Hidup Itu

Judul Cerpen Hidup Itu
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 December 2016

Di sebuah Kecamatan Kedaton tahun 2000, tepatnya di kota kecil “Rejomulyo,” hiduplah seorang anak yang bernama Bedil. Ia merupakan seorang anak pertama yang kerap kali manja dan cukup bandel. Gelagatnya tangkas, juga memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Selain itu, Ia juga pandai berkelahi sehingga banyak anak-anak sebayanya yang takut berurusan dengannya. Teman-teman dekatnya segan mencari masalah dengannya dan menganggapnya sebagai pimpinan kelompok.

Suatu hari, tepatnya ketika di Pasar Kenari, Bedil asyik membaca Koran “Lamer.” Maklum, karena bocah bertangan besi ini seorang yang bandel, jadi dia berani bertindak di luar batas anak-anak sebayanya. Awalnya, tentu Ia membuka highlight yang “waw” itu. Kemudian, iseng-isenglah Ia membolak-balik koran itu. Ternyata, tak disangka Ia memperoleh sebuah pertanyaan penting yang terngiang-ngiang di otaknya. Di sudut koran halaman 4 tersebut, ada sebuah opini, yang ditulis oleh penulis eceran berinisal AK, menyinggung tentang persoalan hidup.
Teringatlah Ia akan kalimat terakhirnya, “Jangan pernah berhenti untuk melaksanakan tujuan hidup kita! Kepalkan jarimu dan majulah dengan pasti!”
Dari kalimat terakhir inilah, Bedil bertanya-tanya dalam hati tentang hidup. Tidak mengertilah Ia kenapa harus lahir di dunia ini, untuk apa dia berdiri di sini. Satu pertanyaan penting yang muncul di kepalanya hadir, “Untuk apa ya aku hidup?” Ia menanyakan hal itu terhadap dirinya sendiri, namun Ia sendiri tidak bisa menjawabnya. Maka, pusinglah Ia seolah-olah karena memikirkannya terus menerus. Mengingat Bedil juga seorang yang punya keingintahuan yang tinggi, mulailah Ia penasaran dan ingin mencari tahu jawabannya dengan caranya sendiri. Sejak saat itu, mulailah Ia bertanya kepada berbagai orang, dari teman sebayanya hingga yang lebih tua.

“Met, kamu tahu gak hidup itu untuk apa?” tanya Bedil.
“He? Tumben kamu nanyain kayak gitu lho Dil,” sahut Mamet.
“Ya kamu kan sahabat dekatku, siapa tahu kamu tahu tho.”
“Ya aku mana tahu, untuk bermain kali hidup itu.”
Tidak puaslah Bedil dengan jawaban Mamet. Maklum, karena teman sebayanya, Bedil beranggapan bahwa jawaban Mamet hanya dijadikan sekadar uji coba saja yang bisa dibilang semua anak pasti tidak tahu jawaban dari hal ini. Maka, teruslah Bedil mencari tahu jawaban daripada pertanyaan yang diajukan di benaknya sendiri.

Suatu Minggu di sore hari, terlihatlah Bu Jelita. Perlu diketahui, Bu Jelita merupakan Ibu yang termahsyur dan terkaya di Rejomulyo. Wajahnya terlihat sangat terawat meskipun bibirnya sedikit sumbing. Bu Jelita, seperti biasanya di Minggu sore, selalu menampakkan dirinya di depan “istana” miliknya. Sering juga pada tiap minggu sore itu, Bu Jelita sengaja pergi ke warung sayur untuk berbelanja kecil-kecilan, mengingat tiap minggu sore jadi tempat rumpi ibu-ibu Rejomulyo. Bagi Bu Jelita, berbelanja bukanlah sekadar berbelanja, tetapi justru untuk memamerkan hasil dari jerih payahnya mengeruk lahan tani di desa seberang. Dalam hal ini, pamer, dalam kamus Bu Jelita, menjadi sesuatu yang penting demi memperlihatkan kesuksesannya dan mempertahankan legitimasinya sebagai Ibu termahsyur dan terkaya di Rejomulyo. Maka seketika berbelanja, dipamerkanlah segala pernak-pernik emas dari telinga sampai kaki. Ada yang senang, ada juga yang benci; itu biasa. Yang jelas, Bu Jelita senang bergelagat demikian di Rejomulyo.
Kebetulan, Bedil memang berencana untuk menemui Bu Jelita. Siapa tahu, Bu Jelita bisa menjawab pertanyaan Bedil yang susah-susah gampang ini. Di sudut warung sayur itu, terlihatlah Bu Jelita sedang mengobrol dengan Bu Risma, si pemilik warung sayur. Kebetulan, kondisi hari itu agak sepi. Jadi, Bedil bisa menanyakannya dengan lebih luwes kepada Bu Jelita. Seperti biasa, semakin mendekat semakin terlihat kinclong pernak-pernik Bu Jelita. Bedil melipir mendekati silau-silau perkakas Bu Jelita, yang ibaratnya berbunyi “cling!” itu.

“Assalamualaikum Bu Jelita!”
“Walaikumsalam nak Bedil!”
“Wah, gelang emas Bu Jelita cantik amat!” Rayuan Iblis Bedil mulai menghinggapi Bu Jelita.
“Wah, iya dong! Ini baru loh Ibu Beli di Toko Emas Corina. Bagus kan? Bagus dong! Ah ah ah,” Geliat tawa Bu Jelita yang mengganggu telinga Bedil itu.

Bu Jelita memang orang yang paling senang dipuji hasil kekayaannya. Ia sangat senang kalau pernak-pernik emasnya dipuji oleh orang lain. Dengan begitu, Bu Jelita akan mudah bercerita banyak tentang berbagai hasil jerih payahnya, kesuksesan, ataupun juga besar hartanya. Entahlah Bedil memuji atau menjilat, yang jelas Bu Jelita terkesima akan sanjungannya.

“Bu, Bedil mau tanya, kok Ibu bisa ya sekaya ini? Sudah kaya, banyak perhiasannya lagi. Bedil ingin tahu loh Bu,” Seru Bedil penasaran.
“Hoo begitu. Kuncinya itu mudah sekali nak, ya kerja keras tho!” jawab Bu Jelita sambil meninggikan dagu.
“Kalau begitu, hidup ibu untuk apa?”
“Hmm… Tumben sekali anak sekecil kamu nanya begitu. Bagi Ibu sendiri, hidup itu ya untuk bekerja keras. Kalau kamu sudah bekerja keras, kamu nanti sukses. Kalau kamu sukses, nanti kamu kaya. Kalau kamu sudah kaya, kamu bisa beli banyak harta. Nah, inilah hasil jerih payah saya nak,” Cerita Ibu Jelita ke Bedil sambil menunjukkan pernak-pernik gelang emasnya.
“Hoo, begitu ya hidup. Lah terus kalau sudah banyak harta emang kenapa Bu?”
“Ya kalau sudah banyak harta, tentu kamu akan senang. Ada rasa bangga ketika kamu memiliki banyak harta. Semakin banyak harta, semakin kamu senang. Nah, baru bisa tuh kamu pamerkan ke orang-orang di luar sana.”
“Kalau misalnya teman-teman Ibu tidak sekaya dengan Ibu? Atau juga bisa dikatakan mereka kurang mampu? Berarti mereka tidak sukses?”
“Ya berarti mereka kurang bekerja keras nak. Mereka bukan pekerja keras. Ini membuktikan bahwa Ibu yang paling bekerja keras ho ho ho,” Gelak Tawa menghiasi bibir sumbingnya itu.
“Bagaimana dengan orang-orang yang kelaparan saat Ibu kaya begini? Apa dibiarkan saja?”
“Ya, biarkan saja! Itu tandanya mereka kurang bekerja keras. Mereka itu malas berusaha, makanya mereka jatuh miskin.” Seketika Bu Jelita langsung nyengir sombong dengan bibir yang sedikit sumbing itu. Barangkali, itulah anugerah bibir yang diperolehnya dari Tuhan. Bu Risma pun cemberut dengan perangai Bu Jelita yang nyatanya agak menyinggung hasil kerja kerasnya yang tak seberapa itu.
“Lalu, Ibu senang bergelimangan harta di tengah orang-orang yang kelaparan?”
“Ya salah sendiri mereka malas! Alah, kamu banyak sekali bicara dan protes, nak Bedil! Sudah, sana main tuh dengan Mamet, teman dekatmu. Aku gak mau bahas-bahas pertanyaan tidak pentingmu. Sana sana!” Bu Jelita pun mulai tersinggung dengan rentetan pernyataan Bedil.

Merasakan kemarahan Bu Jelita, Bedil pun meminta maaf kepada Bu Jelita dan mohon pamit. Bedil memperoleh banyak informasi tentang pertanyaan yang Ia tidak tahu jawabannya. Meskipun sudah memperoleh banyak informasi dari Bu Jelita yang termahsyur dan terkaya itu, Bedil masih merasa belum puas. Alih-alih semakin mengerti, Bedil justru semakin bingung. bingunglah ia karena tidak tahu jawaban sejati daripada pertanyaannya sendiri.

Sekitar seminggu kemudian, karena masih merasa bingung dan belum puas dengan jawabannya, Bedil mencoba menanyakannya kepada Ustad Boni. Ustad Boni merupakan seorang ustad tersohor di Rejomulyo. Ia berumur sekitar 70 tahun. Rambutnya telah beruban semua. Matanya jernih sebening air Gunung Salak. Hidungnya mancung. Bibirnya kecil dan tipis. Yang paling khas adalah jenggotnya, jenggotnya putih panjang, persis seperti jenggot Baasyir.

Biasanya setelah shalat dzuhur, Ustad Boni berdzikir terlebih dahulu sekitar 15 menit. Setelah berdzikir itulah, Bedil ingin bertanya terkait rasa penasarannya tentang hidup kepada Ustad secara “empat mata.” Ustad Boni pun menerima permintaannya untuk berdiskusi secara khusus dengan senang hati.
“Assalamualaikum, Kyai!” sapa Bedil.
“Walaikumsalam, nak Bedil! Sudah shalatkah nak?” Sambut Ustad dengan senyum berjenggot putih itu.
“Alhamdulillah, Kyai. Sudah Kyai. Bagaimana Kyai? Bisakah saya ngobrol panjang dengan Kyai terkait kegundahan saya, Kyai?”
“Silahkan, nak Bedil. Saya sebagai ustad akan sebisa mungkin mengurus kegundahan umat. Insya Allah saya akan membantu. Ceritalah nak,” jawab Ustad itu dengan tenang dan ikhlas.
“Begini Kyai. Saya ini sangat kebingungan dengan suatu gerangan. Saya bingung dengan keberadaan saya di sini. Untuk apa saya harus ada di sini? Sebenarnya, apakah tujuan manusia seperti saya ini hidup, Kyai? Saya benar-benar bingung, Kyai. Saya tidak bisa menjawab semua itu. Tolonglah Kyai, beri saya pencerahan.”
“Subhanallah! Anak yang cerdas. Saya yakin kamu kelak akan menjadi anak yang berguna, nak. Begini nak, semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Kita hidup ini hanya sementara. Kelak, saya akan mati dan kamu pun juga akan mati. Maka, keberadaan kita di sini sebenarnya untuk beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada-Nya dan sujud syukur kepada-Nya. Ketika kita mati nanti, kita tidak akan meninggalkan harta benda, tetapi kita hanya akan meninggalkan amalan dan dosa selama kita hidup di dunia. Begitulah nak jalan hidup kita yang sesungguhnya.” Jawab Ustad Boni.
“Jadi, hidup kita ini untuk beribadah kepada Allah?”
“Ya nak. Itulah hakekat daripada hidup ini.”
“Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang kelaparan ketika kita fokus beribadah kepada Allah?”
“Nak, beribadah itu bukan sekadar sujud sembahyang atau berdzikir saja. Beribadah itu adalah menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Jadi, ketika kita berbuat jujur, kita beribadah kepada Allah. Ketika kita memberi makan orang-orang yang kelaparan, itu juga beribadah. Ketika kita berbuat baik terhadap sesama, itu pun juga beribadah. Semua yang wajib dianjurkan oleh Allah itu adalah ibadah dan ketika kita menjauhi larangan-Nya, itu juga beribadah.” Tersenyumlah si Ustad tersohor itu dengan lembut, seolah-olah menampakkan cahaya kharismanya di depan umatnya.

Mendengar siraman rohani dari Ustad Boni, Bedil terdiam sejenak. Terdiamlah Ia merenungkan apa yang dibicarakan oleh Ustad Boni dengan mata yang sayu. Merenunglah Bedil dalam diam dan diam…
“Hoy! Bagaimana nak Bedil? Kenapa diam?” kejut Ustad Boni.
“Ah tidak apa-apa Kyai. Saya hanya termenung dengan semua itu. Saya rasa cukup dengan siraman rohaninya Kyai. Terima kasih atas pencerahannya Kyai. Saya merasa sejuk dengan perkataan Kyai, rasanya seperti mandi di air terjun.”
“Ah bisa saja kamu nak Bedil. Ya sudah, Kyai mau pulang dulu. Maklum, kan menjelang malam Jum’at, jadi Kyai mesti lebih banyak di rumah. Istri sudah menunggu.”
“Baik Kyai. Kalau begitu, saya pulang dulu. Assalamualaikum, Kyai!”
“Waalaikumsalam, nak Bedil!” Sambut penutup senyum dari Ustad Boni yang sedikit mesra.

Dalam bayang-bayang sinar matahari senja, termenunglah Bedil. Ia merenungkan dirinya di atas pohon ceri sambil sesekali memakan buah ceri. Apa lah jawaban daripada pertanyaannya sendiri yang masih terngiang-ngiang itu. Bedil tak mengerti. Namun, Ia ingat kembali segala macam omongan daripada Bu Jelita dan Ustad Boni, dua orang hebat dalam bidang yang berbeda. Sekian lama Ia berpikir sambil sesekali melahap buah ceri itu, akhirnya Ia menemukan jawabannya.

“Yes!”
Mengertilah Bedil jawaban dari semua itu. Semua yang terjadi di dunia ini, mulai dari usaha, harta, doa, hingga berbuat baik, semua saling berhubungan. Apa yang dijalani oleh manusia adalah sebuah usaha yang menghasilkan suatu harta; lalu apapun hasilnya, harus disyukuri dengan doa; kemudian hasil itu ditujukanlah selebihnya untuk berbuat baik menolong sesama. Ah, pasti manusia yang hidup seperti itu akan berujung pada kebahagiaan sejati! Ya, itulah tujuan hidup di dunia ini: berusaha, berdoa, dan menolong sesama!

Allahu Akbar, Allahu Akbar!
Seru adzan maghrib berkumandang. Telah mengertilah Bedil akan tujuan hidupnya. Kini, mulailah hari baru bagi Bedil. Sudah saatnya Ia melaksanakan tujuan hidupnya, mengepalkan jarinya, dan maju dengan pasti —seperti kata-kata yang diingat oleh si penulis eceran di Koran “Lamer” itu.
Bunyi adzan maghrib sudah selesai. Sudah saatnya Bedil melangkah dengan pasti dan capcus shalat maghrib.

THE END

Cerpen Karangan: Agil Kurniadi
Facebook: Agil Kurniadi
Agil Kurniadi merupakan seorang penulis eceran. Ia sempat berkuliah di Universitas Indonesia. Hobinya membaca, menulis, dan bermain musik.
Selain itu, ia juga merupakan seorang pengagum tokoh-tokoh “Bapak Republik”.

Cerita Hidup Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lukisan

Oleh:
Di sebuah desa nelayan yang asri, hidup seorang kakek bernama Hemings. Beliau disapa Opa oleh tetangga sekitar. Opa hidup sendirian, anak dan istrinya pergi karena tidak sanggup hidup dalam

Upik Abu? Bukan!

Oleh:
(sekedar ingin berbagi pengalaman ) “lulus SMP aja sekarang sudah kerja. Yang SMK malah nganggur. sudah disekolahin mahal-mahal, nggak bisa bantu orang tua!” Gunjingan orang-orang kepadaku. Mengiris kalbu. Pedih

Salah

Oleh:
Apakah kalian percaya akan adanya Tuhan? Hahahaha…. lelucon macam apa itu? Tuhan? Aku tak percaya itu semua. Bukan tak percaya, tapi berhenti untuk percaya. Aku tak lagi menganggap Something

Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

Gadis Fatamorgana

Oleh:
Wanita bergaya khas metropolis itu selalu datang setiap malam. Ia cantik, dan memang selalu berpenampilan menarik. Berbagai macam warna gaun, sepatu atau tas, bahkan perhiasan telah dipakainya setiap malam.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hidup Itu”

  1. Indriyana says:

    pencerahan banget, ya benar, berusaha berdoa dan menolon sesama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *