Ibu Tanpa Asa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 30 January 2018

Terik matahari membakar bumi, rasanya seluruh energi panas sang surya tumpah ke planet ini, apapun itu ia seperti tidak merasa kepanasan apalagi kelelahan, ia sibuk menaruh barang dagangannya ke depan ruangan, di kamar yang hanya berukuran 6 x 5 m inilah ia memulai hari menyambung hidup dengan berdagang berharap hari ini tuhan mengasihi kami, menjadikan ruangan itu sebagai tempat tinggal sekaligus tempat mencari nafkah.

Tinggal bertiga bagi kami hal yang sangat baik, tanpa adanya sosok laki-laki yang disebut suami ataupun ayah bagi kami, hari ini hari minggu waktu dimana kami dapat berkumpul mencurahkan kasih sayang karena 6 hari yang lainnya habis tersita oleh kesibukan masing-masing, ibu sibuk mencari rezeki dan mengurusi kami, adik sibuk dengan sekolah dan tuntutan tugasnya, sementara waktuku kuhabiskan untuk sekolah dan bekerja paruh waktu untuk membantu beban hidup kami, karena bagaimanapun juga hasil dari berdagang tidak akan mampu mencukupi segala kebutuhan dan keperluan hidup, mungkin dengan cara ini aku bisa menunjukkan rasa cinta dan hormatku kepadamu ibu, aku hanya berharap dapat menjadi anak yang berbakti, anak yang berguna bagimu karena surga yang diridhoi Allah ada di telapak kakimu.

Aku ayu, tumbuh beranjak dewasa tanpa kasih sayang orangtua utuh bukanlah hal yang mudah, tetapi aku juga harus tahu diri aku tidak bisa memaksakan kehendak, walaupun begitu tak bisa kusembunyikan luka yang menganga di relung hatiku seperti tersiram cuka tergores-gores pisau tajam setiap kali aku melihat seorang anak bercengkrama lepas dengan ayah mereka, sakit yang teramat kurasakan juga kala dihari ulang tahunku tidak pernah hadir sesosok ayah sudah 7 tahun belakangan ini.

Terang saja kukatakan aku merindukanmu ayah, walaupun disamping rindu bersemayam rasa benciku padamu, setiap kali ditarikan nafasku kuteringat kejadian yang sangat menyakitkan terjadi persis di depan bola mataku, tak bisa kumaafkan perbuatanmu yang sangat keji dan tidak manusiawi, dengan amarah setan kau memukul wanita yang sudah mendampingimu secara membabi buta hanya karena kau ingin menikah lagi dan ibu tidak ingin bercerai. Setiap kali peristiwa itu terbayang air mataku selalu menetes jatuh deras membentuk aliran sungai, ingin ku membalas semua apa yang telah ayah lakukan kepada ibu dan kami, tapi walau bagaimanapun juga dia adalah ayahku, di dalam tubuhku mengalir darahnya, aku tidak ingin menjadi anak durhaka bagi ayah, biarlah semua tuhan yang membalas.

Setelah kejadian 7 tahun yang lalu terjadi hingga saat ini aku tidak pernah tau di mana dan bagaimana keadaan ayah sekarang masih hidup atau sudah mati aku tidak tau, ingin ku bertanya pada ibu akan hal itu tapi aku takut jika pertanyaanku itu membuat ibu teringat kembali kepada kejadian menyakitkan itu dan membuat ibu sakit, lebih baik kusimpan saja hal ini dan kukubur dalam-dalam kubiarkan tuhan mengatur segalanya, entah dimasa yang akan datang 7 atau 10 tahun kemudian tuhan akan mempertemukan kami secara fisik atau apakah kami yang menemui ayah di pemakaman entahlah aku sudah pasrah, kuserahkan segalanya pada tuhan, tugasku saat ini hanya mendoakanmu ayah.

Waktu telah berlalu, matahari berganti rembulan, kami menikmati santapan makan malam sederhana, kejadian ini berlangsung hampir setiap malam setelah solat isya, di atas meja tersedia makanan yang jauh dari kata 4 sehat 5 sempurna, tapi bagaimanapun itu tetap saja masakan ibu paling enak.

Disela sela menikmati makanan ibu teringat padaku yang sebentar lagi akan lulus sekolah. Keinginan ibu hanya sederhana melihat kami melanjutkan sekolah setinggi tingginya, namun hal itu sepertinya sangat mustahil, melihat kondisi mata pencaharian ibu sangat tidak masuk akal jika aku melanjutkan pendidikan, jangankan melanjutkan pendidikan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja masih tidak cukup, tak bisa kuacuhkan bahwa keinginan ibu sebenarnya menjadi keinginan terbesarku juga, aku ingin merasakan duduk sebagai mahasiswi di sebuah almamater, tapi aku harus mengalah dengan keadaan, impian hanyalah menjadi impian, biarlah saat ini impian itu kugantungkan setinggi langit aku hanya perlu berdoa agar kiranya tuhan dapat mengambil mimpi tersebut dan menjadikannya nyata.

Ibu tidak pernah absen membangunkan kami untuk melaksanakan sholat subuh, setelah solat subuh, aku dan adik harus bergegas menuntut ilmu ke sekolah.
Mengingat bahwa ibu sangat ingin sekali aku melanjutkan studi aku berusaha keras belajar untuk mendapatkan beasiswa, semoga dengan usahaku ini aku bisa melihat senyum ibu terukir di wajahnya.

Bagaimanapun juga aku harus menerjang keadaan ini, melawan keterbatasan, dan berusaha agar mimpiku dan mimpi ibu terwujud, walau perih walau letih tapi aku harus, setiap hari waktuku kuhabiskan untuk belajar dan bekerja, bekerja dan belajar, sebab aku tahu, tuhan sang maha pengasih tidak akan pernah membiarkan hasil mendustai usaha.

Waktu berlalu begitu cepat bagai hitungan detik. Beberapa pesan di email kuscroll down dan terang saja aku terkejut melihat pesan masuk menyatakan bahwa aku diterima di salah satu almamater beserta beasiswanya, syukur kupanjatkan kepada Tuhan, ternyata usaha dan doaku selama ini tidak sia-sia, kulihat ibu menyunggingkan senyumnya dan memelukku selaksa air mata tumpah di wajah ibu, selaksa air mata kebahagian. Terimakasih tuhan kau kirimkan aku seorang ibu tanpa asa.

Cerpen Karangan: Solida
Facebook: Solidabieber[-at-]yahoo.com
almamater: uin sunan gunung djati bandung
jurusan: komunikasi dan penyiaran islam

alamat asal: jl. pintu air iv gg. sekolah pd. bulan medan, sumut.
alamat sekarang: jl. a. h nasution gg. kujang rt/rw 02/05 asrama wisma family cibiru, bandung.

Cerpen Ibu Tanpa Asa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Terbaik Dari Ayah

Oleh:
“Ayah!” panggilku sambil berlari ke kamar Ayah. Ayah yang kaget beranjak keluar kamarnya. “Ada apa Albi?” tanya Ayah padaku. Sedetik kemudian aku menangis di pelukan Ayah. Ayah sudah mengerti

Hadiah Dari Bunda

Oleh:
“via, ayo bangun, sudah jam 6 nanti kamu telat lagi ke sekolah” kata bunda membangunkanku. “hoaaam.. iya bunda, lagian masih jam 6 kan” jawabku yang masih menutup mata “viiaa..

Hanyutnya Cinta Bundaku

Oleh:
Hidup tanpa seorang ibu bagai hidup tanpa arah dan tujuan. Sejak kecil mereka (Orang tua Risa) meninggalkan Risa di tepi jalan. Nek Midah lah yang dengan sabar, cinta, kasih

Goresan Terakhir Dicky

Oleh:
Terlihat seorang anak laki laki berusia 6 tahun yang sedang berlarian di koridor rumah sakit sambil menenteng boneka Stitch kesayangannya. Disitu pula terlihat gadis cantik yang tengah mengejar anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *