Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 May 2012

Hujan. Pada siang menuju sore hari ini, hujan terus mengguyur tanah pertiwi. Lebih tepatnya kota saya, Jakarta. Karena saya tidak tahu apakah di belahan kota sana, hujan juga turun atau tidak.

Amazing. Itulah hal yang saya selalu rasakan tatkala hujan datang. Ya, semoga saja seperti itu dan memang seharusnya seperti itu. Di luar kejadian yang sering terjadi ketika hujan turun, misalnya angin besar yang menyebabkan pohon-pohon dan baliho tumbang, banjir, kadang longsor, macet dan sebagainya, saya selalu merasa amazing melihat hujan. Menatap tetesan hujan yang turun entah dari ketinggian berapa –karena saya tidak pernah tahu berapa ketinggian langit yang luas itu-. Atau merasakan bau hujan dan menghirupnya dalam-dalam. Mungkin aneh, tapi saya seperti merasakan suatu hawa baru yang sejuk dan jernih.

Pernah suatu kali saya tidur telentang di sebuah lapangan pada suatu malam dan mata saya menatap pada langit luas tanpa sekat. Yang saya lihat adalah betapa langit itu benar-benar tanpa batas. Mungkin dari situlah ada pepatah yang mengatakan “gantungkan cita-cita setinggi langit”. Karena memang langit itu tidak berujung dan bercita-citalah terus tanpa henti. Dan gapailah cita-cita dengan usaha yang maksimal.

Sama seperti yang saya lihat pada malam itu, langit yang luas seperti memberikan suatu atmosfer yang berbeda. Benar-benar memanjakan mata dengan pada dimensi tanpa batas. Yang seketika mengajak kita untuk bermimpi. Karena langit itu luas dan mimpi sebanyak apapun akan tertampung. Seperti kuasa Allah yang luasnya melebihi langit dan Allah akan menampung mimpi-mimpi jika kita berusaha mengejarnya.

Kembali pada hujan. Butirannya yang terus membasahi bumi bagaikan saksi yang tak pernah putus saat penghuni bumi memanjatkan doa-doanya. Ya, karena setahu saya hujan adalah rahmat dan berdoa saat hujan adalah mustajab. Indah betul bukan segala ciptaan Allah ??

Saya jadi lebih merasakan amazing saat hujan ketika saya berada di atas gunung. Tempat yang sebelumnya belum pernah saya datangi tapi saya selalu merasa penasaran untuk hadir di sana. Dan kali pertama saya berkesempatan ke gunung, saya pun di sambut hujan deras. Hujan yang turun pada pendakian pertama saya dan di malam hari pula. Tak ayal, setelah sampai di atas gunung saya pun menangis karena kedinginan setelah beberapa jam tertimpa hujan. Dan parahnya lagi, saya tidak bisa ganti baju kering karena tas saya di bawa oleh teman yang masih ketinggalan di bawah. Kenangan pahit yang terasa manis.

Semenjak itu saya semakin suka dengan hujan. Terlebih hujan-hujan setelahnya yang menemani saya ketika di gunung. Hujan rintik-rintik yang menemani saya bersujud di pendakian saya yang kedua. Sungguh nikmat tiada terkira. Dan tidur berkawan suara hujan yang seakan berlomba-lomba menyentuh saya, tapi toh tidak bisa karena saya berada di dalam tenda. Dan banyak lagi cerita hujan saya yang selalu amazing menurut saya.

Mungkin kesenangan saya akan hujan sama seperti anak kecil yang merengek pada ibunya karena ingin main hujan. Dan ada rona bahagia yang terpancar dari wajah anak-anak kecil ketika berhasil bermain hujan meskipun dengan izin yang di paksakan dari sang ibunda.

Atau kesenangan orang-orang akan hujan yang bisa membuatnya tidur lebih lelap dari biasanya dan efeknya pasti akan menimbulkan rasa malas yang luar biasa untuk bangkit memulai aktifitas di hari yang baru. Saya pun tidak jarang merasakan hal yang sama.

Juga di sebuah film. Hujan menggambarkan suasana yang penuh romatisme. Dalam film India pun, tarian dan nyanyian orang yang sedang bersukaria sering di gambarkan pada saat hujan. Di film lain, hujan di jadikan saat untuk pasangan melakukan adegan romantis yang membuat para penonton seperti terbius ke dalam suasana tersebut.

Kesenangan para petani yang ladang atau sawahnya menjadi subur karena air hujan atau yang mengandalkan pengairan hanya dengan air hujan. Kesenangan tukang bakso yang akan laris manis karena dagangannya bisa menambah nafsu makan siapapun yang membelinya saat hujan. Yang pasti bagi suatu daerah yang telah lama di landa kekeringan maka hujan bagaikan anugerah tak ternilai. Subhanallah. Mungkin masih sangat banyak ke-amazing-an hujan yang luput dari pantauan indera saya.

Hujan adalah rahmat yang mengairi bumi Allah tanpa pilih kasih. Jika hujan saja sudah sebuah rahmat maka setelahnya pun ada bonus Allah, yaitu pelangi. Semua orang tahu jika pelangi itu indah dengan tujuh warna yang melingkupinya. Pelangi merupakan sisa pembiasan dari air hujan dan pelangi itu hanya ada setelah hujan turun. Meskipun pelangi itu tidak selalu hadir di depan mata saya. Tapi pelangi itu selalu ada. Entah di ujung kota saya, di atas gunung tempat saya menuai hikmah, atau di tempat yang saya tidak tahu di mana keberadaannya. Tapi pelangi itu bukanlah suatu fiksi terlebih imajinasi. Karena semua orang pasti pernah melihatnya walaupun tidak selalu melihatnya ketika hujan reda.

Hujan memang selalu amazing. Dan Allah tidak pernah sia-sia menciptakan sesuatu. Jika di ibaratkan hujan adalah suatu permasalahan, maka pelangi adalah penyelesaiannya. Jika hujan di ibaratkan dengan mimpi-mimpi, maka pelangi adalah bukti nyata mimpi-mimpi itu.

Allahua’lam

Cerpen Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


RyA

Oleh:
Mungkin kalian sudah sering mendengar kisah ini. Namun tak sekali pun kisah ini terealisasikan dalam kehidupan nyata. Ku ingatkan, kisah ini bukan kisah fiksi. Kisah ini didasarkan pada sejarah.

Tunggu Aku

Oleh:
Inilah cuplikan kisah masa laluku. Barangkali aku dan adikku, Firza, akan menjadi orang kali pertama yang pernah diusir ayah sendiri di kota ini. Dulu, kami hidup dalam kehangatan keluarga.

Simpul Senyum di Dusun Bengalun

Oleh:
Sebagai hati yang tertinggal di dusun bengalun, ada simpul senyum yang menanti di seberang lautan sana. Sudah dua hari Renita habiskan waktunya untuk menganyam. Daun pandan kering yang entah

Cotton Bud Dan Kapitalisme

Oleh:
Semalam nyaris saja celaka. Cotton bud yang saya gunakan kapasnya lepas. Untung saja posisinya tidak pas di dalam telinga kiri. Agak di luar. Sehingga kapasnya masih bisa diambil. Kalau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *