Hidup Robin hood

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 July 2016

“Adil.. apakah ini adil..’apakah arti keadilan telah dirubah..” Suara itu terdengar dengan lantangnya, lalu dia meinggalkanku tanpa sepatah kata lagi. Aku tidak tau apa yang sedang di pikirkannya. tapi, aku merasa kata-kata yang diucakannya itu ada benarnya juga. Selama ini kita memang susah, hidup di bawah roda nasib memanglah menyedihkan, tapi mau bagaimana lagi, tidaklah mungkin jika aku protes kepada tuhan, toh itu akan sia-sia.

Aku merasakan apa yang sedang Kara rasakan saat ini. melihat Orang lain tertawa dan bersenda gurau seenaknya. Sedangkan, kita harus berjuang untuk bisa makan sore nanti, uhh.. itu merupakan hal yang sangat sulit.
Aku masih terbayang akan kata yang diucapkannya tadi. Sudahlah.. sudah kucoba untuk melupakannya.
“Hai Kara.. masih marahkah kau padaku.”
“entahlah, tak bisakah engkau tinggalkanku untuk sejenak” cetusnya. Aku tidak menghiraukan permintaannya itu dan menghampirinya.
“Apa maksudmu? Tak maukah bila aku menemanimu disini.”
“Perlukah aku menjawab pertanyaanmu itu..”
“Baiklah jika kau ingin aku meninggalkanmu, sendiri di bawah jembatan ini.”

Mungkin dia memerlukan waktu untuk menenangkan diri sejenak. Dulu aku dan Kara sering main di bawah jembatan itu. Kita sama-sama tidak memiliki keluarga dan saling membantu agar tetap hidup.
“Aku minta maaf karena telah mengatakan itu tadi” ucap Kara dengan lirih, yang ternyata telah menghampiriku.
“Ya, aku sudah memaafkannya”
“Baguslah.” Ucapnya seakan tak peduli
“Aku juga berpikir bahwa hidup ini memanglah tidak adil.. tapi, apa yang dapat kita lakukan..?” Tanyaku padanya
“Entahlah.” Hanya itu yang dia ucapkan. Lalu dia meninggalkanku sendiri. Di atas jembatan sepi itu.
Aku tidak tau dia kemana karena selama ini kita tidur di bawah jembatan ini. Yah.. kita anak jalanan hidup ini memanglah tidak adil..

Pagi itu terlihat sangat berbeda, Kara tidak ada di sampingku saat aku bangun. Tidak seperti biasanya dia seperti itu, entah tidur dimana dia semalaman ini. Seperti biasa aku telah bersiap untuk bekerja mencari makan untuk hari ini. ‘mencopet ‘mencuri ‘mengambil ‘menjambret, entah apa lagi sebutannya itulah pekerjaanku. Sepertinya aku harus memulainya tanpa Kara.

“Sial.. Baru satu dompet,” gumamku. Hari sudah mulai siang namun baru satu dompet yang aku dapatkan. Apakah cukup uang ini untuk makan anak-anak nanti. Tidaklah pantas jika aku memakan uang-uang ini sendiri, karena memang bukan itu tujuanku dan Kara memilih pekerjaan ini. Kita mencari uang dan belikan makanan untuk anak-anak jalanan. Hanya itu yang setiap hari kita lakukan dengan harapan anak-anak itu dapat menjadi orang-orang besar nantinya.

Walaupun hanya saat dompet aku harap cukup untuk makan anak-anak nanti. Uang itu pun telah aku belikan bungkusan-bungkusan nasi. Langkahku terhenti pada sebuah kerumunan orang-orang di dekat jembatan. Begitu banyak orang-orang disini, dari segala golongan. Mulai dari orang berdasi, orang bermobil, juga orang-orang modis. Aku rasa inilah kesempatan besar. Aku mulai aksiku dengan menghampiri kerumunan itu. Mulai dari satu dompet, dua dompet, hingga kurasa hampir tiap saku telah kusentuh. Kurasa tiap dompet itu berisikan kertas-kertas merah dan biru.

Gerak-gerikku terhenti saat aku melihat tubuh yang terbujur kaku tergeletak di depanku. Dialah Kara pentas saja dia tidak kembali semalaman, di dekatnya ada secarik kertas terisi kata-kata yang mengundang orang-orang besar ini untuk berkumpul.

“Akulah Kara.. Aku tinggal di bawah jembatan kota bersama seorang temanku.. dialah orang terhebat yang pernah aku kenal.. mungkin dia tidaklah kaya, mungkin dia tidaklah terkenal, aku juga ragi dia punya masa depan.. tapi dia adalah orang yang terhebat.. dia rela untuk mancopet, mencuri, mengorbankan masa depannya.. tapi uang-uang itu tidaklah ia gunakan.. Uang itu dia gunakan menghidupi anak-anak jalanan yang tidak kalian perdulikan.. merekalah harapannya.. masa depan merekalah yang ia nanti.. Bahkan ia rela untuk dipukul setiap hari..” Kurang lebih seperti itulah isi kertas itu.

Aku pun tersungkur memeluk tubuhnya. Nasi dan dompet-dompet di tanganku terjatuh tergeletak di sekitarku. Dengan spontan orang-orang di sekitarku pun melihat sakunya masing-masing. Mereka hanya terdiam melihatku dan sepucuk kertas di tubuh kara itu.

Cerpen Karangan: Ebta Dhebta
Facebook: Sholikhul Ebta

Cerpen Hidup Robin hood merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tik…Tik…Tik…

Oleh:
Suasana pagi itu cukup cerah. Setiap orang dengan kesibukannya masing-masing tampak bergegas. Anak sekolah terlihat paling sibuk pagi itu. Berebut mereka menaiki setiap kendaraan umum yang datang. Kadang ada

Kenangan Seutas Pita

Oleh:
Kupandang seutas pita merah yang kini mengingatkanku tentang musibah 5 tahun lalu. Musibah yang telah mengembalikan sahabat terbaikku kepada yang maha kuasa. Sahabat yang benar-benar tak tergantikan. Tangisan kecilku

Tombak Dalam Surat

Oleh:
Terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan ditambah dengan tingkat pendidikan tinggi tidak membuatku merasa bangga. Sifat kedua orangtuaku yang sangat amat berbeda membuatku sukar untuk berbagi cerita. Sosok Ibu

When I Die?

Oleh:
Enam tahun silam aku mengalami kejadian yang aku sendiri tak sanggup menceritakannya kepada orang lain, sekalipun orangtuaku sendiri. Dan aku tak bisa mengungkapkannya kepada siapapun karena trauma yang sangat

Anakku Sayang, Maafkan Mamah

Oleh:
Suatu Kota Bekasi seorang remaja yang bernama Andi Bagas yang biasa dipanggil Agas kini berusia 18 tahun. Kini dia kuliah PTS di salah satu universitas favorit ternama di Bekasi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *