Jakarta Oxygen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 11 May 2016

Senja mulai melukiskan diri di langit. Pertanda jika waktu kerjaku telah usai. Aku segera melangkah untuk kembali pulang ke rumah. Saat aku akan ke luar dari tempatku bekerja, samar-samar aku mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu padaku.

“Nanti, jika aku bertemu dengan orang itu, tidak akan aku ampuni dia!” katanya yang terdengar sangat mengancam.
“Benar. Dia telah mengganggu pembicaraan kita. Dan gara-gara dia kita jadi kena marah bos.” Ujar suara yang lain.
“Sialan dia! Awas saja nanti.” Tambahnya lagi.

Deg! Seketika darahku berdesir. Aku seakan ingat dengan suara itu. Terbesit kembali suaranya beberapa jam yang lalu. Seketika aku terpelongo, setelah aku ingat orang yang aku peringati tadi pagi. Aku mencoba untuk melihat ke belakang, dan … benar, itu adalah tiga orang yang tadi. Sebelum mereka melihatku, aku harus segera bersembunyi dari mereka.

Braakkk!!

“Aduhhh,” rintihku dan juga orang yang tak sengaja bertabrakan denganku. “Rohan?” sahutnya.
Aku tersentak. Kaget. Mataku mencoba untuk melihat ke arahnya. “Dev?” kataku. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tambahku dengan khawatir. Khawatir jika nanti ketiga orang itu akan balas dendam padaku.
“Kenapa aku ada di sini? Seharusnya aku yang tanya itu ke kamu. Lagian kenapa kamu nabrak aku?” ujarnya dengan sedikit kesal.

Dan ketika itu aku tidak sepenuhnya mendengar apa yang diucapkannya. Mataku masih berkeliling mencari ketiga orang itu. Aku harus siap siaga. “Woy!” sahutnya seraya menepuk bahkuku cukup keras. Aku tersentak. Kaget. Bahkan jantungku serasa naik turun dengan cepat. “Hah apa? Kamu tadi bicara apa?” kataku dengan panik.
Sejenak, Dev memandangiku dengan aneh. Mengernyitkan dahinya. Seakan dia ingin tahu apa yang sedang terjadi padaku. “Kamu kenapa? Kayaknya kamu lagi ketakutan.”
“Ah engga kok. Biasa aja.” Jawabku dengan pandangan berjaga-jaga.
“Kamu kenapa? Ada masalah?”

Saat aku akan menjawab pertanyaannya … “Hei! Itu dia orangnya!” teriak sebuah suara yang tak asing bagiku.
Dengan perasaan tidak karuan. Takut, panik, cemas, keringatan. Aku mencoba untuk berpaling ke belakang. Memastikan jika itu adalah mereka. Ya itu mereka. Mereka sedang berlari ke arahku. Oh tidak!

Tanpa pikir panjang lagi. Aku langsung berlari untuk menjauh dari mereka. “Rohan! Apa yang terjadi? Kenapa kau berlari?” teriak Dev yang jaraknya sudah lumayan jauh dariku.
“Lihat di belakangmu. Ada tiga orang yang akan menghajar dirimu!” balasku di sela-sela pelarianku. Aku tidak tahu selanjutnya. Yang aku tahu, tiba-tiba saja, Dev, sudah berada di sampingku. Dia juga terlihat begitu takut. Beberapa kali dia menanyakan, siapa mereka dan kenapa mereka mengejarku dan dirinya. Aku tidak menjawabnya, aku terus berlari. Dan Dev masih mengikutiku.

Aku tidak tahu harus berlari ke mana lagi. Setelah jalanan beraspal dengan polusi udara, akibat asap-asap kotor yang seakan menjadi payung raksasa. Dev dan aku langsung masuk ke dalam stasiun dan segera masuk ke dalam kereta. Sesekali aku melihat ke belakang, dan tiga orang itu masih mengejarku. Situasi di dalam kereta cukup ramai. Syukurlah, aku dan Dev bia sejenak untuk beristirahat. Keringat-keringat telah melebur bersama dengan sesaknya manusia di dalam kereta ini.

“Sekarang jawab pertanyaanku. Siapa mereka? Dan kenapa mereka mengejar kita?” sahut Dev dengan napas yang masih terasa terengah-engah. “Aku tidak tahu. Tapi intinya ceritanya panjang. Lebih panjang dari kereta ini.” Ketusku yang juga merasa kelelahan. Dev segera merogoh sakunya. Kemudian dia mengambil rok*k dan memantikkan api. Lalu rok*k itu dihisapnya berulang-ulang.
“Kau gila ya. Kenapa kau merok*k di sini?” ucapku padanya. Dev terlihat asyik dengan rok*knya. Dengan santainya dia menghisap, kemudian melepaskan asap rok*k dari mulutnya.

“Memangnya kenapa?” katanya yang seakan tidak peduli denganku.
“Jika nanti petugas kereta datang. Kita akan mati. Aku melihat tiga orang itu masih mengejar kita. Mungkin saja mereka masuk ke dalam kereta yang sama dengan kita.” Jelasku panjang lebar. Tapi sepertinya dia tidak peduli dengan perkataanku. “Ah aku tidak peduli!” ketusnya seraya mengeluarkan asap rok*k dari mulutnya.
“Jangan bodoh! Tempat ini dilarang untuk merok*k!” tegasku.

Dia tidak menjawabnya. Dia terlalu asyik dengan rok*knya. Aku mendengus. Aku biarkan saja dia. Perasaanku masih tidak enak. Karena, khawatir kalau-kalau mereka melihatku di sini. Penumpang yang ada di samping dan depan Dev, seolah merasa terganggu. Mereka terlihat menutup hidung dan melihat ke arah Dev dengan tidak suka. Hingga tak lama kemudian …

“Maaf, di sini dilarang merok*k.” Sahut petugas kereta pada Dev.
“Ah diamlah. Aku tidak peduli.” Ketus Dev yang masih asyik dengan rok*knya. Dia sama sekali tidak melihat dengan siapa dirinya sedang berbicara. Aku yang duduk di dekatnya hanya bisa menepuk jidad. Dev benar-benar cari mati.
“Matikan rok*k Anda. Atau akan kami keluarkan Anda dari dalam kereta ini!” tegas petugas kereta padanya.
“Ah diamlah kau, Rohan. Jangan menipuku dengan berpura-pura menjadi petugas kereta disini. Aku tahu, ini adalah caramu untuk melarangku.” Katanya dengan seenaknya.

Aku menyenggol tubuhnya. “Lihat dia. Dia petugas kereta di sini. Cepat matikan rok*kmu. Atau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.” Ucapku lirih.
“Ahh aku tidak …” ketika itu, Dev langsung melihat ke arah orang yang ada di depannya. Entah kenapa, tiba-tiba Dev langsung cengengesan pada petugas kereta itu. Kemudian dia memegang tanganku erat sekali.

“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?” ketusnya berbisik padaku. “Sekarang, kita harus pergi dari sini. Atau tidak, matilah kita.” Tambahnya.
“Kau jangan konyol.” Tegasku seraya melepaskan tangannya. “Jika kita lari dari sini, kita akan mati.” Sambungku.
Dev beranjak dari duduknya, lalu dia meminta maaf pada petugas kereta itu. Seperti biasa, cengengesan konyolnya itu membuatku gila.
“Hei! Itu dia orangnya!” sahut suara dari balik si petugas kereta itu. Aku meneguk ludah. Oh tidak!

Perlahan-lahan aku beranjak dari tempatku, kemudian berbisik pada Dev. Jika ketiga orang itu telah melihat aku dan dia ada di sini. Dev, masih terlihat cengengesan konyol pada si petugas itu. Namun, langkahnya perlahan-lahan mulai berjalan mundur. Hingga hitungan ketiga, aku dan dia langsung berlari. Gerbong-gerbong kereta kami masuki, tidak peduli dengan teguran para penumpang yang menyalahkan kami. Dan tiga orang itu masih terlihat mengejarku dengan Dev.

Sekarang, tidak ada jalan lagi. Jika aku dan Dev berhenti di sini, maka aku akan mati di sini pula. Aku menggenggam erat tangan Dev. “Kita harus melompat dari kereta ini!” Dev melihat ke arahku. Pandangannya seakan mengisyaratkan sebuah ketidakpercayaan. Tapi pada akhirnya, Dev mengangguk. “Satu, dua, tiga. Lompaaatt!” teriakku sekeras-kerasnya. Aku dan Dev langsung melompat dari kereta itu. Setelah berhasil melompat dari kereta itu, Dev dan aku segera kembali berlari. Tidak peduli dengan penampilan kami yang awut-awutan ini. Dan, ada sedikit luka di tanganku. Itu pun tidak aku pedulikan. Sayangnya, semua itu belum usai. Tiga orang itu juga berhasil melompat dari kereta dan terus mengejarku.

Aku terus berlari, meski Dev terus-terusan bertanya padaku. Hingga tak ku sadari, langkah pelarianku sampai di sebuah hutan. Tempatnya sunyi. Aku sedikit memperlambat langkahku. Memperhatikan tempat ini dengan seksama. Dev yang sedari tadi terus mengoceh, kini terlihat lebih diam. Sayup-sayup, aku mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang bertengkar. Aku mencoba untuk mencari sumber suara itu. Sampai di semak-semak, suara itu terdengar lebih jelas. Aku mencoba untuk mengintip dan sedikit menguping pembicaraan mereka. Terlihat ada seseorang yang sepertinya warga sini sedang berbicara pada beberapa orang dengan pakaian hitam. Siapa mereka? Saat Dev akan bertanya, aku mencegahnya. Dia pun langsung diam. Aku masih penasaran, apa yang mereka bicarakan.

“Kena kalian. Sekarang, kalian tidak bisa lari ke mana-mana lagi.” Sahut sebuah suara yang aku kenali. Ya, suara itu adalah salah satu suara dari ketiga orang yang mengejarku dari tadi. Tapi, kali ini pikiranku sedang fokus dengan apa yang terlihat di depanku. Aku hanya memintanya untuk diam.
Ketiga orang itu, malah mengikuti seperti apa yang sedang aku lakukan. “Ayah?” ketus salah satu orang di sampingku. Aku langsung berpaling padanya.

“Ayah?” kataku. Dia mengangguk. “Mana Ayahmu?” tambahku.
“Itu. Yang memakai kaus biasa.” Jawabnya seraya menunjukkan seseorang yang dimaksudnya.
“Kau tahu, siapa orang yang sedang berbicara dengan Ayahmu itu?” tanyaku lagi.
Dia mengangguk. “Mereka adalah para penebang liar. Dan Ayahku memang sudah sering memergoki mereka. Setiap kali Ayahku melarangnya, orang-orang itu selalu mengiming-imingi Ayahku dengan sejumlah uang. Yang jumlahnya cukup fantastis. Namun, Ayahku tidak pernah mau menerimanya. Bahkan Ayahku, diancam akan dibunuh.”

Deg! Sekarang aku tahu. Aku melihat orang-orang berpakaian hitam itu seolah menodongkan pistol pada ayah, yang tidak aku tahu siapa namanya. “Dia akan membunuh Ayahku. Aku harus menyelamatkannya.” Sahutnya yang hendak berlari. Tapi, aku berhasil mencegahnya.
“Tidak. Ini bukan waktu yang tepat.”
“Lalu apa? Kau ingin melihat Ayahku mati?” tegasnya yang terlihat kesal.

Aku mencoba untuk menenangkannya. “Bukan maksudku seperti itu. Tapi, jika kau menemui Ayahmu sekarang. Kau hanya akan menambah satu nyawa lagi. Sekarang, lakukan apa yang aku katakan. Kau dan beberapa temanmu cepatlah pergi untuk meminta bantuan pada warga sekitar sini, atau panggil saja polisi. Aku dan Dev, akan berusaha bagaimana caranya menyelamatkan Ayahmu.” Kataku panjang lebar. Dia hanya memandangiku. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sebelum akhirnya dia mengangguk. “Baiklah, akan aku turuti perkataanmu. Aku akan memanggil polisi dan meminta bantuan warga sini. Dan aku mohon, selamatkan Ayahku. Karena hanya dia satu-satunya malaikat tanpa sayap yang aku miliki.”

Aku mengangguk. Sementara dia dan kedua temannya langsung pergi untuk meminta bantuan. Setelah polisi menangkap mereka, dan beberapa warga yang datang ke mari untuk mengusir mereka. Aku melihat, dia sepertinya sangat menyayangi ayahnya. Dia memeluk ayahnya, seakan tidak ingin jika ayahnya harus pergi. Ada air mata yang sedikit menepi di sudut mataku. Aku menyekanya, anganku kembali teringat dengan bapak di rumah.

Doorrrr!!

Seketika semua orang yang ada di sini, termasuk aku dan polisi merasa kaget dengan suara tembakan itu. “Ayaaaahh!!!” teriak seseorang. Saat aku melihatnya, ternyata ayahnya telah tertembak. Meski para penebang liar itu telah ditangkap oleh polisi. Polisi langsung bersitegas pada penebang liar itu. Tapi sepertinya, penebang liar itu merasa cukup senang, karena bisa membalas sedikit perasaannya. Para penebang liar itu langsung masuk ke dalam mobil polisi dan pergi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Air mata mulai menitik dari mataku. Ayahnya harus meninggal, meski kondisinya memungkinkan untuk terbebas dari ancamannya. Tiba-tiba, dia menghampiriku dengan kesedihan yang mendalam. Aku juga merasakannya. Dia meminta maaf padaku. Begitu juga dua temannya. Aku mengangguk, aku memaafkannya.

Semenjak itu, aku dan dia yang aku tahu namanya adalah Gio, berdamai. Setiap ada waktu luang, Gio dan kedua temannya selalu mengikuti apa yang aku lakukan. Ya, setiap ada waktu luang, aku selalu mendatangi tempat-tempat yang ramai dengan asap. Baik itu asap rok*k atau asap kendaraan. Kami biasanya akan menempelkan stiker yang cukup besar tentang larangan dan bahaya merok*k. Serta terkadang kami melakukan sosialisasi tentang pentingnya menjaga hutan. Karena, sekarang marak dengan penebangan liar. Akibatnya, kota tua ini penuh dengan polusi bukannya oksigen. Terkadang kami merasa sesak. Kurangnya oksigen, menyadarkan aku dan beberapa orang yang pernah aku beritahu. Bukan hanya itu. Kami juga sering memunguti sampah, membantu para pembersih jalan, dan sesekali berjalan-jalan ke hutan untuk sekedar merasakan setidaknya sedikit oksigen yang masih bisa kami hirup.

Malam itu, ketika semua bintang terlihat berkelap-kelip. Menenggelamkan segala masalah yang sudah berlalu. Aku dan bapak sedang duduk-duduk seraya menikmati gorengan dan teh hangat. Meski, hari sudah malam, namun rasa sesak seolah tidak pernah menghilang. “Mmm, Rohan. Kamu tidak pernah merok*k kan?” sahut bapak seraya menyeruput teh hangatnya. Aku menggelengkan kepala. Bapak tersenyum padaku. “Rohan. Bapak harap, kamu jangan sekali-kali merok*k. Karena hal kecil saja akan menimbulkan dampak yang besar. Dan satu hal yang terpenting, jangan pernah kamu menjadi serangga tanaman. Yang hanya bisanya merusak. Tapi jaga dan rawatlah lingkunganmu. Pasti kamu akan merasakan manfaatnya.” Kata bapak.

Aku mengangguk. Akan aku ingat selalu nasihat bapak. Di sela-sela pembicaraanku dengan bapak, beberapa kali bapak terdengar batuk-batuk keras. Dan ketika aku memperhatikan sekeliling, aku melihat seseorang tengah merok*k. Aku langsung memintanya untuk mematikan rok*knya itu. Tapi orang itu tidak mau menggubris perkataanku. Dan bapak, malah melarangku. Bapak membiarkan orang itu merok*k. Ya, bapakku memang salah satu penderita paru-paru. Karena bapakku adalah seorang sopir angkutan umum. Karena pekerjaannya yang memaksanya untuk terus berada di antara asap-asap yang memenuhi paru-parunya. Hingga kesekian batuknya, bapak terjatuh. Seketika aku langsung menonjok orang yang sedang merok*k itu. Tapi, lagi-lagi bapakku mencegahku. Aku tidak mempedulikan lagi orang itu, yang telah pergi dari hadapanku. Aku segera membawa bapak ke rumah sakit.

Air mata kembali terlahir dari mataku. Tuhan telah mengambil seseorang yang sangat aku sayangi. Bapak telah pergi. Asap itu telah bersemayam sepenuhnya di tubuh bapak. Kini, kota tua ini serasa sepi. Sunyi. Tiada lagi sosok sopir angkutan yang humoris, gendut, baik, bijak, seperti bapakku. Dan anganku kembali teringat, ketika penembakan itu terjadi pada Ayah Gio. Dooorr!! Aku tersentak. Kaget. Aku tersadar dari lamunanku. Tak ku sadari, air mata ternyata telah menitik. Aku hanya diam mematung. Rasanya hidup ini tiada guna lagi. Untuk apa aku lakukan semua tentang pentingnya menjaga lingkungan. Melarang orang untuk tidak merok*k lagi. Tapi nyatanya? Malah bapakku yang harus pergi. Kenapa bukan mereka yang mati? Kenapa malah bapaku! Kenapaaaa?

Braakkk!!

Aku membanting vas bunga yang ada di ruang kerjaku. Aku beranjak dari tempatku bekerja, aku langsung menuju ruangan Dev bekerja. Aku copot larangan tentang merok*k yang pernah aku tulis. Meski dia bertanya, apa yang terjadi padaku. Kenapa aku malah melepaskannya kembali dan memintanya untuk merok*k lagi. Aku tidak menggubris pertanyannya. Lalu, aku buka jendela dan juga pintu-pintu ruangan ber-ac. Termasuk ruangan Gio. Dan sama, dia mengajukan pertanyaan seperti Dev. Dan aku tidak mempedulikannya.

Semua yang aku lakukan percuma. Aku lepas kembali stiker-stiker dan juga poster yang pernah aku tempel. Tempat sampah yang ada di depanku, langsung aku tendang. Dan sampah-sampah itu terlihat berserakan. Sepanjang perjalanan, aku merusak semuanya. Menendang tempat-tempat sampah, menginjak-injak tanaman, tapi semua itu belum cukup untuk membuat bapakku kembali lagi. Kemarahanku benar-benar telah bertahta di hatiku. Dev dan Gio terus saja membuntutiku. Mereka bermaksud untuk mengehentikan semua yang aku lakukan. Tapi aku tidak peduli. Hingga, aku sampai di hutan yang pernah aku datangi dulu, tanpa pikir panjang, aku langsung menyalakan korek api di tanganku.

“Tidak.” Sahut Gio seraya memegang tanganku. Tapi aku tidak peduli. Aku mendorongnya hingga dia terjatuh. Aku kembali berjalan mendekati ke arah semak-semak, dan langsung membakarnya. Perlahan-lahan, api mulai membakar isi hutan ini. Asap-asap tebal terlihat membumbung ke awan. “Rohan! Kau sudah gila!” teriak Gio dengan tegas dan langsung menonjokku. Akibatnya, sudut bibirku berdarah karenanya. Gio kembali menarikku, menatapku dalam. “Apa yang kau lakukan dengan semua ini? Bukankah dulu kau yang pernah mengingatkan aku tentang pentingnya menjaga lingkungan? Dan kenapa kau sendiri malah merusaknya kembali?” sambungnya dengan kemarahan besar padaku.

“Ah aku tidak peduli!” tegasku dengan melepaskan tangannya. “Semua yang aku lakukan dulu adalah sia-sia! Aku sudah berusaha untuk menjaga lingkungan, agar oksigen tetap ada. Tapi nyatanya, semua itu malah membunuh Bapakku! Sekarang biarkan aku hanguskan semua hutan ini. Agar semuanya merasakan apa yang Bapakku rasakan!” tambahku yang langsung kembali merusak hutan ini. Dan saat aku akan membakar kembali hutan ini, seseorang langsung memegang tanganku. “Aku pernah mendengar, Bapakmu berkata padamu ‘Dan satu hal yang terpenting, jangan pernah kamu menjadi serangga tanaman. Yang hanya bisanya merusak. Tapi jaga dan rawatlah lingkunganmu. Pasti kamu akan merasakan manfaatnya.’ Tidakkah kau ingat perkataan Bapakmu? Dan bukankah kau telah berjanji pada Bapakmu?” katanya.

“Siapa kau?”
“Aku Sadera. Aku selalu memperhatikanmu. Memperhatikan setiap kebaikanmu tentang menjaga lingkungan. Karenamu, banyak perubahan positif yang bermanfaat. Dimana kau dulu pernah memasang poster-poster tentang larangan merok*k, di sanalah tidak ada orang yang merok*k lagi. Aku, kau, dan kita semua merasakan manfaatnya. Biarkanlah, kota tua ini penuh dengan oksigen yang kau rindukan itu.”

Gio dan Dev mengangguk, seakan menyetujui perkataan gadis itu. Aku pun tersadar. Aku langsung memeluk temanku dengan isakan. Aku meminta maaf padanya. Dan aku tahu, kini akan aku pastikan, oksigen akan ada untuk kota tua ini.

Cerpen Karangan: Anna Jihan Oktiana
Facebook: Anna Jihan Oktiana

Cerpen Jakarta Oxygen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Proklamator

Oleh:
Memang, dia bukan laki-laki gagah tampan nan rupawan, bukanlah laki-laki berotot besi seperti gajah mada, dia bukanlah sangkuriang yang dapat memindah bendungan air dalam waktu semalam sebelum matahari terbit,

Women, Gossip & Reality (Part 2)

Oleh:
Amel dan Ocha masih menatap tajam wajah Vira, sepertinya mereka berdua mengharapkan penjelasan mengenai perkataan yang keluar dari mulut Maike tadi. Vira tersenyum lalu ia menatap Lila, tidak lama

Penyair dan Musisi

Oleh:
Ga banyak yang bisa gua lakuin di sini….. Semua terasa ga berguna bagi gua, hmm apalagi gua, terasa sangat ga berguna buat semua. Hidup gua terasa sangat hampa, “monoton”

Miss Eum nya Tak Mau Neneng Foto

Oleh:
“Jangan takut… karena rasa takut itu hanya bayangannya saja yang besar, seperti David menang melawan raksasa besar bernama Goliath itu tak akan terjadi tanpa keberanian yang besar!” Jumat 14

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *