Hidup Tak Seindah Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 24 November 2017

Di dalam gelapnya sebuah malam terdapat pemuda yang hidup dalam kesederhanaan. Ia hanya memiliki seorang ibu dan ditemani oleh 7 orang saudara-saudarinya. Ayahnya telah tiada sejak ia masih kecil. Setelah ayah mereka meninggal dunia hidupnya semakin susah, kadang mereka berpuasa karena tidak ada yang bisa dimakan.

Saat kecil pemuda itu sering sakit-sakitan ibunya kebingungan harus bagaimana agar anaknya cepat sembuh, ingin rasanya ia membawa anaknya itu ke dokter tapi dari mana ia mendapat uang untuk biaya pengobatan sedangkan untuk makan saja sudah susah. Ibunya berusaha keras untuk bisa mengobati anaknya itu hingga ia rela mencari setumpukkan sampah demi mendapatkan uang.

Semakin lama sakitnya tambah parah ibu pemuda itu pun bergegas menemui seorang kyai di desanya tersebut sampai akhirnya kyai tersebut menyarankan untuk diganti namanya. Setelah diganti nama beberapa hari kemudian pemuda itu sembuh.

Seiring berjalannya waktu pemuda itu tumbuh dan memasuki jenjang ke sekolah dasar ia sangat senang bisa mempelajari hal-hal yang baru. Pada waktu istirahat dia selalu merasa lapar tapi sengaja saja ia tahan dia tidak ingin teman-temannya tau bahwa ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan, tidak hanya itu tapi pemuda ini tidak ingin dikasihani oleh temannya.

Pada waktu dia duduk di bangku kelas 5 SD pendidikanya berhenti. Setelah ia tak bersekolah ia memutuskan untuk bekerja,
Pemuda ini bekerja sebagai buruh, dalam kerjanya ini membutuhkan kerja keras dan perjuangan yang besar karena ia tidak hanya bekerja kadang juga dimaki-maki, dihina, dipukul dan sebagainya demi mendapat sesuap nasi dan sedikit uang. Meskipun begitu saudara-saudarinya tidak pernah peduli dengan keadaan adiknya ini dan bahkan bisa dikatakan selalu menyusahkan dirinya

Selain bekerja dia juga belajar ilmu agama, sampai akhirnya kerja keras dan perjuangannya itu membuahkan hasil, Uang yang ia dapatkan sedikit demi sedikit ia tabung dan sebagian diberikan kepada ibunya. Sungguh panas dan hujan tak ia rasakan demi kebahagiaan Ibu dan ketujuh Saudara saudarinya.

Semakin lama ia bekerja dan ia sudah tumbuh menjadi dewasa dia menciptakan usaha sendiri dan tak lama kemudian ia menemukan seorang pendamping hidup dan dikarunia 3 orang anak. Usahanya semakin maju meskipun hanya sebagai pedagang ia memiliki 2 Rumah yang satu dikontrakkan dan ditempatinya sendiri.

Sungguh hidup ini tak seindah surga yang penuh dengan kenikmatan tetapi harus melalui perjuangan dan perjuangan yang berat dan juga panjang.
Dan Kisah yang Kutuliskan Sebagai Pemuda itu adalah Ayahku.

Cerpen Karangan: Hanifah Aliyatul Mufidah
Blog: hanifahaliyatul.blogspot.com.
Nama: Hanifah Aliyatul Mufidah
Alamat: Ds.Sugihwaras Rt 06 Rw 03

Cerpen Hidup Tak Seindah Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cahaya di Ujung Jalan

Oleh:
Seperti biasa setiap malam senin, banyak anak muda berkumpul di jalan untuk menyaksikan balapan liar. Teriakan mereka tidak pernah padam untuk memberi support kepada jagoan mereka masing masing. Mereka

Senyuman

Oleh:
Langkah kakiku terhenti di depan sebuah kalender samping kamarku. Aku melihat ke dalam kalender tersebut dengan tatapan tajam. Mataku tertuju ke salah satu tanggal di kalender tersebut. Aku berusaha

Need More Chance

Oleh:
Kubenahi letak kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahku. Banyaknya orang yang menegur, seperti sebuah dengungan yang sama sekali tak ingin kutanggapi. Retina mataku hanya terfokus pada satu titik.

Pelajaran Untuk Kakak

Oleh:
Ketukan air rintikan hujan yang jatuh dari atap rumah berbunyi layaknya alunan musik yang indah di pagi itu membuat Dika susah untuk bangun dari tidurnya. Lembutnya hawa dingin pun

Rembulan di Kolong Langit

Oleh:
Gadis muda itu menatap dinding penyangga rel kereta antara stasiun Juanda dan stasiun Mangga Besar. Dinding yang bergambarkan anak-anak yang sedang belajar. Sederet kalimat tertulis di atasnya. ‘Dengan membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *