Jawaban Dari Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 2 June 2018

William Alfensha Alexander. Atau biasa dipanggil Willi. Cowok belasteran Inggris, yang kuliah di kampus Jaya Kusuma. Willi mengambil jurusan penerbangan, yaitu akademi pilot. Papanya adalah seorang pilot terkenal Indonesia. Akan tetapi papanya meninggal saat ia masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Peristiwa naas menimpa papanya ketika melakukan penerbangan dari Indonesia menuju Spanyol. Dan tanpa sepengetahuan kru pesawat atau pihak bandara dan para penumpang, ada seorang laki-laki yang membawa bom menaiki pesawat. Lalu laki-laki itu berhasil meledakkan bom hingga pesawat hancur berkeping-keping. Semua kru dan penumpang pesawat tidak ada yang selamat. Tak terkecuali papa Willi. Willi sangat terpukul dengan kepergian papanya. Seorang pilot dan juga pahlawan di keluarganya. Yang menginspirasi dan memberi semangat Willi dalam menjalani hidup. Sehingga membuat Willi tak akan pernah memaafkan si pelaku. Yang status pelakunya adalah seorang muslim. Ia sangat membenci muslim. Ia menganggap muslim adalah penghancur dunia. Willi berpendapat, agama yang dipercayainya lebih baik dari Islam.

Di sisi lain ada teman satu kelas Willi, yang berlatar belakang jauh berbeda dengan Willi. Islamadina Hevanila. Teman-temannya biasa memanggilnya Heva. Ia adalah keturunan Turki. Kakeknya adalah seorang sejarawan Turki. Agama Islam Heva sangat kuat. Ia tak pernah ketinggalan shalat fardhu di masjid. Dan rajin melaksanakan shalat sunnah, zikir, dan amalan baik lainnya.

Suatu ketika, Heva sedang bersosialisasi tentang Islam. Heva menyerukan bahwa Islam adalah agama indah. Di mading kampus pun Heva juga menempelkan brosur tentang Islam Cinta Damai. Saat melihatnya, Willi membantah tentang anggapan Heva. Willi berkata semua omongan Heva tentang Islam itu bohong, dengan alasan Heva hanya mengambil keuntungan agar semua orang bangga dengan Islam.

“Agama yang dibangga-banggakannya itu, hanya sekelompok pembunuh!” Ucapan itu keluar dari mulut Willi tepat di depan Heva.
“Kamu kok sampek ngomong gitu? Dasar nggak punya perasaan!” Heva membantah Willi.
“Yang nggak punya perasaan itu aku, atau agama kamu?”
Heva hanya menatap Willi.
“Agama kamu… muslim, yang menjauhkan aku dari orang yang paling kusayang… pahlawan yang memberiku semangat untuk mengejar impian, seseorang yang sangat berarti dalam hidup aku!”

Hening kemudian…

“Aku turut prihatin tentang kepergian papa kamu 3 tahun yang lalu. Memang pelakunya adalah seorang muslim. Sama seperti aku. Tapi apa mungkin aku dan pelaku itu sama? Apa mungkin suatu saat nanti aku akan meledakkan pesawat seperti yang dia lakukan? Dan aku meledakkan pesawat yang kamu piloti, lalu aku ikut mati dengan kepuasaan surga?Semua manusia… bahkan yang berbeda agama pun pasti punya salah, kadang-kadang mereka juga lupa bahwa Tuhan sedang mengawasi mereka. Dan mereka jarang tau, apakah mereka sedang di jalan Tuhan atau di jalan setan.”
“Ternyata ngomong sama kamu cuma basa-basi aja. Mending aku pergi, dari pada dengerin omongan yang nggak bermutu.”

Willi pergi dari hadapan Heva. Akan tetapi Heva memegang lengan Willi untuk menahannya. Willi melihat lengannya dipegang Heva.

“Kamu nggak malu apa sama tutup kepala kamu? Main pegang-pegang aja. Katanya di agama kamu, cewek yang megang semua anggota tubuh cowok yang bukan muhrimnya itu nggak boleh? Jadi agama kamu cuma bohong kan? Dasar munafik!”
“Ini tuh jilbab, bukan tutup kepala. Agama aku nggak kayak gitu. Kamu aja yang nggak ngerti!”

Willi berpaling dari Heva dan melanjutkan perjalanannya.

“Suatu saat nanti aku akan menyadarkan kamu, bahwa Islam tidak seperti yang kamu tau!” Tekad Heva dalam hati.

Willi berjalan keluar dari perpustakaan kampus, dengan seumbruk buku dalam genggamannya. Willi termasuk cowok kutu buku. Dia juga suka menulis artikel. Saking banyaknya buku yang ia bawa, tiba-tiba semua buku itu terjatuh. Dengan sedikit repot Willi memunguti buku-buku itu.
Melihatnya, Heva langsung menolong. Willi memandang Heva dengan tatapan sinis.

“Ngapain kamu? Nggak usah cari muka di depan aku!” Ucap Willi.
“Siapa yang cari muka di depan kamu, akukan niatnya nolong!”
“Aku nggak perlu bantuan kamu!”
“Tapi aku perlu bantu kamu!”
Heva tersenyum pada Willi.
“Terserah!”
Akhirnya Heva membantu Willi membawakan sebagian buku-buku itu.

Sesampainya di tempat duduk lorong kuliah.
“Kamu hobi baca?”
“Bukan urusan kamu!” Jawab Willi jutek.
“Kalo nulis?”
“Dari pada di sini gangguin aku, mendingan kamu pergi!”
“Maaf, aku bakal pergi!”
Heva pergi meninggalkan Willi.
“Hati aku kok jadi ngerasa bersalah gini ya. Ah… apa sih yang aku pikirin.”
Willi merenung sejenak.

Keesokan harinya…
Secara kebetulan Willi dan Heva berangkat kuliah bersama.
“Hai, Will!”
Willi hanya menatap tanpa ekspresi.
“Kebetulan ya kita barengan!”
“Aku nggak peduli!”
“Tapi aku peduli!”
“Kenapa sih kamu selalu deketin aku? Padahal aku udah jahat sama kamu!”
“Semua kejahatan, nggak harus dibalas dengan kejahatan. Tapi dibalas dengan sebuah kebaikan.”
“Tapi kalo kejahatan itu tetep jahat, bahkan semakin jahat… apa kamu tetep mau membalasnya dengan kebaikan?”
“Kejahatan itu selalu kalah oleh kebaikan. Meski kejahatan itu sebesar 10 ribu gunung, atau 20 ribu lautan. Kejahatan akan musnah oleh satu kebaikan.”
“Why?”
“Karena… em, coba kamu pikirkan sendiri, pasti nemu jawabannya!Aku ke perpus dulu ya, bye!”
Heva menjauh dari Willi.
Kemudian Willi memikirkan pertanyaannya tadi.

Hari ini adalah hari Minggu, dimana Willi dan keluarganya beribadah ke gereja. Setelah berdoa dan ibadah selesai, Willi masih terduduk dalam bangku panjang gereja. Suasana mulai sepi.
“Will, kamu nggak pulang?” Tanya mama Willi.
“Bentar lagi ma, Willi mau bicara dulu sama Tuhan.”
“Ya sudah, mama balik dulu!”
Willi tersenyum pada mamanya.
Beberapa saat Willi memejamkan matanya.
“Tuhan, aku adalah manusia biasa. Aku tak tau, yang kulakukan selama ini, salah atau benar. (mulai membuka matanya) Apakah aku pantas untuk membencinya?Dan kenapa dia selalu ada di dekatku? Padahal akutak pernah berbuat baik kepadanya. Aku hanya ingin petunjuk-Mu. Aku akan mendengarkan-Mu, setiap saat.. Tuhan.”
Setelah itu Willi keluar, dan berniat mencari taksi lewat. Tiba-tiba pandangan Willi mengarah pada seorang anak perempuan yang kebingungan. Willi menghampiri anak perempuan itu.

“Hei, ada apa?”
Anak itu hanya diam.
“Nama kamu siapa?”
Anak itu tetap diam.
“Aku akan membantumu, tapi beritau siapa namamu!”
Lalu anak itu menyebutkan namanya dengan bahasa isyarat. Ternyata anak perempuan itu bisu.
Willi tak tau menau tentang bahasa isyarat. Akhirnya Willi hanya tersenyum, dan pura-pura mengerti.
“O… itu namamu. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Anak itu menunjuk mainannya yang tergeletak di tengah jalan. Sedangkan kendaraan lalu lalang dengan cepat.
“Aku ambilkan ya?”
Anak itu menggeleng.
“Tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku pasti bisa mengambil mainanmu. Jadi tunggu di sini!”
Anak itu memegangi baju Willi. Tapi Willi tetap bertekad mengambil mainan itu.
Mainan itu kini ada di tangan Willi. Ia menoleh ke arah anak tersebut.
Anak itu melunjak-lunjak menunjuk arah belakang Willi. Willi terlihat kebingungan. Dan dengan cepat…

Willi membuka matanya. Terlihat infus melilit tangan kirinya. Selang oksigen menjaga nafasnya. Perban tertempel pada dahinya. Pandangannya terarah pada seorang perawat di sampingnya.

“Halo, mas Willi! Apakah keadaan anda sudak terasa lebih baik?”
Willi mengangguk.
“Apakah anda membutuhkan sesuatu?”
Willi menggeleng.
“Saya akan memberitau dokter bahwa anda sudah siuman. Permisi!”
Beberapa saat dokter masuk, diikuti oleh mama dan kakak laki-laki Willi.
Dokter memeriksa keadaan Willi. Berbincang dengan mama Willi. Setelah itu keluar.

“Kamu nggak papakan sayang? Kamu baik-baik ajakan? Mama khawatir sama kamu.”
“Will, gimana bisa kamu kecelakaan? Memang setelah dari gereja, kamu ke mana?” Tanya kakak Willi.
“Mama jangan khawatir, aku baik-baik aja. Setelah dari gereja aku nggak kemana-mana. Mungkin ini udah rencana Tuhan.”
“Tapi tetep mama khawatir sama kamu. Mama nggak mau kehilangan orang yang mama sayang untuk kedua kalinya.”
“Willi minta maaf ma, Willi udah buat mama khawatir!”
Mama memeluk Willi.

Beberapa hari kemudian Willi pulang dan beraktivitas seperti biasa. Akan tetapi luka di dahinya masih tetap harus diwaspadai.

“Willi, (Willi menoleh) aku dengar kamu kecelakaan, gimana keadaan kamu?”
“Baik-baik aja!”
“Luka kamu masih sakit?”
“Kalo luka ya pasti sakitlah, Hev!”
Heva menatap heran Willi.
“Kenapa?”
Heva tersenyum.
“Baru kali ini kamu manggil nama aku.”
“Ya… manggil seseorang harus pake namakan.”
“Tapi kamu biasanya manggil aku dengan sebutan ‘eh’ atau ‘kamu’!”
“Oh, ya… kamu tau aku kecelakaan dari siapa?”
“Dari kakak kamu!Eh…”
“Kak David?”
“I… iya!”
“Kak David kok bisa kenal kamu? Dan tau kalo kamu itu temen aku?”
“Em…. Eh, aku ada kelas tambahan, aku masuk dulu ya!”
Setelah Heva pergi.
“Tumben tu anak ada kelas tambahan. Kayak ada yang disembunyiin nih.”

Pulang kuliah Willi langsung menemui kak David. Kak David 2 tahun lebih tua darinya.

“Kak, kakak! Kak David!” Teriak Willi.
“Ada apa sih Will, manggil-manggil kak David?” Tanya mama.
“Kak David mana ma?Aku cuma pengen ngomong sesuatu sama kak David!”
“Ada apa Will, teriak-teriak segala?”
“Kak, kakak kenal Heva dari mana? Sejak kapan kakak tau tentang Heva?Perasaan aku nggak pernah cerita tentang Heva, tentang cewek aja nggak pernah, apalagi tentang Heva.”
“E… itu…!!!”
“Kak David! Willi mohon, kak David jujur sama Willi!”
“Tentang Heva, dia itu pendonor darah kamu!”
“Maksudnya kak?”
“Saat kamu kecelakaan, kamu kehabisan banyak darah. Dan kamu butuh pendonor darah. Mama sama kakak bingung, soalnya darah mama sama kakak nggak cocok sama kamu. Dan stok darah di rumah sakit nggak ada yang cocok sama kamu. Tanpa mengulur waktu panjang, kakak minta bantuan sama temen-temen kakak. Tapi darah mereka juga nggak ada yang cocok sama kamu. Selang beberapa waktu, ada yang WA kakak. Dia itu Hafiz, kakaknya Heva. Dia bilang darahnya nggak cocok sama kamu, tapi darah adiknya, Heva cocok sama kamu. Dan Heva siap donorin darahnya buat kamu. Dari situlah kakak kenal Heva.”
“Apa? Kakak sembunyiin ini dari aku? Tega-teganya kakak ngelakuin ini sama aku!”
“Bukan Will, bukan maksud kakak begitu. Tapi Heva sendiri yang minta kalo kamu nggak boleh tau tentang ini!”
“Bisa-bisanya tu cewek!”
“Sekarang kamu taukan yang sebenarnya, alangkah baiknya kalo kamu berterima kasih sama Heva!” Saran mama
“Huh…. Oke aku akan berterima kasih sama Heva sekarang juga!”
Willi langsung pergi menuju rumah Heva.

Sesampainya di sana…
“Permisi (thok, thok, thok)”
“Iya, siapa?” Membukakan pintu.
“Em, saya mau cari Heva!”
“Oh, pasti kamu Willikan, adiknya David?”
“Iya kak, dan kakak pasti kak Hafiz, kakaknya Heva dan temennya kak David?”
“Iya!Ayo masuk! (Willi pun masuk) Tunggu sebentar ya kakak panggilin dulu Hevanya!”
Beberapa saat Heva datang. Heva kaget melihat Willi terduduk manis di sofanya.
“Willi! Kamu ngapain ke sini? Nggak biasanya kamu kesini!”
“Aku cuma pengen ngomong sesuatu sama kamu!”
Heva duduk di samping Willi.
“Aku tau, kamu kesini pasti ngomongin masalah tentang donor darah itu kan? Pasti kak David kamu paksa jujur!”
“Kamu tu gimana sih, nggak bilang kalo kamu yang donorin darah buat aku!”
“Kebaikankan itu nggak untuk disombongkan!”
“Iya, tapi kebaikan perlu dibalaskan!”
“Akukan nggak minta balasan apapun sama kamu!”
“Tapi aku maunya membalas kebaikan kamu!”
Heva tersenyum.
“Sejak kapan kamu foto copy bahasa aku?”
“Sejak aku sadar bahwa aku salah telah membenci kamu!”
“Jadi selama ini kamu benci sama aku?”
“Yang pentingkan aku jujur, nggak bohong kayak kamu!”
“Kamu ngejek aku?”
“Enggak, itu kan kenyataan!”
“Dasar!!!”

Sejak saat itu, Willi berteman baik dengan Heva. Dan Heva merasa lebih baik setelah berteman dengan Willi. Mereka sering mengerjakan tugas bersama. Pergi kadang-kadang bersama. Willi akrab dengan kak Hafiz. Begitu juga Heva, akrab dengan kak David. Kak David berkata
‘baru kali ini Willi dekat sama cewek, bahkan cewek itu diajak ke rumahnya dan dikenalkan dengan kakaknya. Dan sekarang menjadi akrab dengan kakaknya. Soalnya sejak kepergian almarhum ayahnya, Willi tak pernah mempedulikan tentang masalah cewek, perasaan, dan juga cinta.’

“Tuhan, sekarang aku tau jawaban dari-Mu. Bahwa aku tidak pantas untuk membencinya. Meskipun dia berbeda denganku, aku harus menghargai dan menghormatinya. Dia telah berbuat baik padaku, jadi aku juga harus berbuat baik padanya. Dan sekali lagi, dia benar, kejahatan seburuk apapun akan musnah dengan sebuah kebaikan. Terimakasih Tuhan, Engkau telah menyadarkanku meski aku harus kehilangan beberapa tetes darahku. Tapi aku menerima darah kebaikan dari-Mu, melalui seseorang yang tak pernah kutau. Segala puji bagi-Mu Tuhan.” Syukur Willi saat di gereja.

Lagi-lagi Willi selalu yang terakhir keluar dari gereja. Sekarang Willi lebih cerita, seperti saat mendiang ayahnya masih hidup. Ia lebih menatap ke masa depan dan meninggalkan kesedihan masa lalunya.

Cerpen Karangan: Binti Lestari
Blog / Facebook: Lestari Jiyong

Cerpen Jawaban Dari Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidup Itu

Oleh:
Di sebuah Kecamatan Kedaton tahun 2000, tepatnya di kota kecil “Rejomulyo,” hiduplah seorang anak yang bernama Bedil. Ia merupakan seorang anak pertama yang kerap kali manja dan cukup bandel.

Kaulah Cinta Sejatiku (Part 1)

Oleh:
Bekerja sebagai tukang koran tidak membuat Dino letih untuk mengejar impiannya. Dino bekerja sebagai loper semenjak lulus SMK. Pergi ke rumah-rumah hanya untuk mengantarkan segulung koran, menyebarkan informasi bagi

Kesederhanaan Sebuah Cita-Cita

Oleh:
Sore yang indah, ditemani oleh bunyi ombak dan semilir angin yang kian beriringan dengan suara daun kelapa yang tak mau berhenti untuk melambai. Suasana tenang disini setidaknya dapat mengurangi

Cermin Terbalik

Oleh:
“Hp ku hilang, nampaknya orang itu benci padaku. Yang kehilangan Hp kan aku kenapa jadi dia yang membalik benci kepada ku! Padahal kami saudara. Ah malas, membuat pusing saja”

Poor Families

Oleh:
Sekarang ini aku jadi malas membaca novel, bagaimana tidak? di dalam novel hanya berkisah tentang kehidupan orang-orang kaya raya dengan rumah mewah bak istana atau sebuah mansion dengan fasilitas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *