Hujan Di Bulan November

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 June 2017

Hujan amat deras mengguyur kota bandung, tak menyisakan berkas berkas pengasihan kepada penduduk yang hendak beraktivitas. Rere yang menatap butiran-butiran hujan dari jendela kamarnya menjadi pilu, sembari mendengar berita di televisi yang membuat hatinya semakin pilu.
“telah terjadi kecelakaan bus yang menewaskan tiga puluh penumpang dan dua puluh lainnya luka-luka. Diduga kecelakaan ini disebabkan oleh hujan yang tak kunjung berhenti sejak pukul sembilan malam”

“kecelakan lagi re?” tanya wanita paruh baya yang baru saja masuk ke kamar Rere dan mengecilkan volume TV.
“entahlah nek.” Jawab Rere datar. Ia kembali menatap butiran butiran hujan yang menempel pada jendela kamarnya, Memperhatikan ketika mereka perlahan meluncur dari kaca jendela lalu jatuh ke tanah.
“sudah nenek siapkan mantel di meja tamu jangan lupa dibawa. Ini november, hujan akan terus turun.” Ucap nenek yang perlahan meninggalkan Rere sedirian di kamarnya.
Rere menghela nafasnya, mulai menerka-nerka apa yang akan terjadi di bulan november tahun ini. Ingatannya kembali ke sepuluh tahun silam. Ketika usianya menginjak delapan tahun, ketika tawanya begitu nyaring terdengar. Di dalam sebuah mobil sedan putih bersama kedua orangtuanya.

Saat itu sedang hujan, ya hujan. Hujan yang amat deras di jalanan ibu kota jakarta. Namun terlalu bahagianya Rere kecil, ia tidak sadar bahwa saat itu hujan. Yang ia tahu ia akan berlibur bersama kedua orangtuanya. Tanpa disadari, hujan yang semakin deras itu membuat jalanan licin dan menggelincirkan mobil yang tengah mereka kendarai. Kejadian yang takkan pernah ia lupakan, dimana Rere melihat darah mengalir deras di tubuh kedua orangtuanya. Rere amat mengingat bagaimana sang ibu memeluknya demi menyelamatkannya. Jika saat itu Rere bisa memilih, ia akan memilih pergi bersama kedua orangtuanya. Ia tidak ingin sendiri seperti saat ini. Hujan benar benar merampas harta yang paling berharga bagi Rere yaitu kedua orangtuanya. Tapi Tuhan masih menyayanginya, setelah kecelakaan itu, Rere di asuh oleh sang Nenek yang hidup sendirian di bandung. Sehingga Rere harus pindah sekolah dan melupakan setiap kenangannya baik manis maupun pahit di jakarta.

“Re… nanti telat sekolahnya” seru sang Nenek.
Rere menghentikan kenangannya dan segera melangkah pergi dari sisi kamarnya. Memakai mantel dan berharap tak ada setitik air hujan di bulan november ini yang mengenainya.

“Payung Kak…” ujar seorang pemuda yang membuat Rere mendongak ke atas.
“kau tak lihat aku sedang memakai mantel..? kenapa masih menawariku payung?” tanya Rere sinis. Ia segera meninggalkan pemuda yang menawarkan payung kepadanya.

Sesampainya di sekolah, Rere segera melepaskan Mantelnya dan menaruhnya di teras kelas. Ia terlambat, ibu siska sudah masuk. Ia menengok jam tangannya.
“oh my God, Jam setengah sembilan. Ini semua karena hujan” ucapnya.
Rere memutuskan untuk tidak langsung masuk ke dalam kelasnya, ia enggan menghadapi omelan ibu Siska yang pasti akan membuat telinganya panas. Rere berjalan menuju kantin memesan bakso dan segelas teh panas.

“Neng Rere nggak masuk kelas” tanya ibu kantin
“biasa bu… telat” jawab Rere. Ibu kantin hanya tersenyum. Ia amat hafal dengan kebiasaan pelanggan setianya ini, di setiap hujan November ia akan selalu terlambat. bahkan pernah hingga sebulan penuh Rere terlambat.

Rere menikmati aroma tanah yang melebur bersama dinginnya hujan. Rere memandangi pagar depan sekolahnya. Jendela kantin memang sangat luas, ia bisa melihat jalanan raya depan sekolahnya sekaligus. Rere memperhatikan sosok pemuda yang berdiri memegang payung, menawarkan tiap-tiap pejalan kaki. Rere seperti pernah melihatnya, Ah… pemuda yang menawarkan payung kepadanya sebelum ia berangkat ke sekolah.
“Menyebalkan” gumamnya.

Setelah bel istirahat. Rere memutuskan kembali ke kelas dan berada di dalamnya hingga bel pulang. Hari-hari menjadi membosankan ketika hujan bagi Rere. Hari ini pun ia malas untuk menyimak pelajaran. Padahal sebentar lagi Rere akan mengikuti ujian semester ganjil di tahun ketiga.

“Re… mau nebeng kita nggak?” tanya Nia
“ia.. soalnya ini hujan deras banget. Sayang kan.. kalau loe jalan” timpal via
“kalian duluan aja aku bawa mantel kok” jawab Rere
“ok, duluan ya…” ucap Nia. Rere hanya tersenyum…

Rere menengok teras kelasnya, ia mencari-cari mantel yang seingatnya ditaruh di depan kelas. Rere bahkan memutari seisi kelas dan teras kelas. Bahkan tong sampah di depan kelas tak luput dari targetnya.

“cari apa neng?” tanya OB sekolah
“Bapak lihat mantel warna kuning di depan kelas nggak pak?” tanya Rere
“Nggak neng. Dari tadi nggak ada mantel di depan kelas. Bapak permisi dulu ya neng”
“iya pak terima kasih”

Rere begitu cemas, ia takkan pulang jika hujan tak mereda. Neneknya pasti akan sangat khawatir. Apalagi beliau tahu Rere sangat benci hujan di bulan November.

“Payung kak…” tawar seorang pemuda. Rere menoleh kearahnya.
“kamu lagi…” ujar Rere.
Ia ingat betul pemuda ini, pemuda yang menawarinya payung pagi tadi, dan yangdilihatnya di depan gerbang sekolah. Pemuda itu hanya tersenyum
“nama saya haikal kak” haikal menjulurkan tangannya. Rere enggan membalas. “karena kakak nggak bawa mantel makanya aku tawarin” lanjutnya.
“jangan panggil saya kakak. saya yakin kamu lebih tua dariku.” Larang Rere. Haikal hanya tersenyum
“Mari kak saya antar.”
“kamu menjual payung tapi kenapa nggak pakai payung…?”
“Karena saya suka hujan apalagi bulan november.”
Rere mengerutkan dahinya. Mengapa haikal bisa memiliki antonim dari sisi dirinya.
“Ayahku meninggal dibulan November saat bekerja sebagai kuli bangunan. Ibuku menjadi seorang janda. Ia menghabiskan sisa hidupnya untuk menghidupiku sebagai anak tunggal. Dan menutup usia di bulan November tiga tahun silam karena penyakit TBC. Aku menjadi anak yatim piatu, yang tinggal di rumah kecilku sendirian. Setelah setahun ibuku meninggal, aku dikeluarkan dari sekolah karena selalu terlambat membayar uang bulanan sekolah. Dari situ, aku memutuskan bekerja sebagai tukang sol sepatu, kemudian pedagang asungan, dan baru sehari ini menjadi ojek payung.” Haikal mengakhiri kisahnya dengan senyuman.

Rere termenung medengar kisah itu, ia membayangkan betapa pedihnya menjadi seorang Haikal. Meski terkesan blak-blakkan dan sok kenal. Karena baru kenal sudah bercerita seperti ini. Rere jadi sadar bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami kemalangan. Masih banyak yang mengalami kemalangan lebih dari dirinya.

“Lalu kenapa bisa kau menyukai hujan?” tanya Rere.
“Karena setiap pemakaman baik ayah dan ibuku, hujan selalu menemani. Aku berpikir bahwa langit ikut bersedih akan kematian keduanya. Langit pasti ikut bersedih bersamaku. Setidaknya aku merasa beban kesedihan ini takku tanggung sendiri” jawab Haikal

Rere semakin terhanyut atas jawaban Haikal, sosok yang benar benar ikhlas atas setiap keputusan Tuhan. Sosok yang dapat menerimanya dengan kelapangan Dada. Tidak seperti dirirnya yang menghakimi Tuhan atas apa yang menimpanya. Sehingga ia amat membenci hujan yang jatuh di bulan november. Dan rasanya, ini adalah teguran Tuhan atasnya melalui Haikal. Melalui kisah-kisah Haikal yang baru beberapa menit lalu di Kenalnya. Bahwa hujan tak selamanya membawa kebencian. Hanya saja, dari sudut pandang apa kamu memaknai hujan.

“Haikal, besok sepulang sekolah. Tunjukan aku rasanya hujan di bulan november. Dingin seperti es kah.. atau justru panas melebihi api neraka.” Ajak Rere di tengah rintikan hujan.

Cerpen Karangan: Magfirotul Khasanah
Facebook: Magfirotul Khasanah

Cerpen Hujan Di Bulan November merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Perfect Ending (Part 1)

Oleh:
Hari itu aku sudah bersiap pergi ke sekolah diantar ayahku. “sudah siap?” tanya ayah “sudah yah ayo kita berangkat” sesampainya di sekolah aku langsung menuju kelasku tiba tiba aku

Warung Kopi (Pesan Untuk Kawan)

Oleh:
Malam itu malaikat Mikail memainkan perannya, yaitu menurunkan hujun dari langit (Jogja). Ribuan rintik air turun menyela obrolan dan hangat kopi di warung kopi gbol, dingin seperti tak lagi

Aku Rela

Oleh:
“Assalamualaikum, Indah kamu lagi ngapain sekarang, lagi santai nggak?” “Waalaikum salam, enggak kok, enggak ngapa ngapain, emang ada apa sih?” “Aku mau ke rumah kamu ya sekarang, aku mau

Nakal Dulu Baru Sukses

Oleh:
Ceritaku dimulai saat aku menginjakkan kakiku ke sekolah ini. Sekolah ini cukup bagus dan mengasikkan bagi seluruh siswa yang pintar, bagiku sekolah ini terlihat biasa saja karena aku masuk

Perbedaan

Oleh:
“Kapan yach kehidupan senang dan bahagia berbalik arah kepadaku…?” Ya… itulah kalimat yang senantiasa selalu ada dan hadir di benak perempuan yang senang berpakaian warna pink ini. Ketika dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *