Hujan dan Si Bocah Ojek Payung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 8 December 2019

Sore hari dengan hujan deras saat aku merenung sambil menyeruput kopi hitam. Diluar turun hujan deras hingga jalanan pun berkabut dan kabur.

Namaku Luna, seorang mahasiswi tingkat akhir yang cukup usang. Hujan sore ini membuatku untuk berpikir lebih dalam tentang masalah-masalah dalam hidupku. Di cafe ini, cafe sebelah kampusku, aku biasa menghabiskan waktuku sepulang kuliah hanya sekadar untuk minum kopi favoritku. Kopi hitam pahit, mungkin jarang ada perempuan yang suka dengan kopi jenis ini, namun bagiku kopi hitam adalah pelampiasan terbaik untuk gundahku. Pahit dan berbekas, namun nikmat.

Dibalik jendela kaca kulihat seorang bocah laki-laki kurus yang terlihat kedinginan, dia terus mencoba menawarkan jasa ojek payungnya kepada orang-orang yang lewat, namun tak seorangpun yang menghiraukannya. Kuputuskan untuk mengakhiri renunganku. Setelah membayar kopiku, aku keluar dan menghampiri anak kurus itu. Tanpa basa basi, sebelum aku mengatakan sesuatu, ia langsung berjalan ke arahku.

“Ojek payung, kak?” katanya.
“Boleh, berapa kalo ke gang melati?”
“10 ribu saja mbak.”
“Oke deh”, kuiyakan tanpa menawar.

Selama perjalanan, aku mencoba membuka percakapan dengannya.
“Namamu siapa?”
“Surya.”
“Kenapa jadi ojek payung? Gak takut sakit hujan hujanan terus?”
“Mumpung hujan kak, aku bisa cari tambahan uang untuk makan. Ya harus gimana lagi, daripada tidak makan.”
“Memangnya orangtuamu tidak melarangmu?”
“Bapakku pergi saat emak sedang hamil adikku, biasanya sepulang sekolah saya jual gorengan buatan emak, tapi beberapa hari ini emak sakit, jadinya tidak bisa membuat gorengan”
“Maaf untuk hal itu…”
“Tidak apa-apa kak”

“Memangnya emakmu sakit apa?”
“Katanya sesak, sakit kepala sampai tidak bisa bangun, makanya saya kerja buat beli makanan sama obat buat emak”
Aku tertegun mendengar ucapannya, sungguh mengharukan kisahnya. Dia sungguh anak yang kuat pikirku.

“Umurmu berapa?”
“12 tahun.”
“Biasanya kalau hujan gini, bisa dapat uang berapa?”
“Tergantung kak, kalau ramai ya bisa sampai 50 ribu, kadang bisa tidak dapat sama sekali.”

Semakin terenyuh aku mendengarnya, seorang bocah kurus 12 tahun yang sudah memikul beratnya hidup menjadi tulang punggung untuk adik dan emaknya yang sakit sakitan.

Berlalu hujan yang sudah mereda, kini aku telah sampai di rumah kostku.
“Sudah sampai dek, ini ongkosnya”
Kuberikan uang 30 ribu untuknya, kukatakan untuk tambahan membeli obat emaknya.
“Terima kasih banyak kak” dia sumringah sambil kedinginan.

Ia berlalu sambil berlari di derasnya hujan. Aku memandangnya hingga tak terlihat lagi.

Sungguh beruntungnya bocah itu, pikirku. Dia punya jiwa yang sangat besar. Dia punya hati yang besar walaupun dengan segala keterbatasan. Aku iri. Sangat iri kepadanya. Kuselipkan doa bersama hujan, semoga ia menjadi seperti namanya, menjadi sinar untuk orang lain.

Hujan sore ini membuatku berpikir apakah semua yang kujalani saat ini berarti? Apakah semuanya lebih baik? Aku tahu tidak semua momen akan berpihak padaku, tapi aku ingin memaknai semua yang terjadi dalam hidupku. Hujan mengajarkanku untuk berterima kasih kepada Tuhan. RahmatNya yang harus kusyukuri. Dengan basah dan dingin, hujan dapat mendinginkan ego makhlukNya yang kufur ini. Seperti hujan yang setelah membasahi bumi, memberikan kesan berbeda bagi setiap penikmatnya.

Cerpen Karangan: Atikah Yulianti

Cerpen Hujan dan Si Bocah Ojek Payung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bermain Dengan Sang Kematian

Oleh:
Tak ada yang bisa menolak kematian. Saat kematian memasuki ruangan, semua kesenangan hilang. Kebahagian berganti menjadi duka. Awan hitam kegelapan menyelimuti setiap relung jiwa yang ditujunya. Dan sekali lagi

Pencopet Ulung

Oleh:
“Kukkuruyuukkk… Kukkkuurrruuuyyuukkk…” Suara ayam jantan yang sedang berkokok dengan gagahnya membangunkanku di tengah kegelapan pagi. Suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari bergantian hingga tak terhitung jumlahnya. Suasana

The Story Behind Cigarette

Oleh:
Jalan raya Ibu kota terlihat padat. Panas matahari siang itu mampu menambah keresahan hati setiap pengguna jalan. Keringat mengucur deras, membentuk anakan sungai kecil mengikuti lekukan pipi gadis berambut

Anagram

Oleh:
Stasia meletakkan cangkir kopinya sedikit kasar. Seandainya kafe sepi, mungkin dentingan keramik itu akan membuat pengunjung yang ada menoleh padanya. Perempuan di hadapannya baru saja memutuskan Juan, lelaki yang

Kembali Keniat Awal

Oleh:
Mentari masih enggan menampakkan sinarnya. Namun pagi ini harus ku paksakan melangkahkan kaki untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Udara dingin menyelimuti tubuhku yang mulai menggigil. Ku intip wajah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *