaraku tanpa peduli aku menjerit benar-benar kesakitan, dan tidak ada lagi lantai dingin yang selalu menjadi alas tidurku setiap aku kedatangan tamu bulanan.

Sudah hampir pukul satu. Aku akan bertemu adikku di stasiun pukul dua nanti. Seharusnya dia sudah menelepon atau mengabariku lewat pesan singkat bahwa dia sudah jalan karena jarak rumahnya dengan stasiun begitu jauh.
Tiga puluh menit berlalu. Aku sudah mengunci pintu rumah dan meletakkan kuncinya di bawah pot bunga yang tiap pagi aku sirami. Telepon genggamku berbunyi, menampilkan nama adikku di sana.
“PERGI SEKARANG! Suamimu akan pulang! Aku ketahuan. Tidak akan ada kesempatan lain. Pergi sekarang!” Suaranya tenggelam oleh bunyi tamparan dan teriakan yang tertahankan.
Keringat dingin mengucur deras di pelipisku. Keyakinanku yang sebelumnya begitu besar perlahan menguap. Sanggupkah aku membiarkan adikku berada dalam penderitaan sendirian? Setidaknya selama ini kami masih punya tempat berbagi. Jika aku pergi, aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Jika aku tinggal, aku yakin aku juga tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Dan mungkin kakiku akan dirantai.
Langkahku pasti untuk meninggalkan neraka ini. Mungkin nanti saat keberanianku lebih besar lagi, aku akan menjemput adikku. Mungkin aku bisa melaporkan masalah ini kepada Komnas Perempuan. Aku dengar mereka tidak lagi perlu lagi dibayar untuk mengurusi wanita seperti kami.

Taksi yang kupesan sudah tiba. Oh kenapa pekarangan rumah ini terasa begitu luas saat aku harus berjalan ke sana, membuka gerbang untuk yang terakhir kalinya dan akan menutupnya tanpa rasa penyesalan.
Andai saja. Andai saja suamiku menyetujui keinginanku dulu untuk tinggal di kawasan tempat tinggal adikku yang memiliki banyak tetangga dan tentu saja dengan pekarangan yang kecil. Sudah pasti, aku sudah duduk di kereta saat ini. Aku sudah duduk dengan kelegaan dan mulai memikirkan rencana-rencana untuk hidupku yang sebenarnya. Menata kehidupan pasti begitu menyenangkan jika kau menggunakan pikiran dan perasaanmu sendiri.

“Sudah bosan hidup, heh?”
Aku tidak pernah benar-benar hidup selama ini. Itu yang ingin aku suarakan, namun hanya bunyi tamparan yang terdengar. Pipiku tidak lagi merasakan perih. Sudah kebas, nyaris mati rasa. Lidahku mengecap rasa amis darah yang menetes dari hidungku. Tangisku tidak akan meredakan kemarahannya. Tidak pernah. Justru dia akan menggebu-gebu menghabisiku dengan umpatan, celaan, hinaan, cacian, yang hanya manusia tidak bertelinga yang sanggup mendengarnya.

“Mau mel*cur di luar sana?”
“Tidak tahu diri! Kau kira kau hebat?”
“Mau kuikat lehermu, kuseret ke mana-mena seperti anj*ng? IYA?”
“Mulai hari ini, semua pintu akan kukunci dari luar. Kalau sampai kau coba kabur lagi, aku pastikan kau tidak akan bisa menginjak tanah dengan kedua kaki pendekmu itu.”

Aku sudah ditel*njangi. Libidonya selalu hidup setiap melihatku berdarah. Tidak mempan menjerit ampun padanya agar berhenti menyiksa liang peranakanku dengan jari-jarinya. Dia akan menggigitku, benar-benar menggigitku hingga berdarah. Lengan dan leherku adalah bagian favoritnya. Entah setan apa yang merasukinya. Entah obat apa yang bisa menyembuhkanya.

Aku hanya perlu berpikir keras. Kemungkinanku untuk bisa ke luar dari neraka ini memang mengecil. Namun tekadku semakin besar. Aku hanya perlu mencari cara untuk mendobrak pintu dari dalam, atau cara memanjat pagar tembok setinggi empat meter itu, atau mencuri kesempatan untuk kabur saat suamiku sedang mandi. Atau aku hanya harus memulihkan diriku lagi. Fisikku sangat tidak mendukung untuk melakukan itu semua saat ini. Satu-satunya cara agar diriku pulih hanyalah dengan melakukan kesalahan –atau membuat suamiku berpikir aku melakukan kesalahan- seminim mungkin.
Nanti, setelah aku pulih kembali, aku akan menyusun rencana untuk mendapatkan kehidupan yang sebenarnya. Mungkin akan butuh waktu lama. Tapi untuk mendapat sesuatu yang kau impikan-impikan memang tidak pernah mudah.

End.

INI HANYA KISAH FIKTIF. TIDAK ADA MAKSUD APA-APA, TIDAK BERMAKSUD MENYINGGUNG PIHAK MANAPUN. HANYA TERINSPIRASI DARI SEBUAH KISAH NYATA YANG SAYA BACA. TIDAK ADA PEMBENARAN DARI KESALAHAN-KESALAHAN YANG TERKANDUNG DALAM CERITA INI. PUTIH TETAPLAH PUTIH. HITAM TETAP HITAM. JIKA KAU BELUM BISA MEMBEDAKANNYA, BERARTI KAU MASIH ABU-ABU.

Cerpen Karangan: Dhea CLP
Facebook: Dhea Mezita
Saya baru membaca semua komentar yang ada di cerpen-cerpen saya lainnya. Maaf tidak bisa menanggapi satu-satu. Terimakasih atas apresiasi baik dalam bentuk pujian, kritikan dan saran. Saya sangat menghargainya.

Cerpen Hidup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Ayah

Oleh:
Nadela melihat pemandangan kota New York yang indah dari jendela pesawat. Semua orang mengira bahwa hati Nadela sangat senang saat ini karena menerima penghargaan dari luar negri sebagai penyanyi

Broken Home

Oleh:
Nia seorang gadis yang berumur 14 tahun ini mempunyai seorang adik yang berumur 5 tahun, keseharian nia memang tak terlalu sibuk sehingga dia lebih sering di rumah. Memang hubungan

Pak Tua

Oleh:
Pagi begitu cerah. Langit biru udara sejuk menemani perjalanan pagiku menuju tempat kerja. Aku menengok jam tanganku. Waktu baru menunjukkan pukul 06.33 menit. Selama kurang lebih satu jam selalu

Kabut Sudah Tersiram Hujan

Oleh:
Dengan sorotan mata telah merekam semua kejadian di bawah langit yang secerah cermin. Rekaman yang tak bisa dicetak berbentuk nyata hanya bisa diputar ulang dengan gulungan kaset yang tak

Lalat Lalat Waktu

Oleh:
Judul cerpen ini (atau apapun bentuk tulisan ini menurut kalian) mungkin terdengar seperti terjemahan bebas dari judul salah satu lagu band progressive rock asal inggris: Porcupine Tree, yang berjudul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hidup”

  1. Algi azhari says:

    Cerpennya bagus dan unik, tp khusus dewasa kyknya,,hi2..but overall good! bs dbilang ini novel versi mini. Keep up the good work homie!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *