Hidup itu Tahu Tahu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 7 February 2021

Di sore hari yang cerah, penulis sedang menyiram pohon bunga kesayangannya. Bunga di atas pot yang diletakkannya di teras untuk menghundari patokan ayam yang nakal. Sedikit demi sedikit air dituangkannya dari gelas takar sambil mengagumi keindahan helaian daun yang menghijau. Tiba tiba anak tetangga lewat sebelah teras, dimana penulis sedang menikmati sorenya. Lelaki kecil itu lewat sambil nyeletuk, “Permisi, Pak!”, “yo’i” jawabku spontan. Lalu, secara spontan tersenyum sendiri. Kenapa?. Sapaan anak kecil tadi yang memanggilku dengan sapaan Pak. Jadi tesenyum sebab penulis yang selama ini “merasa” muda ternyata hanya perasaannya saja. Terbukti di mata anak itu penulis sudah dianggapnya tua sehingga dia memanggil pak. Senyum dan geleng geleng kepala yang bisa dilakukan si penulis. Tua… aku sudah tua… perasaan baru kemarin aku seperti dia, memanggil Pak kepada siapapun yang dianggapnya tua, lo, sekarang justru aku yang dipanggil pak. Pasti di mata si pemanggil aku sudah tua.

Bayangan masa SD, dengan seragam merah putihnya. SMP dengan biru putihnya yang khas. SMA dengan cinta monyetnya ternyata sudah terlewati begitu saja. Sekarang sudah tak ada lagi PR matematika yang rumit. Tugas kliping yang bikin pusing dan praktikum yang kadang menegangkan. Bahkan suara guru menjelaskan materi di depan kelas rasanya masih terngiang di telinga. Eh, sekarang sudah dipanggil Pak. Benar benar hidup itu tahu-tahu. Tahu-tahu sudah lulus, tahu-tahu sudah bekerja, tahu-tahu sudah dipanggil pak dan selanjutnya tahu-tahu yang lainnya.

Jagoanku yang hebat. Kalau saja kita mau sedikit bijaksana, maka kita tidak akan melewatkan setiap tahapan kehidupan yang kita lewati. Hari demi hari yang kita lewati sejatinya harus dijadikan tahapan persiapan untuk masa yang hendak dimasuki selanjutnya. Waktu dengan tegas dan pasti takkan “mau tahu” kepada kita untuk sekedar bertanya “apakah kita sudah siap untuk dibawa ke tahapan kehidupan berikutnya?”

Sama sekali kita tidak memiliki alasan untuk tidak melakukan yang terbaik disetiap waktu yang kita punya. Jangan sampai kita justru melewatkan atau malah membuang kesempatan yang ada hanya untuk melakukan perbuatan yang sama sekali manfaatnya kurang atau malah tak ada sama sekali. Nonton sinetron yang tak pernah ada tamatnya. Baca novel yang sama sekali tak memiliki manfaat nyata untuk peningkatan kualitas hidup. Kongkow sambil ngopi membahas permasalahan yang sudah ada yang bertugas menyelesaikannya sehingga akhirnya hanya menjadi rumpian rempong semata.

Jagoanku yang hebat. Hidup itu tahu-tahu. Tanpa kita sadari kehidupan akan membawa kita kepada alurnya tanpa meminta persetujuan kepada kita. Banyaknya persiapan yang kita lakukan akan berpengaruh kepada keadaan selanjutnya. Sebaliknya, kurangnya persiapan akan membuat kita “dipaksa” bekerja lebih keras dimana seharusnya kita dalam tahapan menikmati. Padahal bisa jadi waktu itu keadaan kita sudah mulai tidak maksimal untuk itu.

So, masihkah kita membuang waktu dengan resiko yang sangat berat dan besar? So, masihkah kita lebih suka menikmati dulu daripada bekerja keras dulu? Bukankah hukum alam sudah jelas bahwa harus membajak dulu, menanam dulu, memupuk dulu, merawat dulu barulah panen. Tidak ada kan panen dulu setelah itu baru dibajak dan dipupuk?

Jagoanku yang hebat, hidup itu tahu-tahu, maka buatlah endingnya positif. Misalkan, Tahu-tahu sukses. Jangan sampai keteledoran membuat kita bernasib kurang baik dengan tahu-tahu gagal. Wah bisa runyam keadaan.

Hidup adalah pilihan. Selamat memilih yang terbaik buat hidup kita. Dan buatlah bahwa tahu-tahu kita menjadi manusia hebat yang mendamaikan.

Bagaimana menurut anda?

Cerpen Karangan: GTR_SYH

Cerpen Hidup itu Tahu Tahu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ziarah Konyol

Oleh:
Tanah ini dipenuhi dengan manyit-manyit sudah terurai dengan tanah sudah menjadi satu utuh (bumi) seperti asal mulanya terbentuknya Adam. Mereka dikebumikan lalu menuju ke alam barzakh, yang di mana

Ketika Duka Tersenyum

Oleh:
Aku baru saja membuka pintu bangunan berbentuk gudang dengan panjang 6×3 meter persegi itu. Lalu, aku keluar dari bangunan tersebut dengan membawa sabun menuju musala yang berada di seberang.

Tamasya Aksara

Oleh:
Gedung-gedung bertingkat nan mewah serta megah menjadi latar dari gang sempit yang menjadi akses menuju rumahku yang kecil dan reyot kondisinya. Kepenatan, kebisingan dan kicauan manusia yang bercengkrama, bertengkar

Santri, Kakek Tua, dan Harimau

Oleh:
Angin sepoi-sepoi dengan ciri khas suara semilirnya membawa beberapa daun kering yang jatuh dari pohonnya, senja dengan jingganya yang belum sepenuhnya menampakkan dirinya dengan warna sempurna, puluhan burung terbang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *