Jembatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Hampir setiap petang menjelang magrib aku selalu memperhatikan lelaki aneh itu, wajahnya kusut-masai, mengenakan celana hitam, baju hitam, sepatu hitam. Berjalan bolak-balik di atas jembatan, kadang terlihat ia menjambak rambut, menggigit jari, menendang-nendang kaki, lalu berhenti di tengah jembatan menghadap ke arah sungai yang mengalir anggun di bawahnya. Ia menangis lalu sedikit terisak, menggigit bibir lalu berteriak sekuat yang ia bisa, berhenti lalu berjalan bolak-balik lagi begitu seterusnya. Lelaki itu baru pergi setelah habis adzan isya.

Aku bukanlah satu-satunya orang yang sering memperhatikan kelakuan si lelaki aneh itu, beberapa kali ku dengar tetangga juga berbisik-bisik dan berceloteh tentang kelakuannya, di sungai, di bale bale bambu, di warung, di jalan, semua membicarakan lelaki itu. Walaupun kini lambat laun cerita mengenai kelakuannya hilang digeser tentang cerita yang lebih seru. Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya di pikiran lelaki itu? apa mungkin ia sudah tak waras, atau hanya ingin mencari perhatian semua orang, entahlah.

Rumahku berdiri di dekat jembatan pun di dekat sungai, dari bawah jembatan ini terlihat jelas apa yang sering lelaki itu lakukan di atas sana. Mobil-mobil mewah, motor tua, bus bagaikan ulat raksasa juga terlihat jelas berlalu-lalang di atas jembatan. Aku selalu duduk di dekat daun pintu rumah yang menghadap langsung ke arah jembatan, bukan karena kurang kerjaan hanya untuk menyaksikan lelaki aneh itu tapi aku juga mendirikan warung kecil di samping rumah, berjualan nasi goreng dan kopi hangat.

Magrib kali ini entah magrib yang keberapa aku kembali melihat lelaki aneh itu berjalan di atas jembatan, mengenakan pakaian yang sama serba hitam dengan wajah yang kusut pula seperti biasanya. Suara muadzin yang melengking diterbangkan angin tak memutuskan jalannya menyusuri jembatan, bolak-balik. Sejenak berhenti di tengah jembatan lalu berjalan lagi begitu seterusnya. Aku sedikit bosan memperhatikan kelakuannya atau mungkin setengah mual melihat kelakuannya yang selalu begitu. Dasar tak punya kerjaan batinku menggerutu. Tapi rasa penasaranku membunuh kebosanan itu.

Malam semakin lelap, lilin malam berhamburan di kolong langit, angin dingin mulai menyergap badan, suara adzan isya sudah melengking enam jam yang lalu dan lelaki aneh itu sudah pergi bersama misterinya yang masih menyisakan tanda tanya. Jaket tebal ku rapatkan membungkus badan, setiap kali menghembuskan napas kepulan kabut putih ke luar menari-nari, dingin menyergap. sekilas ku lirik arloji tua di tanganku menopang pukul 00:15.

Warung hendak ku tutup hingga terdengar suara datang dari arah samping rumah. “masih ada kopinya?” suara berat datang mendekat, aku refleks langsung menoleh ku lihat yang datang adalah seorang wanita tua berjalan setengah membungkuk, lipatan kulitnya berjejer di tepi dagu, di kening dan di leher kepala, Keriput. Mengenakan baju kebaya lusuh dan tudung kepala yang masih terlihat baru. “maaf nyonya, ini sudah larut malam, mau tutup.” Ku jawab seadanya, sambil meneruskan pekerjaan.

“baiklah tak apa.” Wanita tua itu balik menjawab santai sambil terus berjalan ke tepian sungai. Aku tak begitu menghiraukannya masih sibuk membereskan cangkir-cangkir kopi, piring-piring kotor yang berserakan di atas meja di depan warung. Wanita tua yang datang di tengah malam itu berdiri masygul menghadap aliran sungai dan sesekali melirik jembatan di atasnya. Ku lihat ia terkadang menyeka bulir dingin yang mengaliri pipi keriputnya. Setelah semua pekerjaan beres, ku temui wanita tua itu yang masih lamat-lamat menatap sungai.
“apa ada yang bisa saya bantu nyonya.” Suaraku membuyarkan lamunnya, ia sedikit kaget. Lalu menoleh.

“Ah kau mengagetkanku saja anak muda.” Jawabnya pelan, sedangkan aku menyeringai sambil berpikir, apakah wajah empat puluh tahunku masih terlihat anak muda.
Wanita tua itu menunduk sesaat, menarik napas yang terasa menyesakkan dadanya, lalu dihembuskanya perlahan dengan kehati-hatian. “apa kau sering melihat lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam di atas jembatan ini?” wanita itu mendongak ke arah jembatan, pertanyaan yang menyisakan kepulan kabut putih dari bibirnya mengambang di udara. “ya, tentu saja nyonya, setiap hari menjelang magrib aku melihatnya.” Aku menatap lamat-lamat wanita tua ini, wajahnya terlihat begitu sedih. “kalau boleh tahu, nyonya siapanya lelaki itu?”

Wanita tua itu kembali menunduk, ia kembali menarik napas sangat dalam, tiba-tiba bulir air jatuh di sela mata dan pipi keriputnya. “aku.. aku istri lelaki itu.” wajahnya tertunduk lebih dalam dan aku langsung tergagap, kaget dan menelan ludah berulang kali. Betapa tidak lelaki aneh yang sering ku lihat di jembatan setiap magrib itu umurnya mungkin masih sekitar 30-an sedangkan wanita yang sedang meratap di hadapanku ini umurnya kisaran 70-an tahun. “aku selalu memperhatikan suamimu nyonya, dia berjalan di jembatan setiap magrib. Kalau boleh tahu, apa yang ia lakukan? ada masalah apa antara nyonya dengannya?”

“dia kurang waras Nak!”
“maksud nyonya?” wanita tua itu memutar badan menghadap tubuhku dan aku pun refleks ikut memutar badan, jarak kami hanya sepelemparan batu. “dia mengira kalau aku adalah ibunya, dia tidak mau pulang ke rumah dan menganggap aku gila, dia selalu mengatakan bahwa ia adalah anakku dan suamiku sudah meninggal. Oh Tuhan malang nian nasibku.” wanita tua itu menangis sedu dan perlahan-lahan mulai kencang, memecahkan keheningan malam. Aku langsung gelagapan, takut-takut memberanikan diri untuk menenangkannya.

Malam menghilang perlahan, bintang-gemintang yang memenuhi atap langit mulai meredup, sesekali dari kejauhan terdengar longlongan anjing yang begitu sedih. Sesedih apa yang dirasakan wanita tua itu yang telah pergi melewati bayangan bulan. Pagi mulai datang sinar matahari menerabas jendela rumah, aku pun berjanji dalam hati akan menemui lelaki aneh (dan kurang waras) itu magrib ini.

Matahari mulai tumbang di ujung barat, awan-awan senja membentuk garis kuning memanjang di antara sinar matahari. Suara lantunan ayat suci takzim terdengar menggema dari mesjid menandakan waktu magrib akan segera datang, menandakan pula kalau lelaki aneh itu akan segera datang. Dan benar saja lelaki itu seper sekian detik kemudian datang melangkah lesu di atas sana masih mengenakan pakaian yang sama dan wajah yang kusut pula. Patah-patah kakiku melangkah menemuinya yang sedang berhenti melangkah, berdiri di tengah jembatan. Kami berdiri sejarak busur anak panah, menghadap ke arah senja. Sesekali ku lirik wajahnya namun kemudian membuang pandang lagi. Rasanya ia sedikit terusik atas kedatanganku.

“mau permen?” lelaki aneh itu menyodorkan dua buah permen, pandanganya bersahabat. Aku tadi sedikit kaget karena ia yang lebih dulu menyapa tapi mendengar suara santunnya jadi lebih tenang. “oh terima kasih tuan.” Jawabku sekenanya dan langsung berpikir apa benar lelaki ini gila, Sambil mengambil dua buah permen bergambar hati darinya. Suasana kembali hening seper sekian detik, tumpahan sinar matahari menyirami wajah lelaki aneh itu sehingga membuat raut wajahnya tampak takzim.

“tuan bolehkah aku bertanya tentang–”
“kamu pasti ingin menanyakan mengapa aku selalu berdiri di atas jembatan ini?” lelaki itu memotong sambil membolak-balikkan permen di dalam mulutnya, sesekali dipecahkan dengan giginya. “ah, eh. Ti–tidak juga, aku.. aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat tuan.”
“sudahlah, aku tahu apa yang ada di pikiranmu!” lelaki itu melotot, air mukanya berlipat. “Apakah kau ingin tahu mengapa aku selalu berdiri di jembatan ini setiap waktu magrib?” lelaki aneh itu menatap wajahku takzim matanya tak lagi melotot, ia seperti ingin mengatakan dengarkan keluhanku ini. Aku yang penasaran dan memang ingin tahu langsung manggut-manggut mengiyakan.

“Aku adalah anak tunggal, tinggal bersama kedua orangtuaku. Keluarga kami begitu sempurna rasanya. Sampai Ayahku meninggal karena serangan jantung Ibuku seperti kehilangan kewarasannya, saat aku pulang dari kerja menjelang magrib aku tak sanggup untuk datang ke rumah karena ia akan mengira aku adalah Ayahku, suaminya. Maka jika saat waktu magrib aku akan berdiri di jembatan ini sedikit menghilangkan rasa lelah dan resah di hatiku. Aku tak tahan melihat tangisnya jadi aku akan meninggalkanya sampai habis salat isya karena jika habis salat isya Ibuku biasanya sudah tertidur.” Aku tergagap, menelan ludah, menyeka keringat di pelipis. Apakah Wanita tua yang menemuiku semalam yang mengatakan istri lelaki ini adalah wanita kurang waras atau lelaki aneh yang sedang bercakap denganku sekarang yang mengatakan bahwa dia adalah anak dari wanita tua semalam yang kurang waras.

“Apakah Ibu tuan badanya bungkuk, mengenakan kebaya dan tudung kepala?”
“Iya benar, kamu pernah melihatnya?”
Aku tak sempat menjawab pertanyaan terakhir lelaki aneh itu karena aku sudah berlari meninggalkanya, rasanya aku juga sudah kehilangan akal sehat.

Cerpen Karangan: Yogi Anggara
Facebook: Yogi Anggara
Namaku Yogi Anggara, Lahir di kota Baturaja, SumSel. Selalu ingin belajar dan terus belajar menulis.

Cerpen Jembatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rezeki Dari Sepatu Butut

Oleh:
Pagi itu Rizky sedang menalikan sepatunya semangat paginya untuk sekolah surut karena melihat sepatunya yang sudah jelek dia termenung melihat sepatunya. “andaikan sepatu Rizky gak butut pasti Rizky gak

Sebuah Warna

Oleh:
Aku ingat, semua berawal dari kejadian itu, 13 Agustus sepuluh tahun yang lalu… Angin membelai wajahku dengan lembut, seolah ingin aku mengurungkan niatku. Dari sini aku menatap Kota Lama,

Robot Wars

Oleh:
Aku hidup di tahun 2170, karena teknologi semakin canggih, kami manusia yang hidup di zaman ini menggunakan robt untuk melakukan pekerjaan. Misalnya membersihkan rumah, memasak, mengurus anak-anak, dan menjaga

Other Live

Oleh:
Kalian tahu, tentang semua kehidupan yang ada di alam semesta yang luas ini? Atau mungkin apakah kalian tahu, semua tentang kehidupan di dunia ini? Seseorang, memberitahuku tentang kehidupan. Hari

Call From The Past

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian. “Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Jembatan”

  1. Yetti Rahmatizar El-Huriyah An-nafis says:

    ada lucunya,, tapi ada kerennya juga,,you have made a good story..

Leave a Reply to Yetti Rahmatizar El-Huriyah An-nafis Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *