Hoofd Jaksa Tuanku Radja Bilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 May 2016

Siang itu tahun 1824 sekira pukul 02.19 WIB, para nelayan di kejauhan tampak sibuk berjibaku di tengah laut, mengais rezeki. Sementara para ibu tampak sibuk menjalin atap rumbia, guna mencari tambahan ekonomi keluarga. Tepian pantai tampak anak-anak berlari-lari sembari bermain kuda api, yang merupakan permainan rakyat peninggalan tertuah dahulu. Negeri Mati….Ya begitulah para kolonial Inggris menyebutnya, meskipun jauh sebelum kedatangan mereka, negeri ini tergores nama Bengkulu, seperti tertera pada peta abad ke-14 masehi .

Minah yang duduk di unggukan tanah daerah Tapak Paderi, hanya berdiam diri, menatap kosong di tengah laut lepas. Sesekali pekikan ke luar dari mulutnya, seperti meratapi hidup. “Woi… Woiii jangan makan sendiri,” pekiknya ke arah laut lepas. Rupanya Si Minah sudah lima tahun menjanda, akibat suaminya tewas dihukum tembak. Konon kematian suaminya itulah yang acap kali diratapi, disesali Minah. Dirinya tahu betul, tidak mungkin pujaan hatinya itu melakukan pencurian roti di rumah salah satu tuan tanah. Apalagi saat kejadian berlangsung, saat dirinya sedang berduaan di kamar memadu asmara.

“Mina baliklah, ariko la petang, klak ado ombak bloro (Nina pulanglah, hari sudah sore, nanti ada ombak besar mendadak),” teriak Wan said dari atas plangkinnya (gerobak yang ditarik sapi). Sedikit pun Minah tiada bergeming dari duduknya. “Hhm.. Kalau Tak Berada Ada, Takkan Burung Tampua Bersarang Rendah,” gumamnya hingga mentari terbenam di balik luasnya laut Negeri mati, Minah pun beranjak pulang.

Temui Radja Bilang
Rumah berlantai tanah, berdinding pelupuh dengan sehelai tikar pandan, Minah menjalani hidupnya sendirian, tanpa anak dan suami. Lintasan pikiran memberikan motivasi, agar dirinya segera mengadu ke hoodf jaksa Radja Bilang. Paling tidak dirinya dapat tahu kenapa suaminya dituduh bersalah. Kenapa jaksa menuntut mati, hingga hakim pengadilan menjatuhkan hukuman bagi pujaannya itu. Bak kata pepatah, “Radja alim Radja disembah, Radja lalim Radja disanghah,” Hanya saja Radja bilang bukannya seorang yang disembah, melainkan seorang penuntut dalam penegakan hukum. Pagi pagi sekali, Minah sudah melangkah ke Benteng Marlborough, untuk menemui hoofd jaksa Radja Bilang, yang menurut masyarakat ia sering duduk duduk di halaman benteng.

“Hei… kamu tidak boleh masuk, pergi sana,” teriak polisi jaga.
“Saya ingin bicara dengan jaksa,” mohon Minah.
“Pergi… Pergi, atau kamu saya tangkap masuk jel,” bentaknya kembali.
Rupanya teriakan itu didengar hoofd jaksa Radja Bilang yang tampak konsen membaca buku. “Siapa… Biarkan orang itu masuk,” selanya.
“Tabik tuan,” tegur Minah.

Pencerahan
Kesempatan bertanya soal tuntutan suaminya ditanyakan Minah, sembari mata berbinar-binar. Sepatu putih sang jaksa pun tak luput dari tetesan air mata janda sebatang kara ini. Suami mati, bertahun ejekan dialamatkan padanya. Hidup makan sisa belas kasihan orang nan lalu, meskipun pinta pun enggan dilakukan Minah.

“Tabik tuanku Radja Bilang, mengadu hamba, soal kematian suamiku yang tidak bersalah. Saat kejadian pencurian itu, suamiku sedang bersamaku memadu kasih. Hamba ingin keadilan tuanku?” pinta Minah.
“Tak ku tuntut anak negeriku sendiri, bila fakta menunjukkan dirinya tidak bersalah. Tapi kerabatku sekalipun, akan ku tuntut dera, bila fakta menunjukan anak negeriku ini bersalah. Kebenaran hanyalah milik Tuhan,” kata Radja Bilang sembari mengangkat bahu Minah yang tertunduk takut menatap pancaran mata Sang Jaksa..
“Tuangku, sadarkah tuangku kalau di dunia ini ada benar, ada serupa benar. Ada salah, ada serupa salah. Jadi tunjukkan padaku hakku yang diambil oleh pengatur negeri tuan?,” ujar Minah.

Sambil mengelus keningnya yang berpeluh, akibat surya Dhuha di atas kepala, Hoofd Jaksa Radja Bilang sumbringah. “Kalaulah aku tahu suamimu tidak bersalah, tak akan dirinya aku bawa ke pengadilan. Taka kan tuntuan mati diberlakukan wahai yang merasa teraniaya,” tegur Radja Bilang membuat Minah menengadah.
“Dimana hak adilku untuk mengadu tuan?” tanya Minah dengan suara bergetar.
Berkerut kening Radja Bilang. “Adil itu … Adilmu di Tuhan. Karena hidup ini sesungguhnya merdeka sesuka kita. Asal di ingat, Tuhan tetap Tuhan, kita bukan Tuhan,”

“Kenapa engkau tuntut mati suamiku tuan jaksa, kalau itu memang kenyataan dalam hidup ini?” tanya Minah lagi dengan nada tinggi.
“Saya berani menuntut mati suamimu, karena aku ingat Tuhan tetap Tuhan, aku bukan Tuhan,”
Minah sedih bercampur geram. Pernyataan Sang jaksa tidak dia mengerti. “Tabek tuan, aku pulang. Tuhan mungkin akan segera memanggilku, itu pun bila ia perkenankan,” ucap Minah beranjak pergi.

Di keesokan harinya masyarakat negeri mati heboh. Minah ditemukan bersimbah darah, terbujur kaku di sebelah rumah tuan tanah yang menuding suaminya melakukan pencurian.

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie
Facebook: Benny Hakim Benardie
Benny Benardie merupakan seorang penulis dan jurnalis senior yang tinggal di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu.

Cerpen Hoofd Jaksa Tuanku Radja Bilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tiga Sahabat Berakhir Dua

Oleh:
Pagi ini kota indah Jogjakarta diselimuti awan dingin. Selimut tebal masih menempel di tubuh, agar si dingin tak menyambangiku. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkan dingin hanya dengan

Gila

Oleh:
Dinginnya malam yang penuh rintangan, banyak nyamuk berkeliaran di kanan kiriku yang kubiarkan tubuhku tergeletak lemas di atas kasur kumuhku. Tangan kugerakkan terasa berat untuk menggapai hp yang ada

Nenek Pencari Kayu Bakar

Oleh:
Di sebuah desa yang amat terpencil di Malang ada seorang nenek nenek tua renta dengan postur tubuh yang membungkuk dan kulit yang amat sangat kusam berkeriput. Nenek ini mempunyai

Aku Dan Gelar Sarjana Ku

Oleh:
Sudah separuh jalan ku tapaki, seiring panas matahari yang semakin membakar kulitku yang kecokelatan. Ku genggam map dalam tanganku, ku usap peluh yang mengucur lewat dahiku. Ku lepas pandanganku

Lighter (Part 1)

Oleh:
Ku temukan janji manis dari kumpulan kata-katanya, teduh dari gema suara baritonnya. Seperti gulali dari toko manisan di depan rumah, manisnya mengikat lidah. Seperti pohon besar menjulang tinggi di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *