Isi Cacat, Bungkus Wajar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 19 March 2016

Habis sudah segala daya. Tak habis pikir, bagaimana mungkin bentuk kombinasi dari kasih sayang dan perhatian dengan pola pikir yang begitu saklek, monoton, dan kolot bisa jadi begitu mematikan. Sisi satu berlawanan dengan sisi lainnya. Begitu kontradiksi. Otak tak berhenti berdenyut, ada tali kekang terikat di leher ini rasanya. Hidup ini layak diperjuangkan. Sadar diri banyaklah kekurangan, berbeda dari kebanyakan orang. Jangan lihat bungkusnya saja, itu tipuan terbaik di dunia. Tapi ketahui saja, apalah arti sebuah bungkus saja yang begitu habis isinya lalu dibuang dan dikumpulkan bersama bungkus-bungkus kosong lainnya di sudut sana. Memang apalagi yang bisa dilakukan selain itu?

Bungkus ini begitu wajar tampilannya -bahkan samhat namun isinya begitu cacat, aneh, rumit, dan membingungkan. Diri ini begitu sadar diri, sangat-sangat sadar. Maaf. Cacat ini tak dikehendaki sedikit pun. Anugerah atau kutuk, entah apa pun ini. Telah tertanam tekad dalam jiwa dan hati. Mari berjuang menaklukkannya untuk isi bungkus yang lebih baik. Lebih ramah lingkungan. Karena bungkus hanya akan habis jika isinya diambil, kalau isinya tidak diambil dan tidak berguna sehingga tidak ada yang mau mengambil isinya. Maka bungkusnya sama tidak bergunanya dengan isinya. Ingin isinya berguna untuk banyak orang, buatlah isi bungkus dengan baik. Darah penghabisan jadi taruhannya!
Maaf.

Tak mudah memang perjalanan dalam ‘membuat isi bungkus’ yang berguna bagi orang banyak. Sebab bergunalah dulu isi itu untuk bungkusnya sendiri. Lalu bisa berguna bagi yang lain. Jangan yang lain mendapati bahwa isi tak sebaik tampilan luar bungkusnya. Ini tak akan menunjang bungkus sama sekali. Jangan terpaksa membantu bungkus ini, dia tak pernah memaksa. Kasih sayang dan perhatian yang telah tercurah, terima kasih untuk itu tak jemu-jemu terucap. Hanya jika sewaktu-waktu kalian dapati isi yang tak berkenan dalam bungkus ini.

Ku mohon jangan hakimi, jangan ku tuki, jangan dicela, dan jangan berlaku sinis karenanya. Tak mudah membuat resep yang pas untuk sebuah isi yang berkenan bagi bungkusnya sendiri dan orang lain. Ingatan ini hendak mengenang kalian sebagai yang tercinta, bukan yang tersulit pun yang terburuk. Hanya tetap di sana sambil terus mencurahkan kasih sayang kalian dan biar seorang diri saja yang berdiri di garis depan pertempuran. Cukup buat aku merasa dicintai oleh kalian sudah jauh lebih dari cukup buatku. Pengaruhnya bagiku sama besarnya seperti berperang dengan seribu pasukan paling tangguh sejagat raya. Karena bisakah orang mencintai dirinya dan yakin kalau dia dicintai jika ia terus dipersalahkan terus menerus?

Cerpen Karangan: Anna Jessica Dameria
Facebook: Anna Jessica

Cerpen Isi Cacat, Bungkus Wajar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Kecil Di Bawah Hujan

Oleh:
Hujan turun dengan derasnya menghalangi sinar matahari dan membasahi apapun yang dilewatinya. Tak terkecuali halte yang menjadi tempatku berlindung dari hujan. Aku membenci hujan karena hujan dapat menghambat perjalananku

Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu

Oleh:
Perjalananku ke Semarang hampir sampai, sepuluh menit lagi Stasiun Tawang akan tampak. Malam terus bergulir, sepi.. dan kesepian ini mengikutiku, membiaskan perjalananku yang lalu-lalu, meniti galau yang lama ku

Isak Bayi

Oleh:
Tengelamnya senja. Cengkram sunyi malam datang menghantam di tengah hutan rimba. Memekik seketika, binatang anjing bersahut-sahutan bergeming berganti kawin. Nada katak, jangkrik dan cicak serentak menyambung irama. Hampir setiap

Tangisan Terakhirku

Oleh:
Kota tempat aku tinggal di sebut kota Dolar .. katanya kota ini tempat para orang mengejar impiannya .. hmm kalau menurut aku sih itu tergantung nasibnya aja .. cia

Penghisap Cangklong

Oleh:
Duduk di bale-bale bambu, sambil menghisap pipa cangklong. Asapnya ia hembuskan ke udara. Ia pandangi lingkaran asapnya, seperti menari-nari dalam kehidupannya yang tidak jelas entah ke mana tujuan akhirnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *