Hidup Sampah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 10 October 2018

Siang bolong di terik yang menusuk.
“Gila! Dunia apa neraka ini? Anj*ng!” keluh seorang supir angkutan umum lewat bibirnya yang melengos. Peluh yang mengucur di dahinya ia usap dengan handuk yang sedari tadi terbelit di leher bagian belakangnya. Kaos putih yang sudah usang dan celana pendeknya yang kini memudar menghiasi hari-harinya. Lirihnya, tetap tak ubah ia selalu mengeluh. “Macet panjang lagi. Sialan!”
“Yah, Indonesia namanya juga, bang.” Balas seorang penumpang yang tepat duduk di kursi sebelahnya, berkacamata dengan kemeja biru muda yang kuyup oleh peluhnya sendiri. “Sabar, bang. Sebentar lagi jalan.” jawabnya lagi dengan sunggingan senyum yang sedikit kaku sedari ia masuk ke dalam angkutan. Sejak naik pun, ia sudah mendengar banyak keluh yang dilontarkan sang supir. Hingga kupingnya bertambah panas seperti dibakar sang surya. Sambil meneguk air mineral yang sedari tadi digenggamnya lewat sedotan, sang supir mulai menginjakkan pedalnya saat mobil di depannya bergerak perlahan. Sruput… sruuut… srt… hingga kesekian meneguk air hingga habis
“Yah, habis lagi.” Keluhnya kesekian kalinya.
“Mau minum air saya, bang?” tawar sang penumpang berkacamata sambil menyodorkan sebotol air mineral.
“Gak usah, mas.” Jawabnya santai. Tak lama setelah menghabiskan cairan tubuh sang gelas plastik, sang supir membuang gelas bekas diminumnya ke luar jendela mobil dengan sembarang. Terjatuhlah gelas di atas aspal panas, lalu diinjak oleh ban sepeda motor, ban mobil, juga kendaraan-kendaraan lainnya hingga tubuh si gelas penyok tak beraturan. Perlahan si gelas berpindah ke trotoar karena tertendang kaki-kaki penyeberang.
“Brengsek.” Keluh sang gelas plastik dengan muka kusam sambil menatap jengkel ke sekitarnya.

“Hidup memang terkadang melelahkan, kawan.” Seru seekor kucing berbulu hitam yang sedang berbaring sembari bermanja menutupkan mata indah yang berwarna hijau itu di bawah pohon rindang. Lalu ia terbangun ketika sang gelas plastik mengeluh.
“Tahu apa kau tentang hidup?” hentak sang gelas plastik.
“Hidup akan indah jika kita berpikir bahwa hidup itu indah. Tapi hidup akan menjadi sulit bila kesulitan itu sudah bersarang bahkan beranak-pinak di kepalamu.” Jawab sang kucing sambil tersenyum. Sang gelas plastik acuh tak acuh kepadanya. Tapi apa yang dikatakan sang kucing memang benar, pikirnya. “Itu hanya pendapatku, kok. Bagaimana pendapatmu tentang hidup, wahai gelas plastik?”
“Dibuang. Tak berguna. Menyusahkan.” Celetuknya tak acuh.
“Yang kau jelaskan tadi, hidupmu atau privasimu?” Tanya sang kucing lagi dengan senyum manis kepada gelas plastik.
“Kau membuatku tambah pusing. Diamlah!” gertaknya kepada sang kucing.
“Hei gelas plastik, yang kau jelaskan tadi adalah dirimu, bukan hidupmu. Tuhan tak sembarang membuat hidup ini. Jadi jangan pernah sekali-kali lagi kau menghina hidup. Dan aku sarankan agar kau juga tidak menghina dirimu sendiri. Setiap makhluk yang diciptakan memiliki kelebihan masing masing. Kau perlu tahu itu.” tutur sang kucing dengan mimik serius kepada sang gelas plastik.
“Peduli setan dengan apa yang kau jelaskan! Aku ingin diam, jadi tolong jangan banyak menggurui. Aku tidak akan mengganggumu, aku janji.” Keluh sang gelas plastik jengkel.
“Baiklah, terserah kau saja, gelas plastik. Tapi aku ingin bertanya satu pertanyaan terakhir. Lalu aku tidak akan bertanya lagi dan pergi jauh tanpa mengganggumu.”
“Baiklah. Cepat tanyakan agar kau bisa pergi secepatnya.”
“Apa tujuan hidupmu?” tanyanya singkat.
“Dibuang.”
“Percayalah bahwa kau berguna…”
“Diam! Kita sudah sepakat bahwa kau hanya mengajukan satu pertanyaan, lalu kau pergi dan tak akan menggangguku. Jadi pergilah tanpa nasihat-nasihat sintingmu. Pergi!” gertak sang gelas plastik kepada sang kucing. Tak lama, sang kucing pergi dari trotoar di bawah pohon rindang itu. Ia menjauh sampai tak terlihat lagi wujudnya.

Di dalam sebuah kardus yang dibagi menjadi dua sisi yaitu atas dan bawah, berjejer gelas-gelas plastik yang di dalamnya terdapat air mineral. Mereka berbaris dengan tegap dan gagah. Beberapa dari mereka berdiri dengan tubuh di bawah dan kepala di atas. Dan beberapa lainnya menopang tubuhnya. Sang gelas plastik tepat berdiri di pojok kardus dengan tubuh menopang kepala. Ia tersenyum kepada yang lain karena hal baru akan ia temui.

“Hei, hari ini sangat menyenangkan. Kita semua akan dibeli, lalu kita akan bertemu manusia yang akan meminum isi tubuh kita.” Katanya dengan wajah sumringah.
“Jangan terlalu percaya diri, nak. Kau anak baru yah?” Tanya gelas plastik lainnya yang menopang tubuhnya dengan kepala tepat di tengah kardus.
“Mengapa begitu?” Tanya sang gelas pelastik.
“Karena hidup kita hanya ada dua pilihan. Yang pertama kita dapat didaur ulang setelah isi tubuh kita habis oleh manusia. Dan yang kedua dibuang tak berdaya di jalanan, selokan, sungai kumuh, gunungan sampah, atau dimanapun kita teronggok nantinya.” Jelas sang gelas lainnya. “Aku sudah banyak mendengar kabar dan cerita menggembirakan di pabrik mengenai hidup kita dari gelas-gelas plastik lainnya yang berhasil di daur ulang. Mereka juga menceritakan teman-temannya yang gugur menjadi sampah. Perbandingan antara yang menjadi sampah dan yang didaurulng pun tak seimbang, lebih banyak dari mereka yang menjadi sampah karena kelalaian manusia. Terbuang dan tak terselamatkan. Hidup dalam diam, kumuh, dan menjadi sampah yang sebenar-benarnya. Tapi beruntunglah mereka yang bisa didaurulang lalu bekerja sebagai gelas plastik yang berguna lagi. Menjadi berguna memang sulit.” Lanjutnya dengan raut wajah yang berubah-ubah, dikala ia membicarakan mereka yang menjadi sampah, wajahnya layu. Ketika membicarakan mereka yang didaurulang, senyumnya melebar. Sang gelas plastik termenung dengan apa yang dibicarakan gelas plastik lainnya tersebut. Murung mulai datang dengan sampah yang menerawangi pikirannya. Kata-kata ‘menjadi berguna itu sulit’ mulai menghantui senyum sumringahnya beberapa menit yang lalu, dan mengubahnya menjadi wajah kebingungan. Masih dalam renungan tersebut, kardus pun terbuka. Sebagian dari mereka ditaruh di dalam pendingin, termasuk sang gelas plastik, dan sebagiannya ditumpuk di atas meja. Mereka diperdagangkan.

Di siang yang sangat terik, sang supir mengerem mobil angkutan umumnya di depan sebuah warung kecil di pinggiran jalan.
“Mpok, air gelas dingin satu, sama kreteknya sebungkus.” Serunya kepada seorang perempuan sebaya yang mengenakan daster berbunga.
“Jangan ngebon lagi, lu.” Jawabnya dengan sebal.
“Iyeh.” Sahut sang supir sambil memberikannya uang lewat kaca kiri mobil. Lalu mengambil segelas air mineral dingin dan sebungkus rokok kretek. “Makasih, mpok.” Tanpa mendengarkan balasannya, sang supir menyalakan mobilnya lalu pergi. Ia menusuk sedotan ke gelas plastik sambil menyetir, lalu menyedot isi tubuhnya. Sang gelas plastik masih termenung. Lelaki dengan kacamata tebal berdiri di samping jalan, lalu menggelayutkan tangan kanannya untuk memberhentikan mobil sang supir. Mobil berhenti, ia naik, dan sang gelas plastik mulai menggila.
“Sampah atau daur ulang?” bisik sang gelas plastik kepada dirinya sendiri dengan mata terbelalak dan tubuh gemetar tanpa disadari oleh sang supir yang menggenggamnya.

“Aku sampah! Aku tidak akan didaur ulang lalu menjadi gelas yang berguna lagi. Keparat! Keparat kau manusia yang membuangku. Jika saja aku bisa membalasnya, aku akan buang kau ke neraka. Kau mengahancurkan hidupku. Bajingan!” gerutu sang gelas plastik di trotoar tanpa ada yang mendengarkan. Tebalnya debu jalanan terus menyelimuti tubuh plastiknya. Berkali-kali diinjak. Berkali-kali dilindas. Tanpa ada yang menghiraukan dan menyadari keberadaannya. Ia benar-benar menjadi sampah.

Hujan pun turun. Membasahi tubuhnya yang kumuh. Tapi keadaan tidak bertambah baik. Cipratan-cipratan air dari kendaraan-kendaraan yang melaju membuatnya lebih menjadi sampah. Teronggok tak berdaya dan diam. Tak ada yang bisa ia lakukan selain diam. Tak ada pula harapan lagi dalam dirinya untuk bisa didaurulang. Pupus senyumnya di kardus. Pupus hidupnya untuk menemui hal baru. Dan apa yang dipikirkannya sekarang adalah ia sampah tak berguna, selamanya.

Air hujan mengalir di sudut trotoar itu. Perlahan sang gelas plastik bergerak mengikuti air yang mengalir dengan tenang. Dibawalah ia ke selokan sempit tempat air tersebut jatuh. Ia pun ikut jatuh, bergesekan dengan dinding selokan. Selokan itu terbilang sangat sempit, tapi dalam sehingga bisa menampung dan mengalirkan banyak air. Tapi itu tidak baik untuk sebuah gelas plastik yang jatuh ke dalamnya. Ia terhimpit, tubuhnya masuk ke dalam, tapi tak bisa untuk ikut mengalir bersama air selokan itu. Ia menggubris keadaannya lagi. Eksistensi hidupnya bertambah pahit dengan tergencetnya ia di dalam selokan. Wajahnya bertambah murung, bahkan marah kepada dirinya sendiri karena telah diciptakan. Kemudian setelah itu, terjatuh lagi bungkus roti, botol plastik, botol kaca, dedaunan kering yang basah, ranting pohon, plastik kresek, bungkus ciki, bungkus permen dan sampah-sampah lain yang membuat sang gelas plastik tertimbun di dalam selokan, lalu menghambat arus air yang menfgalir.

Tak lama, air pun meluap ke luar selokan karena tak sanggup lagi dibendung. Menenggelamkan jalan yang dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan yang berbaris dengan klakson di sana-sini. Beberapa darinya mulai mengeluarkan asap, dan bahkan beberapanya mati. Di dalam selokan, sampah-sampah berteriak riuh untuk minta diselamatkan, tapi tak ada yang mendengar. Berbeda dengan sang gelas plastik, ia diam tanpa kata, berjuta keluhan ia sampaikan di kepalanya. Dan ia memaki sang pencipta yang telah menciptakannya.

Cerpen Karangan: Hafizh Pragitya
Blog: lalatbuku.blogspot.com
Hafizh Pragitya adalah mahasiswa aktif di jurusan Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mulai terjerumus di dunia kepenulisan sejak kecil (menulis pelajaran). Lalu berkembang menjadi jurnal harian, dan akhirnya agak serius saat masuk dunia perkuliahan. Lahir di Jakarta, 8 November 1997 dan tinggal di Bojonggede, Bogor. Tapi lebih sering di Ciputat. Dan dia sering kesal dengan lalat.

Cerpen Hidup Sampah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mati Dalam Angan (Part 2)

Oleh:
Kami berenam langsung berlari keluar dari lubang perlindungan menuju tempat yang direncanakan. Sementara Kapten Ade berlari ke arah lain untuk memancing perhatian regu tembak dan berhasil, semua tembakan langsung

Pena Dari Bulu Angsa Ajaib

Oleh:
Karmela, seorang anak yang sangat senang menulis. Ia begitu riang tiap kali ia guratkan ujung penanya yang runcing itu ke permukaan kertas. Tiap guratannya ia bentuk menjadi huruf per

Perang Tiga Kerajaan

Oleh:
Dahulu, hiduplah tiga raja yang memiliki kerajaan yang sangat makmur. Namun tiga raja tersebut saling menganggap bahwa kerajaan mereka lebih makmur daripada kerajaan yang lainnya. Akhirnya ketiga raja tersebut

Tiada Motor Jalan Pun Jadi

Oleh:
Melamar sebagai sales mobil dari pabrikan mobil ternama di kota Balikpapan, hanya dengan bermodalkan tekad yang kuat dan niat memperbaiki kehidupannya. Setelah melewati beberapa tes akhirnya Radian diterima di

Sepanjang Jalan

Oleh:
Masih terekam jelas percakapanku dengan Maggie sore tadi. Kami mempermasalahkan kondisi keuangan kami. Terakhir kali aku dipecat dari perusahaan pengalengan ikan dan harus rela menyandang status sebagai pengangguran hingga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *