Hujan Membawa Takdirku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 10 April 2018

Di ruangan yang minimalis dengan susunan ranjang, lemari dan cermin hias yang tertata rapi, membuat suasana kamar ini indah di malam hari. Kupandangi wajah suami yang sangat aku cintai. Dia tertidur pulas seperti balita, begitu menggemaskan, membuat jemariku usil ingin mencubit pipi dan hidung mancungnya. Suara gemuruh hujan membuat perhatianku teralihkan melihat indahnya deraian air hujan jatuh membasahi tanah, semerbak harumnya air mengguyur tanah membuat hatiku merasa nyaman dan tenang. Aku sungguh menyukai aroma hujan turun, itu membuatku seakan kembali kemasa dimana pertama kali semuanya dimulai.

“Manda, ada apa dengan wajah cantikmu itu? Bukankan hari ini adalah jadwal kita untuk memilih cincin pertunangan? harusnya wajah itu seindah bunga yang bermekaran,” tanya Reno sembari mengusap lembut rambutku.
“Hmm, ternyata kamu mengingatnya, aku kira kamu akan melupakan hal yang paling penting untuk acara pertunangan kita nanti” sautku dengan wajah sedikit cemberut.
“Hey, it’s imposible Manda sayang, mana mungkin aku melupakan hal terpenting untuk acara yang telah kita impikan selama 3 tahun ini? Ok maaf kalo akhir-akhir ini aku kurang memperhatikanmu, ini karena banyak deadline pekerjaan yang harus aku kerjakan, sayang. Agar nanti pas hari H aku hanya terfokus kepadamu dan kita” jawab Reno yang mulai memelukku erat. Setiap kali aku bete, ngambek dan marah dia selalu melakukan hal-hal romantis yang dapat mencairkan bongkahan-bongkahan es dalam hatiku.

Acara pertunangan impian kita telah berjalan sesuai harapanku dan Reno, enam bulan lagi kita akan menikah dan menjalani kehidupan baru sebagai sepasang suami istri. Impianku dan Reno kita segera diaruniai momongan kembar, mungkin akan merepotkan mengurus dua anak sekaligus tapi bagi kita itu adalah hal yang menyenangkan.

Suatu hari itu aku dan Reno bertengkar besar-besaran karena kita berselisih pendapat, Reno telah menandatangi kontrak kenaikan jabatannya sebagai Direktur di cabang Singapore dan berencana pindah kesana tanpa berdiskusi terlebih dahulu denganku. Aku tau dia berniat baik untuk memberiku kejutan atas kenaikan jabatannya, tapi aku tak setuju jika harus pindah negara. Hal itu membuatku sangat kecewa terhadapnya, sepanjang perjalanan aku terus menangis sampai akhirnya tak sengaja aku menabrak seorang ibu yang sedang menyeberang.
Hujan yang sangat lebat membuatku tak dapat dengan jelas melihat jalanan. Karena shock dan tak tau harus berbuat apa, aku hanya bisa menangis ketakutan sambil memegangi kepala ibu itu yang terus mengalirkan darah ke sekujur tubuhku. Aku terus berteriak meminta pertolongan, namun tak ada seorangpun yang bisa membantuku.

Saat tak ada harapan lagi ibu itu tiba-tiba membelai rambutku perlahan dan berkata, “tenanglah nak, tak apa. Kamu jangan merasa takut ini bukan salahmu. Ini semua takdir, ibu ikhlas jika harus dipanggil sekarang”. Air mataku semakin jatuh tak terhentikan, ibu itu kembali berkata sambil mengusap air mataku, “jika kamu tak keberatan, bantulah ibu menjaga anak ibu. Dia pasti sangat kehilangan jika ibu tinggalkan. Jadilah tiang penguat untuk dia dimasa depan nanti”. Aku tak mengerti dengan apa yang ibu itu katakan, aku hanya mengangguk menyetujui dan mencium tangan beliau. Ibu itu tersenyum bahagia, seketika itu juga mobil ambulan datang.

“Mbak bagaimana keadaan ibu ini? Saya dapat laporan dari penjaga keamanan lalu litas melalui CCTV bahwa ada kecelakaan di sini”. tanya petugas ambulan. “Iya pak, kejadiannya 15 menit yang lalu, saya sudah mencoba berteriak meminta bantuan tapi tak ada seorangpun yang melalui jalanan ini”. “Baik mbak, anda jelaskan nanti saja saat pemeriksaan, sekarang yang terpenting adalah nyawa ibu ini”. Aku mengiyakan kemudian mengikuti petugas membawa ibu itu masuk ke dalam ambulan untuk melakukan pertolongan pertama. Namun semua terlambat ibu itu kehilangan banyak darah dan akhirnya meninggal dunia. Aku menjerit ketakutan, “Aku membunuh Ibu itu, tidaaak… bagaimana bisa aku membunuhnya…”. Meski kepolisian menyatakan aku tak bersalah karena ibu itulah yang nekat menyeberang saat lampu hijau menyala, tapi tetap saja aku merasa semua itu salahku. Sampai pada akhirnya anak ibu itu menemuiku dan memintaku untuk bisa mengikhaskan semua, karena semua bukanlah salahku. Dia percaya bahwa Ibunya sudah tenang di sisi Allah dan takdir Allah jauh lebih indah.

Kini hari yang kutunggu telah tiba, dimana pesta penikahanku berlangsung sungguh meriah semua tamu undangan yang kuharapkan datang ada di sini, begitupun Reno beserta keluarga. Dia mendekat dan mulai menjabat tanganku, aku tau kedua mata itu tak dapat berbohong untuk tak meneteskan air mata. “Reno bahagialah selalu, jangan pernah menyesali semua yang terjadi dan janganlah engkau menbenci takdir yang telah memisahkan kita”. Kepeluk dia untuk terakhir kalinya, aku tak boleh meneteskan airmata di depan Reno dan kedua orangtuanya.

Tiga bulan lalu Aku berpisah dengan Reno, dan setelah itu kejadian tak terduga menghampiriku. Yusuf Mahendra, putra dari ibu yang tak sengaja aku tabrak datang melamarku. Ia bercerita bahwa selalu bermimpi ibunya meminta untuk mengapai tanganku disaat aku sedang merasa sedih dan kesepian. Dan anehnya tanpa berpikir panjang aku mengiyakan pinangannya. Aku tak mengerti aku jatuh cinta saat dia mengutaran semuanya padaku. Apa ini namanya takdir yang telah digariskan? Semakin hari aku semakin mencintainya. Yah, dia suami tak terdugaku.

Lamunanku buyar saat tiba-tiba kedua tangan memelukku dari belakang “Sayang apa yang kamu lakukan di sini”. Ucap yusuf sambil membelai rambutku. “Aku mengingat betapa indahnya takdir mempertemukan kita dikala hujan turun, Sayang”. Aku berbalik dan membalas pelukannya, dia tersenyum kemudian mencium keningku, “aku juga berterimakasih pada ibu yang mempersatukan kita”.

Cerpen Karangan: Nur Widayanti
Blog: widagezy.wordpress.com

Cerpen Hujan Membawa Takdirku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unreal

Oleh:
Nathan menatap layar laptop di depannya dengan malas. Kedua matanya sudah tidak lagi bersahabat untuk diajak bekerja sama mengerjakan tugas kuliahnya. Diseruputnya secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Itu

Kekurangan Yang Sama

Oleh:
“Pokoknya, aku harus bisa ngungkapin perasaanku nanti!” ungkapku, di atas selembar kertas, yang selalu menjadi tempatku menumpahkan segala emosi, dan kejadian sehari-hariku, Buku Diary. “Dian, sini cepetan!” Tegur Rian.

Tutup Botol

Oleh:
Sejak saat itu ruas jalan terasa sangat panjang. Perjalanan waktu dua kali lebih lama. Sejak ku dengar, “Jaga diri ya,” Panggil saja aku Nilam, dua bulan telah berlalu sejak

Kabut Sudah Tersiram Hujan

Oleh:
Dengan sorotan mata telah merekam semua kejadian di bawah langit yang secerah cermin. Rekaman yang tak bisa dicetak berbentuk nyata hanya bisa diputar ulang dengan gulungan kaset yang tak

Secret Admirer

Oleh:
Mengagumimu adalah sebuah anugerah indah yang diberikan tuhan padaku, lewat dirimu aku mengerti arti indahnya cinta, lewat dirimu pula kujajaki selangkah demi selangkah jalan yang berbatu.. Tajam dan menusuk.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *