Ilda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 April 2015

Ilda gregor, itu namanya, dia menutupi kepalanya dengan tas sekolah, karena hari ini lupa bawa sweater. Hujan turun dari tadi, senja merah telah tampak di ufuk barat. Baju seragam habis sudah basah kuyup, beberapa gelegar petir tidak menakutinya, jadi dia tetap berjalan terburu-buru. Sepatu bot-nya membuat genangan air bercipratan, celana juga sudah tidak tertolong lagi dari basah dan kotor. Dia menyesal hari ini terlalu lama berada dalam perpustakaan, hanya untuk membaca novel, sampai dia lupa waktu juga. Dia berusaha membayangkan ketika sampai rumah, ada ibunya yang menyambut dia, membuatkan sup hangat, lalu ketika dia menyesap sup itu, ibu akan menyelimuti dia dengan selimut. Tidak ada lagi yang lebih hangat saat hujan selain sup kentang buatan ibu, potongan-potongan kentang lembut, kuah kaldu ayam, wortel yang dipotong ibu sangat tipis, sehingga memakan wortel seperti menyesap sup. Ibu selalu bisa membuat sup kentang.

Jarak dari sekolah ke rumah lumayan jauh, sekitar satu kilometer. Jalanan untuk ke sana sangat jauh dan bisa lebih dari dua kilometer apabila melewati jalan besar, jadi ilda biasanya lewat hutan dan sawah. Dia sudah tahu seluk beluk jalan pintasnya itu, terutama hutan. Bagi beberapa orang kampungnya, cukup berbahaya lewat hutan, mereka percaya ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat, dan hal itu kebanyakan terjadi di hutan. Sudah sering kali ibu apalagi ayahnya melarang dia pergi sekolah lewat hutan, tetapi dia selalu membantah.

Pohon-pohon menjulang tinggi bertebaran, dengan langkah pasti ilda mulai berlari, dia terus melingkari pohon-pohon di depannya, sampai dia meraba pohon yang dia kenali. Dia meraba tandanya, yang dia ukir sendiri –tanda panah kanan. Dia berbelok ke kanan, “semakin cepat semakin bagus” gumamnya. Lalu ada tanda kiri, lalu kiri lagi, lalu kanan, dia sempat terpeleset, tapi dia cepat-cepat berdiri, tanah-tanah hutan semakin licin karena lumut. Liku terakhir, kanan, dia berlari dan hampir lupa karena terlalu terburu-buru, ada jurang menunggu di depannya. Ada jembatan sebagai penghubung tetapi dia lupa, dia terpeleset bersamaan dengan kagetnya, dia menangkap akar pohon yang terjulur. Tasnya terlepas dari tangan, dia harus membuat alasan untuk itu, dia memanjat dengan cepat. Dia menghela nafas, sambil menengadah ke atas ‘sial, hampir saja’ gumamnya. Dengan agak gemetar dia berjalan santai, hutan semakin gelap, tapi dia sudah membiasakan diri dengan gelap. Dia bisa melihat lebih jelas ketika gelap dibanding manusia biasa.

Dengan langkah kurang berani dia mengetuk pintu dan lalu membukanya, “aku pulang”. “Ilda, darimana saja kau?” ibu terlihat sangat cemas dan lalu memeluknya “Mana tas mu?”.
“Tertinggal, sudah bu aku bukan anak kecil lagi, lepaskan” ilda melepas pelukan ibu perlahan. Lalu berjalan ke kamar mandi.
“Anak itu”
“Ilda benar. Dia sekarang sudah SMA dan berumur enam belas tahun, dia sudah bukan lagi bayi kecil kita bu” celetuk ayah yang mendengar kata-kata ilda tadi.
“Tapi dia anak kita satu-satunya”
“Beri dia kebebasan untuk masa mudanya” ayah beranjak dari kursinya, dan memeluk ibu yang masih berdiri terpaku di depan pintu masuk. “Kita juga pernah muda bukan?” ayah tesenyum.
“Ayah bisa saja”

Ayah mengetuk pintu ilda, terdengar suara dari dalam kamar “Ya silahkan masuk”. Ayah membuka pintu “Ini ayah”
Ilda beranjak duduk, karena sebelumnya sedang berbaring. “Iya, ada apa?”
“Apa kau ada masalah?”
“Ayah mau aku jujur” ilda mengerutkan dahi
“Ya”
“Kalau begitu sepertinya aku tidak akan memberi tahukan pada ayah”
“Hemm, oke. Mungkin, berbohong, siapa tahu ayah bisa menebak apa arti dari kebohonganmu”
“Aku ingin pindah rumah”
“Memang kenapa?”
“Bukankah ayah ingin aku berbohong. Aku tidak bisa memberikan alasan atas kebohonganku”
“Kau seperti kakekmu”
Ilda menyorotkan matanya pada ayah.
“Kakekmu orang cerdas dan dia juga tangguh” lanjut ayah.
“Menurut ayah begitu?”
“Ya” ayah terlihat antusias
“Aku rasa aku tidak begitu” ilda naik ke atas kasur “Sepertinya aku akan tidur”
“Hemm, oke. Selamat tidur” lalu ayah mematikan lampu dan menutup pintu kamarnya.

“Apa kata dia?” ibu sangat bersemangat
“Ingin pindah rumah” ayah mengerutkan dahi “Tapi dia bilang itu bohong”
“Kenapa dia mengatakan itu bohong?”
“Aku tidak tahu. Dia anak cerdas bu, dan aku tahu kalau dia juga tangguh. Aku yakin dia bisa menghadapi masalahnya sendiri, tugas kita hanya memberi semangat, oke”
“Oke” ibu terlihat tidak senang dengan kata-kata yang baru saja keluar.

Ilda selalu berfikir kenapa teman-temannya begitu memperolok dia, dengan nama ‘ilda’-nya itu. kebanyakan anak bekasi menganggap nama itu cocok disandang perempuan. Dia berusaha memejamkan mata dan berharap pada tuhan, andai saja ada sesuatu yang dapat mengubah pendapat teman-temannya itu, dia akan sangat berterima kasih pada tuhan.

Perkampungan ini berada di kabupaten bekasi, lumayan terpencil, sehingga jarak sekolah saja bisa sangat jauh dari perkampungan manusia. Setiap hari, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat, kebanyakan anak memakai jemputan ataupun kendaraan pribadi seperti sepeda dan sepeda motor, tapi ilda tidak bisa. Ayahnya hanya akuntan pada perusahaan kecil, gajinya hanya cukup untuk biaya bulanan dan biaya harian saja. Ilda memakluminya, oleh karena itu dia tidak pernah meminta apapun dari kedua orangtuanya. Orangtua ilda selalu melarang dia lewat hutan, tapi mereka tidak pernah mengawasi ilda untuk tidak lewat hutan. Hutan lumayan dekat dari perkampungan, menyebrang jalan besar dan ilda sudah sampai hutan yang dingin itu. Beberapa anak sering memperhatikan ilda dan menganggap ilda anak yang aneh.

Tanah yang becek memang selalu jadi tantangan untuk berangkat dan pulang sekolah, November ini curah hujan sangat parah. Tiada hari tanpa hujan, mungkin begitu sindiran untuk November ini.

Tepat pukul dua dini hari, kentongan pos ronda berbunyi dan membangunkan seisi kampung, termasuk ilda. Dia beranjak dari kasur dan keluar kamar, pintu rumah sudah terbuka, ibu sedang berdiri di samping pintu. “Aku akan keluar” ucap ilda sambil menghampiri ibu. Dia berlari terburu-buru, seperti kemarin sore, saat pulang sekolah, entah kenapa dia punya perasaan yang sangat tidak enak tentang hal yang akan terjadi. Pos ronda sudah sangat ramai saat ilda sampai, dia menyelip di kerumunan, karena badannya yang tidak terlalu besar, dia bisa dengan mudah sampai depan.

Pak RT Midun tampak sangat panik, anaknya dibawa seseorang, dia berpakaian hitam-hitam. Pak midun sempat mengejar, namun langkah dia kalah cepat, dan dia melihat orang itu berlari mengarah ke hutan. Saat itu ilda tidak perlu berfikir lagi, dia berbalik dan berlari menuju hutan. Pak RT punya banyak anak, entah yang mana, tapi dia hafal semua. Termasuk perempuan idamannya, Nura, ya dia anak pak RT, ilda tidak pernah berani mendekati karena suatu hal, ilda sangat grogian.

Ilda mulai berjalan menapaki tanah becek, dia sudah melepas sandalnya sejak tadi, dan dia sudah sangat biasa telanjang kaki. Tidak akan ada benda tajam, seperti beling atau paku, karena manusia tidak pernah menyentuh hutan ini. Mereka semua terlalu penakut. Ilda menyebrangi jembatan yang terbentuk dari pohon mati yang rubuh, dia mulai meraba pohon yang dia kenali untuk mencari tanda. Ada lima tanda dan dia baru melewati tiga, saat sesuatu mengagetkannya, dia berpakaian hitam-hitam dan hampir kasat mata. Tapi ilda bisa melihatnya, dia memegang sebuah pisau, tanpa berkata dia berjalan mendekati ilda. Ilda belum punya rencana apapun dan tidak bawa benda apapun sebagai senjata, sangat ceroboh, memang.

Dia berbalik dan berlari, mengetahui bahwa orang itu mengejarnya, ilda mengarahkan dia ke jembatan. Mata ilda hampir tahu mana tepi jurang mana jembatan, dan dia juga mengetahui kalau tanah sekitar situ licin. Dia hampir sampai tepi jurang, lalu dia berjalan lambat, dan menuju jembatan. Dia bisa melihat dari sini, betapa orang berpakaian hitam itu tidak terlalu cermat mengamati jalan saat gelap. Orang berpakaian hitam itu masih berlari tanpa sedikit pun menduga, dia lalu terjerembap ke jurang dengan tiba-tiba. Ilda melongoknya, dia sudah tidak lagi terlihat karena jurang ini cukup tinggi.

Ilda bisa merasa tenang sekarang, dia menghela nafas dan mulai berjalan “Aku ilda, penculikmu sudah pergi. Kau bisa keluar sekarang” teriak ilda sambil terus mencari. Dia benar-benar saat itu sudah jam berapa, dia hanya menebak kalau ini sudah subuh, karena dia seperti bisa mendengar adzan subuh dari sini. Lalu terdengar seperti bunyi kaki yang menggesek di dedaunan, ilda dengan waspada melangkah, takut kalau ternyata orang berpakaian hitam itu masih punya teman lagi. Dalam sebuah karung hitam sesuatu seperti bergerak-gerak, ilda langsung mencari lubang karung itu, dia melepas ikatannya. Membuka karungnya, saat baru kepalanya saja muncul ilda sudah langsung tahu, dengan rambut acak-acakan dia terlihat beda “Nura?” sambil ilda melepas lakban pada mulut nura.
“Terima kasih” nura tersenyum.
“Kenapa dia bisa menculikmu?” ilda agak bingung, karena penculik itu tidak mungkin semudah itu menangkap seorang remaja di ‘kamarnya’.
“Dia tono” (dia kekasih nura)
“Apa yang ingin dia lakukan?”
“Dia akan mengajakku kawin lari”
“Lalu kenapa kau harus dia culik?”
“Sebagai alasan”
“Oke aku mulai mengerti” ilda terdiam dan berusaha berfikir. “Maaf aku telah mencelakakan tono”
“Mana dia?”
“Jurang” ilda mengerutkan dahi “Terburu-buru selalu bisa membawa orang pada peteka yang dia buat sendiri”
“Iya, kau benar” nura tertunduk lemas, mereka lalu berjalan pulang.

“Sebenarnya aku kesal saat itu, karena rencana kami berdua gagal, tapi aku sadar bahwa perbuatan tono memang salah dan aku juga salah karena mau ikut dengannya. Ilda membuatku sadar dengan kata-katanya ‘Terburu-buru selalu bisa membawa orang pada petaka yang dia buat sendiri’. Aku tahu kalau tujuan tono dan aku terlalu terburu-buru, maafkan aku ayah” nura terduduk lemas di balai pos ronda.
Warga kampung termasuk pak RT hanya manggut-manggut saja, pak RT lalu memeluk nura. Semua warga kampung terutama teman-teman sekolahnya sekarang tidak lagi memanggil ilda perempuan karena namanya atau karena sikapnya yang diam. Ilda sekarang punya cukup banyak teman, karena perbuatannya.

Paginya jenazah tono ditemukan, dekat hulu sungai tidak jauh dari kampung. Hutan yang tadi banyak ditakuti sekarang tidak lagi, ilda sudah menunjukan jalan-jalan hutan dan beberapa daerah berbahaya pada warga kampung.

Cerpen Karangan: Aldy Verdiana
Facebook: aldy.verdiana[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Ilda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 sekawan dan Gadis Berjubah Merah

Oleh:
Triple best friend bernama Safari Anatasya Sarah dipanggil sara, gadis ini berumur 17 tahun lho.. Tepatnya 3 SMA. Anisya Rizqia tasya dipanggil Icha berumur 16 tahun tepatnya kelas 2

Peri Roselsa

Oleh:
Pagi ini hujan deras sekali, untung saja aku sedang liburan seminggu. Aku nyaman sekali tinggal di rumah ini, aku sedih ketika dengar kabar dari ibu “Bel, ayo bantu ibu

MyCerpen 4: Hantu Sepatu Baru

Oleh:
Hanya duduk sendiri dan tenggelam dalam buku Sastra, yang membuatku semakin ngantuk. Malam minggu yang cukup membosankan, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Karena malam ini Aku tidak datang mengapeli Devi

Reinkarnasi

Oleh:
Di dalam sebuah kelas aku duduk sendiri sambil mengusap-usap mejaku yang telah rapuh dimakan usia aku hanya dapat menghela napas jika ini kelasku di masa depan berarti keadaannya 28

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *