Kado Kecil Untuk Rima

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Hari ini adalah hari ulang tahun keenam untuk Rima, seorang gadis kecil yang tak pernah bisa memilih dilahirkan oleh sepasang pemulung, yaitu pak Yanto dan bu Yati. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, tak ada yang spesial di hari ulang tahunnya. Hanya sebaris doa tulus dari Bu Yati agar Rima tak pernah menjadi sepertinya, itu pun sebenarnya doa yang sama seperti hari-hari biasanya. Sekali lagi, tak ada yang spesial di hari bahagianya. Pak Yanto pun lupa dengan hari kelahiran buah hatinya, yang beliau tahu hari ini harus mendapatkan botol bekas, paku, dan barang-barang bekas lainnya agar bisa disulap menjadi selembar kertas, dan menjadi 3 bungkus nasi.

“Pak, hari ini ulang tahun Rima loh,” ucap bu Yati coba mengingatkan.
“ya Allah, Bapak lupa lagi Bu, Insya Allah besok Bapak bawa hadiah buat Rima,” tandas Pak Yanto sembari menatap Rima yang masih tertidur lelap.
“Iya Pak, semoga ada rejeki lebih ya. Biar sesekali Rima merasakan seperti anak-anak seusianya,” sahut bu Yati penuh harap. Mereka pun bersandar di sebuah toko yang megah, dan perlahan menutup mata yang lelah karena seharian mencari sampah.

Selang berberapa waktu, kumandang adzan subuh membangunkan Pak Yanto dari mimpi indahnya, mimpi tentang rumah yang nyaman, berhalaman luas, pekerjaan yang tetap. Sayangnya, hanya sebuah bunga tidur. Pak Yanto pun masih terbangun di tempat yang sama, dan pekerjaan yang sama. Ya, beliau masih di emperan toko yang di sampingnya masih terparkir sebuah gerobak yang di dalamnya ada buah hatinya yang mungkin sedang memimpikan hal yang sama. Beliau menatap tajam istri dan anaknya, sembari terus berbisik dalam hati, “Maafkan Bapak.”

Pak Yanto pun segera membangunkan bu Yati yang tertidur pulas di sampingnya, mengajaknya menjalankan ibadah subuh di musala terdekat. Bu Yati pun terbangun, tak seperti ibu rumah tangga lain, yang ketika bangun harus merapikan kamarnya. Beliau hanya menatap suami tercintanya dan menghadiahkan sepucuk senyum. Perlahan, mereka berdua mendorong rumahnya. Langkahnya pelan, karena mereka tahu Rima masih terlelap di dalamnya. Sesampainya di musala, mereka parkirkan gerobaknya di teras yang cukup luas. Mereka melihat buah hatinya sembari mencari mukena, sarung, baju koko, dan peci yang dijadikan alas oleh Rima. Bu Yati mengambilnya dengan hati-hati. Namun, Rima pun terbangun, dan menangis kencang. Bu Yati menggendong Rima, memeluknya kemudian mengajaknya wudu dan seperti biasa mengajarinya salat.

Rima kecil pun diam dan mengikuti rakaat demi rakaat, sesekali menaiki punggung Bu Yati ketika sujud, mengajak bu Yati bercanda dalam khusuknya ibadah, atau bahkan menirukan suara imam ketika membaca surat al-Fatihah. Ya, itulah Rima kecil. Setidaknya di musala itu, keluarga pak Yanto terlihat sama dengan orang lain, terlihat tak berbeda karena status sosialnya, dan keluarga pak Yanto membuktikan bahwa keterbatasan tidak membuat ibadahnya terbatas. Tanpa sekali pun pak Yanto mempertanyakan mengapa beliau rajin beribadah namun kehidupannya susah. Sedangkan yang tak pernah beribadah kehidupannya mewah.

“Kaya, indah, dan segalanya yang ada di dunia hanyalah fana, dan sangat relatif. Yang kaya belum tentu bahagia, belum tentu juga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah seperti keluarganya. Rejeki pun urusan Allah, beliau hanya berusaha. Jika hanya sedikit yang beliau dapatkan, mungkin begitulah keadilan dan kecukupan yang Allah berikan, beliau pun tak pernah takut tak bisa makan, karena beliau yakin Allah maha pengasih dan maha penyayang, lagi maha memberi. Seperti cicak yang tidak bisa terbang tapi makanannya adalah nyamuk yang bisa terbang, Allah tak mungkin salah menciptakan cicak itu. Layaknya juga laba-laba yang hanya memasang jaring dan makanannya datang dengan sendirinya, itu semua rejeki dan kuasa Allah,” begitu yang beliau yakini.

Tak terasa, hangat mentari menyapa keluarga itu. Pertanda aktivitas harus segera mereka jalani. Pak Yanto harus memakai seragam lusuhnya, begitu pun bu Yati. Pak Yanto dengan semangat yang begitu kuat berjalan meninggalkan bu Yati dan Rima. Tak ada kopi, tak ada koran, di setiap paginya, hanya karung kotor dan magnet untuknya mencari nafkah. Hari itu, Bu Yati putuskan untuk tidak bekerja, bukan karena tanggal merah. Karena beliau tidak mengenal tanggal merah. Tapi beliau sadar, ingin menemani hari istimewa anaknya. Bu Yati mulai mendorong gerobaknya menuju tempat pembuangan akhir (TPA) yang biasanya.

Di balik tubuh kurusnya tersimpan tenaga yang cukup kuat untuk mendorong gerobak itu, Rima kecil pun asyik duduk di atas gerobak sembari melihat hiruk-pikuk manusia perkotaan, sesekali menatap anak seusianya yang sedang berangkat ke sekolah. Rima yang polos menatap ibunya dan bertanya, “Bu, Rima belum boleh sekolah ya?” Seketika bu Yati yang menatap wajah tanpa dosa itu, “Iya, Rima sekolah tahun depan ya? Rima kan masih kecil,” begitu ucapnya. Padahal dalam hati beliau berkata, “Maaf Rima, sekolah itu mahal. Pemerintah menjanjikan sekolah gratis tapi seragam, buku-buku, uang pendaftaran, dan lainnya masih harus diperjuangkan sendiri. Ibu belum mampu membiayai Rima sekolah. Maaf.”

Bu Yati dan Rima pun tiba di TPA itu, sembari menunggu pak Yanto datang membawakan sebungkus nasi. Rima asyik bermain dengan boneka lusuh yang bu Yati temukan di antara sampah. Di sisi lain, pak Yanto masih menyusuri tiap bak sampah yang kotor dan bau. Sembari memilah sampah-sampah yang layak dijual. Orang-orang yang melihat pak Yanto seakan jijik, padahal beliau adalah orang yang bertanggung jawab kepada keluarganya. Biarpun memulung selalu dipandang sebelah mata, tapi setidaknya beliau tak pernah mengemis. Dari sampahlah beliau mencari berkah.

Orang-orang yang berpakaian rapi, wangi, bersih seakan tak peduli dengan masalah sampah, dengan plastik yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa terurai, seakan mereka hanya bisa memproduksi, memakai, dan melupakan alur terakhir dari sampah. Pak Yantolah yang kiranya tahu tentang sampah, tentang bersih adalah masalah hati, tentang pekerjaan yang halal, dan juga tentang ujian hidup. Pak Yanto beralih dari bak sampah satu menuju bak sampah lain, karena hanya di sana beliau menggantungkan harapannya. Beliau tak pernah bisa masuk ke desa, masuk ke gang-gang. Karena beliau selalu menjumpai peringatan, “Pemulung dilarang masuk!”

Entah mengapa, beliau seakan mendapatkan diskriminasi dari orang-orang. Selalu dituduh sebagai pencuri. Padahal hanya sampah yang belaiu cari, jika ada yang mencuri mungkin hanya sebagian kecil dari orang-orang yang bernasib sama seperti pak Yanto, itu pun tak ada satu persen jika dibandingkan dengan orang-orang di gedung mewah sana yang mencuri uang rakyat. Namun, peribahasa nila setitik rusak susu sebelanga memang berlaku. Pak Yanto hanya menjadi korban dari efek domino yang dilakukan orang seprofesinya.

Dalam hati hanya bergumam, “Mana hak yang dijanjikan Undang-Undang, bahwa rakyat berhak bekerja, dan bebas dari diskriminasi?” Pak Yanto tak bisa berteriak-teriak menyuarakan isi hatinya, karena suaranya terlalu kecil, sedangkan para elit pun terkesan tuli. Hanya kepada Allahlah kiranya beliau bisa mengadu. Siang semakin terik, kaus tipisnya seakan tak mampu menghalangi sengatan mentari. Dari ujung sebuah jalan, beliau melihat orangtua melambai ke arahnya. Beliau pun bergegas menghampirinya.

“Mas, bisa minta tolong bantu bersih-bersih ini? Ada banyak botol air mineral juga. Kalau Mas mau bisa diambil,” ucap bapak tua yang masih memancarkan senyum bahagia setelah acara resepsi anaknya. “Iya Pak, siap,” jawab pak Yanto penuh semangat. Satu per satu sampah dipungutnya, hingga akhirnya tak ada satu pun yang tersisa. Pak Yanto menghampiri bapak itu. “Udah Pak, kayaknya sudah bersih,” ucap pak Yanto sembari mengusap keringatnya.
“Oh. Iya Mas. Terima kasih ya? Ini ada sedikit sisa jajan mohon diterima ya?” pak Yanto pun dengan senang hati menerimanya. “Satu lagi Mas, ini ada sedikit rejeki. Mohon diterima juga,” ucap bapak itu sembari mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya.

Pak Yanto menerimanya, karena baginya menolak rejeki adalah hal yang konyol. Beliau pun pergi sembari menebar rasa syukur dan teriring doa kepada bapak-bapak tadi. Karung yang beliau bawa pun terisi penuh, ditambah ada sebuah amplop tebal yang membuatnya penasaran. Perlahan Pak Yanto membuka amplop itu, “Subhanaallah,” Beliau terkejut karena amplop itu berisi uang lima ratus ribu. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas semua rejeki yang engkau berikan,” bisiknya lirih.

Beliau kembali menuju TPA tempat biasa beliau menjual sampah-sampahnya. Tapi, beliau sempatkan untuk membeli sebuah kado untuk Rima. Sesampainya di TPA, Rima dan Bu Yati menyambutnya seperti biasa. Sebuah senyum menghadang langkah pak Yanto, ya senyum Rima yang melihat bapaknya membawa sebuah kado. “Ini rejekimu Nak,” ucap pak Yanto sambil mengelus rambut Rima. Bu Yati pun turut tersenyum bahagia. Rima tak sabar membuka kado itu, dirobeknya kertas indah pembungkus kado itu. Di dalamnya terlihat boneka panda dan sebuah mukena berwarna merah muda. Rima pun memeluk pak Yanto yang masih berkeringat. Bu Yati, hanya bisa tersenyum bahagia melihat anaknya bahagia.

Cerpen Karangan: M. Ubayyu Rikza
Blog: Bayrikza.blogspot.com
Facebook: bayu (Muhammad Ubayyu Rikza)

Cerpen Kado Kecil Untuk Rima merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menjebak Pencuri Mangga

Oleh:
Entah ide apa yang ada akan dilakukan Roni. Saat ini, ia sangat kesal dengan ulah pencuri mangga. Meskipun sudah diberi pagar berduri, pencuri masih tetap nekat “membersihkan” pohon mangga

Dari Mana Air Mata Jatuh?

Oleh:
Namaku Fafa Frenda Alimsya. Aku punya seorang kakak perempuan, namanya Gipsy Alimsya. Sayangnya dia enggak begitu suka sama aku. Aku punya ayah, dia seorang Pejabat pemerintahan. Dan kami hidup

Definisi Cinta (Part 1)

Oleh:
Malam begitu terasa sepi. Ingin rasanya aku memiliki seorang kekasih. Seorang pria yang mampu membuatku nyaman. Memberiku perhatian. Dan tentunya melindungiku. Dulu memang aku tak mengenal apa itu cinta.

Dialog Dalam Lemari

Oleh:
Wanita muda dengan posisi tegap, berdiri tepat di depan cermin besar dalam kamarnya. Ia memandang lekat-lekat sosok yang mirip dirinya dalam cermin. Sesekali ia tersenyum. Bibirnya dioleskan dengan barang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *