Ibuku Matre?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 August 2012

“sudah dapat pekerjaan belum?”.

Itulah pertanyaan yang setiap hari Rani dengar dari sang Ibu. Memang semenjak lulus kuliah tahun lalu, Rani belum juga mendapat pekerjaan. Gadis lulusan fakultas ekonomi salah satu Universitas di Bandung ini hampir setiap hari keliling mencari perusahaan yang membutuhkan karyawan. Surat lamaran sudah ia ajukan hampir di seluruh perusahaan di daerah tempat tinggalnya, namun sampai sekarang tak kunjung datang konfirmasi dari lamarannya tersebut.

Rasa tak enak hati terhadap sang ibu selalu mengganjal di hati dan pikiran Rani. Setiap hari sang Ibu bertanya, dari awalnya dengan bahasa yang halus dan selalu ada saran, sampai menggunakan bahsa yang agak keras, mungkin karena sang ibu bosan dengan Rani yang terus menganggur. entah karena belum ada rezeki atau karena usaha Rani belum maksimal.

Kadang sang ibu bertanya di tambah dengan nada memaki, yang di tanyakan tak lain yaitu masalah uang.

“Belom dapet juga sampai sekarang?, gimana cara nya kamu nyenengin ibu?, ibu perlu uang buat belanja. untuk keperluan keluarga.!”

Rani tak menjawab, bukan karena takut, melainkan karena bosan harus menjawab dengan jawaban yang sama, seperti hari – hari sebelumnya. Ibu nya pun bosan dengan jawaban Rani.

di kamar kecilnya, Rani termenung karena mengingat sang ayah yang telah meninggal saat dua bulan sebelum Rani lulus kuliah, ayahnya meninggal karena kecelakaan saat pulang bekerja, waktu itu bis yang ayahnya tumpangi menabrak pembatas jalan dan bis tersebut terbakar, sebagian penumpang meninggal dunia termasuk ayahnya Rani.

Selama sang ayah masih hidup kehidupan ekonomi keluarga bisa di bilang lancar, setiap bulan Sang ibu mendapat pemasukan uang dari ayah. Namun setelah sang ayah meninggal, dari hari ke hari kehidupan ekonomi keluarga semakin menurun. pendapatan hanya mengandalkan sang ibu yang bekerja di toko pakaian. itupun tak seberapa hanya cukup untuk menutup kebutuhan makan sehari-hari.

Rani berfikir seandainya saja sang ayah masih hidup, pasti sang ibu tak akan menekan Rani untuk mencari uang.

— * —

Halte bus tak seramai biasanya, mungkin karena Rani terlalu siang berangkatnya, hanya ada beberapa orang yang di halte, itupun hanya ada pedagang minuman yang biasa mangkal dan para pedagang koran yang sedang beristirahat. Jika Rani berangkat lebih awal, pasti Rani menemui banyak orang yang menunggu bis, namun mungkin tujuannya berbeda, jika yang lain ingin berangkat bekerja,Rani malah tidak tahu harus pergi kemana. —

Rani duduk di kursi halte, ia masih bingung dengan tujuannya hari ini, karena semenjak berangkat dari rumah, ia belum merencanakan akan pergi kemana.

Di tengah kebingungannya, tiba – tiba ia teringat sebuah tempat yang agak jauh, kurang lebih berjarak satu jam dari halte dengan menggunakan bis. Tempat tersebut merupakan perusahaan milik temannya ayah Rani. Ia pernah di ajak ayahnya ke tempat itu waktu ia lulus SMA. Rani ingin mencoba melamar pekerjaan disana.

Namun Rani ragu untuk pergi kesana, karena jarak nya yang jauh dan juga ia tidak terlalu ingat dimana tepatnya kantor tersebut, tapi mengingat sang ibu yang selalu menekannya, Rani pun memberanikan diri untuk pergi ketempat itu, dengan bermodalkan surat lamaran dan berkas – berkas lainnya serta di iringi doa untuk memperlancar usahanya untuk mendapat pekerjaan. —

Bis yang Rani tunggu akhirnya datang, dengan niat penuh ia menaiki bis tersebut dan segera mencari tempat duduk yang kosong. selama di dlam bis Rani sempat bertanya kepada kondektur bis tentang lokasi yang ingin ia tuju, dan kebetulan kondektur tersebut mengetahui lokasi nya.

Rani sedikit lega, tinggal bagaimana nanti ia disana. Rani sangat berharap bisa bekerja disana agar tidak lagi mendapat tekanan dari sang ibu, yang menurutnya menjadi sedikit matre semenjak meninggalnya sang Ayah.

—*—

“Punten Teh,, sedikit lagi sampe!!”

Suara kondektur bis membangunkan Rani yang yang tertidur. Rani segera bersiap-siap untuk turun. Begitu sampai ia langsung turun di depan kantor yang ia tuju. Rani terlihat bingung saat melihat gedung kantor. Kantor tersebut terlihat berbeda dan terlihat kosong, hanya terlihat alat-alat berat layaknya gedung yang sedang di bangun. Para pekerjanya pun bukan karyawan kantor melinkan para pekerja bngunan, nampaknya gedung tersebut sedang di rekonstruksi.

Salah satu pekerja menghampiri Rani yang sedari tadi berdiri di depan gedung. Pekerja yang satu ini terlihar berbeda dengan pekerja lain karena ia mengenkan seragam yang berbeda, ia mengenakan pakaian seperti direktur perusahaan, tetapi ia juga menggunakan helm proyek seperti pekerha lain.

“kamu Rani kan..?, kok ada disini?”

Tanya orang tersebut yang di ketahui bernama Pak Ridwan, yang merupakan teman ayahnya Rani yang juga merupakan pemilik gedung tersebut. Terakhir kali mereka bertemu saat pemakaman ayahnya Rani.

Rani menjelaskan maksud kedatangannya yang ingin mencari pekerjaan, juga menjelaskan keadaan ia dan ibunya.

Waktu sudah menunjukan jam makan siang, obrolan mereka di lanjutkan di sebuah rumah makan di seberang gedung.

Pak Ridwan menjelaskan tentang kantornya yang di laih fungsikan menjadi apartemen, dan sebagian besar karyawan di berhentikan, hanya beberapa yang di pertahankan untuk di tempatkan di bagian Marketing. Perbincangan mereka berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya pak Ridwan menawarkan kepada Rani untuk bergabung dengannya mengelola usaha barunya tadi dan di tempatkan di bagian Marketing. Rani pun menyambut positif tawaran tersebut, usanya kali ini membuahkan hasil. —

Kabar ini langsung ia sampaikan ke ibunya, respon sang ibu tak seperti yang ia bayangkan. Ibunya hanya merespon dengan kata ‘owh’.

Mungkin jika Rani membawa uang, sang ibu akan merespon lain… entahlah,,,!!!

—*—

“Ibu mau, kamu menikah dengan Deni, anaknya pak Wawan, ibu yakin masa depan kamu akan terjamin jika kamu menikah dengan dia..”

“Tapi Bu,,?”

“Sudahlah,, ikuti saja,,,”

Rani terbangun dari tidurnya, dan bersyukur karena rencana ibunya yang ingin menjodohkan Rani hanyalah sebuah mimpi. Kekhawatiran Rani akan sifat sang ibu yang berubah. Itu ia rasakan sampai terbawa ke dalam mimpi.—

Hari ini, hari pertama Rani bekerja di tempat pak Ridwan.

Semuanya lancar, Rani pun nyaman bekerja di sana.

Waktu berlalu, hingga sampai pada bulan pertama. Rani pun mendapatkan gajinya yang pertama, ia tidak langsung menggunkan uang tersebut, tetapi ia ingin memberikannya kepada sang Ibu.

Sesampainya di rumah, Rani langsung masuk ke kamar Ibunya, dan memberikan gaji pertama Rani ke ibunya. Sang ibu tidak langsung menerima dan ia hanya tersenyum dan mengajak Rani untuk duduk di samping nya.

“Ini Uang kamu Ran,, jadi yang berhak mengunakannya,, ya kamu.. ibu tidak membutuhkan uang ini. Ibu sudah cukup dengan penghasilan ibu sekarang dari bekerja di toko pakaian dan ibu juga masih mempunyai tabungan dari ayah kamu. Jika selama ini ibu selau menekan kamu untuk mencari uang, ibu mohon maaf, itu semua karena ibu menginginkan kamu bisa bertanggung jawab atas diri kamu sendiri dan juga belajar bertanggung jawab atas keluargamu nanti, dan sekarang uang ini sebaiknya kamu gunkan dengan sebaik mungkin atau bisa kamu tabung untuk keperluan yang akan datang.”

Rani tak menyangka di balik sifat ibunya yan di tunjukan selama ini, tersimpan sebuah harapan sederhana untuk kebaikan Rani.

Rani hanya menanggapi perkataan ibunya dengan sebuah pelukan dan tetesan air mata.Ia bersyukur memiliki orang tua yang peduli dengannya. Yang mendidiknya tentang bagaimana pentingnya tanggung jawab di sertai dengan kasih sayang.

– Bagaimana pun sifat Orang tua, pasti ia menginkan yang terbaik untuk anaknya –

Profil Penulis:
Nama Penulis: adjie Guntoro
www.kotakbirru.co.cc
facebook.com/ag1607

Cerpen Ibuku Matre? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. Ayah

Oleh:
Kenapa.. kenapa harus aku? Semua takdir yang terjadi padaku bukanlah sebuah kebetulan. bukan pula sebuah cerita yang bisa terukir indah dalam hidup. Kenyataanku tak sesuai dengan harapanku. Tak dapat

Semilir Angin, Kapankah?

Oleh:
“Praannggg….” Bunyi itu pun terdengar sampai ke kamar Ridwan. ”suara apa itu?” ucapnya dalam hati. Iapun melangkahkan kakinya dan mencari apa yang sedang terjadi. Tampak ibunya sedang gemetar dan

Tak Ada Pesta Malam ini

Oleh:
Jalanan sedang sepi sore itu. Hujan deras sejak pagi sudah cukup untuk menciptakan genangan air di sana-sini. Selokan yang mampet membuat air meluap hingga naik ke jalan aspal yang

Aku

Oleh:
Dalam sejarah hidupku, aku tak mengerti dengan dua hal. Yang pertama adalah kasih sayang seorang Ayah dan yang kedua adalah kasih sayang seorang kakak. Waktu berlalu terlalu cepat hingga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *