Jangan Covernya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 February 2019

Mata itu, indra kita yang utama. Dengan mata kita bisa melihat apa yang disebut dengan indah, entah dari objek apapun itu. Tapi ada kalanya mata mengabut, adakalanya apa yang kita lihat tak sesuai dengan kenyataan. Seperti fatamorgana misalnya. Tentu hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita, tentang kebiasaan menilai seseorang dari penampilan. Menilai orang dengan apa yang terlihat dengan mata, berfikirlah dengan luas, lapangkanlah apa yang menjadi jalan fikiran kita. Jadikan hati sebagai pembatas baik dan buruk. Karna kita adalah manusia

Sore ini sangat melelahkan dengan apa yang aku kerjakan sedari tadi pagi. Tapi rasa lelah, tak pernah mengalahkan apa yang aku inginkan. Untuk mahasiswa fakultas ekonomi sepertiku, tentu bukan hal yang aneh jikala aku harus selalu bergelut dengan waktu. Apalagi aku harus pandai membagi waktu. Untuk bekerja tentunya. Ya, karna aku masih membutuhkan dana untuk biaya kuliah.

Aku masih duduk di pojokan kursi dekat pintu rumah makan langgananku, sembari meminum kopi yang aku pesan sedaritadi. Terlihat suasana yang sangat sepi di sini, hanya segelintir orang yang berlalu lalang keluar masuk pintu rumah makan ini. Mungkin untuk membeli makan atau yang lainnya. Entahlah, aku juga tak begitu memperdulikan mereka. Dan
Seketika pandanganku mulai fokus kepadanya.

“mbak, aku mau beli nasi sama ayam lengkap sama sayur dan air soupnya. Tolong bungkuskan saya 2 saja mbak” perkataan yang kencang dari seorang lelaki yang berpenampilan tak biasa. Dengan lengan dan lehernya penuh dengan goresan tinta tato yang berwana, dengan rambut panjang yang dicat kuning kemerahan diikat sembarangan olehnya.
Lelaki itu sepertinya buru-buru, dia terus memutarkan pandangannya, toleh menoleh ke arah pintu keluar dengan gaya berdiri yang menunjukan kepribadian yang kasar sepertinya.

Seorang pelayan perempuan pun menghampiri dengan senyuman yang tercampur kaku dalam gerakan tubuhnya. Mungkin karena penampilan lelaki yang harus dilayaninya. mungkin karna itulah dia agak ragu-ragu untuk berbicara.

“Em.. pake sambel gak pak?” pelayan itu bertanya tanpa menatapnya. Melainkan, hanya tertunduk memfokuskan pandangannya ke arah buku orderan yang dia bawa.
“enggak usah” dengan sigap dia menjawab. Dilemparkannya nada agak tinggi dia melontarkan apa yang dia inginkan dengan wajah tanpa senyum sedikitpun. Si pelayan pun kaget karna ucapannya, terlihat dari respon prilaku spontan membalikan badan meninggalkanya untuk menyiapkan apa yang dia pesan.

Selang beberapa menit kemudian.
“mbak, cepat!!” nada perintah dengan sinyal kuat dari orang yang berkepribadian kasar. Sepertinya semua orang akan berfikiran sama sepertiku. Tentang penilaianku terhadap dia si pemarah, tak sabaran, garang dan sopan santun yang tak digunakan, dan menakutkan.
“iya iya, sebentar” pelayan itu pun berlari ke arahnya membawa apa yang dia pesan.
“berapa?”
“duapuluh delapan ribu pak”
Dia pun membayar dengan jumlah tagihan yang di sebutkan. Dia meninggalkan pelayan itu tanpa ucapan terimakasih sama sekali. Aku hanya bisa memperhatikan, dengan perasaan sedikit kesal karna prilaku yang dia lakukan. Memang orang yang tak tau berterimakasih, ocehku dalam hati.

Aku pun memutuskan untuk beranjak pergi. Karna perhitungan waktu yang mulai masuk hitungan yang aku tentukan. Aku berjalan keluar setelah membayar apa yang aku pesan. Melewati pintu dengan langkah perlahan merasakan keletihan seluruh badan yang sedari tadi tak berhenti beraksi.

Aku sudah berada di depan, tempat dimana kendaraan miliku aku parkirkan. Aku pun kembali terdiam melihat lelaki yang menjengkelkan di rumah makan tadi. Dia terlihat masih membawa makanan yang tadi dia beli. Tapi, kelihatannya barang yang dibawanya bertambah, tangan kiri yang memegang nasi, dan yang kanan seperti membawa minuman botol kelihatannya. Dia berjalan dengan terburu-buru. Di mengarah ke pertigaan jalan di depannya.

Dia berhenti! Entahlah apa yang dia lakukan. Berdiri di depan nenek tua yang duduk dengan pakaian serba kusam. Sepertinya dia berbincang dengan nenek tersebut, Dan seperti yang aku lihat dia memberikan nasi dan minumannya ke arah nenek yang entah siapa gerangan. Nenek itu terlihat sangat gembira karna nasi yang dia berikan, terlihat dari apa yang dia gambarkan dari raut wajahnya.
Tanpa menunggu waktu lama dia pun berpamitan untuk pergi ke nenek itu.
Neneknya pun seperti sangat berterimakasih atas makananya. Tanpa basa basi Lelaki itu pun membalas dengan senyum dan meninggalkannya.

Oh tuhan, benar benar mengejutkan, tak pernah disangka, ada setetes embun terhalang lingkungan yang kotor. Seperti tempat indah yang tersembunyi di kawasan serba kumuh dan terabaikan. Kenyataan membuktikan, Pelajaran hari inilah yang jadi panutan. Dimana seorang lelaki yang garang ternyata berhati suci. Dimana orang yang dinilai buruk malah lebih baik dari yang menilainya.

Penampilan boleh kelihatan dengan indra mata, tapi itu tak menjamin baik dan buruk akan hati seseorang.
Biarkan cerita demi cerita mengalir berdampingan antara dosa dan pahala, baik dan buruk biarkan tuhan yang menghakimi setiap perbuatan.
Karna sesungguhnya, kita punya pertanggung jawaban perseorangan dengannya.
Dia sang pencipta.

Cerpen Karangan: Moch Wandi
Blog / Facebook: Moch wandi

Cerpen Jangan Covernya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Tengah

Oleh:
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Abdul Rahim, yang dikampungnya kurang begitu popular sedang berbincang dengan seorang temannya, di kampung mereka teman abdul Rahim ini kurang begitu di suka. Abdul

Sekardus Uang Cinta Untuk Lala

Oleh:
Pagi itu Selasa 20 Juni 2017. Bak petir mengelegar, gempa 9.9 skala ricter menguncang dasyat Negeri Bencoolen yang notabene merupakan pagi yang sejuk, meriah, aman, rapi, kenangan. Akronim dari

Maaf Untuk Masa Lalu

Oleh:
Dasar bodoh! Pikirku. Orang-orang kaya selalu menambah tinggi pagar mereka, sedangkan apa yang terjadi dengan sekolah ini? Apakah tak ada lagi barang berharga tersisa di sini? Mengapa rendah sekali

Bagian Yang Hilang

Oleh:
Kini aku memahami satu hal, ketika sesuatu yang merupakan bagian dari dalam diri itu hilang, rasanya ini hanya lelucon.. rasanya ada orang asing yang mengenalmu di suatu tempat kemudian

Azizah Dan Pemulung Kecil

Oleh:
Malam ini cuaca cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Bulan dan bintang terlihat sangat indah. Cahayanya cerah menyinari. Secerah hati Azizah saat ini. Dari balik jendela kamarnya, Azizah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *