Ibu Akan Membacanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 January 2019

22 Desember 2015
Siang ini matahari begitu semangat memunculkan panasnya. Jemuran ibu ibu tetangga pun kering semua. Tak ketinggalan juga air keringat mengucur deras dari dahi yang lebar ini. Mungkin jika diukur suhunya, bisa mencapai 38 derajat celcius. Sungguh siang yang sangat terik.

Waktu itu aku pulang sekolah, sekitar pukul 14.15. Hawa memang sedang tidak bersahabat. Kuperjuangkan diri agar sampai rumah sebelum pukul 14.30. Aku berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepeda mini hadiah bapakku. Cukup melelahkan juga untuk jarak 4 km.

Ternyata aku sampai rumah pukul 14.45. Oh tidak!! Berarti ibu sudah berangkat kerja. Hati ini sesak. Aku hanya berjumpa ibu saat pagi sebelum berangkat ke sekolah. Setelah itu aku kadang seharian tidak dapat bertemu ibu. Kecuali hari Minggu.
Serasa yang ingin kuberikan pada ibu sia sia, kubuang benda itu di tempat sampah. Aku marah pada diriku sendiri. Mengapa aku tadi pulang terlambat? Mengapa aku tadi tidak mempercepat laju sepedaku? Aku menangis di kamar. Aku merindukan ibu.

Tak sadar, aku tertidur di kamar sampai hampir maghrib. Bapakku yang pulang kerja jam 5 sore pun membangunkankanku. Dengan lembut bapak membangunkanku. Bapakku tahu kalau aku tadi menangis. Bapak dapat cerita dari adikku. Bapak mencoba menanyaiku soal alasan aku menangis. Awalnya aku berkata, “Tak ada apa apa, Pak.” Tapi bapak dengan sedikit memaksa membuatku harus bercerita.

“Pak, aku kangen ibu. Mosok cuma ketemu ibu pas pagi sebelum ke sekolah tok. Paling cuma sama hari Minggu saja yang bisa seharian di rumah.”, aku mulai meluapkan sedihku sambil menangis.
“Yang sabar toh nduk. ibumu sedang kerja. Itu juga demi menghidupi kamu juga nduk. ibu sudah membuat kesepakatan sama bapak. Bapak kerja untuk kehidupan sehari hari. Dan ibumu bekerja untuk kamu dan adikmu nduk, demi masa depanmu dan adikmu. ibu harus bekerja agar kamu dan adikmu bisa terus sekolah sampai perguruan tinggi. ibumu juga bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sekolahmu dan adikmu. Jadi jangan berpikir bahwa ibu tak memberimu waktu luang untuk bersamanya. Sabarlah sebentar. Tahan rasa sedihmu. Lagian bapak kan selalu di rumah toh?”, bapak memberi nasehat kepadaku tanpa membuatku merasa disalahkan. Tangisku pun mulai reda. Kuusap air mataku pelan.
“Iya pak, aku minta maaf. Maaf sudah membuat bapak khawatir. Aku janji pak, akan berusaha sabar. Semoga bapak dan ibu dilancarkan rezekinya sama Allah. Amin.”
“Amin. Ya sudah nduk. Sholat maghrib dulu. Ayo jamaah sama bapak.”, bapak mengakhiri perbincangan kami dengan mengajakku sholat maghrib.

Selesai maghrib, aku langsung makan bersama bapak dan adikku, tentu saja tidak ada ibu, hanya ada masakannya saja, karena ibu biasa pulang pukul 11 malam. Selepas itu, kami langsung jamaah isya’. Pada pukul 8 malam, aku adikku belajar di kamar bapak dan ibu agar kami dapat bertanya kepada bapak saat kami tidak mengerti materi yang diajarkan guru kami. Hingga jam menunjukkan pukul 10 malam, maka aku dan adikku harus tidur. Tapi aku berniat menunggu kepulangan ibu. Aku berberes diri bersama adikku, sementara adikku ke kamar dulu, aku menunggu di ruang tengah bersama bapak.

Sembari menunggu kepulangan ibu, aku dan bapak berbicara banyak soal kisah bapak sama ibu dulu. Mulai dari bapak mengenal ibu, bapak berteman dengan ibu, hingga kini menjadi suami ibu. Bapak yakin bahwa ibu adalah wanita terbaik yang mampu menjadi bagian dari tulang rusuknya.

Pukul 11 malam lebih. Aku sudah tertidur di samping bapak yang masih dengan setia menunggu kepulangan ibu. Tak lama kemudian ibu pulang, tentu tanpa sepengetahuanku. Kata bapak, wajah ibu yang lelah ketika pulang kerja menunjukkan betapa cantik dan rupawan hati ibu.

Bapak pun tidak menceritakan kejadian tadi kepada ibu, takut akan menjadi pikiran ibu. Bapak hanya mengatakan bahwa semua baik saja. Bapak memijat pundak ibu yang capek karena bekerja. Setelah itu, ibu membereskan rumah sebentar. Tak sengaja ketika ibu akan membuang sampah, ibu melihat benda yang seharusnya tak dibuang. Itu barang yang seharusnya ku berikan pada ibu. Warna benda itu merah muda. Diambillah benda itu oleh ibu, dibuka perlahan, dan isinya…

“ibu,
Jauh melebihi perasaan capekmu
Jauh melebihi rasa matimu
Kau juangkan tubuh ini agar mampu menghirup udara dunia
Kau kerahkan agar anakmu ini bisa berteriak kencang
Ibu,
Hidup ini menuntun kita bu
Berawal dari ajaran ibu yang sederhana namun luar biasa
Tidak ragu ibu memilih
Tidak lelah ibu meyakinkan
Ibu,
Selamat hari ibu, jadilah luar biasa, dan tetap luar biasa.”

Malam itu, kata bapak, ibu tidak menangis. ibu menahan harunya untuk ditumpahkan di pelukkan bapak. ibu bilang kepadaku yang tertidur dan mengecup dahiku seraya mengucap, ”ibu sudah membacanya nduk. Maturnuwun yo nduk.”

THE END

Cerpen Karangan: Ayu Nur Kartika
Blog / Facebook: Ayu Nur Kartika
Anak masa abu yang kurang gaul.

Cerpen Ibu Akan Membacanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Prelude Sajak dari Rhun

Oleh:
“Berhenti saja menulis, Oja. Sastra kini hanya dibuat oleh tanganmu seorang. Penikmatnya hanya runyam kehidupan pulau Rhun, makan saja susah Ja, kau ini, malah masih saja berkeras kepala” aku

Raisya

Oleh:
Raisyaaa, semua karenamu “Raisyaaa.. Raisyaaa” panggil wanita tua di hadapan Raisya. Seolah tak menggubris, Raisya hanya terdiam kaku, bibirnya terkatup, dan matanya tertutup. Suasana sunyi, yang terdengar hanya kicauan

Jangan Tangisi Aku (Part 2)

Oleh:
Satu tahun kemudian. Teriknya matahari membuat peluh membasahi sekujur tubuhku, tapi hal itu tidak membuat semangatku berkurang aku tetap bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan yang selama setahun ini aku lakoni.

The Hidden Love

Oleh:
Kita sedarah tapi kita tidak menyatu, mungkin itulah kalimat yang cocok untukku dan kakakku. Selama ini rasanya aku hidup seperti anak tunggal yang tak mempunyai saudara. Hal ini terjadi

Duri Duri Tumpul

Oleh:
Bulan sabit muncul dan langit tidak terlalu bercahaya. Berjalan tergopoh, berpakaian lusuh dan ada goresan benda tajam melukai badannya, sehingga terlihat jelas darah mengalir dan membasahi lengan baju kirinya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *