If This Isn’t Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 November 2013

Agus, itulah namaku. Nama yang tidak biasa bagi seorang perempuan. Masa kecilku begitu indah, bahkan bisa dibilang sangat-sangat indah. Aku punya banyak teman dan mereka semua menyayangiku. meskipun aku berasal dari keluarga miskin, dan teman-temanku dari keluarga kaya, mereka tidak pernah membeda-bedakan teman. Rasanya hidupku waktu itu seperti dongeng.

Aku memang mempunyai banyak teman, tetapi kisah cintaku dari dulu hingga sekarang tidak banyak berubah, yaitu; “gagal”. Dulu saat masih duduk di bangku TK aku pernah naksir dengan teman sekelasku. Namanya Didi, sebenarnya dia tidak tampan tetapi good looking. Aku suka yang seperti itu.

Oh ya aku punya dua sahabat yang bernama Eno dan Andi. Setiap pagi aku menjemput Eno karena sekolah kita melewati rumahnya, lalu di jalan bertemu Andi dan teman-teman lainnya. Aku sangat menyayangi sahabatku. Setiap ada anak yang mencela atau berbuat buruk kepadaku merekalah yang membelaku. Huuh, mereka seperti Power Rangersku ha ha ha ha… Aku masih ingat waktu itu,

Waktu di jalan…
Ipin: “Ehh.. cewek kok pakai tas Manusia Bajah Hitam!” meledekku
Andi: “Apa salahnya? Dia kan ngefans sama Manusia Bajah Hitam!”
Eno: “Iya, Manusia Bajah Hitam kan keren gak kayak kamu, masa tasmu aja Teletubbies?!” kita bertiga tertawa

Saat istirahat dimulai kami semua bermain di dalam kelas, termasuk Didi. Entah karena Eno sudah tahu atau hanya mengerjaiku, dia menyuruh Didi untuk menciumku. Hahaha… bila ingat masa-masa itu, sungguh aku tersenyum tak henti-henti. Waktu itu kejadiannya tidak terduga. Aku duduk di bangku paling belakang, lalu tiba-tiba Didi datang dan mencium pipiku, waah aku langsung kaget karena waktu itu aku sedang sibuk bermain malam.

Seketika itu aku langsung menoleh ke Didi lalu dia tersenyum dan pergi. Menyebalkan sekali, sangat tidak bertanggung jawab. Tidak lama kemudian bell masuk berbunyi. Eno dan teman-teman yang menyaksikan kejadian tadi langsung berebut pertanyaan kepadaku.
Eno: “Hayo… tadi kamu dicium sama Didi ya?”
Andi: “Whaa… giman rasanaya Sar” Sari adalah nama kecilku, hanya teman TK dan orang yang dekat denganku yang memanggilku Sari
Teman-teman: “Cuit-cuit…” mereka meledekku semua
Lalu aku keluar kelas karena malu. Ehh, tidak tahunya saat aku membuka pintu ternyata Didi juga membuka pintu dari luar kelas. Akhirnya kita pandang-pandangan mata. Ouwww… so sweet…

Lalu tidak lama kemudian bu guru datang, aku tidak jadi keluar deh.. ehh temen-temen malah menyoraki aku dan Didi yang masuk kelas bersama.
Teman-teman: “Cuit-cuit… dari mana tuh berdua…” dengan malu-malu aku langsung duduk
Uhh.. mereka semua rese.

Ohh ya aku juga masih punya dua sahabat lagi yaitu Rohim dan Deni. Setelah pulang sekolah aku, Rohim dan Deni sering bermain di depan sekolah kami. Disana ada pohon keres yang besar dan rindang. Seperti biasa kita bercanda-canda dan mencari buah keres.

Tidak lama kemudian Didi datang. Ahh.. aku langsung kaget. Benar-benar kaget. Sebenarnya aku dan Didi kita belum benar-benar kenal, lalu Deni memperkenalkannya kepadaku.
Deni: “Sar, kesini aku kenalin nih sama Didi, kalian kan belum kenal ya?”
Didi: “Hey, namaku Didi Kamu pasti Sari ya?” tersenyum padaku
Aku: “Iya” aku menjawab dengan membalas senyuman manisnya
Rohim dan Deni: “Cuit-cuit”
Aku: “Apa-apaan sih kalian ini” aku langsung meninggalkan Didi lalu memanjat pohon keres
Didi: “Ehh, baru kali ini lho aku liat cewek panjat pohon” Didi terkesan
Rohim: “Hahahaha… jangan kaget Did, dia itu emaknya, kita anak-anak monyet, wuk kak kak kak”, meniru gaya monyet “ohh ya kita kan tidak punya ayah dari dulu, Didi aja yang jadi ayahnya”
Deni: “Oke juga”
Kita melanjutkan permainan kita tentang sebuah keluarga monyet yang mencari makan di hutan, hahahahaha

Tidak terasa waktu berlalu secepat kilat. Akhirnya aku masuk SD, dan hubunganku dengan Erwin sudah sampai sini saja. Sedih rasanya lost contact dengan dia, tetapi sekolah kita memang sudah berbeda begitu pun Rohim dan Deni. Kini tinggal Eno dan Andi sahabatku. Ohh ya… aku dan Eno sering dibilang orang saudara karena wajah kita mirip, hahaha. Tetapi,.. karena seringnya aku bertemu Eno, aku sadar jika aku menaruh rasa padanya. Uhh, seperti pepatah saja, “Sahabat menjadi Cinta”. Tapi rasa itu aku pendam sendiri sampai sekarang.

Di rumah aku punya banyak sahabat pula yaitu, Eno, Rena, Dedy, Irfan dan Sugeng.
Kami sering bermain bersama dan permainan favorit kami adalah petak umpet, engkle, bulu tangkis, boy-boyan, dan berpetualang. Di antara teman-temanku yang lain, Sugeng lah anak yang paling bandel dan sering curang saat bermain. Kami semua tidak suka kepadanya, bahkan saat bermain engkle di depan rumahku, dia berlaku curang denganku, lalu aku memarahinya. Dia tidak terima lalu balik memarahiku lalu mengolokku. Otomatis aku juga tidak terima, langsung aku tonjok mukanya, lalu dia menangis dan mengejarku. Maklum, satu-satunya ruang di rumahku yang ada pintunya adalah kamar mandi selain pintu rumah, dengan cepat aku berlari menuju kamar mandi dan menguncinya. Hahaha… lucu sekali… dia juga di panggil Si Got karena sering tercebur ke selokan saat kami mengerjainya lalu kita kejar-kejaran.

Ohh ya.. di belakang rumahku dulu ada sungai kecil yang mengalir ke gorong-gorong selokan, tetapi airnya bersih. Saat musim hujan ayahku biasanya menanam benih ikan lele dan saat musim kemarau ayam peliharaan ibuku bermain disana. Aku juga sering memancing lele bersama teman-temanku yang rumahnya bertetangga denganku. Kadang kita juga mendirikan tenda disana. Di siang harinya kita juga sering berpetualang dan bermain layang-layang. Tetapi sayang sekarang sudah jarang ada tanah lapang yang luas dan kosong karena sudah dibangun rumah.

Uhmm.. di sekolah semua anak adalah teman. Aku suka semua temanku karena kami semua bermain bersama laki-laki dan perempuan bermain bersama tanpa ada batasan. Aku juga menyukai teman sekelasku yang bernama Tony, dia keren, ganteng, pintar dan sayang keluarga. Contohnya saat rekreasi sekolah dia membeli kentang dan sayuran untuk mamanya, waah idamanku bangeet. Tetapi rasa itu lagi-lagi aku pendam sendiri, karena aku orangnya benar-benar tahu diri, setidaknya itu menurutku.

Sayang, waktu kelas 4 aku pindah dari rumahku yang sekarang ke tempat yang saaangat jauh sehingga harus berpisah dengan semua sahabatku. Di tempat baruku ini, seperti planet asing bagiku. Semua tetanggaku memang tidak kaya, tetapi setidaknya tidak miskin, tetapi mereka semua sombong. Dan selalu mengolok-olok keluargaku, termasuk aku.
Kasihan sekali aku disana tidak punya teman, jadi aku yang mengunjungi teman-temanku di rumahku yang dulu. Tetapi sejak aku masuk SMP, pekerjaan rumahku banyak, jadi aku jarang bermain lagi seerti dulu, dan kisah cintaku sekali lagi dimulai.

Namanya Imam. Dia teman sekelasku. Sebenarnya kita hanya teman biasa sama seperti temanku yang lain, tetapi sejak temanku mengatakan kalau kita pacaran, aku jadi berpikir bahwa aku memang ada rasa dengan dia. Aku juga sering membawa bekal dari rumah, lalu aku bagikan ke teman-teman terutama dia. Tetapi sayang, sekali lagi aku harus menangis di kesendirianku. Tidak lama setelah semester satu berakhir, Dia meninggal karena tenggelam di danau karena berusaha mengambil bola.

Sesampainya di kelas aku tidak melihat satu anak pun. Saat itu aku baru pulang dari desa, dan ternyata kelasku masuk siang. Jadi aku putuskan untuk pergi ke rumah temanku. Sesampainya di rumah temanku, dia berkata,
Eni: “Sar kamu uda tahu ta kalau Imam sudah nggak ada?”
Aku: “Nggak ada kemana? dengan sangat kaget
Eni: “Ya nggak ada, meninggal…”
Aku: “Apa? Kapan? Bagaimana bisa meninggal?” dengan gemetaran dan airmata mengalir aku berusaha untuk kuat
Eni: “Kemarin tanggal 4, dia tenggelam waktu berusaha mengambil bola”

Gila’! hari itu benar-benar hari kelam dalam hidupku. Seharian di kelas aku murung dan sedikit bicara karena aku masih shock. Dia bahkan tak sempat menanyakan padaku “Cintakah Aku Padanya”. Aku bahkan masih ingat saat terakhir aku bertemu dia. Dia pulang dengan mengendarai sepedanya dan tasnya berwarna biru muda, waktu itu aku tepat berada di belakangnya. Aku memandanginya lama sekali hingga dia berbelok arah.

Setengah tahun kemudian kenangan Imam berkurang dari memoriku. Itu karena ada seseorang yang menyukaiku. Saat itu aku kelas 8, namanya Jatmiko. Sebenarnya aku tidak tahu siapa dia, lalu aku bertanya kepada temanku, dan akhirnya aku tahu dia. Dia tidak tampan tetapi good looking. Sayang kecintaannya kepadaku tidak lama. Dia menyukaiku tetapi tidak berani mengungkapkannya. Padahal waktu itu aku mulai menyukainya. Aku tergantikan oleh Melisha yang super sempurna. It’s oke, I said. But… hingga saat ini aku masih berharap kepadanya, dan aku tahu itu bodoh, bahkan terlalu bodoh untuk seukuran manusia yang punya otak.

Lama kelamaan akhirnya aku bisa melupakannya. Itu karena aku suka dengan Ananda, teman sekelasku di SMK. Tapi.. sekali lagi cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia malah nembak temanku. Waah aku seneng banget karena mereka berdua adalah pasangan serasi. Dan aku kembali memikirkan Jatmiko.

Dua tahun kemudian aku lulus dan bekerja. Aku bertemu dengan Calvin di dunia maya. Kita berteman 3 bulan, lalu dia mengutarakan cintanya padaku, aku langsung menerimanya karena aku pun juga sangat mencintainya. Kita resmi berpacaran meskipun dunia kita berbeda setengah hari.

Aku sangat bahagia bersamanya, begitupun dia juga sangat bahagia bersamaku. Dia adalah orang pertama yang mengubah hidupku menjadi lebih berwarna. Dia sangat menyayangiku, aku masih ingat saat perayaan Kenaikan Isa Almasih, dalam keluarganya ada suatu upacara dimana mereka menghormati Bunda Maria. Dia menaruh sebuah lilin atas namaku agar aku selalu selamat dan bahagia selamanya, aku sangat terharu waktu itu dan tentu saja berterima kasih. Apalagi saat ada bencana di Indonesia, dia langsung menghubungiku. Aku masih inagat, waktu gunung Merapi di Yogyakarta meletus, dia sangat khawatir padaku, lalu aku bilang aku baik-baik saja karena letak gunung Merapi sangat-sangat jauh dari rumahku. Dan dia sangat berterima kasih kepada Tuhan karena aku baik-baik saja. Ingat juga saat ada gempa di Papua, aku bahkan tidak tahu kalau ada gempa di Papua atau di Surabaya, padahal di Surabaya tidak ada gempa. Atau yang baru-baru ini, yaitu gempa di Aceh.

Whaoow… dia benar-benar impianku. Tapi itu tidak bertahan lama, aku sudah belajar dari pengalaman kakakku yang gagal dalam berumah tangga karena berbeda agama. Aku tahu kita masih berpacaran, tetapi aku tahu bila dia bersamaku terus dia semakin tidak bisa melupakanku. Dan aku juga ingin dia bahagia selamanya.

Akhirnya aku memutuskan hubunganku dengan dia sebelum Natal tiba. Aku rasa natal tahun itu adalah Natal terburuknya seumur hidup. Setelah kita putus aku memutuskan untuk bersahabat dengan dia, tetapi dia menolak bahkan berkali-kali membujukku untuk balikan. Dia terlalu mencintaiku. Dia bahkan berkata akan mencintaiku selamanya. Itu sangat membuatku takut. Setelah aku jelaskan bahwa “Cinta Sejati adalah Membiarkan Orang yang Kita Cintai Bahagia” dia mengerti dan menganggapku sebagai adik kecilnya. Dan itu membuatku sedikit lega.

Dan sekarang dia sudah bahagia bersama Amelia, teman kuliahnya. Aku juga sangat bahagia karena bahagianya adalah bahagiaku. Selamanya aku tidak akan melupakannya. Karena dia adalah satu-satunya dan hanya dialah yang memperlakukanku dengan indah, terima kasih Tuhan, dia terlalu indah bagiku, dan terima kasih My True Love Forever I Will Always Loving You.

Cerpen Karangan: Agus Purnamasari
Facebook: https://www.facebook.com/loveDBA4ever

Cerpen If This Isn’t Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesuatu Yang Hilang

Oleh:
Sebelumnya, gue mau ngucapin selamat hari jadi dulu buat gue dan pacar gue, Euis, yang kedua tahun tepat 9 oktober kemarin. Gue bahagia bener, soalnya ini pertama kalinya gue

Cintailah Cinta

Oleh:
Di pojok bangku belakang. Anak laki-laki super tajir duduk di sana. Dalam ruangan kelas mewah. Anak baru nan cantik dan sholihah duduk di depannya. Sembari memanggil nama depan cewek

Mereka yang Meninggalkan

Oleh:
Sepasang mata itu berkaca-kaca menatapku. Aku sudah menghancurkan satu lagi harapan dari orang-orang yang mengasihiku. Dia tidak menangis. Tatapan itu lebih seperti tatapan kecewa dan lelah. Mungkin ada sedikit

Benci Jadi Cinta

Oleh:
Panggil saja aku kiki, cerita ini dimulai saat aku duduk di kelas 2 SMP, ya aku seprti anak-anak abg yang lain.. Kehidupan ku sangat menyenangkan menurut ku, sampai akhir

Cinta Lain Kali (Part 2)

Oleh:
Dua hari setelah aku mengalami kesialan yang luar biasa, aku harus bersekolah. Seperti biasa, aku berangkat sekolah naik angkot, ku nikmati pagi dan mengumpulkan semangat untuk menjalani hari ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “If This Isn’t Love”

  1. Nova says:

    Cerpen kamu bagus,bikin lagi ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *