Hutang Tingkat Dewa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 18 March 2013

Aku terus berlari menerobos hutan cemara, entah berapa lama aku berlari aku tak tahu pasti. Yang kurasa nafasku sudah hampir habis. GEDEBUGG… aku terjatuh. Kuarahkan pandangan kesekelilingku, rupanya aku sudah keluar dari hutan cemara tadi. Kini yang tampak oleh mataku adalah lapangan yang maha luas, lebih tepatnya adalah gurun pasir. Tidak ada sebatang pohonpun tumbuh disitu. Perlahan kucoba berdiri, badan ini terasa remuk dan ototku kaku. Dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan pelan, setapak demi setapak menyusuri lautan pasir.

“Tuhan dimanakah aku? dimana istri dan anaku.” Batinku merintih. Sebelum berjalan di hutan cemara tadi, aku sedang bersama Santi istriku dan Asa anak lelakiku yang baru 8 tahun. Kami bertiga sedang menikmati liburan.
“Hai!” Aku menoleh kearah suara itu. Kulihat seorang perempuan 25 tahunan, rambutnya panjang hampir menyentuh tanah. Senyum manisnya menggembang saat aku menoleh kearahku.
“Ayo ikut aku.” Perempuan itu berkata, lalu meraih tanganku. Aku tak sanggup menjawab dan pasrah saat dia meraih tanganku. Kami melayang, melesat cepat di atas padang pasir yang tandus.
Perlahan kami mendarat. Aku melihat sebuah bangunan kecil beratap alang-alang dan berdinding bambu.

“Di dalam ada kolam, mandi dan ganti pakaianmu.” Perempuan itu berkata sambil melepas tanganku. Aku masuk kedalam rumah tersebut. Di dalam kulihat sebuah kolam yang luas, ada beberapa pancuran yang terbuat dari bambu berjejer dipinggir kolam. Ada pancuran yang mengeluarkan cairan warna-warni, aromanya seperti jus buah. Ku dekati pancuran itu. Benar, ternyata Jus buah. Aku minum sepuasnya. Pancuran yang lain mengeluarkan air, ada yang air hangat ada juga air yang aromanya wangi. Kucoba semua apa yang ada disitu. Tenagaku terasa pulih sekarang, badanku segar.
“Hee roh!” Aku kaget, seorang lelaki usianya sekitar 55 tahun berdiri dipinggir kolam.
“Apa roh?”
Tatapan lelaki itu dingin sekali. “Hanya roh yang bisa datang ketempat ini.” Lelaki itu mendekati sebuah loker yang tersusun rapi di pinggir kolam, dia mengeluarkan handuk dan pakaian. Ia berjalan mendekatiku.
“Ini pakailah” Disodorkanya handuk ditanganya.
“Terima kasih”

Aku segera naik kepinggir kolam dan menerima handuk itu. Rasa terkejut masih menghiasi perasaanku. Apakah benar aku roh, berarti aku sudah mati? Kalau benar aku mati bagaimana anak dan istriku. Ayah dan Ibu siapa yang akan merawat? Mobil baruku, baru 3 bulan aku beli.

Lelaki itu kemudian bercerita banyak padaku. Dia adalah penjaga permandian, sudah ratusan tahun dia bertugas disana. Roh yang datang kepermandian itu umumnya orang yang selama hidup di dunia tergolong orang yang baik. Biasanya roh orang semasa hidupnya banyak berbuat dosa tidak akan datang ketempat itu, roh mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melewati gurun pasir, mereka akan kepanasan dan kedinginan disana. Itu terjadi karena tidak akan ada yang menolong roh tersebut. Sementara orang baik akan diantar oleh perempuan cantik atau lelaki tampan untuk menyeberangi gurun dan mengantar ke permandian.
Sambil mendengarkan cerita, kulihat ada seorang kakek datang. Dari pakaian yang dikenakan aku tahu roh itu selama di dunia berprofesi sebagai petani. Sepuluh menit kemudian datang roh anak lelaki, kira-kira umurnya 11 tahun. Dia datang dengan diantar dua perempua cantik. Kedua perempuan itu bahkan mengantar si anak yang kelihatan kumal itu sampai ke dalam kolam. Tidak seperti aku yang hanya diantar sampai di halaman. Pasti dia anak yang istimewa.

Melihat anak itu aku jadi ingat dengan istri dan anaku.
“Apakah ada roh anak atau perempuan kesini?” aku mencoba mencari tahu, apa mungkin anak dan istriku nasibnya sama denganku.
“Tidak, sudah 3 hari ini tidak ada roh wanita yang datang. Rupanya manusia di dunia semaki akrab dengan dosa sehingga pengunjung tempat ini terus berkurang.”
“Saatnya kamu melanjutkan perjalanan, pergilah kearah selatan. Sekarang tergantung dari besarnya karma baikmu, kalau selama hidup banyak berbuat baik maka kamu akan semakin cepat sampai ditujuan berikut. Tujuanmu adalah level 2 dari alam roh, tempatmu sekarang adalah level dasar alam roh tersebut.” Lelaki itu berpesan.
“Ingat, walau kamu kesini belum tentu kamu diterima di Sorga bisa saja kamu jadi penghuni Neraka.” Nada serius ku dengar keluar dari mulut Lelaki itu, saat itu aku telah melangkah menuju halaman.
Tidak kulihat perempuan cantik yang mengantarku tadi. Entah kemana dia pergi? Kurasa badanku menjadi ringan.
Aku terbang…

Pandanganku tertuju pada pintu gerbang yang menjulang, bangunan itu dibalut awan yang dihias pelangi nan indah. Di depannya terlihat barisan orang-orang sedang berbaris untuk memasuki tempat tersebut. Mereka terlihat berdiri dengan rapi. Akupun bergabung dalam barisan itu.
Ternyata ada dua pintu di gerbang tersebut. Mungkin ini pintu Sorga dan neraka, begitu pikirku. Ada seorang petugas yang kulihat melayani para roh yang sedang mengantri. Roh itu ditanyai kemudian ada yang dipersilahkan masuk kepintu kanan, ada yang di pintu kiri. Tapi ada pula yang disuruh kembali entah kemana. Kalau roh-roh tersebut menolak maka pria-pria berbadan kekar yang akan memaksa roh tersebut untuk mengikuti perintah, roh itu bisa dipukuli, dilempar, dan di tending.

Banyak roh yang wajahnya berseri penuh senyum kebahagiaan, tapi banyak juga yang terlihat capek. Seperti seorang Pria didepanku, kemeja yang dikenakanya telah lusuh, sepatu, dan pakaian lain yang dikenakanya sudah kotor. Badanya mengeluarkan bau yang kurang sedap. Wajahnya tampak letih, air mata menetes dipipinya. Setiap ia ingin duduk karena capek, penjaga akan segera menendang bahkan tidak segan mengayunkan cambuk ditanganya.
“Berdiri…! siapa yang menyuruhmu duduk !?”
Aku mencoba bertanya pada pria itu. “Bapak sudah lama disini?”
Ia menoleh dan menunjukan 5 jarinya, mulutnya kulihat mengucap kata “bulan…”
“Kapan Bapak meninggal?”
Lagi dia hanya mampu menunjukan jari, kali ini ia menganjungkan 3 jari dan kata tahun terucap lirih dari bibirnya yang terlihat kering.

“Semasa hidup Bapak bekerja sebagai apa?”
“Saya pengurus partai politik dan pernah menjadi wakil rakyat.” Wah hebat kataku dalam hati. Pengurus partai dan pernah menjadi wakil rakyat, sudah meninggal 3 tahun dan mengantri sudah 5 bulan belum juga dipanggil. Apa penyebabnya ya..?

Lebih dua jam aku menunggu. Tiba-tiba aku mencium aroma harum. Sesosok Perempuan kulihat mendaratkan kakinya. Rambut panjangnya tergerai ditiup angin begitu pula gaun yang di pakainya. Sosok itu kelihatan elegan, seperti seorang Ratu. Semua roh yang ada menoleh padanya. Melihat itu dua penjaga datang menghampiri dan mengantarnya maju dan langsung menghadap lelaki yang sepertinya bertugas menginterogasi para roh. Tak berapa lama sebuah mobil berjenis sedan yang terlihat sangat mewah berhenti didepan perempuan itu. Maka dia pergi dengan diantar mobil tersebut.
Ditempat ini malam dan siang serasa hampir sama terangnya. Saat malam bulan bersinar ternang sinarnya terasa menyejukan hati. Saat siang matahari besinar menyengat walau sesekali awan menutupi sinarnya

Hari ke-3 aku didalam antrian…
“Kamu maju!” Seorang pria kurus menunjuk kearahku. Aku melangkah mendekati pria lain yang berkepala botak, badanya gemuk. Didepanya terpampang sebuah laptop.
“Angga Prabawa, lahir 19 Maret 1978 dan meninggal 17 Agustus 2012.” Suaranya pelan dan berat.
“Ia betul.“ Jawabku dengan mantap.
“Kamu belum bisa masuk Sorga atu Neraka.”
“Kenapa bisa begitu?” Aku heran, setahuku saat meninggal roh akan masuk sorga atau neraka.
Lelaki itu tidak menjawab, hanya tanganya yang menari di atas keyboard laptopnya. Disodorkanya 2 lembar kertas yang baru keluar dari printer disebelahnya.
“Ini daftar hutang yang harus kamu lunasi.”
“Hutang..?” Dengan penasaran kuambil kertas itu dari tanganya.
Di kertas itu tercetak:
DAFTAR HUTANG JANJI ANGGA PRABAWA.

NO Waktu JANJI
1
2

501

1000

Senin…. 1988. Pukul: 12:19
Sabtu…. 2001, Pukul: 20:02
Minggu…. 2012

Berjanji akan membawakan Ibu sayuran dari sawah
Tidak menepati janji pada Ayah untuk membelikan makanan ayam
Janji menyerahkan seluruh gaji pertama pada Ibu jika berhasil lulus dalam tes CPNS
Janji membelikan istri HP baru.

Kenyataan yang sangat mengejutkan bagiku. Ada 1000 janji kepada 125 orang dalam daftar itu. Ternyata dalam hidup aku banyak mengucapkan janji yang tak sempat aku tepati. Sekarang aku harus kembali ke alam manusia, untuk menepati janji-janjiku. Waktuku 37 hari. Kalau tidak aku akan selamanya jadi roh penasaran yang terombang-ambing di Level 1 alam roh. Dan tentu aku tidak dapat reinkarnasi, lahir kembali ke alam manusia. Benar-benar hutang yang berat, HUTANG TINGKAT DEWA

Aku melesat cepat, secepat yang aku bisa. Aku ingin segera sampai di alam manusia dan menemuai orang-orang yang ada dalam daftar. Dan memastikan keberadaan anak dan istriku.
“Janji, aku menyesal mengapa aku banyak berjanji !”
“Janji, statusku tidak jelas karena aku melanggarmu!”
Kalau aku tidak berhutang janji tentu aku sudah menjadi penduduk Sorga atau setidaknya aku berada di Neraka.
Entah bagaimana caranya agar aku bisa menepati janji. Si Botak Penjaga tadi tidak menjelaskan. Ia hanya mengatakan, jika hutangku telah terbayar otomatis akan terlihat pada daftar yang dia berikan. Apa roh sepertiku dapat berkomunikasi dengan manusia, lalu bagaimana jika orang yang ada didaftar telah meninggal?

Batubulan, 31 Agustus 2012

Cerpen Karangan: Wayan Widiastama
Blog: akarimaji.blogspot.com
Facebook: Akar Widwatama

Cerpen Hutang Tingkat Dewa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kegelisahanku Malam ini

Oleh:
Terbangun malam ini aku di balik selimutku yang hangat. Terdengar hujan seperti membangunkanku dari tidur, dari luar jendela kamar. Dingin ketika aku mencoba membuka sedikit selimutku itu, dan ingin

Kisah di Rusun Blackburn

Oleh:
Petang telah menyelimuti kota baru bagiku ini. Langit biru muda yang menggelap dan lampu hingar bingar yang riuh warnai jalanan. Aku berdiri di antara barisan jemuran. Di sana, ada

Senyum

Oleh:
Di batas desa yang indah aku berhenti sebentar. Ku lihat jalan setapak dengan pandangku, mula-mula turun kemudian naik, mendaki lereng sebuah bukit penuh tegalan singkong. Aku memandang ke langit

Ulang Tahunku Yang Kelima

Oleh:
Yang menjerit di bawah kakimu -aku adalah kanak yang pernah singgah di rahimmu. Aku tahu kau adalah wanita yang cantik, bermata bulat, berhidung mancung, bibirmu bak rekah bebungaan di

Bintang Bersinar Lagi

Oleh:
Gemerlap panggung dengan lampu warna-warni tertata megah. Ribuan penonton berteriak memanggil namaku sambil mengangkat poster bergambarkan wajahku. Dadaku bergejolak, nafasku tak beraturan, dan jantungku mengalun tanpa irama. Disitulah aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *