Imbalan Termewah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 13 April 2018

Malam mengapa kau tidak kunjung berlalu, apa kau tidak merasa kasihan melihatku sendirian dan kesepian menyelimuti diriku ini. Rumahku hanyanya beralas bumi dan beratap langit, ya dari ujung ke ujung kota ini adalah rumahku. Sisa uang di saku celanaku hanya terisi beberapa koin logam BI, tapi ini cukup untuk kubelikan satu bungkus nasi kucing dan beberapa gorengan yang akan membuat perut ini kenyang. Aku memperhatikan beberapa sudut pandang dari kota ini dan hanya carut marut kendaraan yang berlalu lalang saja yang kulihat, saatku sedang menikmati makan malamku, aku melihat ada seorang pemuda yang sedang kebingungan karena vespa yang dikendarainya itu mogok di tepi jalan.

Begitu banyak orang yang melewati jalanan ini tapi tak satupun dari mereka menghiraukan pemuda vespa itu, ya aku memanggilnya pemuda vespa tapi entah kenapa mereka tak menghiraukan pemuda itu, sebenarnya aku pun tak ingin menghiraukannya tapi entah mengapa hatiku tak tega melihatnya. Selesai kuhabiskan makan malamku lalu aku segera bergegas menuju pemuda vespa itu.

“kenapa vespanya?” Tanyaku mengagetkannya
“Oh, ini vespanya mogok dan gak ngerti apa yang rusak karna sebelumya tidak pernah begini” Jawabnya yang lagi kebingungan.
“Boleh saya coba memperbaikinya? siapa tau saya bisa membantumu” Kataku menawarkan bantuan karena dulu aku pernah bekerja di bengkel mungkin saja aku bisa membantunya.
“Oh, silahkan saja. Malah saya akan sangat berterima kasih”.

Sudah setengah jam kami bekerja sama untuk mencari tau apa penyebab vespa ini mogok. Malam yang semakin larut dan dingin tapi masih saja kudengar hiruk pikuk jalanan yang penuh dengan kendaraan lalu lalang, detik demi detik berlalu aku dan pemuda vespa ini sibuk memperbaiki sebuah besi tua yang disebut vespa. “Uuh, akhirnya bener juga niih vespa. Saya ucapkan beribu-ribu terima kasih padamu, karna kau sudah sudi menghampiri dan menolongku memperbaiki vespaku ini. Jadi apapun yang kau inginkan dengan senang hati aku berikan”. Katanya dengan wajah yang berseri
“Iya sama-sama, dan bukannya kita sesama manusia itu harus tolong menolong yaa? Kita ini kan makhluk sosial yang kesehariannya membutuhkan orang lain dalam hidup ini. Jadi, kau tidak usah memberi imbalan kepadaku, dengan ucapan terima kasih pun sudah sangat cukup bagiku, karna ucapan terima kasih sudah jarang aku dengar semenjak aku tinggal di jalanan” Jawabku lugas.
“Kau gadis yang baik dan aku senang atas penyataanmu, tapi apa aku tidak salah dengar kau tinggal di jalanan? Apa orangtuamu tidak mencarimu dan tega membiarkan gadis sepertimu masih di jalanan di tengah malam seperti ini bahkan ini sudah sangat larut”.
“Sudah sejak lama aku hidup di jalanan, dan aku tidak mengenal siapa orangtuaku, yang aku tau waktu kecil aku tinggal bersama mak asri”. Ya, nenek tua yang kupanggil mak asri itulah yang merawatku sewaktu ku kecil tapi setelah mak asri meninggal hidupku luntang-lantung di jalanan seperti ini.
“Apa kau tidak merasa takut hidup di jalanan seperti ini? Kehidupan jalanan ini terlalu keras untukmu”.
“Aku takut. Tapi aku tak tau harus pulang ke mana, aku pun sudah merasa sangat nyaman hidup seperti ini. Hanya bintang di langit, angin malam dan suara kendaraan yang lalu lalang sajalah temanku” Jawabku mengiris
“Baiklah kalo begitu, sebenarnya aku tak tega membiarkanmu sendiri di sini tapi aku harus segera pulang dan semoga besok aku akan berjumpa denganmu lagi di sini” Katanya sambil menghirupkan vespa itu dan berlalu pergi meninggalkanku sendiri.

Malam ini aku sengaja berdiri di bawah lampu jalan yang kemaren kutemui seorang pemuda vespa itu, ya aku ingin sekali berjumpa dengannya lagi rasanya aku ingin berbicara dengannya walau aku tak tau apa aku dan dia akan berjumpa lagi. Malam ini langit sangat indah bertaburan bintang-bintang, angin malam berhembus halus sehingga aku pun bisa merasakan kelembutan yang angin berikan malam ini. Detik demi detik aku lalui di bawah lampu jalan ini yang tetap setia menunggu pemuda vespa itu, masih saja ku memanggilnya pemuda vespa karena sampai saat ini aku tidak mengetahui siapa nama sebenarnya.

Tidak berapa lama aku berdiri di bawah lampu jalan ini tiba-tiba ada segerombolan vespa berhenti di dekatku. “Oh tuhan, ada apa ini? kenapa vespa vespa ini berhenti di dekatku” Tanyaku dalam hati. Aku kebingungan tapi rasa bingung dan tanda tanya besar itu mulai sirna tatkala sosok yang aku tunggu-tunggu kehadirannya tiba-tiba muncul dari salah satu pengendara vespa itu.

“Selamat malam gadis yang baik” Sapanya kepadaku sambil tersenyum manis.
“Kamu? Kenapa kamu datang kemari? dan kenapa banyak sekali yang kau ajak kemari” Tanyaku heran yang padahal aku senang atas kehadirannya.
“Bukannya kemarin aku bilang kalo aku akan ke sini lagi dan berjumpa denganmu lagi, dan mengapa kamu berdiri di bawah lampu jalan ini?” Tanyanya heran
“Hmm, aku hanya ingin berdiri di bawah lampu jalan ini sambil menikmati kendaraan yang lalu lalang melewati jalanan ini saja” Jawabku seadanya
“Baiklah. Oh yaa, kenalkan ini adalah teman-teman komunitas vespaku, aku sengaja mengajak mereka ke sini karena aku ingin memperkenalkan mereka denganmu. Tapi sebelum mereka kukenalkan denganmu, mau kah kamu dan aku berkenalan terlebih dahulu?” Katanya manis yang membuat hatiku senang.
“Tentu.” Jawabku singkat
“Kenalkan namaku Aldi, dan namamu?”
“Saya Ranty.”
“Ranty? Hmm nama yang bagus. Senang berkenalan denganmu Ranty”.
Aldi? Akhirnya aku tau siapa nama aslinya, aku tersenyum hatiku sangat senang karena dia mau menemuiku lagi tapi yang menjadi tanda tanya besar mengapa dia mengajak teman komunitasnya untuk bertemu denganku juga.

“Baiklah Ranty, kenalkan ini komunitas vespaku, aku sengaja mengajak mereka kesini karena aku dan komunitasku berencana ingin sekali memberikanmu sebuah tempat tinggal walaupun tidak semewah istana tapi semoga kamu bisa menerimanya dengan senang hati dan rumah yang akan kami berikan itu terletak persis samping rumahku, agar setiap waktu kita bisa berbincang-bincang lagi”. Kata-katanya mengejutkanku
“Tapi ini, aku tidak bisa menerimanya karena aku, aku dan kamu baru saja kenal dan kenapa kamu dan komunitas kamu itu mau memberiku sebuah rumah?” Tanyaku yang terkesan heran tak tau mau bilang apa
“Karena aku tak akan membiarkan gadis baik sepertimu ini hidup di jalanan dan semua biaya keperluanmu akan kami tanggung bahkan bila perlu kau harus bersekolah.”
Aku tak tau apa ini mimpi atau nyata, kucoba mencubit tanganku sendiri dan “Aww..” Aku merasa sakit yang itu bertanda kalo aku tidak sedang bermimpi.

Aku memang masih umur 15 tahun dan pemuda vespa itu berada jauh diatas umurku, betapa bersyukurnya ku kepada tuhan karena aku bisa bertemu pria yang berada di bawah lampu jalan itu yang tidak kusangka dia pria yang berhati baik. Dari sini ku menemukan satu pelajaran bahwa tak ada salahnya menolong orang yang sedang kesusahan walau kita tak mengenali orang itu.

Cerpen Karangan: Nur Cahyati
Blog / Facebook: mystorymylifeblogaddress.blogspot.com / Cahyanur Alkarina

Cerpen Imbalan Termewah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Dunia Terlalu Angkuh

Oleh:
Aku berjalan di sela-sela lorong. Tumpukan-tumpukan pasir di tepi jalan. Debu mencengkram pernapasan. Sesekali kuusap peluhku yang berjatuhan. Besarnya seperti biji jagung. Tentu saja peluh seorang pekerja. Matahari tepat

Rumah Kardus di Tanah Emas

Oleh:
Aku, si pemuda Ramos berdiri sendiri, tiada berpangku laksana aksara jawa. Sekiranya aku menerima segenggam izin mengokohkan bangunan kecil bekas jepang dulu di dekat surau abah Salim. Beliau adalah

Maafkan Sang Malam

Oleh:
“Boleh aku memandangmu”, itulah yang aku ucapkan kepadanya. Sepasang mata itu tak pernah lepas dari pandanganku. Aku yakin dia mengerti apa yang aku maksudkan. Hanya ada satu garis pembatas

Semasa Kecil Kelam

Oleh:
Semasa kecil yang telah lama mereka tinggalkan. Semasa kecil adalah masa-masa indah yang tidak akan terlupakan, semasa dimana mereka bagaikan malaikat kecil yang belum ternoda, semasa dimana mereka merasakan

Perfect Life

Oleh:
Dinara namanya. Matanya bagaikan bintang kejora, sungguh indah. Rambutnya hitam mengkilat dan lebat. Kulitnya halus seperti pualam. Alisnya nyaris menyatu, bagaikan semut beriring. Tutur katanya pun halus dan sopan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *