Jangan Gusur Panti Kami

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 6 September 2020

Seorang laki laki dengan rambut panjang terikat, terbangun dari tidur lelapnya. Diambilnya sepuntung rokok dari saku bajunya. Disulut dan dihisapnya sepuntung rokok itu di dalam kamar kostnya yang seperti kapal pecah. Bukannya malas, tapi itu karena perjuangannya untuk menyelesaikan skripsinya. Wajar saja, mahasiswa tingkat akhir kan sebagian besar seperti itu.

Sepuntung rokok itu habis dihisapnya tak kurang dari sepuluh menit. Bergegas ia mengenakan jaketnya dan pergi keluar menggunakan vespa tuanya. Pikiranya kacau, dipenuhi deadline tugas dari kantor dan juga skripsinya yang terus saja mendapat revisi. Walaupun dia belum lulus, tapi dia sudah kerja paruh waktu sejak semester awal kuliahnya. Maklum lah, dia bukan dari keluarga berada.

Vespa tua itu berhenti di salah satu tempat parkir di depan gedung sate. Dilepasnya helm dari kepala, dan berlari ia terburu buru.

Nampak tak jauh dari gedung sate, ada seorang wanita yang sedang duduk di warung kaki lima sembari ditemani es kelapa muda di mejanya. Resah, nampak dari wajahnya yang kelabu, entah apa yang sedang dipikirkannya. Tak berapa lama, seorang lelaki kumal dengan badannya yang kurus datang menghampiri perempuan itu. Disambarnya sedotan dan es kelapa muda wanita itu.

“Kamu dari mana saja, aku sudah satu jam menunggumu disini.” Gerutu wanita itu.
“Maaf saya lupa kalau ada janji denganmu.” Jawab lelaki itu dengan entengnya. “Ada urusan apa?” lanjut lelaki itu.
“Ada tugas baru untukmu.”
“Ah sial, yang kemarin saja belum selesai sudah ada tugas lagi.”
“Siapa suruh kau tunda tunda boy.” Balas wanita itu. “Tugasnya sudah saya kirim ke emailmu.” Lanjut wanita itu.
“Oke lah,” saut lelaki itu. “makasih traktirannya, saya pergi dulu.” Lanjut laki laki itu.
“kemana?” Tanya wanita itu.
Tanpa menjawab Laki laki itu langsung pergi meninggalkan wanita itu. Bergegas ia mengenakan helm dan dikendarainya vespa tua itu. Berjalan berlenggak lenggok menyelusuri jalanan Bandung, hingga akhirnya berbelok memasuki gang sempit di pinggiran kota Bandung.

Berhentilah ia di depan bangunan tua, salah satu gedungnya memiliki tembok yang miring dan hampir rubuh. Di depan bangungan itu terpampang jelas tulisan PANTI ASUHAN MUTIARA. Di tempat inilah dia biasa menghabiskan hari kalau sedang ada banyak masalah.

Dari dalam panti terdengar suara motor yang nyaring dan khas bunyinya. Anak anak panti sudah hafal suara motor siapa itu. Bergegas mereka keluar, dan disambutnya laki laki pengendara motor itu dengan riuhnya. Seakan akan dia adalah seorang pejabat yang datang berkunjung ke panti itu. Padahal dia hanyalah seorang Boy Harahap, mahasiswa abadi pengharap lulus skripsi.

Boy yang turun dari motornya langsung dikerumuni oleh anak anak itu. Mereka memanggil dan mengelu elukan namanya. Boy menanggapinya dengan ramah. Mereka memang sudah akrab sejak lama, bahkan sebelum Boy memiliki pekerjaan paruh waktunya. Boy mengenal tempat ini saat berkeliling mencari kost kostan, waktu pertama tiba di Bandung.

Disana ia bermain dan terkadang mengajar anak anak itu, dengan sabar dan tanpa mengharap balasan apapun. Dan setiap kali ia datang kesana, ia selalu teringat adik adiknya di rumah. Adik yang sudah lama tidak ia temui, semenjak ia pindah ke Bandung. Walau tak dibayar ia tetap senang, karena dengan bermain bersama mereka dia bisa hanyut dalam ketenangan dan terbebas dari segala jenuh yang melanda.

Sebenarnya Boy juga ada maksud lain tiap kali berkunjung kesana. Marlina, dia adalah maksud lain Boy. Marlina adalah salah satu suster di panti asuhan itu, pembawaannya yang lembut dan parasnya yang ayu menawan membuat Boy jatuh hati dibuatnya. Dia juga yang membuat Boy sabar tiap kali skripsinya direvisi oleh sang dosen. Bagaimana tidak, Boy selalu menyemangati dirinya dengan kalimat “Semangat Boy, Marlina yang ayu itu menunggu dipersunting olehmu.”
Tapi kali ini ada yang aneh dengan Marlina, dia kelihatan resah tak seperti biasanya.

“ada apa denganmu?” Tanya Boy.
“Eh ada mas Boy to, ndak apa kok mas.” dijawabnya dengan terbata bata.
“Jujurlah, kau kan sudah kenal lama denganku.” Pinta Boy.
Dengan menangis Marlina menjawab. “Yayasan akan menutup panti ini mas.”
“Kenapa?” Boy terkejut dibuatnya.
“Yayasan sudah tak sanggup lagi membiayai panti ini mas, dan rencananya minggu depan panti ini akan segera digusur.” Marlina semakin tersedu sedu.
“Jangan menangis, aku akan berusaha membantu sebisaku.” Dijawabnya dengan sedikit keraguan.
“Terima kasih mas.” Dipeluknya Boy dengan erat. Wajah boy merah padam, dan tak bisa berkata apa apa.

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Boy yang sudah menyelesaikan skripsinya, dengan semangat bergegas menuju ke kampusnya. Dengan yakin ia berkata “pasti tak akan direvisi lagi.”

Dipresentasikan materi skripsinya itu dengan penuh keyakinan dan ketenangan. Dan pada akhirnya, setelah diselesaikannya presentasi itu. Para dosen hingga professor berdiri dan bertepuk tangan, bahkan ada juga yang berkata “sungguh luar bisa presentasimu, Nak.”

Impian Boy untuk segera wisuda akhirnya tercapai. Dengan bangga ia menelepon ibu dan adik adiknya di kampung. Tak lupa ia juga menelepon Marlina, dengan sedikit modus tentunya. Selesai sudah satu masalah yang menerpanya.
Deadline pekerjaan Boy yang semakin dekat, tak dijadikannya masalah. Semangatnya meningkat setelah ia berhasil menyelesaikan skripsinya itu.

Digarapnya artikel itu dengan penuh semangat, sesuai dengan tema yang diberikan kepadanya. Apalagi tema tersebut sesuai dengan masalah yang dihadapinya, tentu cepatlah selesainya. Memang pekerjaan Boy adalah sebagai seorang penulis artikel di salah satu media online. Tulisannya memiliki kekhasan dan benyak pembaca yang menggemarinya.

Dan tepat seminggu setelah hari itu, Pihak yayasan benar benar akan menggusur panti itu. Buldoser sudah siap dan terparkir tepat di depan bangunan panti itu. Boy juga tak mau kalah, sedari pagi dia bersama beberapa suster dan anak anak panti, sudah bersiap siap menghadapi buldoser beserta pihak yayasan. Dibuatnya kata kata penolakan dengan kertas manila. Di depan gang pun sudah terpasang mmt, yang berisikan penolakan terhadap penggusuran itu.

Pihak yayasan sempat mengajukan perundingan dan mengingatkan mereka, tapi niat mereka sudah bulat. Panti ini harus tetap dipertahankan, banyak kenangan yang tersimpan di dalamnya. Warga panti yang tetap ngotot untuk mempertahankan tempat itu, tak kalah dari semangat pihak yayasan yang ngotot untuk menggusur panti. Hingga akhirnya tak terjadi titk temu diantara mereka.

Boy dan warga panti yang sudah pupus harapan hanya mampu bergandeng tangan di depan panti, dengan air mata yang mengalir deras di pipi mereka masing masing.

Tanpa diduga, datang segerombolan orang yang membawa mmt berisi penolakan terhadap penggusuran panti. Mereka adalah para pembaca artikel maupun dosen Boy. Mereka bersatu, bergandeng tangan, dan berseru “JANGAN GUSUR PANTI KAMI.”

Cerpen Karangan: AstrX
Blog: monocosmic.blogspot.co.id

Cerpen Jangan Gusur Panti Kami merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan

Oleh:
Suara lagu di komputerku menggema di kamarku, lagu dari judika aku yang tersakiti Di luar Suara burung bersiul di samping jendela kamarku, embun pagi jelas menyisakan butir air di

Dream

Oleh:
Aku menatap tubuh itu terbaring nampak nikmat dalam balutan hangat selimut. Setelah beberapa menit melihatnya terlelap, aku lalu berjalan kembali menuju tubuhku. Namaku Setiadi, panggil saja adi. Sejak kecil

Memandang Lebih Dalam

Oleh:
Rintikan hujan terus berjatuhan menerpa atap serta aspal jalanan. Ditambah dengan kencangnya angin yang bertiup, membuatku hanya bisa diam dan duduk manis dalam lindungan halte kecil depan sekolah. Dengan

Selamat Jalan Pak Dudung

Oleh:
Ah, tak ada yang bisa kugambarkan secara detail tentangmu teman paling lucu, paling cengeng dan paling menjengkelkan. Pak Dudung entah kapan kita bertemu di sekolah ini dan entah kapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *