Hiduplah Indonesia Raya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 December 2016

“Hiduplah Indonesia Raya..”, begitu lagu itu berakhir aku langsung menurunkan tanganku kembali yang tadinya kudekatkan di alis kananku. Ingin rasanya aku berada di gedung itu bersama dengan anak-anak lainnya yang bisa mengikuti upacara bendera menggunakan seragam yang menurutku bagus, lebih bagus daripada pakaian yang aku kenakan sekarang ini. Walaupun aku hanyalah seorang anak jalanan, tetapi aku masih mempunyai rasa semangat yang tinggi untuk menempuh pendidikan. Namun apa daya, aku tak bisa mewujudkan angan-angan itu karena tak ada yang peduli dengan orang semacam aku ini.

Setiap Senin pagi aku selalu kabur dari kakakku yang sedang mencari barang-barang rongsokan, karena aku ingin sekali mengikuti kegiatan upacara bendera walaupun hanya di luar gedung sekolah SMP. Jika aku masih sekolah, aku seumuran dengan mereka, dan sepertinya aku saat ini sedang duduk di bangku kelas 8. Betapa bangganya aku jika bisa merasakan seperti apa yang mereka rasakan.

“Hani, ngapain kamu berdiri di situ, ayo bantu kakak cari plastik!!”, tegur kakakku pelan takut orang-orang di sekolah mendengarnya. Aku yakin, kakakku juga pasti ingin sekolah sepertiku, namun ia tak pernah memperlihatkan keinginannya kepadaku. “Iya kak sebentar lagi, benderanya belum naik ke atas”, jawabku dengan tidak merubah posisi hormatku kepada bendera. Tak lama setelah itu, bendera pun telah sampai di atas, dan pemimpin upacara kembali menyiapkan. Tanganku ditarik kakak sampai ke pinggir sekolah, dan hampir saja motor yang ada di depan menabrak kami, untugnya kami cepat menghindar.

“Kamu itu ya, sudah dibilangin sama kakak berkali-kali masih aja ngeyel, mulai minggu depan kamu gak boleh kesini lagi!”, kakaku memarahiku. Aku pun hanya menggangguk dengan muka yang kecut. Di dunia ini aku hanya memiliki Tuhan dan kakakku saja, aku tak tahu sedang ada dimana kedua orangtuaku saat ini, mungkin mereka sudah meninggal, tapi entahlah aku tidak terlalu memikirkannya. Aku dan kakakku tidak mempunyai tempat tinggal tetap, terkadang kami tidur di pinggir jalan, di pinggiran toko (itu pun kalau tidak diusir), atau sesekali di kolong jembatan. Untuk bertahan hidup, kami sering mengumpulkan barang bekas yang nantinya akan dijual ke tukang pengumpul barang bekas, dan hasilnya akan kami belikan untuk makan, itu pun kadang belum cukup.

Dua hari lagi adalah hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71, dan semua sekolah pasti akan mengadakan upacara kemerdekaan memperingati hari jadi Indonesia. Aku ingin sekali mengikuti upacara itu, tapi aku bingung bagaimana caranya. Jika aku menyelonong masuk ke dalam barisan, yang ada aku akan diusir oleh penjaga. Meminta bantuan kakak hanya mencari mati saja, aku harus mencari cara sendiri untuk bisa mengikuti upacara kemerdekaan di lapang yang pastinya tidak dengan pakaian yang aku kenakan seperti saat ini.

Aku mempunyai ide untuk memakai baju seragam SMP dan berpura-pura menjadi siswi yang mengikuti upacara kemerdekaan agar bisa bergabung bersama mereka. Aku tak peduli bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan seragam itu. Kalau melihat tabunganku, mana bisa membeli baju seragam SMP. Kalau aku mencuri, aku tak mau menanggung akibatnya nanti, terlebih Tuhan akan menghukumku nanti di akhirat. Tiba-tiba kakakku menegurku yang sedang melamun, sontak aku pun terkejut.

“Hei, kenapa kamu melamun siang-siang bolong gini?”, tanya kakakku penasaran. Apa aku harus jujur kepadanya, ah jangan pasti kakak akan memarahiku. “Begini kak, kemarin aku melihat boneka bagusss sekali, aku mau membelinya tapi tabunganku gak cukup, aku boleh gak pinjem uang kakak, nanti aku ganti..”, pintaku dengan penuh harap. Kakakku berpikir sejenak tidak bersuara, dan tak lama kemudian kakak pun memberikan uang pinjaman kepadaku. Syukurlah, aku sudah menemukan jalan keluarnya. Siang ini aku akan ke pasar membeli baju bekas untuk lusa. Setelah membeli baju SMP bekas, aku pun harus cepat-cepat untuk menyembunyikannya takut kakakku tahu. Kalau tahu, urusannya bisa lebih panjang.

“Katanya mau beli boneka, mana bonekanya?”, tanya kakakku penasaran. Aku bingung menjawab pertanyaan horror itu, terpaksa aku harus berbohong kali ini. Aku pun mengaku bahwa boneka itu sedang dipinjam oleh teman baruku di jalanan. Kakak sebenarnya sempat tidak percaya, namun ketika aku meyakinkannya akhirnya ia pun percaya. Maafkan aku kak harus berbohong, karena aku ingin sekali mengikuti upacara itu.

Keesokan harinya aku pun mencoba untuk membersihkan baju bekas itu untuk dipakai besok di lapangan. Namun aku sangat terkejut ketika baju baruku itu sudah tidak ada di tempat persembunyian kemarin yang aku simpan di bawah gerobak yang selalu aku dan kakakku bawa. Siapa yang berani mencuri bajuku? Kakakku tidak mungkin melakukan hal itu, karena kakakku tidak pernah memeriksa gerobak. Aku menangis sejadi-jadinya, kucari kemana-mana baju itu tetap tidak ketemu. Impianku untuk menghadiri upacara sambil memakai seragam putih biru sudah kandas. Aku tidak mempunyai uang lagi untuk membeli baju itu. Aku pun hanya bisa pasrah menerima keadaan.

17 Agustus pun telah tiba, aku terbangun di pagi-pagi buta siapa tahu Tuhan memberikan aku kejutan sebuah baju bekas itu. Namun khayalan itu benar-benar tidak terjadi. Aku sangat sedih dan aku pun menangis kembali. Ketika aku bangun, kakakku sudah tidak ada, sepertinya ia sudah mencari plastik, namun tak seperti biasanya ia mencari barang rongsokan pagi-pagi begini.

Satu jam kemudian aku pun memutuskan untuk kembali bekerja mengumpulkan barang rongsokan sambil menunggu upacara kemerdekaan dimulai, tak apalah kalau harus menyaksikannya di luar lapangan. Ketika aku hendak pergi, tiba-tiba suara kakakku terdengar dari belakang. Ketika aku menoleh ke belakang, kakakku berucap “Ini yang kamu inginkan?”, kakakku berkata seperti itu sambil memperlihatkan baju putih biru yang berbeda dari yang aku beli. Apakah ini kejutan dari Tuhan yang tertunda tadi pagi? Aku sama sekali tidak menyangka kakakku bisa memberikanku kejutan yang membuatku terharu.

“Kemarin kamu bodoh sekali, sudah tahu itu tempatnya tidak aman, ya kakak ambil ternyata satu setel baju SMP, dan baju itu kotor sekali, kakak pun berniat untuk membelikanmu yang lebih bagus hasil penjualan plastik kemarin sore”, kakakku menjelaskan itu semua. Aku pun tersipu malu dan meminta maaf kepada kakak sekaligus berterimakasih karena telah perhatian kepadaku. Aku pun menjelaskan untuk apa aku beli baju itu. Dan setelah aku menjelaskan semuanya, kakakku langsung menyuruhku segera memakai baju baru itu dan segera menyuruhku lari karena acara akan segera dimulai.

Aku berlari sekencang-kencangnya sambil mengumandangkan lagu Indonesia Raya walaupun suaraku tidak begitu bagus, namun aku sangat puas. Setelah sampai di lapangan, aku pun masuk ke dalam barisan anak kelas 8, orang-orang di sekelilingku pun menatapku aneh. Aku pun hanya membalas mereka dengan ucapan “Aku adalah anak baru..”, sambil tersenyum dengan rasa malu. Lalu mereka pun kembali ke posisi semula seakan-akan mereka telah mempercayaiku.

Aku berhasil, aku berhasil mengikuti upacara bendera yang sangat spesial ini. Aku tidak akan pernah melupakan momen bersejerah ini sepanjang hidupku. “Hiduplah Indonesia Raya…”, kami pun menurunkan tangan kami tanda bendera telah berada di puncaknya.

Cerpen Karangan: Erfransdo
Blog / Facebook: erfransvgb.blogspot.com / Erfrans Do
Siswa SMAN 1 PARUNGKUDA SUKABUMI

Cerpen Hiduplah Indonesia Raya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Naskah Kehidupan

Oleh:
Orang bilang hidup itu singkat sekali, hari ini sedih esoknya bahagia. Hari ini bangga esoknya kecewa. Sudahlah, ini sudah naskah kehidupan. Jalani saja dengan ikhlas. Aku adalah salah satu

Pirouette Kue Ulang Tahun

Oleh:
Sara keluar dari stasiun dengan langkah ringan, merasa senang bisa lepas dari sesak kerumunan penumpang Jumat sore. Tumit sepatunya berkeletak-keletak tiap kali menapaki trotoar yang masih basah setelah hampir

Pedulilah

Oleh:
Akan aku ceritakan kepada kalian sepotong kisah dari pemilik rumah dengan beberapa mobil mentereng di halaman luasnya, rumah yang mempunyai taman yang asri, beserta dua kolam renang di belakang.

Perpisahan Kita

Oleh:
Stefanny amelia larasati seorang wanita cantik, pintar, baik, berkulit hitam manis. Yang sering dipanggil fany. Fany tidak terlalu manja, namun cengeng. Dia single, dia sama sekali belum pernah mengalami

Kotak Cokelat

Oleh:
“Sakit?” Aku menggeleng. Menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Rio lalu melanjutkan mengoleskan betadine pada lututku yang lecet. “Aww!” Aku langsung menepis tangan Rio dari sana. “Pelan-pelan.” Rio tertawa. Manis sekali.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *