Introvert is Dream

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 April 2018

Melengking, tertawa, bergosip, bersuka cita, itulah yang terjadi di ruang keluarga ketika hari raya tiba. Kerabat-kerabatku berkumpul ada yang saling bermaaf-maafan, berbincang-bincang, yang lainnya membagikan sedekah. Momen yang mungkin hanya sekali dalam setahun, tidak mungkin dilewatkan oleh orang-orang terutama umat Muslim. Namun, ada beberapa orang yang mungkin melewatkan hari itu. Contohnya seperti seorang tunawisma yang tidak memiliki keluarga ataupun mereka yang ditinggalkan oleh keluarga mereka, atau juga karena sebuah penyakit yang membuatnya hidup dalam kesendirian. Akan tetapi hari raya merupakan momen istimewa yang tidak seharusnya aku lupakan.

Namaku Rika, aku masih duduk di bangku kelas 8 SMP Tegal Rejong III di dekat rumahku. Hal yang sangat aku sukai adalah musik, sedangkan hal yang sangat aku benci adalah keramain. Aku bahkan hampir tidak pernah keluar rumah, apalagi setelah ayahku menikah lagi. Bahkan sampai-sampai tetanggaku pun tidak mengenalku. Bukan hanya itu, aku juga tidak menyukai anak-anak, hal itu yang membuatku tidak disukai oleh kerabat-kerabatku, karena aku tidak akrab dengan anak-anak mereka. Bahkan aku juga tidak mampu berkomunikasi dengan baik terhadap teman-teman sebayaku. Aku tidak pernah mengerti apa yang mereka bahas, mereka selalu membicarakan tentang pacar, film bioskop, dan tempat-tempat yang asik untuk dijadikan tempat nongkrong. Hal-hal yang jauh dari pemikiranku. Ya.. penyakit inilah yang membuatku jatuh ke dalam kesendirian.

Bel istirahat berbunyi, beberapa anak keluar dari kelas. Di setiap kelas pasti ada golongan-golongan tertentu. Salah satunya yang paling populer adalah golongan yang paling rajin, golongan ini selalu bekerja sama ketika mengerjakan tugas, dan bahasanya berisikan murid-murid yang berkualitas. Contoh yang lainnya adalah golongan yang paling eksis, biasanya berikan orang-orang yang hyperaktif, dan golongan itulah yang paling kompak di kelas. Sedangkan sisanya merupakan golongan sedaerah, yang terbentuk karena kenalan satu daerah. Golongan terakhir yaitu golongan yang sering menjadi bahan bullyan anak-anak sekelas. Golongan ini hanya terdapat satu atau dua orang di setiap kelasnya, golongan ini disebut golongan terisolasi, contohnya yaitu aku yang menjadi golongan terisolasi.

Jika membicarakan soal sosialisasi, aku paling anti terhadap itu. Aku pernah sesekali bergabung dengan teman sekelasku. Namun rasanya sama saja. Aku tetap terisolasi dengan mereka. Ditambah aku tidak pernah mengerti apa yang mereka bahas, tokoh idola, pria tampon… arghhhhhh…. aku tidak tahu soal itu. Lebih baik aku diam saja, duduk manis sambil mendengarkan lagu yang melantun lewat earphoneku. Bahkan sering sekali aku hanyut dalam dunia imajinasi yang kubuat sendiri. Aku bisa berinteraksi dengan siapa saja dalam duniaku. Hal-hal yang tentu saja sudah aku pahami. Tidak akan ada kata-kata yang dapet menyinggung perasaanku. Dalam imajinasiku, semuanya berdasarkan kehendakku, dan akulah yang mengatur semuanya. Bagiku dunia imajinasi adalah surga yang berada dalam genggamanku.

Bel pulang pun berbunyi. Anak-anak mulai memasukan buku mereka ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Aku mulai menggerakkan tubuhku yang telah kaku oleh waktu. Terdengar suara deritan kursi reot yang aku duduki. Tujuanku mengarah pada pintu kelas yang akan menuntunku pada perjalanan pulang. Cahaya jingga menyilaukan mataku, terlihat oleh ku sendiri. Orang-orang melewati koridor bersama-sama. Terkadang jika tidak beruntung aku akan mendengar beberapa orang menyebutkan namaku. “Hey Usman, lo gak anterin si Rika tuh?”, ucap salah seorang dari mereka. “Sorry ya, cewek cupu kayak dia buka tipe gue” ucap Usman. Tentu saja hal seperti itu sering membuat aku marah, sesungguhnya aku tidak selemah itu. Aku hanya bisa menahan amarahku karena aku tahu itu hanya akan menambah buruk suasana saja. Kupasangkan earphoneku supaya tidak mendengar pembicaraan orang-orang itu, dan berharap bisa cepat sampai rumah.

Pintu gerbang begitu ramai dilewati oleh anak-anak yang pulang sekolah. Kebanyakan dari mereka pulang menggunakan sepeda motor, sisanya menggunakan angkutan umum. Bagiku berjalan sendirian sambil mendengarkan musik adalah hal yang mengasyikan. Terkadang pada saat seperti ini juga aku kembali hanyut dalam imajinasiku sendiri. Kadang aku berpikir, kira-kira bagaimana rasanya ada orang yang sangat mirip dan begitu mengerti diriku. Seseorang yang menyukai musik dan membenci keramaian. Sambil berjalan di atas trotoar kulihat banyaknya kendaraan yang melintas. Sungguh pemandangan yang buruk. Kucoba pejamkan mataku dan berusaha masuk ke dalam dunia imajinasiku lagi, kali ini aku membayangkan hal yang bertolak belakang dengan apa yang aku lihat dalam dunia nyata. Kubayangkan diriku berada di sebuah hutan yang sangat asri, berjalan dipinggirkan sungai sambil memandang langit biru. Ah… Sungguh tentram hatiku, kenapa aku tidak hidup di dunia yang seperti ini saja?.

Semakin lama aku berjalan, semakin terdengar arus deras dari hulu sungai tersebut. Sebuah air terjun menjulang tinggi di hadapanku, bahkan kicauan burung terdengar menggema di telingaku, sebuah simfoni alam yang indah. Aku mulai mendekati sungai itu, bisa aku rasakan kakiku menyentuh sejuknya air yang mengalir, tanganku mulai meraba-raba ke dasar sungai yang dangkal mencoba meraih bebatuan yang ada di dasar sungai itu. Mataku begitu termanjakan ketika melihat batu yang kuambil berwarna biru terang yang mengkilau dan merupakan warna favoritku. Dengan semangat aku memasukan batu-batu itu ke dalam kantong bajuku. Namun, ketika aku sedang asyik mengumpulkan batu, tiba-tiba dari belakang ada seorang anak laki-laki seumuran denganku memanggil namaku “Rika? Apakah kamu mau apel?” tanya anak laki-laki tersebut sambil menyodorkan apel ke arahku. “Tentu saja” ucapku kepadanya. Wajah anak laki-laki itu mirip sekali denganku. Sebenarnya dialah orang yang sangat mengerti diriku, dan mengerti apa yang aku rasakan selama ini. Dialah Kakak Kembarku. Meskipun hal itu tidak akan ada dalam kehidupanku. Namun, dalam dunia ini aku bisa menciptakan segalanya, bahkan hal mustahil sekalipun.

Kami pun memakan apel bersama di bawah pohon yang rindang dan pemandangan yang ada didepan mata kami, gunung-gunung yang menjulang tinggi, padang rumput yang luas, serta terdapat beberapa hewan yang sedang memakan rumput-rumput yang segar. Sungguh pemandangan yang asri dan tenteram.
Setelah selesai makan kami pun berbaring di atas hamparan rumput yang hijau dan luas, memandang langit biru yang indah.

“Hey Rika… kenapa waktu hari raya kamu lebih suka menyendiri?” tanya Riko. “Aku tidak suka kerabat-kerabatku, mereka selalu saja membandingkanku dengan anak lainnya, tak bisa mengurus anak kecil lah.., inilah.., itulah.., apalah.. Benar-benar sangat menyebalkan, aku lebih suka menyendiri atau bermain bersamamu” jawabku. “Lalu apa alasan kamu tidak bisa mengurus anak kecil?” tanyanya lagi. “Aku benci anak kecil, mereka merepotkan dan sangat cengeng, ditambah… kebanyakan dari mereka sulit sekali diatur dan nakal”. “Oh.. begitukah? bagaimana tindakanmu jika nanti kamu memiliki seorang anak?” Riko kembali bertanya. “Entahlah.. tapi aku rasa, aku tidak ingin punya anak selamanya” jawabku lagi. “Ummm…” Riko menatapku sebentar dan kembali memandang langit. “Lalu, bagaimana pendapatmu tentang teman-temanmu?” setelah beberapa saat ia kembali bertanya. “Aku tidak tahu, aku tidak cocok dengan mereka” jawabku. “Bagaimana dengan orang-orang yang selalu meremehkanmu? Apa yang akan kamu lakukan pada mereka jika semisalnya tidak ada risiko yang kau tanggung?” tanyanya lagi. “Tentu saja aku akan… membunuh mereka” jawabku singkat.

Sontak saja jawabanku membuat Riko terkejut. Ia bangun dari tidurnya dan mulai menatapku. “Mengapa kau harus seperti itu? tak henti-hentinya ia bertanya kepadaku. “Mereka tidak tahu perasaanku, tidak pernah tahu rasanya jadi diriku. Mereka hanya menganggapku seperti orang lemah dan mereka juga tidak peduli akan keberadaanku..” jawabku dari dengan penuh rasa kekesalan.
Namun tanpa diduga, tatapan Riko berubah menjadi sebuah kekecewaan. Ia kemudian berdiri sambil memalingkan badannya. “Kau berlari terlalu jauh Rika, sesama umat seharusnya kalian menjalin dan mempererat tali silaturahmi. Akan tetapi, kau justru malah memutuskan tali silaturahmi itu. Ketakutanmu terhadap anak kecil juga membuatmu tidak ingin melanjutkan keturunanmu yang sebenarnya itu adalah anugerah terbesar dari Allah. Bahkan, kebencianmu terhadap orang-orang yang telah mengolok-olokmu telah hampir membawamu kedalam jurang yang penuh dosa” ucap Riko kepadaku.

Menyadari akan adanya hal yang aneh, aku langsung berdiri dan melihat Riko dengan tatapan penuh ketakutan. “Si… siapa Kau? di mana aku sebenarnya?” teriakku. “Kau tidak seharusnya di sini, akan kuperlihatkan padamu tempat di mana seharusnya kau tinggal” jawabnya.

Ia kemudian memalingkan wajahnya dan kembali menatapku, akan tetapi bukan mata seorang manusia yang menatapku saat ini, melainkan mata seekor ular yang sebenarnya adalah wujud asli Riko sendiri. Dengan penuh ketakutan, aku langsung jatuh ke tanah sedangkan tubuh Riko berubah menjadi ular besar sepenuhnya. Ular itu membuka mulutnya. Aku berusaha untuk berdiri dan lari menyelamatkan diri. Namun dengan cepat ular itu melahapku, aku bisa mencium aroma busuk keluar dari dinding kerongkongan makhluk besar itu. Perlahan namun pasti, aku dipaksa masuk ke dalam tubuhnya yang besar itu, hingga aku mencapai dunia yang lain.

Melengking, menangis, berbisik, menjerit. Dunia yang penuh dengan rasa penyesalan. Sebuah dunia dengan padang pasir yang membara dan pohon-pohon yang penuh dengan duri yang tajam. Bahkan binatang-binatang melata pun begitu gencar mengejar orang-orang yang berlarian. Begitu mengerikan pemandangan sesaat setelah aku jatuh dari langit dan mendarat tepat diatas danau yang airnya mendidih panas. Kurasakan air itu mulai membakar kulitku, perih dan amat menyiksa. Sungguh menyesalnya diriku, mengapa dulu aku menyianyiakan kehidupanku dan lebih memilih hidup dalam dunia yang telah dipenuhi setan-setan daripada dunia yang dianugerahkan Allah kepadaku.

Diatas penderitaan yang menyakitkan itu, ada sebuah rantai yang menarik jauh lebih dalam ke dasar danau itu, dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak tertarik lebih dalam lagi, akan tetapi usahaku hanya sia-sia. Semakin dalam air yang ada di sekitarku, semakin dingin juga yang aku rasakan, sedangkan nafasku sudah hampir habis, lalu kegelapan pun mulai menyelimuti diriku. Suara-suara mengerikan itu pun mulai sirna, kini aku benar-benar sendirian dalam kegelapan yang begitu dingin. Sampai akhirnya, secerca cahaya ada di hadapanku. Kucoba meraih cahaya itu, sampai akhirnya semua menjadi terang benderang. Lantunan ayat al-quran lah yang menjadi penyambutku. Dalam penglihatanku yang masih samar, aku melihat seorang wanita duduk di sampingku yang ternyata adalah Ibu tiriku.

“Rika, kamu sudah bangun sayang? Ayah.. cepat kemari” teriak Ibuku dengan suara yang penuh akan rasa bahagia. Dari pintu Rumah Sakit, Ayahku datang dengan tergesa-gesa. “Rika, alhamdulillah ya Allah kamu sudah bangun sayang” ucapnya sambil berlinang air mata. Kemudian, beberapa orang datang dengan mengenakan pakaian seperti Dokter, dan mereka meminta agar ayah dan ibuku untuk menunggu di luar. Aku berusaha untuk menggerakkan hiburku dan mencoba berbicara kepada mereka. “Di… ma.. na.. ini?” tanyaku dengan suara yang terengah-engah. “Adik jangan banyak bicara dulu ya, adik sekarang berada di rumah sakit” jawab salah satu dari mereka. “Aku… pingsan?” tanyaku heran. “3 bulan yang lalu, adik mengalami kecelakaan ketika hendak pulang dari sekolah. Dan sekarang adik baru saja bangun dari koma” jawabnya lagi.

Setelah beberapa menit, aku kembali mengingat kejadian yang aku alami sebelum aku terbangun dari koma. Mimpi? Apakah itu mimpi?. Sungguh menyeramkan hal yang aku impikan. Namun dari mimpi itu aku mendapatkan banyak pengalaman hidup yang sangat berarti untuk dimasa sekarang dan masa yang akan datang kedepannya.

Cerpen Karangan: Nursolihat
Facebook: Cita Cahyati

Cerpen Introvert is Dream merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kucarikan Surga Untukmu

Oleh:
Wanita itu menyeret langkah gontainya meninggalkan pria laknat yang terbungkus selimut tebal di atas ranjang. Ah, pria laknat? Itu artinya Ia juga wanita yang sama laknatnya dengan pria di

Surga

Oleh:
Aku akan menceritakan sebuah kisah tentang kehidupan seorang gadis kecil. Mungkin kisah ini tidak terlalu menarik untukmu, tapi aku yakin kisah ini akan menjadi renungan bagimu –terutama bagiku yang

Aku dan Gadis Kecil Bergaun Ungu

Oleh:
Di penghujung senja, saat matahari beranjak pergi dan melekuk diri di antara barisan gunung, ku bawa kaki-kaki manja dan lelah ini ke sebuah tempat sunyi. Tempat di mana aku

Mamah

Oleh:
Semua Orang, anak-anak baik besar atau yang kecil pasti memiliki orangtua, yang biasa disebut Ayah dan Mamah, akan sangat melengkapi jika salam satu atap memiliki keduanya, tapi tidak dengan

A My Little Bit Unusual Day

Oleh:
Sampai juga aku di kamar mes ku yang lumayan ini. Sederhana, kecil dan setidaknya ada privasi hari-hariku untuk bercengkrama dengan kesendirian. Sebuah lemari pakaian setinggi leherku menjajari satu sisi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *