Kaca Mata Kuda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 May 2013

Angin sepoi menghidangkan asa baru di tengah hiruk pikuk suatu pola. Orang perorangan memperjuangkan kehendak melangkahi karma. Kejengkelan membludak mendesak keluar di tengah sesakan kios toko di pasar seni ini. Sehari, literan keringat telah terevaporasi suhu tinggi. Sehari, lusinan kertas double folio penuh akan catatan dosa. “Biarkan saya bayar Rp. 100.000. Lebih dari itu, saya pergi. Kurang dari itu saya beli.” Aku Marni “Ibu, ini enggak bisa. Harga pokoknya sudah Rp. 150.000. Kasihanilah saya. Sedari tadi saya belum dapat sekeping uangpun yang masuk kas. Lagian, Ibu secantik ini sangat pantas menggunakan kebaya ini.”

Begitulah rata-rata percakapan dari menjumlahkan beberapa percakapan dan membaginya dengan banyaknya percakapan tersebut. Mendongak ke atas, tiada lentera yang mengusir temaram seharian. Kios sempit itu, dijejali kios-kios sempit lainnya bak seorang model yang dikelilingi model lain yang di bondrong oleh penggemarnya, naas. Lebih naas lagi, aku sedang melipat kaki di depan sebuah kaca besar, melihat diriku bingung. Di sampingku, sederetan kaca mata sedang menunggu nasibnya untuk kuadopsi. Segera. Mungkin mereka sebingung diriku. Kebingungan ini menyapa orang lain untuk memberi timbal balik. “Dik, mau nyari kaca mata apa?” isi sebuah suara. Penjaga toko, pikirku.

Suara orang tertentu terkadang merangsang beberapa sel memoriku. Ayah. Kenangan yang takkan pernah padam. Sosok ideal yang berpetualang dengan angin. Mengendarai awan bersenjata debu, melanglang buana bersatu padu. Ayah piawai berteaterria. Topeng ayah begitu tebal. Untung, dua kali pernah kusibakkan topeng itu dengan perantara cakra beraksarakan emosi. Tangisku. Ayah tidak pernah memberitahu ia mencintaiku. Ayah hanya memotong setiap embrio percakapan yang kupercikkan, bak pemantik yang memberi beberapa tetes api. Ayah begitu jauh. Saat karib kelas membanggakan pria yang membuat ibu mereka melahirkannya, aku baru merangkai mozaik pikiran, mencoba mereka-reka karakter ayah yang sulit ku tebak. Tidak ku tahu. Membingungkan. Ungtungnya, frase tak acuh selalu menyertaiku.
Pernah aku menelpon ayah, berharap akan ada 30 menit waktu mencurahkan kepenatan membangun fondasi masa depan di tepat ini. Semua dilunasi ayah hanya dalam 30 detik sambungan telepon. Berbagai alibi coba ia sugestikan kepadaku. Kecewa? Pasti. Kualihkan panggilan keluar menjadi nomor ibu, mengambil sisa dari 30 detik yang dilunasi ayah. Sangat jarang kami bertukar ide. Mengkomunikasikan pikiran dengan gelombang tertentu. Kepingan dialog dengan ayah akan kukonduksi melalui ibu, bak rakyat yang harus menyalurkan aspirai kepada DPR untuk dapat bersua dengan presiden. Sama halnya dengan jarang bertatap batang hidung. Jarak kami jauh.

Tersadar, ku kembali lebih jauh. Masa kecil favorit hidup, saat kusadar topeng ayah tersibak sebagian. Tas barbie kecil yang selalu ku bawa ke setiap tempat. Hingga sekarang masih ku simpan di antara piala yang terbentuk dari keringat usaha raga. Dulu, tas itu tepat singgah di bahu, pingggang dan nyaman. Di sana, tersimpan kumpulan uang yang banyak jumlahnya, bukan pada nominalnya. Aku rencana membeli kuda dari itu. Tak pernah sirna perjuangan diri, mencoba menembus keras hati ayah. Sepulang kerja, kuutarakan maksud mengadopsi kuda ke pekarangan rumah setengah are kami. Ayah masih dingin, seingatku. Banyak motivasi yang tak terangkai kata sebab semua itu. Kuda itu, rencananya akan kuhabitatkan di pinggir dapur. Jika ku letih, akan kugunakan tenaganya untuk mengelilingi desa yang waktu itu masih langka mesin roda berjalan.

Kupenuhi hari dengan mengajukan proposal itu ke meja ayah. Tiap waktu. Tak kuingat respon ayah waktu itu. Mungkin ia jengkel. Tapi, samar-samar ku ingat ada sebuah patok bambu dan tali kekang yang bersarang di tanah samping dapur.. Ayah yang membuat, entah kapan. Ia rela mengorbankan keletihan berat sehabis membanting tulang dan sendi, mendapat dampratan bos atau komplain dari pelanggan demi calon kandang itu. Hal ini diam-diam diutarakan ibu kepadaku. Topeng ayah masih ketat. Sampai pada titik kulminasi proposalku, ayah mengjakku. Ku pikul tas barbie dan bersandar di belakang ayah. Diajaknya aku berputar-putar hingga sampai ke suatu tempat. Besar. “Tunggu di sini, ayah akan tanyakan kudanya ke dalam.” Aku ayah. “Boleh ikut? Nanti bara yang milih.” “Tidak. Kuda itu galak. Bapak yang jinakin dulu. Tunggu di sini.”

Ku lihat samar ayah menghidangkan percakapan dengan seseorang. Bertimbal balik. Ayah berbalik. “Nak, kudanya habis. Sudah pindah ke Sanur.” “Kok gitu? Tanya lagi. di Sanur gak ada?” tanyaku merubah frekuensi gelombang suara. Ayah menurut padaku. Orang itu diajaknya bertukar pikiran lagi. sebentar, ayah balik. “Di sanur juga habis nak. Kudanya sudah laku. Kita pulang sekarang.” Diberikannya gaya sekenanya pada sepeda motor tua ayah. Melaju. Di rumah ibu menyapa dengan skenario yang sudah ia rancang “Gimana? Kudanya mana?” tanya ibu. Padahal ia tahu aku tidak akan pulang dengan seekor kuda, kecuali tali kekangnya. Semua itu begitu nyata. Tumbuh besar, ku sadar diri. Toko kuda yang kita kunjungi ternyata pabrik tekstil. Orang itu, entah siapa, entah bagaimana keadaannya. Jadi aku telah masuk ke skenario singkat yang mereka karyakan. Dan aku kalah. Tapi ayah tetap bertopeng sampai…

Pendaran kenyataan merasuki asa. Membekukan lobus khayalan di otak. “Nyari kaca mata apa dik? Kok bengong?” alamat sopan si penjual toko. “Mau nyari kaca mata kuda” akuku terpengaruh kahayalan ayah. Wajah penjual itu tertangkap kornea menuju otak. Ayah! Itulah kalimat terakhir sebelum kekeluan melanda lidah. Tubuhku paralyze. Di negeri seberang, kudapati ayah telah duduk di atas kursi roda. Bertahan hidup menjual kaca mata. Sejak kecelakan itu. Mereka bilang ayah hilang. Tapi kudapati ayah, masih dengan topeng itu, terluka parah. Kurengkuh tubuh ayah tanpa hiraukan perangkat yang telah jatuh dan pecah. Ayah lebih penting. Dengan topengnya ia mencintaiku. Dengan topengnya ia melindungiku. Dengan topengnya ia membuatku mengenyam pendidikan tak bernominal namun berkualitas. Ayah, topeng itu caramu mengalamatkan kasih sayang. Suka cita itu masih melekat hingga lama. Keluargaku berkumpul kembali.

Tapi, hal seduniawi itu pasti akan lenyap. Tak lama, ayah dan ibu benar-benar menjadi angin malam. Di depan mataku sendiri. Harapku, mereka akan kutemukan lagi di negeri seberang. Tapi, waktu berputar cepat. Jalinan rambut putih dan lipatan kulit telah menghias. Ayah dan Ibu tetap menjadi angin. Aku harus iklas. Dan aku iklas. Kuceritakan semua ini di setiap waktu, setiap kesempatan bibirku bisa berucap. Cara ayah mencintaiku. Cucuku, alamat favorit mengalamatkan surat cerita ayah. Entah berapa ratus kali kualamatkan kisah ini. Terakhir kali, ia memotong ceritaku di awal. Berlari. Dibawakan potongan koran kepadaku. Itu ceritanya yang di muat di media masa. Judul cerita itu “Kaca Mata Kuda”.

Kubutambahan, 23 Maret 2013

Cerpen Karangan: Gede Agus Andika Sani
Blog: babibubebong.blogspot.com
Facebook: Sani Agus
Penulis merupakan penggemar cerpen, juga siswa SMA Negeri Bali Mandara. Keinginan terbesarnya adalah bahwa cerpennya bisa masuk di media masa, baik koran maupun website

Cerpen Kaca Mata Kuda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rezeki Dari Sepatu Butut

Oleh:
Pagi itu Rizky sedang menalikan sepatunya semangat paginya untuk sekolah surut karena melihat sepatunya yang sudah jelek dia termenung melihat sepatunya. “andaikan sepatu Rizky gak butut pasti Rizky gak

Tak Ada Pesta Malam ini

Oleh:
Jalanan sedang sepi sore itu. Hujan deras sejak pagi sudah cukup untuk menciptakan genangan air di sana-sini. Selokan yang mampet membuat air meluap hingga naik ke jalan aspal yang

Bintang Kecil (Part 2)

Oleh:
Ia melihat polisi keluar masuk dari dalam rumah Reyhan. Ada seseorang keluar dari rumah Reyhan dengan tangan diborgol dan didampingi polisi di sampingnya. Tirsya terkejut melihat sosok kedua yang

300 Detik

Oleh:
Gara-gara sebuah Nostalgia pesawat Hercules yang dulu Clara tumpangi, Mama dan Papa jadi meninggal. Ya, nostalgia itu yang selalu menghantui jiwa Clara tiap pagi, malam pun begitu. Clara mencoba

Berbagi Itu Indah

Oleh:
“Temen-temen.. lihat nih…” Ody memasuki kelas sambil mendongakkan kepala. Dengan sengaja ia menghentak-hentakkan sepatu barunya, “papaku baru beli sepatu. Ini belinya pake dollar gitu deh, kemaren belinya di Australi..”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *