Ibu… Perhatikanku…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 August 2012

Hari ini, ngapain ya? mau apa? ah tahu deh, cape aku, mikir ibuku yang ketusnya minta ampun. Pagi hari tepat sahur pukul 4 dini hari, aku terbangun dari tidurku yang sangat melelapkan diriku, aku terbangun dengan senyum manis, menatap wajah ibuku, yang tampah sayu dan lusuh dalam balutan pakaiannya yang sederhana, namun dalam paras wajahnya tergambar kepedulian kepada ananda-anandanya yang dikasihi nampak tergurat disana.
Sebal tapi aku kepadanya, senyumku tidak berbalas, bertepuk sebelah tangan tanpa ada reaksi yang menyenangkan diriku. Cape hatiku. Kulihat adik perempuanku masih tertidur pulas, maklum dia semalam tidak begitu nyenyak dan lelap tidurnya, sehingga dia sangat cerewet, apapun yang disediakan ibuku ditampiknya, ayah pun mendapat perlakuan yang sama, sungguh kesal dan menjengkelkan. Tapi … wajah ibu tersirat lagi, melintas lagi di depanku, hilir mudik menyiapkan sarapan sahur untuk ayahku tercinta, yah … ternyata masih tertidur pulas juga, kecapean dia, kasian. Ya Allah … ibuku … entahlah apa yang ada dibenaknya, dia tidak menyambutkan pagi ini, padahal hari ini aku masuk sekolah dan harus segera menyiapkan diri takut terlambat.
Ah tidur lagi … tak kuasa aku menhanan kantuk …
Adzan terdengar, kulihat ayahku akan bersiap diri untuk ke masjid guna tunaikan sholat subuh. Memang ayahku orang yang sabar dan taat dalam beragama, tapi … ah semua manusia pasti memiliki kekurangan. Kata orang Jawa, menungso iku menus-menus kakean dosa, manusia memang tempatnya dosa. Tapi aku melihat ibuku terlelap dalam tidurnya, gurat wajahnya memperlihatkan kegigihannya dalam menapaki kehidupan, tapi … kejam …
Jam 7 pagi, ah aku terbangun dengan ku ukir senyum kuperuntukkan untuk ibuku terkasih, alhamdulillah ternyata beliau membalas senyumanku, dan menyapaku, halo … mandi yuk kan mau sekolah. Alhamdulillah … dia berkecimpung di dapur, mempersiapakan segala keperluanku untuk ke sekolah, memandikanku, membantuku, banyak hal deh. Dengan tergopoh-gopoh juga memandikan dan menyiapkan segalanya untuk adikku juga, semua di rapel oleh ibu, sebenarnya aku kasian padanya, tapi …
Aku telah pulang sekolah, masya Allah, ibu langsung menanyaiku dengan seberondong pertanyaan yang tidak mungkin aku jawab seketika, ngantuk berat mataku, sangat perih, tapi aku masih sangat ingin bermain dengan adikku yang cantik, tapi ternyata dia telah tidur, terayun-ayun di atas ayunannya yang nyaman, terkadang membuatku iri dengannya, karena dia merasakan lebih daripadaku, tapi aku juga kasihan kepadanya, dia juga memakai pakaian bekas dariku, karena ibuku memang orang yang tidak suka membeli barang baru, jika sekiranya barang tersebut masih laik digunakan atau dimanfaatkan, jadi nasib adikku yang akhirnya ‘melungsur’ dari semua pakaian yang aku kenakan. Kasihan, tapi bagaimana lagi, ibu lebih suka membelikan kebutuhan akan gizi dan sekolah kami daripada untuk pakaian dan mainan. Aku cinta ibuku … apa yang membuat ibuku seperti itu …
Ya Allah sungguh aku tak tahu harus bagaimana, sungguh aku tak kuasa … sungguh … ibu padahal pulang sekolah hari ini aku sangat cape sekali, ingin aku dipeluk olehmu, dan aku tidak ingin tidur cepat-cepat karena masih ingin menghabiskan waktu denganmu
Yang tidak akan pernah bisa kulakukan ketika adik dalam keadaan terjaga, adik juga akan berusaha merebut perhatianmu … padahal aku juga sangat ingin dan mau engkau memperhatikanku … tapi … ibu mengapa engkau menyuruhku untuk tidur dan tidur dan tidur. Tapi aku tetap tidak mau, engkau terus memaksaku, bahkan engkau samapi marah padaku, ibu jangan sperti itu kepadaku.
Ibu masih tetap memarahiku, sampai waktu mandi pun tiba, akhirnya aku menangis sejadi-jadinya untuk menarik perhatian, tetapi ibu masih tetap dalam pendiriannya sampai adikku pun terbangun dari tidur lelapnya dan akhirnya memandikanku terlebih dahulu. Aku menatap wajahnya yang tetap sayu tak kuasa aku menahan kantuk dan akhirnya akupun tertidur di balik kekekehanku untuk tetap terjaga bersama ibuku …

Nama Penulis: indarniati

Cerpen Ibu… Perhatikanku… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jika Benci

Oleh:
Ranu adalah pegawai baru disebuah perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan jasa. Ia diterima sebagai salah satu staff keuangan. Bidang yang sangat baru baginya. Meskipun ia kuliah jurusan yang sama

Ridho Di Tangan Suami

Oleh:
Hari yang menyenangkan bagi Sudirman, karena dia baru saja mendapkan bonus dari atasanya di tempat dia bekerja. Sudirman bekerja di sebuah Industri bagian suku cadang bidang otomotif. Setelah jam

Setetes Air Surga (Part 1)

Oleh:
Pagi hari sebelum berangkat, bayi berumur empat bulan itu memberinya kado muntahan susu di jas kerjanya. Pembantunya memberi kado sarapan roti yang gosong. Sopir taksi yang lamban mengadoinya absen

Perempuan Dalam Foto Itu Tersenyum

Oleh:
Setelah lama memandang sebuah foto di tangannya, laki-laki itu sadar hari sudah memudar. Maka dia beranjak turun dari kamar, bergegas menuju warung yang ada di bawahnya. Langkahnya sedikit goyah

Asmara di Pantai Panjang

Oleh:
Filosof Islam tersohor bernama Ibnu Rushd bilang: “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama”. Rindangnya pepohonan Erru yang tak hentinya bergoyang diterpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *