Histeria Ruang Isolasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 18 May 2021

Dari Ruang IGD kuikuti irama gerak kursi roda yang melaju di lorong sempit berliku dan mendaki menuju ruang isolasi di lantai 3.
Kutempati ruang Musdalifah 52 ini sendirian. Ruang tempatku berisolasi mengadu nasib mencari keberuntungan dengan satu harapan ‘sembuh.’

Hari ini adalah Kamis, 11 Januari 2021, hari pertamaku di ruang Isolasi, Hari ke-6 setelah dinyatakan positif Corona.
Walau sudah mengantongi surat izin dari dokter, namun aku upayakan harus tetap melaksanakan kegiatan belajar dari rumah atau biasa disebut dengan BDR. Tepat pukul 07.00 WIB nanti aku harus memandu kegiatan keagamaan di kelas binaan dimana aku jadi Wali Kelasnya. Kebetulan Kelas X IPA 2 ini semuanya beragama Islam, maka tugasku adalah memandu kegiatan tadarus sebagai pembuka kegiatan BDR. Waktu yang terjadwal adalah pukul 07.00-07.30 WIB Setelah itu kegiatan literasi selama 15 menit. Hari ini aku ada jadwal mengajar di Kelas X IPA1 pada pukul 07.45 – 08.50 WIB nanti.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.55 WIB. Via chat di Whatsapp group yang saat ini sering disebut WAG. Kelas, kusapa mereka dengan senyum kecut, keningpun berkerut karena rasa takut.
Kuhimbau mereka bersiap-siap, bersih-bersih juga berwudhu. Membuka Surat Al-Mulk, dengan permintaan yang memelas, karena badan terasa lemas.

Kukirim link Goggle meet dan merekapun minta diadmit. Pukul 07.05 WIB mereka sudah Join semua. Tadarus dipimpin oleh Harry dan Jeania. Alhamdulillah, siswa milenialku tidak hanya lancar cas cis cus berbahasa Inggris dan Jepang, namun juga faseh membaca Al-Quran dengan lantang. Sungguh menjadi suplemen peningkat imun, akibat COVID-19 yang membangkang.

Pembacaan Surat Al-Mulk selesai. Kegiatan tadaruspun usai. Ditutup dengan Doa Habis membaca Alquran yang di senandungkan:

“Allaahumarhamnaabilquran
Waj’alhulanaa imaamau wanuuraw wahudawwarahmah
Allaahummazakirna minhuma nasiina waalimna minhumajahilnaa
Warzuqnaa tilaawatahu aanaa allaili waatrafannahar
Waj’alhulana hujatan yaarabbal ‘alaamiin.”

Video conference sudah bubar. Peserta boleh ke luar.
Kini Beralih ke kegiatan literasi. Kukirim link pengumpulan artikel ke WAG Kelas X IPA 2. Tema artikel kali ini adalah ‘Geliat UMKM di Masa Pandemi.’

Mendekati pukul 07.45 WIB waktuku harus mengajar di Kelas X IPA1. Baru saja mau membuka zoom, terasa ada yang tidak beres. Perut melilit di bagian kiri, perih sekali, rasanya seperti mau mati.
Kupastikan itu adalah posisi lambung, Kini ku seperti bingung, dengan perut yang semakin kembung, pikiran linglung dan badanpun limbung.

“Prrtt.. prrtt.. prrtt. Spontan kulepas selang oksigen yang nyantol di hidung dan kuangkat tabung infus ke toilet, duduk jongkok di kloset.
“Cret, cret, cret. Subhanallah gerangan apa lagi ini yang terjadi padaku?” Sekilas terlihat feses encer bewarna merah. Sungguh aku ngeri dan takut melihat darah. Walau cemas kucoba pasrah. Menerima semua keputusan Allah.
Muncul kini kecemasan baru. Masalah apa yang terjadi di lambungku? Setengah jam sudah berlalu. Kuambil keputusan darurat dulu. Kukirim link google meet ke WAG kelas X IPA1 dan menyampaikan pesan chat.

“Yuk segera gabung! Sebentar saja kok, hari ini kita akan belajar Plantae!” Alhamdulillah, baru lima menit mereka sudah join semua. Kulihat 41 partisipan. “Ananda semua adalah anak milenial ibu yang cerdas dan hebat,” pujiku. Sungguh sayang sekali jika mereka tidak dapat sesuatu yang baru dariku hari ini, batinku.

“Ayo kameranya di on-in semua, ibu pengen absen” suruhku ramah.
Semua buka kamera dan terlihat wajah-wajah cerah penuh harap telah menantiku.
“Kali ini ibu akan buka pembelajaran dengan pantun ya! Agar kegiatan kita berjalan lancar dan diberkahi oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, mari kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dimulai. Untuk yang Muslim mari berdoa bersama ibu! ”Bismillahirahmanirrahim, radhitubillahi rabba, wabi islamidina, wabimuhammadinnabiyau warasula, rabii zidni ‘ilma warzuqni fahma, rabbisrahli syadri, wayaasirli amri, wahlulu’datamminlisani yafkahu qauli, aamiin.” Kulanjutkan dengan berpantun:

“Sekuntum bunga melati
Di dalam taman berdaun lebat
Assalamualaikum selamat pagi
Maafkan ibu tadi terlambat”

Bukan tomat sembarang tomat
Di gunung Kelut lebat buahnya
Bukan telat sembarang telat
Karena perut ampun sakitnya

Sebentar… ibu kirim link video tentang plantae ya, jika sudah tolong langsung ditonton dan dipelajari. Setelah itu, silakan kalian pilih tumbuhan apa yang paling kalian sukai, kenali ciri-cirinya dan buatlah Puisi/Pantun tentangnya, minimal 3 bait. Boleh juga ungkapan cinta yang disampaikan lewat bunga. Paham ya?” intruksiku.
“Paham, terima kasih bu, izin left ya bu,” sahut mereka sopan
“Sama-sama, Silakan!” balasku

Alhamdulillah kendala BDR hari ini telah teratasi. Meskipun sedang sakit, kuupayakan agar kegiatan belajar tetap bisa berlangsung. Aku cinta mereka. Aku sayang muridku. Kucoba menahan lara dan duka nestapa akibat Corona. Namun aku tiada berdaya. Tak terasa air bening merembes dipipiku yang semakin tirus. Kuseka dengan tissu. Semakin deras mengalir hingga tissue pun habis. Derai airmataku kian tak terbendung, jatuh menetes membasahi seprei putih. Kutumpahkan segala rasa sedih. pilu dan rintihan lirih. Bergumam kugerakkan bibir melafalkan syair lagu tempo dulu ‘Hapuskan Air mataku’ oleh Grace Simon:

Lihatlah air mataku
Ya Tuhan yang Maha Pengasih
Bercerita tentang duka
dan kesedihan

Setiap tetes mengandung arti
Dari derita yang mencekam
Telah kucoba menghapuskannya
Namun tak mampu jua…

Tuhan tolong hapuskan air mataku
Tiada satu dapat melakukannya
Dari derita ini dari dalamnya dosa
Hanya engkau yang kuasa…

Menghapuskan setiap tetes airmata…
Menghapuskan setiap tetes airmata…

Kering sudah air air mataku. Kiniku tak bisa menangis lagi. Teringat lagu
Dian Pishesa, “Pasrah dalam Doa”
Pasrah sudah aku di dalam pelukanku
Tiada kembara yang tersisa lagi
Tak tau dimana angin kini berhembus
Kehidupanku bagaikan mati

Terasa agak lega dan plong. Kulanjutkan aktivitas dengan salat Dhuha, kali ini cukup 4 rakaat saja. Kuupayakan salat dengan posisi duduk. Kuingin tumpahkan segala rasa yang kini berkecamuk di dadaku yang mulai berkabut. Teringat hasil rontgen tadi pagi. Si Corona telah menutupi permukaan paru-paruku sekitar 20 persen. Geram sekali rasanya tak dapat berbuat apa-apa, hanya kuungkap lewat kata dan jadilah puisi.

“Geram”

Andaikan dia dapat terlihat,
Kan kupelototi dengan tatapan sinis yang menghujat

Andai dia dapat kusentuh,
Kan kuhujam dia dengan pisau belati terhunus

Andai dia punya tangan,
Kan kutarik dan kubanting dia dengan jurus silat

Andai dia punya gigi,
Sudah kucopot dengan tang dan gergaji

Dan andaikan dia berkepala,
Sudah kucekik lehernya sebelum dia berhasil
menjabat tangan dan berkenalan denganku.

Tapi apalah dayaku, dia adalah makhluk tak kasat mata yang super kecil. Tak terlihat dengan mata telanjang, bahkan tak jelas dengan mikroskop electron sekalipun. Dia adalah makhluk peralihan antara benda hidup dan benda mati. Tapi dia hanya bisa hidup di tubuh makhluk hidup. Jika berada di benda mati diapun seperti benda mati yang dapat dikristalkan. Dia punya materi genetik berupa DNA/RNA yang bisa bereplikasi dengan super cepat melalui siklus litik dan lisogenik. Perkembangbiakan yang super cepat itulah yang kini marak dikenal dengan viral. Itulah dia virus.

Tubuhnya hanya seperti cairan dan dilindungi selubung protein yang disebut kapsid. Meskipun kapsid dapat larut dengan sabun atau hand sanitaizer, namun cairan di dalamnya itu sangat toxic dan berbahaya.

Terbayang pula kisah seorang gadis remaja. Dia teman anakku yang meninggal 2 minggu yang lalu. Menurut informasi, dia mengalami gejala sakit perut dan panas, naik turun seperti gejala typus. Ketika keadaan makin memburuk dilarikan ke rumah sakit dan swap PCR. Dua hari kemudian mengalami nasip naas, dia meninggal. Setelah dikuburkan hasil swapnya keluar dan ternyata positif.

Kecemasanku meningkat,. Bayangan hitam-putih berkelabat, aroma kematian kian mendekat Khayalan mati syahid berpendar-pendar di angan dan pikiranku. Aku tau bahwa orang yang mati syahid semua dosanya diampuni kecuali hutang. Kucoba mengingat-ingat adakah aku masih punya hutang? Hutang hanya dapat diganti dengan pahala Oh, aku jadi teringat peristiwa 10 tahun yang lalu.

Pagi hari itu aku sedang tak punya uang. Bahkan dompet yang isinya recehan untuk ongkos pulangpun ketinggalan. Ketika mendekati gerbang sekolah tempatku bekerja aku menemukan sebentuk cincin, kupungut cincin itu? Kuperhatikan sekitarnya adakah orang yang kehilangan dan sedang mencarinya? Kutunggu beberapa saat tak ada yang mengaku. Sementara itu bel masuk sudah hampir berbunyi. Kukantongi cincin itu dan kusimpan di tas. Kubergegas memasuki ruang guru untuk seterusnya beraktivitas mengajar seperti biasa.

Keasyikan mengoreksi, ternyata hari sudah sore, rekan-rekan rupanya sudah pulang, aku lupa meminjam uang untuk ongkos pulang. Situasi darurat ini memaksaku mengambil keputusan untuk menjual cincin itu.
Aku berjalan menuju toko Emas di pasar dan dibeli dengan harga 900 ribu. Dalam hatiku, ini bukan uang halal, ini tetap hak pemilik cincin. Tapi aku membutuhkannya. Ya sudah terpaksa kugunakan uang itu atas nama pinjam. Semoga Allah memakluminya pikirku waktu itu. Dan ternyata sekian lama aku lupa menunaikannya.

Aku harus lakukan sekarang, kucari kontak telepon bendahara masjid sekolah tempatku bertugas. Kuhubungi dan kuceritakan padanya perihal ini. Tidak lupa kuminta nomor rekekingnya. Melalui Mandiri m-Banking kutransfer 1 juta rupiah. Ada perasaan lega dan pasrah merambat di dada. Barangkali sebentar lagi ajalku tiba tentu tak kuasa kumenolaknya, “maut tidak dapat dimajukan apalagi dimundurkan.” Hanya menyiapkan bekal yang akan dibawa ke akhirat itulah yang bisa diupayakan. Teringat olehku sebuah hadish bahwa orang yang cerdas adalah yang ingat akan mati dan menyiapkan bekal untuk menghadapinya.

Meski rasa perih di perut belumlah lenyap namun sudah tak kuhiraukan lagi. Aku sudah benar-benar pasrah jika sewaktu-waktu malaikat israil datang memanggil. Teringat olehku syair lagu kasidahan tempo dulu:
‘Selimut Putih’

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur dipembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan kan kedinginan

Tiba masanya insaflah diri
Selimut putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
berbakti lah hidup sepanjang zaman

Janganlah mau disanjung-sanjung
Engkau digelar manusia agung
Sadarlah diri tahu diuntung
Sebelum masa keranda diusung

Sebagai persiapan kuupayakan banyak-banyak berzikir, berdoa dan juga salat Dhuha. Kali ini aku tidak tayamum, kuupayakan berwudhu di kamar mandi. Terasa air dingin sekali, tubuhku menggigil, jantungku berdebar, syair lagu itu terngiang-ngiang di telinga. Kuteruskan salat Dhuha dengan posisi duduk. Ketika baru saja selesai 4 rakaat, terdengar pintu diketuk, dengan mengucapkan salam seorang petugas berAPD lengkap masuk. Sambil mendorong meja berisi makanan dan obat-obatan dia berucap
“Bu ini makanannya segera dimakan ya bu! Oh ya, ini obatnya ada yang sebelum makan dan ada yang sesudah makan. Dihabiskan ya bu makanannya, biar cepat pulih,” meletakkan boks berisi nasi dan lengkap dengan lauk-pauk, sayur dan buah.
“Baik, terima kasih ya Mbak,” sahutku

Kuambil segelas air hangat dari dispencer. Kubaca Alfatihah kemudian Basmallah dan kutenggak obat yang bertuliskan sebelum makan.
Selang beberapa menit, diawali dengan doa sebelum makan kusantap makanan yang bergizi lengkap itu. Alhamdullih, habis, bersih dan ludes.
“Alhamdulillahillazi At’amana Aasaqona Aaja’alana Ainal Auslimin, bisikku

Tak disangka, seketika perih di perut hilang lenyap. Lapar rupanya aku. Teringat pula ketika mau berangkat ke IGD aku sempat memakan buah Naga Merah. Tak ada makanan lain yang berhasil masuk perut selain itu.
Terima kasih ya Allah atas segala rezeki yang telah engkau limpahkan padaku.

Oh ternyata:
Perutku perih bukannya karna tyfus.
Darah di feces bukanlah karna Ulkus.
Kisah cintaku dengannya si… Corona
O… wo… si Corona…

Dari kejauhan terdengar sayup lagu lama
‘Si Jantung hati’
Badanku kurus bukannya kurang makan
Mataku bengkak bukannya kurang tidur
Kisah cintaku dengannya si Jantung hati
O..Wo… si Jantung Hati…

Baru kini kusadari bahwa terkadang “kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan dapat mengalahkan pikiran yang jernih dan logika yang benar,” Ini hanya histeria.

Cerpen Karangan: Rismawati
Blog / Facebook: rismawatimpd.com / Rismawati Risma

Rismawati kelahiran tahun 1967 ini adalah Guru Biologi di SMAN 29 Jakarta. Hobi menulis dan membaca pantun dan puisi

Cerpen Histeria Ruang Isolasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pohon Di Pinggir Kota

Oleh:
Kuletakkan surat kabarku di meja. Banyak berita orang saling berebut kursi. Aku heran, apa istimewanya? Mereka tidak selamanya duduk di kursi itu. Lagi pula, ketika mereka mendapatkan kursinya, secata

Tanya Kehidupan

Oleh:
Matahari sudah tenggelam, bulan pun sudah purnama, namun rasa panas masih saja mengikuti tubuh ini. Aku tetap menyalakan kipas angin dan kumatikan lampu, supaya udara bisa lebih dingin dan

Waktu, Aku Dan 8 Tahun

Oleh:
Siapa bilang waktu itu mutlak? tidak!! waktu itu relatif, tergantung apa yang kau bicarakan. Kau bicara rindu maka sehari itu akan sangat lama, kau bicara pertemuan, maka sehari bisa

Secret Admirer

Oleh:
“Aku lihat dia tadi lho sama temen kelasnya” begitu pesan singkat yang masuk ke ponselku. Aku hanya diam di sudut kamar. Aku ingin melihatnya, dia seseorang yang tak mungkin

Beri Aku Serupiah Saja

Oleh:
Siang ini matahari terasa membakarku, bulir-bulir keringat terus saja meluncur di permukaan kulitku. Ah, aku mengeluhkan rahmat Tuhan lagi. Kupikir lebih baik mencari cara untuk mendinginkan tubuhku agar mulut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *