Kades

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 August 2016

“pak’e… pak’e aneh-aneh aja!” seorang wanita berjubah panjang membawa segelas air.
“Aneh apa to buk’e?” jawab seorang laki-laki cungkring yang tengah berusaha mengatur nafasnya. Nampak tangannya yang menggengggam telinga gelas air. Pak Sukri, namanya. Laki-laki yang telah mendampingi wanita tersebut 25 tahun lamanya.

Memang semenjak 3 bulan lalu, pak Sukri berambisi menjadi seorang kades, kepala desa. Bukan untuk memberi nama bagi keluarganya. Pak Sukri ingin menghapus kejanggalan di desa kelahiranya tersebut. Memang tak aneh, pasalnya pak Sukri adalah satu-satunya guru agama. Satu-satunya orang yang mengerti agama, pemuka agama. Selain itu, pak Sukri yang belum sempat mengenyam bangku perguruaan tinggi, berusaha membanggakan almarhum Bapaknya. Memang dikala itu pak Sukri yang menjadi tumpuan keluarga. Mengingat pak Sukri adalah laki-laki satu-satunya dalam keluarga, semenjak bapaknya tiada.

Walau tak jadi orang gedhe. Pak Sukri masih punya gegayuhan. Mungkin tak Seperti dulu tapi, ia sangat yakin. Dia sangat percaya, menjadi kades adalah langkah awal baginya untuk membuat kecerahan dunia. Semua keinginan itu bermula dari pohon beringin di pusat desanya. Pohon itulah tuhan mereka. Sangatlah dikeramatkan. Banyak orang bodoh yang tiap harinya menaruh sesajen untuk pohon keramat itu.

“Bondo opo kri, kri?” seorang lelaki bertubuh kekar menyambut kehadirannya di teras. Pak Sukri hanya tersenyum megingat laki-laki kekar itu adalah teman karibnya.
“Ora kri, kalau kamu ingin jadi kades ya duwite dulu. Punya to?” pak Sukri tetap tak bergumam. Dia kembali tersenyum. Menurutnya tak ada jawaban lain selain tersenyum. Memang sudah habis semua kata-katanya.
“Wes to, santai. Kalau Allah Ta’ala sudah berkehendak. Kun fayakun.” Jawabnya setelah lama membisu. Sontak jawaban itu mengundang tawa yang menglegar dari keduanya. Sarto, sahabatnya memang tak percaya dengan ke-Agungan Tuhan. Ia lebih senang memuji sesuatu yang nyata dibanding dengan sesuatu yang semu. Tapi perbedaan tak menjadi keduanya jauh. Memang sudah berpuluhan kali Pak Sukri meluruskan sahabatnya. Tapi nihil. Mungkin Allah tak memberi hidayah, itulah pikirnya melihat sahabatnya kini.

Tanggal 10 Juli. Pak Sukri menunggu tanggal itu datang. Dengan spidol hitam di tangannya. Dia melingkari tanggal tersebut. Mengingat tanggal itu adalah tanggal bersejarah bagi hidupnya. Tanggal pemilihan kades yang jatuh pada hari itu.

“Duwit pak’e. Shinta masih sekolah. Ileng pak’e ileng! Kita wong cilik.” istri pak Sukri semakin naik darah. Mengingat Shinta anak ragilnya yang tengah mengenyam perguruan tinggi butuh banyak uang.
“Ndak buk’e. Gaji ku pasti tak kasih ke Shinta, seperti biasa. Pak’e janji enggak bakal makai duwit buat pemilihan kades.”
“Pak’e kampanye gimana. Enggak ada duwit, enggak ada yang milih.”
Pak Sukri cukup diam dan tersenyum melihat kekhawatiran istrinya. Dia enggan menjawab, takut membuat besar pikiran istrinya.

Hanya modal tekad, kemauan dan keyakinan ini mungkin cukup, pikir Sukri. Memang dia tak punya apa-apa. Motor pun tak punya. Sepeda unta, hanya itu yang dia punya. Sepeda itu telah menjadi salah satu barang berharga. TV 14 inchi yang menemani dia dan istri dalam hari tua. Sebuah radio dan seekor sapi yang akan menjadi modal pernikahan anak sulungnya kelak.

Pagi ini memang cerah, Pak Sukri mengggunakan kemeja panjang yang dikancing hingga ke ujung dan celana panjang berwarna gelap, tak lupa sepatu kulit yang dia beli dari pasar loak sebulan yang lalu. Dia hendak pergi ke kantor desa, mencalonkan diri sebagai kades.
“Bissmillah. Buk’e, pak’e berangkat dulu. Assalamuallaikum!” pak Sukri yang telah berada di tengah pintu pun melangkahkan kakinya.
“Waallaikumsalam pak’e, hati-hati!” istri Pak Sukri yang nampak cemas dan sepertinya enggan melepas suaminya.

Langkah pak Sukri semakin terasa berat. Antara ragu dan yakin, antara kalah dan menang. Hatinya terus berdegup seiring dengan hentakan kakinya. Dia tertegun melihat Mercedes merah yang terpakir di depan kator desa. Memang banyak orang yang terkagum-kagum dengan pesona Mercedes merah itu. Nampak orang-orang yang mengerubunginya. Seperti halnya tontonan langka. Ternyata anak juragan beras yang memilikinya. Dia muda dan tampan. 25 tahun usianya. Pak Sukri masih keheranan melihat kedatangan anak juragan beras itu.
“Dia muda, ganteng, dan juga sarjana. Apa tujuannya?” Tanya pak Sukri kepada salah seorang perangkat desa yang tengah berdiri di luar.
“Dia kepala desa masa depan kita. Perfect kan?”
Pak Sukri hanya diam dan tersenyum. Nyalinya semakin ciut mendengar pernyataan perangkat desa tersebut.

“Assalamuallaikum” pak Sukri melangkahkan kakinya ke dalam ruang pendaftaran. Nampak seorang pemuda tampan, yang disebut-sebut adalah anak dari juragan beras itu. Dia mengisi formulir pendaftaran itu.
‘benar kata perangkat desa itu!’ katanya dalam hati. Pak Sukri menghela nafasnya panjang-panjang. Berusaha mengatur mentalnya yang tengah jatuh.
“Ini pak formulirnya!” pemuda itu mengulurkan tangannya kepada pak Sukri. Selembar kertas formulir di tangannya. Pemuda itu tinggi, tegap, dan putih, aroma badannya pun sungguh wangi.
‘Dia sangat ramah ternyata, kukira dia sombong!’ pikir pak Sukri sambil menatap tajam wajah pemuda itu dan mengambil kertas yang berada di tangannya.

Pertemuan singkat Pak Sukri dengan pemuda tersebut, tak membuat sedikitpun mental pak Sukri goyah. Dia optimis dan terus optimis. Hari kampanye pun tiba. Masing-masing kepala desa menyuarakan visi dan misinya, termasuk pak Sukri. Dia tak mau kalah. Semangatnya terus menggebu-gebu. Walau terpaut usia yang sangat jauh berbeda dengan para calon lainnya.

“Pidatonya apik, orangnya berwibawa dan visi misinya jelas! Sukri piye iki?” sahabat pak Sukri nampak sangat cemas. Apalagi setelah mendengar pidato anak juragan beras itu. Dia merasa kemampuan sahabatnya sangat jauh di bawah pemuda itu.
“Ya bagus to. Berarti dia punya gegayuhan seng apik.” Pak Sukri nampak sangatlah santai menjawab pertanyaan sahabatnya.
“Siap-siap duwit berapa, kri?”
“Ndak… pakai duwit-duwitan.”
“Jabang bayik. Gimana to kri?”
“Gimana piye? Ya ini bagus to!”
“Ora… ora, pasti kalah kri, Sukri!”
“Ya kalau menang Alhamduillah, kalah wasyukurillah.”
“Wes… karepmu!”

Seusai berpidato dan berkampanye ke seluruh desa. Pak Sukri dan Sarto, sahabatnya mampir ke sebuah warung. Mereka bercerita dan bercanda bersama. Layaknya dua sejoli yang dipertemukan kembali. Mereka sangat akrab walau berbeda keyakinan. Malam pun menyambut keduanya. Pembicaraan seakan terus menyambung. Mengingat esok adalah hari pemilihan, Sarto pun mengajak sahabatnya untuk pulang. Keduanya masih berjalan berdampingan.

“Sarto! Opo kuwi?” Pak Sukri yang tengah berjalan pun berhenti. Ia ternganga melihat seseorang dengan amplop tebal.
“Anaknya juragan bagi-bagi duwit!” Sarto yang melihat pemuda itu langsung menarik Pak Sukri untuk bersembunyi.
“Astagfirullah!” pak Sukri menarik nafas sembari mengelus-elus dadanya.
Pak Sukri yang mengingat kejadian itu masih tak percaya. Seorang pemuda baik, bisa melakukan perbuatan sekeji itu. Dia terus melamunkan kejadian itu sambil berbaring di ranjangnya. Pak Sukri semakin takut. Apa yang dikhawatirkannya mungkin akan terwujud.

Wajah pak Sukri sudah tampak lesu. Ia berfikir harapannya telah pupus. Mengingat pemungutan suara, anak juragan beras itu pemenangnya. Parahnya hanya ada 2 suara yang masuk pada pak Sukri, yaitu dari istri dan sahabatnya. Bukan Karena itu saja, dia sesungguhnya tengah memikirkan keadaan desanya. Dia pun mengeluarkan dompet yang berisi uang sepuluh ribu dan limapuluh ribu. Dia memandang tajam uang itu.
“Kau membuat semua hancur, dasar uang laknat!” Pak Sukri melaknat uang yang ada di genggamnya dan membuangnya jauh-jauh.

Cerpen Karangan: Nana
Facebook: Alfina Ayu

Cerpen Kades merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Terakhir

Oleh:
Sayup-sayup angin senja mengiringi tarian rumput liar di sela paving block yang menanti nasibnya di ujung gunting itu. Di ujung barat daun jendela setengah terbuka dengan tirai putih melambai

Naskah Stasiun

Oleh:
“Aku ini anak dari cucu Tan Malaka!!” Begitulah, dengan semangat yang menggelegak terbayang dari urat lehernya yang menegang saat setiap kali si Turmin, anak umur 12 tahun yang tinggal

Samudera Rasa Tepian Pantai

Oleh:
Tak ada apa pun yang mampu membuatnya tertidur dengan lelap di malam yang dingin itu. Bayangan anak–anaknya yang tengah tertidur dengan pulas terus membayangi benaknya. Ia segera terjaga saat

Kepada Sang Hujan

Oleh:
Tak ada yang berbeda hari ini, ku lihat orang-orang sedang tergesa mengejar waktu mereka. Apalagi hari ini kerumunan awan sedang berkumpul, Sembari menunggu untuk merelakan kepergian sang air hujan

Pagi Kuning Keemasan

Oleh:
“Badrol! Yok cari karang!” Seru Kentang pada sohib akrabnya yang kini tengah menengadahkan kepalanya mengarah ke mercusuar. Melihat kawannya tak merespon, Kentang-pun setengah berteriak, “Woy! Lihat apa pula kau?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *