Kabut Hitam Di Ujung Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 December 2015

Syahdu..
Sang surya emas tersenyum menjemput pagi..
Menghantarku di pagi sunyi..
Angan ingin membawaku mengembara, menjauhi sunyi..
Aku lengkap namun sendiri..
Kasihku hanya bayangan..
Sepi, kamu ada namun tiada..

Tetesan embun yang menjemput pagi memberikan ketenangan di jiwaku. Senandung alam seakan menambah sempurnanya kilauan sang surya yang penuh kehangatan. Hari Senin, hari ini adalah hari senin, hari yang penuh dengan kesibukan, begitu juga denganku. Pagi-pagi sekali aku harus sudah berangkat dari rumah menuju tempat pengabdianku, yaitu di sebuah sekolah menengah atas di Palembang. Tapi untungnya hari ini adalah hari libur nasional, Jadi aku bisa bersantai-santai ria di rumah. Ehm.. suntuk juga di rumah sendirian, si dia sibuk dengan pekerjaannya sendiri, benar-benar membosankan duduk bengong sendirian. Sepi.. Benar-benar sepi. Daripada aku suntuk sendirian di rumah, lebih baik aku jalan-jalan ke mal, siapa tahu bisa membuat pikiranku jadi lebih fresh.

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Aku sudah tiba di seputaran masjid Agung SMB II, belum banyak toko yang buka. Sebetulnya tujuanku bukan untuk berbelanja, tapi cuma untuk menghilangkan kesuntukan yang sedang melandaku. Terus ku susuri jalanan, ku lewati toko-toko yang masih nampak mengunci diri. Tanpa sengaja, nampak di hadapanku seorang wanita paruh baya yang sedang berbaring di emperan toko. Wajahnya kusam, tubuhnya begitu kurus dengan mata yang sangat cekung, bajunya sudah sangat lusuh. Ya, mungkin baju yang dipakainya itu sudah lama tak digantinya, mungkin karena tak ada baju lain?

Entahlah! Semakin dekat aku ke arah wanita tua itu, ingatanku seakan tertuju pada sosok Bu Soraya, beliau adalah tetanggaku semasa di desa. Wajah gelandangan tua itu begitu mirip dengan wajah Bu Soraya, tapi tak mungkin! Tak mungkin Bu Soraya menjadi seorang gelandangan, bukankah anak-anaknya sudah menjadi orang-orang sukses? Aku masih meyakinkan diriku sendiri kalau wanita itu bukanlah Bu Soraya, mungkin wajahnya mirip saja dengan Bu Soraya, tapi setelah ku dekati perempuan itu, ku pandangi wajahnya dalam-dalam.. Astaghfirullah!!! Itu memang Bu Soraya, ya Allah, kenapa Bu Soraya bisa menggelandang seperti ini?

Jika ku ingat masa lalu Bu Soraya, rasanya beliau patut dijuluki sebagai seorang Ibu super, bagaimana tidak, setelah kematian suaminya, Bu Soraya membesarkan anak-anaknya seorang diri dengan penuh kerja keras sebagai seorang penjual kue keliling. Hingga kedua orang anaknya Feri dan Armi menjadi seorang dokter spesialis jantung yang sukses. Semasa kecilku, aku berteman baik dengan anak perempuan Bu Soraya yang bernama Armi. Dia teman sekelasku semasa SMP, juga teman mengajiku. Armi seorang gadis yang baik, dia pandai dalam tilawatil Al-Quran hingga beberapa kali menang dalam perlombaan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran), sedangkan Adiknya Feri merupakan anak yang cerdas, hingga dia bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah kedokteran di salah satu Universitas negeri di kota Yogyakarta.

Aku memang tak banyak tahu kabar Bu Soraya dan kedua anaknya itu semenjak kepindahanku, yang ku tahu hanya kesuksesan dari kedua anak Bu Soraya itu. Rasa penasaranku akan sosok perempuan tua yang ada di hadapanku ini membuatku memberanikan diri untuk menyapanya lalu bertanya tentang jati dirinya, aku sangat iba melihat sosok perempuan tua itu, Nampak dari pancaran matanya derita batin yang begitu dalam, sebetulnya apa yang menimpa wanita malang ini? Tak terasa butiran air mataku menetes perlahan membasahi pipiku, aku terkenang akan Ibuku. Aku tak rela jika Ibuku merasakan penderitaan seperti apa yang dirasakan oleh gelandangan itu di masa tuanya.

Tanpa ragu ku dekati wanita tua itu, lalu ku sapa dia dengan penuh kehangatan. Tampak di wajahnya raut heran melihatku yang seperti begitu mengenalnya. Aku segera memperkenalkan siapa diriku kepadanya, setelah aku memperkenalkan diriku, matanya berkaca-kaca, lalu merangkulku sejadi-jadinya sambil menangis sesenggukan. Ternyata perempuan tua itu memang Bu Soraya. Oh Tuhan, hatiku semakin teriris melihat Bu Soraya, aku semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diri Bu Soraya. Ku tenangkan dia, lalu ku beri air minum untuknya, nampaknya dia begitu haus, dalam waktu sebentar saja air minum di dalam botolku habis tanpa sisa.

Setelah tampak tenang, aku mulai bertanya kepada Bu Soraya tentang kedua anaknya, tapi nampaknya pertanyaanku itu begitu membuatnya teluka. Aku mencoba untuk berkompromi dengan diriku, dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah mendobrak-dobrak ingin ke luar dari mulutku. Mungkin perlu waktu bagi Bu Soraya untuk menenangkan dirinya. Aku menawari Bu Soraya untuk tinggal bersamaku, lagi pula di rumah aku tinggal seorang diri, Ibuku tinggal di rumah yang berbeda denganku. Aku tak mau Bu Soraya menderita seperti ini di masa tuanya, aku ikhlas menampung beliau tinggal di rumahku.

Setelah ku bujuk dengan susah payah, akhirnya Bu Soraya mau juga ku ajak tinggal bersama di rumahku setelah beberapa kali menolak. Sesampainya kami di rumahku, segera ku suruh Bu Soraya untuk segera mandi, pasti belaiu sudah lama tidak mandi. Setelah selesai mandi, ku suguhkan beraneka macam makanan, ku ajak Bu Soraya untuk makan bersama, nampaknya beliau suka dengan hidangan yang ku suguhkan, beliau makan dengan lahapnya. Dari raut wajahnya yang tua, tampak sedikit senyum yang tertutup oleh segunung derita batin yang belum terungkap. Aku berusaha menahan tanyaku, belum waktunya aku bertanya kepada Bu Soraya, mungkin besok pagi adalah waktu yang tepat bagiku untuk berbicara dari hati ke hati kepada Bu Soraya.

Tak terasa senyum hangat sang mentari perlahan berubah menjadi kilauan kemerahan dan akhirnya meredup menjadi hitam pekat. Ya, malam telah menjemputku untuk segera terbaring dalam dekapan selimut letih, begitu pun dengan Bu Soraya, beliau tertidur dengna pulasnya, tapi entah mengapa, setelah ku tatap wajahnya yang tengah tertidur pulas itu, masih terlihat dengan jelas di mataku garis-garis derita batin yang dalam, yang tidak bisa ku ungkapkan perihnya yang beliau rasakan. Sebetulnya apa yang membuat Bu Soraya menjadi seperti ini, kemana anak-anaknya? Ah, sudahlah, besok tentunya aku bisa menanyakan semuanya kepada Bu Soraya, mataku terasa kian berat, perlahan aku terlelap dalam tanda Tanya yang bersarang di hati.

Di tengah kedamaian dalam lelap, ku dengar sayu suara nyanyian alam nan merdu pertanda pagi telah menjemput dengan sejuta tanda tanya yang belum terjawab tentang derita yang menimpa Bu Soraya. Sungguh malang benar nasib wanita tua ini, lirihku dalam hati sambil menatap wajah Bu Soraya yang masih tertidur pulas di sampingku. Ku tinggalkan Bu Soraya yang masih tertidur, aku tak tega membangunkannya. Ku mencoba membuatkan nasi goreng spesial untuk Bu Soraya, tentu beliau menyukainya. Kebetulan hari ini aku tak ada jadwal mengajar, jadi hari ini aku bisa menemani Bu Soraya di rumah dan yang paling penting aku harus menanyai semua kejadian yang dialami Bu Soraya hingga menggelandang seperti ini.

Sesaat setelah aku bangun, ternyata Bu Soraya juga terbangun, akhirnya beliau membantuku untuk masak nasi goreng. Sambil memasak, aku memulai pertanyaanku. Aku harus hati-hati dalam bertanya agar beliau tidak tersinggung. Semua pertanyaan yang ada di benakku kini semuanya telah terjawab, sungguh benar-benar tragis kisah yang dialami oleh wanita tua ini. Seandainya Anda menjadi diri saya, tentulah Anda merasakan kesedihan yang mengiris-iris hati saya saat mendengarkan cerita dari Bu Soraya, seorang wanita tua yang dulu ku kenal sebagai sosok seorang Ibu pekerja keras yang mampu membiayai sekolah anak-anaknya hingga menjadi dokter yang sukses.

Bu Soraya memang patut untuk ku kagumi, mungkin juga Anda. Dengan kesuksesan anak-anaknya itu, sudah barang tentu Bu Soraya merasakan kebahagiaan yang luar biasa, tapi kenyataan yang ku dapati saat ini sangat berbanding terbalik, kini kehidupan Bu Soraya begitu menyedihkan, dia hidup menggelandang dari satu emperan toko, ke emperan toko lainnya. Semua kehancuran itu berawal dari perkenalan anak gadis Bu Soraya yang bernama Armi dengan seorang laki-laki yang bernama Anton.

Anton merupakan anak seorang pejabat terpandang, awalnya Anton memang terlihat begitu baik, kata-katanya sopan. Tidak ada yang mencurigakan dari diri Anton. Namun malapetaka itu pun muncul, beberapa bulan setelah perkenalan Armi dan Anton. Ternyata Armi hamil, dan yang menghamilinya adalah Anton. Anton tidak mau bertanggung jawab lalu menghilang tanpa kabar berita, semua teman-temannya pun tidak tahu di mana keberadaan Anton.

Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya Armi mendapat kabar dari teman dekat Anton, jika ternyata Anton telah menikah dan menetap di Australia. Setelah mengetahui semua penghianatan yang dilakukan Anton terhadapnya, Armi selalu mengurung diri di kamar, karena terlalu lama tidak masuk kerja akhirnya Armi dipecat dari tempat kerjanya di sebuah rumah sakit terkemuka di Palembang. Makin hari kondisi Armi semakin terpuruk, perutnya yang kian membuncit semakin membuatnya depresi. Bayi yang akan dilahirkannya tidak memiliki seorang ayah.

Di suatu pagi yang nampak masih redup, tak terdengar nyanyian merdu beburungan, angin pun seakan tak mau berhembus dan memutus rongga-rongga napas yang seolah ruh di dalam raga ini ingin segera melepaskan diri. Sudah terlalu pahit derita hidup yang harus dilalui. Itulah yang tersirat di dalam hati Armi. Tubuhnya Nampak lemah, ditatapnya perutnya yang telah begitu membuncit, semakin tersayat hatinya kini. Begitu kecewa dan sakit hatinya terhadap Anton, pria yan telah menghancurkan hidup dan masa depannya.

Di atas meja hiasnya, Armi melihat sebuah gunting, dengan kalap mata Armi menghujamkan gunting itu ke perutnya berkali-kali dan akhirnya Armi tewas dengan kondisi penuh luka tusukan di perutnaya dengan darah berceceran di mana-mana. Melihat Armi yang telah terbujur kaku bersimbah darah dengan mata membelalak, Bu Soraya sangat terpukul. Berselang satu minggu dari tewasnya Armi, Bu Soraya diusir dari rumahnya sendiri oleh Feri, putra kesayangnannya yang dulu begitu manis dan menurut apa kata-kata Bu Soraya.

Feri berubah semenjak Feri menikah dengan seorang perempuan bernama Faizah yang juga seorang dokter. Faizah tidak menyukai Bu Soraya lalu membujuk Feri untuk mengusir Bu Soraya dari rumahnya sendiri dan akhirnya menggelandang hingga berjumpa denganku kemarin. Aku benar-benar tak menyangka, ternyata ada seorang anak yang tega membuang orangtuanya sendiri, orangtua yang sudah berjuang mati-matian demi keberhasilannya. Tapi apa balasan sang anak, mereka malah menyia-nyiakan Ibu mereka sendiri.

Cerpen Karangan: Sumy Muchtar
Facebook: https://www.facebook.com/sumy.bumira

Cerpen Kabut Hitam Di Ujung Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love You More

Oleh:
Saat ini aku sedang tengkurap di atas kasur sambil membaca novel karena hari ini adalah hari libur. Aku sangat menyukai novel dan tak jarang aku dibuat menangis oleh ceritanya.

Hari Yang Bersamaan (Part 1)

Oleh:
Mataku sudah pedas sekali rasanya sejak habis solat magrib sampai sekarang pukul 23.30 pandanganku selalu tertuju oleh leptop, entah apa yang aku lakukan itu tidak penting asalkan penat dan

Hanya Sebuah Kado Titipan Tuhan

Oleh:
Pagi seperti biasanya, Putri langkahkan kaki menelusuri lorong lorong koridor sekolah menapaki jejak menuju kelas. Saat itu hanya ada beberapa siswa yang hilir mudik berjalan santai menuju kelas masing

Impian Musim Dingin

Oleh:
Namaku Namiko Koukei, umurku 11 tahun, aku tinggal bersama ayah dan adik perempuanku yang bernama Akihisa Koukei, dia masih berumur 7 tahun. Kami tidak pernah bertemu dengan ibu kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *