Jakarta Tak Seramah Mentari Pagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 17 November 2016

Seperti sebuah jantung dalam tubuh yang bertugas memompa darah dan mngalirkannya ke seluruh tubuh. Itulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan Jakarta saat ini. Sebuah kota metropolitan yang tak pernah tidur, Jakarta menjadi bagian terpenting dalam peradaban manusia Indonesia. Kota ini menjadi pusat perekonomian Negara ini. Kiblat semua industri, dari terkecil, menengah sampai keatas. Dari dunia religi sampai dunia hiburan. Jakarta, bagiku kau memiliki dua sisi. Wajahmu terlihat gagah nan perkasa dengan ribuan gedung-gedung menjulang tinggi yang menggelitik langit. Wajahmu seperti anak yatim nan kelaparan ketika kau perlihatkan pemukiman kumuh nan kotor. Tidakkah kau sadar wahai Jakarta yang agung?, kau menjadi besar karena kedatangan kaum urban.

Menjadi kaum urban atau tetap pada zona aman? Itulah pertanyaan yang terus menghantuiku. Setelah menyelesaikan studyku di Universitas Semarang, sekarang aku harus dihadapkan dengan dunia yang sesungguhnya. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakak aku sudah menikah dan punya anak satu. Dia juga lulusan sarjana ekonomi, tapi dia tidak mau menggunakan ijasahnya dalam berkarir. Meneruskan usaha ayah menjadi pilihan terbaik saat ini. Dengan omset yang tidak begitu tinggi dia hanya cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya sendiri. Dan kelangsungan hidup adik—adik aku kini ada di tanganku.

Setelah dua bulan mengganggur, akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dari sebuah terminal takdirku akan diproses. Sangkakala sudah dibunyikan pertanda perang akan dimulai. Perang antara manusia dan waktu. Perang antara manusia dengan kata sabar. Setelah 8 jam perjalanan aku tiba di terminal Cibitung-Bekasi. Rasa kantuk yang masih bersemayam di mataku membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Alhasil sebuah kardus yang berisi bekal dan dua buah celana untuk melamar pekerjaan tertinggal di bus yang tadi aku tumpangi. Ceroboh, bodoh itulah kalimat kutukan yang tepat. Aku hanya bisa bersedih dan merelakan kepergiannya. Ikhlas menjadi kata terakhir untuk bisa bangkit lagi.

Setelah cukup lama duduk di sudut terminal, kriiiing dering telepon berbunyi. Terlihat nama kakak sepupuku di layar handpondku, dengan nada yang masih pasrah aku pun menjawab telpon tersebut “hallo, mbak?” sahutku memulai percakapan. “alex, kamu sudah sampai mana?” tanyanya dengan nada yang agak panik. “sudah di terminal Cibitung mbak” jawabku. “ya sudah, tunggu disitu saja!” pintanya. Tak lama kemudian, sebuah motor supra berwarna hitam mendatangiku. Terlihat seorang pria dengan setelan jaket kulit dan celana jeans turun dari motor sambil membuka kaca helmnya dan memintaku “ayok naik! Sudah ditunggu mbak. Jannah di rumah”. Seperti kerbau dicocok hidung aku pun mengikuti perintahnya.

Kuda besi yang kami tumpangi melaju dengan kencang sampai mataku tak mampu lagi untuk melihat kedepan. Tamparan angin membuat pipiku sakit dan sesekali sambermata istilah jawa bagi binatang kecil yang sering ada di jalan menghantam mataku. Aku coba untuk mengintip depan sepeda motor, sekedar ingin tahu berapa kilometer per jam motor ini melaju. Aku kaget. Terpampang 100km/jam kecepatan motor ini. Mengetahui itu aku langsung berpegangan pada jaket kulit milik suami kakak sepupuku. Ketika memasuki tikungan terdengar ban berdecit keras. Jantungku rasanya mau copot. Aku hanya bisa merapal doa untuk keselamatan kami berdua.

Sesampainya di rumah, keramahan dan kehangatan keluarga ini mulai terasa. Mereka seperti para peri yang murah hati. “Berangkat jam berapa dari rumah?” Tanya kakakku sembari mengambil tas dan kardus dari tangan aku. “jam 8 kak” jawabku singkat. “kamu kenapa?” tanyanya dengan mata penuh curiga. Lalu aku pun menceritakan kejadian yang tadi aku alami. “ya sudah tidak apa-apa” bujuknya sambil menuntutku ke dalam rumah. Terlihat hidangan sudah tersedia di lantai yang telah dibentangkan karpet. Meskipun sederhana tapi ini begitu istimewa dan mengurangi rasa kecewaku karena telah kehilangan kardus tadi. Selesai menyantap hidangan, aku bergegas mencuci piring dan langsung bersiap-siap untuk istirahat karena besok aku harus dalam keadaan fit untuk mencari lilin harapan di sekitar kota ini.

Mentari yang ramah telah muncul dari persembunyiannya. Tapi aku tak bisa merasakan keramahan mentari pagi di kota ini bahkan merdunya kicauan burung kenari. Hanya ada kebisingan knalpot yang telah membanjiri jalanan kota bekasi. Mungkin karena inilah mentari disini tak seramah di kampung halaman. Asap pekat yang menyembur dari mulut knalpot oplet tua menjadi penyebab marahnya sang mentari. Udara pagi yang panas, pengap dan berasap.
Tiba-tiba sebuah angkutan umum mengagetkanku dengan suara klaksonnya yang cempreng. Biiibbb “ayo, naik bang!” terlihat seorang pria paruh baya dengan hidungnya yang agak miring ke kanan menawariku untuk naik ke angkotnya. Kulihat nomor seri yang ada di depan angkot, lalu aku pun masuk ke dalam angkot dan berkata “depan pasar ya bang”.

Sesampainya di pasar aku turun dan harus ganti angkot lagi dengan nomor 02. Tak berapa lama akhirnya angkot yang aku tunggu datang. Aku pun tidak sungkan-sungkan untuk langsung naik dan masuk ke dalam angkot tersebut. Sampai di perempatan aku harus turun lagi dan berganti angkot untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya aku sampai ke stasiun bekasi kota.

Antrian panjang sudah menjadi pemandangan umum. Setalah mengantri agak lama. Tiba giliranku untuk membeli tiket kereta yang sudah didesain canggih. Wajar kalau masyarakat lebih memilih untuk naik kereta karena tiket masuk yang sudah berbentuk kartu dan harganya pun murah. Tidak hanya itu, kereta yang sudah disediakan pemerintah saat ini sudah sangat bagus, aman dan nyaman meskipun harus berdiri dan bahkan berhimpitan dengan orang lain. Aku pandangi di sekelilingku, semua orang sibuk dengan handphonenya masing-masing. Mereka asyik bermain sosmed sampai lupa nilai sosial yang sesungguhnya. Mereka yang mendapat tempat duduk tidak mau peduli dengan ibu yang sedangg hamil yang berdiri di depannya. “beginilah Jakarta” gumamku dalam hati.

Sesampainya di stasiun Jakarta kota, aku tampak seperti orang bodoh. Maklum pertama kali di Jakarta. Lalu aku berjalan ke luar dari stasiun. Sesampainya di luar, ada seorang gadis di seberang jalan yang melambai ke arahku. Aku perhatikan dengan seksama. Dia tampak cantik dengan balutan krudung warna merah yang dipadu dengan batik khas Pekalongan. Wajahnya Nampak tak asing buatku dan benar saja itu pacarku sendiri. Dia memang sudah lama tinggal di Jakarta. Berhubung aku tidak tahu arah jalan, jadi dialah yang menghampiriku. Dia benar-benar menepati janjinya untuk mengajakku mengelilingi kota ini.

Setelah berkeliling kota menggunakan busway. Aku tiba di sebuah tempat bernama mega kuningan. Aku hanya bisa melongo melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi dan jalanan yang lebar. Aku kagum. Semoga saja gedung-gedung ini bukan menjadi sysmbol dari kesombongan kota ini. Perjalanan kami terhenti di sebuah gedung “the east” karena gedung inilah tempat kami akan melakukan test dan interview. Katro dan ndeso itulah ungkapan untuk kami saat ini. Yah, karena kami memang dari ndeso masuk ke lift aja tidak bisa dan harus dibantu oleh satpam. Agak malu si, tapi cuek ajalah.

Ting, bunyi lift menandakan sudah sampai ke lantai 15. Kami pun ke luar dan bersegera masuk ke sebuah ruangan yang ada di ujung lorong gedung. 2 resepsionis menyambut kami dengan tawa genit dari mulutnya yang tipis. Terasa gigitan semut di pinggangku karena cubitan dari pacarku. “ada yang bisa aku bantu?” tanyanya lembut penuh keramahan. “kami ada panggilan interview disini mbak”. Jawabku sambil menyerahkan cv kami berdua. Lalu kami duduk menunggu untuk bertemu dengan HRD.

Setengah jam menunggu, akhirnya kami mendapat kesempatan untuk interview. Sedikit grogi. HRD mulai bertanya ini dan itu. 10 menit berlalu akhirnya interview selesai. Tahapan selanjutnya adalah psikotes. Kami masuk ke dalam ruangan yang berisi penuh dengan komputer. Disitulah kami mengerjakan psikotes. 2 jam lamanya kami mengerjakan soal yang menerutku tidak begitu penting dan kini kami harus menunggu untuk dipanggil ulang apakah kami layak untuk bekerja atau tidak.

Jam menunjukkan pukul 3 sore. Kami harus pulang. Di depan stasiun kami berpisah. Dia harus pulang naik angkutan umum dan aku harus naik krl dan masih berlanjut naik angkutan sebanyak 3 kali. Sungguh malang nasibku. Ketika sampai di pasar bantar gebang, aku tidak lagi menjumpai angkutan yang akan membawaku sampai depan perumahan. Aku harus berjalan kaki sepanjang 3 km sampai akhirnya aku menjumpai angkutan yang aku cari. Cukup lelah juga berjalan sejauh itu.

Berminggu-minggu pergi-pulang bekasi–Jakarta kota tapi belum juga mendapat pekerjaan yang aku inginkan. Aku jadi teringat akan lagu yang diciptakan iwan fals yang berjudul “sarjana muda” lagu yang menggambarkan seorang sarjana yang mencari pekerjaan untuk bisa menyenangkan hati ibunya. Hati ini sperti tersayat pisau. Sakit. Hanya bisa menahan agar sakit ini tidak terlihat dari luar.

Setalah genap 1 bulan, aku akhirnya memutuskan untuk pulang kampung dan meminta maaf kepada ibu karena tidak bisa menjadi apa yang diharapkan. Aku putus asa. Jakarta tak seramah mentari pagi dan tak seindah kicauan kenari.

Cerpen Karangan: Amir Syamsudin
Facebook: Syamsudin.amir

Cerpen Jakarta Tak Seramah Mentari Pagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Joki Jeruji Besi

Oleh:
Lambat laun ruangan ini makin pengap tak ada hembus angin yang mau menjamanya. Bau keringat dan t*i yang tertimbun bertahun-tahun mematikan hidung hingga tak dapat lagi kugunakan untuk mencium

Selamat Jalan Sahabat

Oleh:
Pagi itu diriku lagi asyik nongkrong di depan tv sambil bbman, tiba-tiba ada pesan masuk di hpku, lalu ku buka pesan itu, ternyata dari sepupuku yang mengabarkan kalau ayah

Khayalan Masa Tua

Oleh:
Di kesunyiaan malam yang pekat tanpa bintang, tiba tiba secercah cahaya lewat di pandangan mata yang kini mulai menua. “ini masa laluku, ketika aku masih menjadi pemuda yang tangguh

Naskah Stasiun

Oleh:
“Aku ini anak dari cucu Tan Malaka!!” Begitulah, dengan semangat yang menggelegak terbayang dari urat lehernya yang menegang saat setiap kali si Turmin, anak umur 12 tahun yang tinggal

Siapa Yang Salah

Oleh:
Namaku Aqilla Az-zahra, biasa dipanggil Qilla. Aku duduk di kelas 2 SMA, pastinya usiaku baru mau menginjak 17 tahun. Usia dimana aku sedang mencari jati diriku, dan masa labilnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *