Ikatan Tali Sepatu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 December 2017

Jarak dari rumah ke sekolah yang tidak begitu jauh, membuatku pulang dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Kadang itu membuatku menyalahkan keadaan. Namun keadaan itulah yang mempertemukanku dengannya.

Siang itu hari begitu terik, membuat deretan penjual es kaki lima di depan sekolahku kebanjiran pembeli. Seperti biasa aku pulang dari sekolah, namun aku tidak melewati jalan yang sama dengan hari sebelumnya karena di jalan itu sedang ada perbaikan. Aku merasa kesal sekali, karena jalan itu adalah jalan tercepat sampai ke rumah. Jadi aku terpaksa lewat jalan lain yang sedikit jauh.

Sepanjang jalan aku melampiaskan kesalku dengan menggerutu tak jelas. Tiba-tiba gerutuanku dihentikan oleh seorang kakek berusia sekitar 60 tahunan yang sedang mengais-ngais tempat sampah, entah apa yang ia cari. Setelah mendapatkan apa yang dicari, ia langsung membawanya ke sebuah rumah kecil yang sangat kumuh di antara 2 rumah mewah. Yang terpikir olehku, itu pasti rumahnya. Entah kenapa aku penasaran dengan kakek itu, dengan sengaja aku melepas ikatan tali sepatuku dan mengikatnya kembali di depan rumah sang kakek. Aku melirik ke pintu rumahnya, dari luar aku bisa melihat ada sebuah foto lama yang tergantung di dinding. Foto itu adalah foto seorang pria yang bertumpu di sebuah tongkat pada tangan kakannya bersama seorang anak laki-laki dan di bawah foto tersebut terdapat meja yang di atasnya ada sebuah bambu runcing yang sudah patah, sebuah golok yang sudah berkarat dan sepasang sepatu.

Mungkin terlalu lama memandang rumahnya, tiba-tiba si kakek keluar.
“heii!! Kenapa di situ?” tanya sang kakek mengejutkanku.
“Haah!! Maaf kek” jawabku tanpa memandang dan belari meninggalkan rumahnya.

Keesokan paginya, aku lewat di depan rumah si kakek lagi. Ia sedang duduk di ambang pintu rumahnya. Tanpa aku sadari ikatan tali sepatuku terlepas.
“Nak, ikatlah dulu tali sepatumu! Jangan sampai kau terjatuh saat ingin menuntut ilmu, jangan kecewakan pahlawanmu terdahulu!” ucap si kakek saat aku tepat berjalan di depan rumahnya.
Spontan aku langsung berjongkok dan mengikatnya kemudian meningganlakan si kakek tanpa memandang dan tanpa mengucapkan terimakasih.

Baru berjalan beberapa meter dari rumah sang kakek, seorang ibu paruh baya menghampiriku.
“Nak, jangan dekat-dekat dengannya, dia itu gila” kata Ibu tersebut
“Memangnya kenapa bu?”
“Dia itu gila, berteriak-teriak mengaku sebagai anak pahlawan, menjauhlah darinya!” jelas si Ibu.
Aku makin penasaran dengan kakek itu, anak pahlawan? Siapa sebenarnya kakek itu?

Sepulang sekolah aku melewati rumah si kakek lagi. Di sana tampak warga sedang menggusur rumah si kakek.
“Ini rumahku, jangan hancurkan rumahku!” teriak si kakek.
“Eeh.. Pak tua! Tidak boleh membangun rumah di sini!” ucap salah satu warga.
“Jangan salahkan aku membangun rumah di sini, ini tanah milik ayahku. Salahkan mereka yang mengapit rumahku, mereka yang telah merampas rumahku!” amuk si kakek.
“Lebih baik bapak ikut bersama kami, tinggal di rumah yang lebih baik dari ini.” bujuk seorang petugas berbaju putih yang sudah kuperkirakan pasti petugas rumah sakit jiwa atau panti jompo.
“Ke mana kau akan membawaku? Aku tidak mau, aku mau tinggal di sini, di rumah ayahku!”
Si kakek disuntik obat bius dan langsung dibawa ke mobil dan berlalu meninggalkan warga yang bersorak gembira. Namun tidak denganku, ada rasa kasihan yang menyelinap di hatiku.

Tiba-tiba seorang ibu yang pernah menghampiriku hari itu, menghampiriku lagi.
“Heii nak, akhirnya pak tua itu sudah pergi dari sini, kau tidak perlu takut lewat di sini, sudah aman.” kata si ibu dengan nada senang.
“Ke mana mereka membawa kakek itu pergi?” tanyaku
“Dia dibawa ke rumah sakit jiwa yang jauh sekali dari sini, jadi kau tak perlu khawatir.” ucapnya
“Kenapa warga di sini tidak suka dengannya?”
“Yaa karena dia gila, berteriak-teriak mengganggu kenyamanan di sini, sudahlah kau banyak tanya” bentak si ibu dan berlalu meninggalkanku.
“Begitukah sosialisasi warga di sini?” batinku.

Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah melewati bekas rumah si kakek, padahal jalan tercepat telah selesai diperbaiki, tapi aku ingin melewati rumahnya. Rumahnya sudah hancur, hanya tinggal beberapa fondasi yang masih berdiri tegak. Tiba-tiba ikatan tali sepatuku terlepas, saat aku ingin mengikatnya kembali, mataku tertuju pada kertas yang telah menguning yang terselip di tumpukan kayu rumah si kakek, aku mengambil kertas tersebut, di sana tertulis:

“Kukuatkan ikatan tali sepatuku agarku tak terjatuh sepertimu, Ayah.”

Tulisan tangan yang begitu indah, halus kasar dengan tinta tebal seakan tak ingin tulisan itu lenyap. Aku tertegun sesaat, lalu kulipat kertas tersebut dan kuselipkan dalam buku catatan harianku.

5 tahun kemudian…
Hari yang sangat cerah, secerah wajah para mahasiswa yang akan digeser tali toganya. Termasuk diriku, tidak terasa aku telah tumbuh dewasa.

Sebelum berangkat ke acara yang kutunggu selama lebih kurang 4 tahun, tidak lupa kukuatkan ikatan tali sepatuku. Seketika aku teringat nasihat lama “ikatlah tali sepatumu, jangan sampai kau terjatuh saat ingin menuntut ilmu.” Aku tersenyum sendiri.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Ibu mengagetkanku
“Aku bahagia dengan hari ini, karena ini hari kelulusaanku bu..”
Ibu hanya tersenyum, ada raut bangga di wajahnya.
“Anak ibu sudah besar sekarang.”
“Cepatlah! kau ingin terlambat?” sahut Ayah dari ambang pintu.

Setelah acara berakhir, Ayah dan Ibu pulang duluan karena aku akan merayakan ini dengan teman-teman. Setelah semua acara hari itu selesai, kuarahkan tujuanku untuk pulang ke rumah. Aku tidak berjalan kaki lagi, tapi menggunakan mobil pemberian ayah 2 tahun lalu. Saat di persimpangan jalan dekat rumah, aku melirik jalan itu, jalan yang sudah lama tidak aku lewati, jalan yang dulunya kecil dan hanya sebagai pintasan, sekarang berubah menjadi jalanan yang lebar dan ramai kendaraan berlalu lalang di sana, jalannya juga sudah diaspal. Sesampai di rumah kujatuhkan tubuhku di pembaringan hingga ku terlelap.

Keesokan paginya, ibu menyuruhku untuk berkemas, karena lusa aku akan berangkat ke negara tetengga untuk melanjutkan studi S2 ku di sana. Bersyukur sekali, karena kedua orangtuaku masih mampu membiayai sekolahku. Aku berjanji pada mereka akan kubanggakan mereka.

Saat sedang berkemas buku-buku lama, kutemui buku catatan harian berwarna hijau yang sudah berdebu, setelah ujian nasional tak ada lagi kubuka buku tersebut. Ketika kubuka halaman buku itu, terjatuh sebuah kertas usang. Kubuka lipatannya, kertas itu adalah kertas yang kuambil dari runtuhan rumah si Kakek 5 tahun silam. Seketika aku bertanya dalam hati, bagaimana kabar Kakek itu? Masih hidupkah dia? Lalu kukenakan jaket kulit pemberian ibu dan bergegas keluar rumah menuju rumah si Kakek.

Sudah lama sekali aku tak melewati jalan itu, jalan yang tadi malam aku lihat. Sudah banyak yang berubah, kedai-kedai kecil yang berjejer telah berubah menjadi ruko-ruko bertingkat. Dan aku sangat terkejut sekali karena rumah si Kakek sudah berubah menjadi rumah ibadah, dan dua rumah mewah yang mengapit rumah si Kakek dulu berubah menjadi tanah lapang. Bagiku, ini perubahan yang luar biasa dalam kurun waktu 5 tahun.

Saat ku memandangi rumah ibadah itu, aku melihat seorang yang tak asing bagiku. Seorang Ibu yang pernah menghampiriku hari itu. Sang Ibu sedang duduk di teras rumah ibadah, tiba-tiba dia memanggilku.

“Nak! Kemarilah!” teriaknya.
Aku bergegas menghampiri.
“Yaa bu?” tanyaku
“Sudah besar kau sekarang yaa.”
Aku hanya tersenyum.
“Sudah lama aku tidak melihatmu, bagaimana kabarmu?” sambungnya
“Baik buk.”
“Baguslah.”
“Oh iyaa buk saya mau tanya, kakek yang pernah tinggal di sini dulu dibawa ke rumah sakit jiwa mana?” tanyaku
Saat mendengar pertanyaanku, si Ibu langsung menangis.
“Ada apa bu?”
“Aku pendosa, aku durhaka.” jawabnya sambil terisak
“Ibu berdosa kenapa?”
“Pak tua itu.. Dia adalah ayahku, aku malu memiliki Ayah seperti dia, aku tidak mau mengakui dia, aku anak durhaka.” jawabannya membuat aku terkejut, Kakek itu adalah Ayah dari Ibu ini?

“Dulu, saat aku kecil ia selalu mengajariku untuk mengikat tali sepatuku dengan kuat agar tidak terlepas. Jika terlepas bisa saja aku terjatuh karena menginjaknya. Dulu ayahnya atau kakekku pernah terjatuh di medan perang karena tali sepatunya tak terikat. Saat itu kakekku tidak memiliki sepatu boots untuk berperang, terpaksa dia menggunakan sepatu bertali itu untuk berperang, sehingga kakinya patah di medan perang. Itulah mengapa, Ayah selalu mengingatkanku untuk mengikat tali sepatuku dengan kuat, tidak hanya kepadaku, tapi ke semua orang termasuk kau.” jelas si Ibu sambil menagis.

Jadi foto itu adalah si kakek dengan ayahnya, bambu dan golok adalah alat perang ayahnya dan sepatu itu adalah sepatu yang membuat kaki ayah si kakek patah.

“Tapi ayahku itu terlalu terobsesi untuk memberi nasihat pada orang-orang tentang ikatan tali sepatu, sehingga dia terlihat gila. Dan itu membuat aku yang saat itu baru lulus SMP dan ibuku muak dengannya sehingga kami memutuskan untuk pergi dari rumah.” sambungnya sambil mengapus air mata.

“Lalu kenapa Ibu bisa ada di sini?” tanyaku.
“Setelah bertahun-tahun dan aku menikah, aku tidak pernah menyangka bahwa suamiku akan meminta untuk tinggal di daerah sini, aku pikir ayahku tidak tinggal di sini lagi, tapi salah. Dia masih bertahan di sini, di rumah ayahnya.” jawabnya yang lagi-lagi menghapus air matanya.
“Saat itu aku malu mengakuinya, bahkan suami dan anak-anakku tidak tau bahwa Pak tua itu adalah ayahku, aku sangat berdosa nak.” tumpah lagi air matanya tapi tangannya tak mampu menghapuskan.

“Apa Ibu tidak berniat untuk menjemput Kakek? di rumah sakit jiwa mana Kakek itu berada?” tanyaku
“Percuma nak, ia sudah tiada. Saat aku tersadar akan sikapku, lalu aku ingin membawanya pulang, aku terlambat, ia meninggal saat baru 6 bulan dibawa ke sana.” jelas si ibu
“Aku sangat berdosa nak, aku ingin menebusnya, tapi aku rasa tidak ada amalan yang bisa menebusnya. Dengan membangun rumah ibadah ini di tanah miliknya, bisa menjadi wujud maafku kepadanya.” sambung si Ibu.

“Di mana Kakek itu dikubur?” tanyaku
“Di pemakaman yang sangat jauh dari sini.” jawabnya
Jawaban itu membuatku teringat pada jawaban 5 tahun silam, tapi tidak dengan nada yang sama. Nada kali ini, adalah nada penyesalan.

Kakek itu telah tiada, rasanya aku ingin sekali meminta maaf atas sikapku yang dulu tidak mau memandangnya, dan ingin berterimakasih karena pelajaran hidup yang ia berikan padaku walau hanya untuk mengikat ikatan tali sepatu.

Cerpen Karangan: Fani Ramadhani
Facebook: Fani Ramadhani
Saya masih pemula, jadi maaf jika ada kekurangan di part ini ataupun di part sebelumnya. Dan, terimakasih karena telah membaca.

Cerpen Ikatan Tali Sepatu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Akhir Desember

Oleh:
Aku, inilah aku. Aku tak bisa seperti orang lain dan tak bisa seperti dirimu. Aku hanya bisa menjadi diriku sendiri. Kau bisa berkata aku egois, pemarah atau apapun kata

Nasehat Sang Nenek

Oleh:
“Pagi, ayah…, pagi, ibu…” Jeritan Suzy yang keras itu sempat membangunkan kedua orangtuanya yang tersayang. Dengan wajah yang bersemangat Suzy yang baru saja terbangun langsung pergi ke toilet untuk

Hari Ulang Tahunku

Oleh:
“Huuahh..” sambil menguap aku bangkit dari ranjangku. Bunyi jam beker membangunkan aku dari mimpi semalam. “Huh, sial sekali..” pikirku dalam hati. Perkenalkan namaku Agatha Rheynata, panggil saja aku Rhey.

Sapu Tangan Merah

Oleh:
Pagi hari yang cerah ini, serasa begitu indah disambut dengan embun pagi yang menetes pelan–pelan di dedaunan. Hari ini serasa sejuk dengan angin yang berhembus pelan menghampiriku. Lizzi memulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *