Hilanglah Separuh Nyawaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 March 2016

Sore itu, bersamaan dengan kumandang Adzan salat Ashar, Aku terbangun dari siumanku. Cahaya lemah di ruangan itu sudah cukup untuk menyilaukan kedua mataku yang baru tersadar dari operasi kuret yang barusan ku jalani. Operasi kuret? Tak terasa air mataku mengalir hangat menuruni pelipis dan jatuh ke bantal putih, tempatku masih terbaring sendiri. Dingin dari AC ruang operasi seolah mulai terasa perlahan merayap naik dari kaki, lalu kepaha, ke perut dan akhirnya mulai datanglah nyeri. Nyeri yang hanya bisa dirasakan kala para perempuan yang harus rela rahimnya dikorek, dibersihkan dengan besi peralatan operasi.

Namun rasa nyeri itu tak sebanding dengan sakit yang teramat sangat, karena janin penghuni rahimku yang selama enam bulan ini dijaga, disayang-sayang, akhirnya mati dan ke luar hanya menjadi sesosok mungil bayi merah yang tak bernyawa lagi. Sakit yang tak bakal terobati, karena bayi yang selama 7 bulan ini berdegup bersama irama jantungku, harus meninggal dan dikeluarkan dengan cara operasi. Dan hanya butuh 1 jam 25 menit di meja operasi, untuk menghentikan proses perjuanganku selama 7 bulan membesarkan janin di rahimku yang kini tinggal jasad dingin tak bernyawa dibalut kain putih untuk dimakamkan.

Aku masih sendiri, terbaring lemah di meja operasi, menunggu untuk dibersihkan dan dipindahkan ke ruang perawatan. Pandangan mataku menyeberang ruang, ku lihat ibu dan ayahku yang menunggu dari balik kaca tembus pandang jendela observasi. Dalam gurat-gurat ketuaannya, mereka berlinang air mata memandangku. Jangan tanyakan di mana suamiku, calon bapak bayiku yang tak jadi. Laki-laki yang menyemai benih di rahimku, yang akhirnya mati sebelum dilahirkan ke muka bumi. Jangan tanyakan karena itu akan lebih membuat nyeri atas dukaku karena kehilangan bayi. Namun jika memang kisah sedihku bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, izinkan aku bercerita dengan caraku.

Aku menikahi laki-laki yang menjadi suamiku di usia yang masih sangat muda. Tamat SMA aku langsung dilamar untuk dinikahkan dengan bekas kakak kelasku, yang juga tetangga desaku. Dia anak seorang saudagar kaya, pengusaha penggilingan padi, kopra, dan distributor pupuk ternama dan terbesar di desaku. Aku tak bisa menolak, karena orangtuanya pun juga meminta kepada ayah dan ibuku. Aku tahu, sebenarnya ayah dan ibuku berat hati untuk melepaskanku menikah dengan dia. Mereka terpaksa melakukannya, karena segan dan merasa banyak berhutang budi kepada calon besannya, yang sering membantu memberi pinjaman uang atau beras untuk kebutuhan kami sekeluarga, dan pupuk untuk sawah kami yang luasnya tak seberapa.

Singkat cerita, hanya beberapa bulan setelah pesta pernikahan kami, ku pergoki suamiku bersama perempuan lain yang digandeng tangan olehnya ke luar dari sebuah hotel dan rumah makan di Makassar. Entah mengapa sore hari itu aku ingin melihat keramaian Kota Makassar yang jaraknya lumayan jauh dari desaku. Seolah dituntun aku menuju salah satu Mall yang kebetulan tak jauh dari hotel dan rumah makan di mana suamiku dan perempuan itu menghabiskan akhir pekan bersama. Ya, karena suamiku pamit ke luar kota untuk urusan bisnis sejak hari jumat malam sebelumnya.

Tak perlu ku ceritakan apa yang terjadi, singkatnya aku putuskan menggugat cerai dan dan pulang kembali ke rumah orangtuaku. Persidangan cerai yang melelahkan, karena mertuaku walau malu dengan apa yang terjadi, tak mau melepaskanku. Namun karena keteguhan niatku, akhirnya hakim memutuskan kami bercerai, karena suamiku pun juga mengaku telah berselingkuh dan mengkhianatiku. Ternyata perempuan itu adalah bekas pacar SMP-nya yang baru pulang dari Jakarta. Dan tak lama setelah pengakuannya, ku dengar dia mengikuti pacarnya untuk tinggal di Jakarta.

Kegoncangan batin yang ku alami, ditambah proses persidangan cerai yang memakan waktu dan menyita pikiran, membuatku abai atas pertanda dan gejala perubahan pada badanku. Ternyata aku baru sadar dan mengetahui bahwa aku sudah mulai hamil tepat saat memergoki perselingkuhan suamiku. Ternyata aku sedang hamil saat menjalani persidangan gugat cerai dan selama menjalani keseluruhan prosesnya. Dan aku baru tahu, sehari setelah gugatan ceraiku dikabulkan oleh pihak pengadilan, saat aku periksa ke dokter karena demam dan keluhan pada perutku.

Hari itu, duniaku serasa terguncang lebih keras lagi dari sebelumnya, demi mengetahui kenyataan ini. Namun ku kumpulkan sisa-sisa semangat hidupku untuk menerima kenyataan bahwa aku mengandung benih orang yang pergi mengkhianatiku, lalu mempersiapkan diri menerima kehadiran bayiku. Hari itu adalah 4 bulan yang lalu. Awal dari perjuanganku untuk bangkit dari prahara yang menimpaku sekaligus awal perjuanganku sebagai perempuan yang mengandung bayi yang ditinggalkan bapaknya yang memilih pergi bersama cinta lamanya.

Ku lihat kanan kiriku berbaring di meja operasi. Dalam pikiranku sekelebat terlintas pikiran untuk bunuh diri saja menyusul bayiku yang meninggal prematur di rahim rapuhku. Ada bermacam pisau operasi yang bisa ku pakai memotong nadiku. Ada berbagai macam obat-obatan yang bisa meracuni dan membunuhku seketika. Saat pikiranku untuk bunuh diri menguat, pandangan mataku kembali bertemu dengan pandangan ayah ibuku dari jendela kaca ruang observasi di samping ruang operasi.

Pandangan mata yang penuh dengan kesedihan sekaligus kelegaan sepasang orangtua yang menyaksikan aku anaknya selamat dari pendarahan yang hebat yang mengantarkanku ke meja operasi sekaligus melepaskan bayiku kembali kepada penciptanya. Pandangan mata berharap seolah memohon maaf berikut permohonan padaku untuk kembali kepada mereka. Kembali hidup dan kembali menjadi anak tunggal mereka, satu-satunya harta berharga yang mereka miliki di dunia.

Sambil memandangi mereka, ku bisikkan sebuah permohonan kepada Tuhan di dalam hati. “Baiklah Tuhan, aku terima hidupku yang kau berikan kembali pada hari ini. Aku ikhlaskan juga sebagian nyawaku yang kau ambil dariku hari ini. Tapi tolong sampaikan kepada anakku, bahwa aku sangat mencintainya seperti orangtuaku mencintaiku. Dan aku akan membalas cinta mereka, agar aku bisa bertemu dengan anakku yang menungguku dengan bangga di rumah terindahMu nantinya.”

Cerpen Karangan: Yasin bin Malenggang
Facebook: Yasin bin Malenggang
Yasin bin Malenggang adalah penulis free lance yang sekaligus pendiri dan ketua dari Jogja SPINMOTION (Single Parents Indonesia in Motion)sebuah Komunitas Orang Tua Tunggal yang didirikan pada pertengahan 2015 di Jogja.

Cerpen Hilanglah Separuh Nyawaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidupku di Ujung Takdir

Oleh:
Di pagi nan cerah ada seorang anak perempuan bernama Dinda. Ia adalah gadis dari keluarga yang sangat sederhana. Kala itu Dinda berjalan kaki menuju sekolahnya yang tidak jauh dari

Inikah Keluarga?

Oleh:
Kupandang langit yang lengkap dengan bulan dan bintang. Aku bertanya pada sendiri, “Ikatan mana yang paling berharga? Apakah itu keluarga atau apa?”. Diriku kembali diam, melanjutkan perjalanan pulang. Kubuka

Laila

Oleh:
Hujan rintik-rintik. “Laila, bangun! Jangan tidur terus kamu! Cari duit!” Bentak seorang Ibu dari ruang depan rumah. “Pagi ya?” Laila masih sedikit ngantuk sambil mengucak matanya. Laila seorang gadis

Pelukan Papa

Oleh:
Namaku Grace, sejak kecil aku ditinggal papaku. Entahlah papaku kemana. Yang pasti aku sangat merindukan sosoknya dalam hidupku. Sekarang aku tinggal sama Oma dan mama. Sejak aku umur 5

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *