Kabut Sudah Tersiram Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 10 May 2017

Dengan sorotan mata telah merekam semua kejadian di bawah langit yang secerah cermin. Rekaman yang tak bisa dicetak berbentuk nyata hanya bisa diputar ulang dengan gulungan kaset yang tak pernah rusak di dalam pikiran.
Berpuluh-puluh tahun kenangan yang jauh di belakang masih tetap mengikuti langkah kaki dimana pun pergi. Hutan berpenghuni rumah-rumah gubuk harus tersiram oleh api, melahap semua yang ada karena pertikaian antara 2 desa, tak bisa untuk menghalangi kodrat yang datang menemani.

Hidup seperti kuburan baru dengan kepengapan melanda di sekujur tubuh, tak ada selimut untuk kehangatan di ruangan lembab, hanya kabut menjelma di pandangan yang menghantui. Rintihan hujan tak terbendung lagi, tak dapat dihitung juga tak dapat berlari. Angan-angan melimpah penuh harapan untuk mendapatkan sebuah payung besar menutupi kedinginan yang sedang setia menyambut setiap hari.

Kini memang tak ada lagi panggilan dari mulut-mulut yang bersuara tak asing di telinga, mereka pergi dengan lahapan api, kemudian diantar oleh angin debu yang tersisa. Kesendirian mengapung tak bersuara hanya terdengar jeritan hati yang rapuh tak berpenyangga. Dengan keterpaksaan hidup yang tak tahu arah tujuan dan desakan dada yang meminta-minta untuk ditolong. Kehidupan telah menghardik, mengolok-olokkan bahkan telah mengutuknya dalam kesepian tak berpenghuni dengan kerakusan dimilikinya sendiri.

Jalan yang lurus dan berumput hijau di tapaki dengan pandangan kabur tak berwarna. Dengan kaki telanjang menyelusuri lembah-lembah berduri yang tak terasa lagi kepedihannya. Orang yang telah hidup bersama di waktu sebelum api menjelma menjadi penjahat yang tak bisa diampunkan telah merenggut mereka dari kebahagian yang pernah ada.

Air suci yang ada di lorong-lorong mata sudah habis menjadi penyiram hati yang teriris tak terima dengan takdir kehidupan. Senyuman kebahagian sedang dikandangi di dalam diri, tak bisa keluar terjebak oleh batu yang sangat besar.
Entah sampai kapan kaki melaju membawa diri yang tak berdaya bagaikan kapas yang sedang ditiup angin kemanapun patuh dengan suruhannya. Mata yang kosong memandangi alam yang sudah jauh meninggalkan tempat yang menjadi jeritan penyiksaan dahulu.

Dengan sapaan setiap waktu di lorong tikus menjadi istana termewah untuk ditempati, menantikan akhir dari sisa hidup yang tak lama lagi. Bertemankan oleh lumut yang subur di pelopak mata bumi beserta lukisan tetesan-tetesan indah dari air yang jatuh. Hanya mata kosong itu yang menyantap pemandangan yang sudah biasa dilihatnya, ingin rasanya berbagi cerita dengan sahabat yang sama-sama berada disamping, tapi tak seorang pun menyaksikan peristiwa kesehariannya di lorong gelap itu.

Suatu pagi yang bukan seperti biasanya, di pagi yang cerah tak hanya suasana dan kesegaran udaranya, melainkan nuraninya diberikan setetes semangat dari mata yang sudah sekian lama tak berpenghuni. Sebuah cahaya yang benderang pada sosok malaikat kecil pembawa karung berisikan botol-botol yang sudah hampir penuh. Sebuah mimpi yang kali ini menyenangkan untuk tidak terbangun dari tidur yang nyenyak itu.

Habis semua botol-botol bekas telah dibabat, Mata manusia tak punya semangat terus mengikuti kemanapun langkah kaki pengutip. Sampai mata itu menghantar keujung hingga hilang tak kembali, setelah mata itu kembali pada raga lagi, dengan hati yang kusut seakan kehilangan benda berharga yang menemani hari itu.

Harapan yang muncul di genggaman hati menguak sebuah penantian, jika akan bersua kembali dengan penemuan terbesar di dalam hidupnya di waktu pagi cerah tadi. Keinginan menjelma menjadi raksasa di bawah naungan alam bawah sadar yang telah mengimajinasikan dirinya akan ada hari esok yang membawanya melayang di udara berembun kemekaran.

Dengan kesabaran yang dipaksakan dan tidur dengan khayalan akan bernafas sampai di ujung waktu yang dinantikan, hingga menuju fajar yang akan menyambut dengan lambaian tangan sehalus sutra, akan berasa dingin menembus aliran darah yang mampu membuat kehidupan baru, meninggalkan sesuatu yang sudah pergi dengan keadaan duka. Sangat besar pengharapan yang dimiliki oleh pikiran yang buntu itu untuk memulai melepaskan satu persatu benang yang telah simpul mati dengan kekusutannya, walaupun sangat susah tapi harus terselesaikan supaya terhindar dari kegagalan yang perna jatuh kelubang yang dalam.

Lama menunggu ibaratkan menjelajahi sabang sampai merauke, sejauh itulah penantian menunggu pagi. Gemericik-gemericik nyanyian para makhluk imut yang sudah bangun dari kasur empuknya untuk melihat keindahan matahari yang akan bersinar menjadi lampu di siang hari. Embun tak mau kalah untuk memamerkan keakrabannya dengan rerumputan hijau yang subur merekah di tanah mengandung nutrisi.
Melayang-layang matanya menancap dari kejauhan, adakah sosok yang dikenal akan muncul memamerkan karung yang berisi barang berharga untuk dirinya itu. kegelisahan terikat penantian yang entah sampai kapan berlangsung, apakah 1 jam lagi, atau 2 jam lagi untuk menunggu, atau benar-benar penantian hanya tinggal kekecewaan, yang ditunggu tak kunjung tiba, dengan sayu mata tak sanggup memandang terlalu jauh lagi. Sudah sekian lama menunggu.
Ingin segera dikirimkan kupu-kupu bersayap biru untuk mencari keberadaan yang ditunggu dan memotretnya sebagai hadiah bingkisan hati. Tapi apa daya lengkingan hati menjerit sekuat-kuatnya tapi tak bisa terdengar.

Pagi berganti sore, hingga sore menyerah tak bertahan akhirnya turunlah sang fajar untuk beristirahat, digantikan oleh malam tak bercahaya. Mengadahkan wajah merasakan kesendirian tak berombak mengenang apakah diri akan selamanya sendiri tak ada teman yang akan menemani, apa benar semuanya telah pergi?.
Ketika pagi kembali menunjukkan auratnya, tak ada pengharapan hari ini. Dengan tidak sengaja si pembawa karung memijaki area keberadaan si pengharap. Lelaki itu terkejut dengan kedatangan yang diharapkannya sebagai temannya kelak.

Bibir malaikat kecil itu menyapa lelaki yang sudah bagaikan orang-orangan sawah yang sendirian tak ada teman, dengan senyuman yang dilontarkan kepada dirinya, bagaikan penyejuk di sepanjang hidupnya semenjak kehilangan separuh nyawa secara paksa sehingga meninggalkan bekas parut yang sampai sekarang masih terasa. Dari sekian lama bibir yang terbungkam dengan beribu alasan untuk tidak berbicara, kini keajaiban alam memberinya semangat lewat pemuda kecil yang ditemani oleh kobaran semangat di dalam hidupnya.

“kakak lagi apa di sini? kok sendirian?” tanya pemuda kecil yang polos itu duduk di samping pemuda yang di ajaknya berbicara. Dengan berat membuka mulut yang sudah lama terkunci sehingga tak tahu lagi dimana kunci itu terbuang, sehingga secara paksa membukanya dengan sobekan penyiksaan. “nama kamu siapa dek?” jawab pemuda tak berdaya itu. “nama aku Goli kak, kalau kakak namanya siapa?” jawaban yang bijak dari anak itu. “nama kakak Alam”, ia pun mulai berpikir, pemuda itu mengganti namanya dan berharap kehidupannya akan berganti pula seperti namanya.
Niat kini sedikit telah menguatkan hati agar menghilangkan kekaburan tak berwarna itu pada pandangan, menjadikan tangan untuk mengukir dan menjadikan kaki sebagai kerangka yang kokoh untuk bertahan.

Cerita pahlawan dahulu bagaikan dongeng sekarang memang menjadi nyata, berperang melawan tembakan-tembakan yang sudah menusuk rongga-rongga hingga hidup dan mati menjadi taruhan. Inilah yang sedang dialaminya, tak ada tombak runcing untuk melawan hanya tangan kosong yang digenggami.
Semenjak bertemu dengan Goli pemuda kecil pembawa karung ia pun mulai melukiskan senyuman pada dunia bahwa ia benar-benar akan mengikhlaskan kejadian yang lalu dan menjadikan semuanya pelajaran yang paling berharga di hidupnya kelak.

Pagi hari yang selalu menyapa dengan lembaran baru yang biasanya ia jalani penyesalan. Kini ia membuka matanya berharap nyawa masih pada raga. Kini Goli dan Alam hidup bersama saling membutuhkan satu sama lain, saling melengkapi di lembaran-lembaran kosong yang akan menanti setiap waktu.
Pekerjaan yang dikerjakan dahulu sendiri oleh Goli sekarang sudah ada yang menemani. ketika berjalan menyelusuri tong-tong yang berisi sampah bagi masyarakat, tapi bagi mereka itu adalah barang yang berharga, dengan mendapatkannya bisa memberikan senyuman terindah pada lekukan bibir-bibir yang penuh perjuangan itu.

Mereka hidup nyaman di naungan gubuk kebahagian, gelak tawa terdengar sampai di seluruh celah-celah bumi. Alam menceritakan semua kejadiannya dahulu kepada Goli yang sekarang menjadi adiknya yang akan ia lindungi seutuhnya. Semakin hari mereka menjalani rutinitas sebagai pemburu botol, mereka simpan sebanyak-banyaknya.

Bulan demi bulan berlalu meninggalkan kisah yang kelam. Uang yang mereka kumpulkan dari hasil berjualan botol menjadi modal untuk mereka membeli botol-botol kepada anak-anak atau masyarakat yang mencari botol juga untuk makan mereka.
Dalam hitungan tahun akhirnya mereka menjadi tokoh di kampung yang ditinggalinya itu. Rumah yang dulunya gubuk sekarang telah dibangun dengan bagusnya, berdiri tegar menancap di atas tanah yang mendukung kebahagian mereka.

Cerpen Karangan: Nurhabibah Mispiy
Facebook: Nurhabibah Mispiy

Cerpen Kabut Sudah Tersiram Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Jazzy

Oleh:
Mr. Vyord melemparkan gulungan kertas ke atas meja, tepat di depanku. Sebelum laki-laki paruh baya itu berbicara, aku sudah tahu masalahnya. Kugigit kuku jari jempol tanpa menatapnya, tanpa ada

Ibu Ku Baik

Oleh:
Matahari mulai terbenam dan malam mulai beranjak anak itu tetap berada di dalam kamarnya semenjak ia pulang sekolah siang tadi. Hampir setiap hari ia seperti itu, mengurung diri. Ia

Di Balik Ramuan untuk Anandaku

Oleh:
Aku menginginkan maafmu untuk setiap bait penghinaan yang terlantunkan. Bahkan selalu menanti walau tak sesempurna penantian Tuhan untuk umatNya berbicara syukur pada Nya. Bila aku bisa, aku akan berdiri

Demi Masa

Oleh:
AWAL KISAH Kini aku berdiri di depan gedung yang tinggi, disini lah nantinya aku akan menyandarkan mimpi ku, ya di sebuah sekolah, kampus namanya. usiaku memang sudah 19 tahun,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *