Kafe Kafein (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 February 2017

Betapa banyaknya ketidakyakinan di dunia ini. Kita tidak yakin akan nasib kita hari esok, atau kita tidak yakin betapa besarnya seluruh alam semesta ini. Kita tidak yakin dengan potensi kami masing-masing, atau kita tidak yakin bahwa orang yang duduk di sebelah kita sedang berkata jujur atau tidak. Ketidakyakinan tersebut kami telan bulat-bulat hari demi hari, tetapi aku tahu satu hal yang absolut; kopi terbaik di dunia hanya dapat dibuat oleh ibuku.

Kisahku dimulai di Jakarta, tempat dimana aku lahir dan ditumbuhkan. Setelah berbulan-bulan lamanya telah meninggalkan rumah, kemacetan dan kesibukan kota ternyata juga dapat dirindukan. Itali, Perancis, Jerman, sampai Kanada telah kujelajahi demi pekerjaan yang tiada hentinya. Pesawat demi pesawat kukejar untuk mencari kesempatan untuk memperluas waralaba sebuah bisnis yang kumulai dengan kedua tanganku sendiri.

Alasan mengapa aku menetap begitu lama di suatu negara yang begitu asing bukanlah untuk sekedar bisnis saja.
Aku akan jujur, aku mempunyai sebuah obsesi, yaitu kopi. Minuman pekat dan gelap inilah yang menjadi alasan perantauanku yang berbulan-bulan lamanya. Robusta, arabica, dan charrieriana telah kucicipi semua demi mencari secangkir kopi terenak di dunia ini yang bisa mengalahkan kopi buatan ibuku. Setelah menghadiri rapat demi rapat di negara asing dengan orang-orang yang sama asingnya untukku, aku akan selalu mencoba untuk menyisakan waktu untuk menjelajahi kafe dan tempat makan yang dianggap masyarakat lokal di sana layak untuk dicoba. Pada akhirnya, pencarianku untuk kopi terbaik di dunia ini membawaku ke kota asalku.

Informasi yang menular dari bibir ke bibir mengabarkan kepadaku akan sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalku. Sepekan yang lalu, seorang kerabat yang sama-sama menggilai kopi telah memberitahu kepadaku bahwa sebuah tempat baru telah buka, dan kabarnya mereka menyajikan kopi tidak seperti apa pun yang kamu pernah bayangkan.

Akhirnya di sinilah aku berdiri, di depan sebuah gedung tua berlapis bata merah yang terlihat makin kotor di bawah sorotan lampu jalanan. Dari seberang jalanan, terlihat kursi-kursi yang ditumpuk di atas meja di belakang kaca jendela yang tertempel tulisan “Come in. We’re open.”

Aku menyeberangi jalanan itu untuk menghampiri tempatnya. “Kafe Kafein” tertulis besar-besar dengan huruf sambung berwarna putih di dinding gedungnya. Terlihat bahwa tempat ini sudah kosong dari melihat di balik kaca jendelanya. Maklumlah, salahku juga karena tertangkap dalam rapat dan akhirnya harus memaksakan untuk datang di malam hari.

“Permisi. Masih buka?” tanyaku begitu aku memasuki kafe itu. Ruangan di dalam dihiasi dengan bingkai-bingkai yang berisi foto-foto yang serba monokromatik. Kursi dan meja kayu mengisi ruangan yang remang-remang itu. Terdengar langkah kakiku yang berat dan menyeret seakan-akan mengisi ruangan yang kosong dan sunyi. Aku sudah setengah jalan berbalik badan untuk keluar ketika kudengar sebuah suara dari dalam.
“E-eh mas! Jangan pergi dulu! Ini masih buka kok!” terdengar suara seorang pria. Dari suara gelas dan piring yang berdering, sepertinya seseorang sedang di tengah mencuci piring. Akhirnya, seorang pria berjalan tergopoh-gopoh keluar belakang pintu dapur.

Ia berbadan kurus dan tinggi. Mukanya tirus dan dilengkapi dengan kacamata bulat yang duduk di atas hidung yang mancung. Bajunya dilapisi dengan celemek putih yang sudah kotor dan ternoda dengan yang sepertinya berupa tumpahan kopi. Rambutnya panjang mencapai bahu dan diikat secara berantakan. Tampaknya bukan seperti seorang barista, ia lebih cocok bekerja di toko kelontong.

“Maaf mas, ini saya sedang beres-beres. Tadi tempatnya kayak kapal pecah.” Ia terkekeh sendiri. “Silahkan duduk, mas.”

Sebetapa canggungnya momen itu, aku masih menarik sebuah kursi mendekati sebuah meja kayu yang terletak paling dekat denganku.

“Silahkan, mas. Mau pesan apa?”
“Di sini menu spesialnya apa? Saya mau minuman saja.” Tanyaku kembali. Aku langsung melontarkan pertanyaan rutin itu.
“Mas suka kopi? Kalau di sini, kita punya ‘House Special’ yang khas. Favorit pelanggan loh, mas. Tertarik untuk mencoba?” Katanya sembari mempersiapkan cangkir-cangkir dan peralatannya yang lain, seakan-akan ia sudah pasti aku akan memesannya.
“Mmm… Boleh deh.”
“Oke! Satu ‘House Special’ segera datang!” Ujarnya antusias. Jujur, aku belum pernah melihat seorang dengan gerak-gerik sepertinya. Saat ia bekerja, ia membungkuk tubuhnya yang super jangkung hingga seakan-akan hidungnya menyentuh konter meja. Raut mukanya menunjukkan konsentrasi tingkat dewa yang tak terganggukan.

“Mas sendiri yang punya kafe ini?” Tanyaku di tengah kegaduhan pekerjaannya. Ia mengangkat mukanya di belakang mesin kopi dan menatapku serius.
“Iya, hehehe. Kafe, rumah makan, restoran- panggil apa aja yang kau mau.” Raut mukannya berganti drastis menjadi riang dan gembira. Aneh. “Mas sendiri, baru pulang kerja? Masih pake setelan gitu lagi.”
“Oh, iya. Saya kebetulan ada meeting sampai sore. Saya pikir kapan lagi bisa ke sini kalau tidak dipaksakan. Saya harap mas tidak keberatan.” Ujarku.

Tak lama kemudian, secangkir kopi panas sudah tersedia di hadapanku. Asapnya mengepul dari cangkir kopi keramik dan membuat awan samar di latar kafe yang gelap itu.
“Silahkan, mas. Ayo dicoba.” Katanya sambil mengambil kursi tepat di sebelahku dan menatapku tajam.

Pria janggal di kafe janggal dengan kopi janggalnya. Hendak aku segera mengakhiri pertemuan ini, aku pun menyeruput kopi panas itu dengan cepat tapi hati-hati. Rasa pahit-manis bergulir di lidahku, diikuti oleh selipan aroma kayu manis dan cengkeh. Cangkir kopi itu bisa kubaca sejelas buku, terutama setelah mencicipi ratusan seduhan kopi di seluruh dunia. Tatapan pria itu menghantuiku sembari aku menghabiskan kopinya sampai ke dasar cangkir.

“Gimana, mas? Enak?” Tanyanya selagi mencari ekspresi wajahku.
“Enak… Enak, kok.” Kataku mencoba bersikap baik.
“Tapi… Ada apa, mas? Apa yang kurang?” Melihat wajahku yang kurang menyakinkan, pria itu langsung melontarkan pertanyaan lagi.
“Tidak. TIdak ada yang kurang, kok. Kopi ini enak, tapi bukan yang terenak.” Kataku datar. Aku sudah merasakan ini akan terjadi lagi. Kopi yang diglamorkan oleh orang-orang tidak lebih dari sekedar penyegar tenggorokan untuk aku. Tidak lebih dari sekedar penghabis waktu.
“Ooh.. Ya kalau mas mau cari kopi terenak di dunia ya bukan di sini tempatnya. ‘Kan saya sudah bilang, ini kopinya khas, bukan terenak. Lagipula, enak itu relatif untuk semua orang. Yang mas bilang tidak enak, bisa saja dipuja-puja oleh orang sebelah.” Pria itu membenarkan kacamatanya yang berembun saking dekatnya ia mengamati aku meminum kopi panas itu.
“Kamu benar. Memang enak itu relatif, tetapi saya sebenarnya datang kemari untuk melihat apakah kopi yang mas buat bisa mengalahkan enaknya kopi buatan ibu saya. Mas tahu, saya sudah berkelana kesana-kemari untuk mencari kopi terenak, tetapi belum ketemu juga? Coba, jika saya sudah menemukan kopi terenak itu, pasti aku tidak akan membela-bela datang selarut ini.”
Muka pria itu termanut-manut. Kombinasi simpati dan bingung, kurasa. Aku tidak menyalahkannya, memang obsesiku ini bisa dikatakan ganjil dan aneh.

“Ya sudah deh! Begini, mas beri saya kesempatan lagi untuk membuat kopi terenak di dunia!” katanya berapi-api. Ia menghentakkan tangannya di meja kayu, membuatku kaget. “Bagaimana kalau mas datang lagi minggu depan? Aku janji kopi buatanku akan meledakkan indra rasa mas!”
Aku ragu untuk menjawab dan mencari-cari alasan untuk menghindar pertemuan tersebut. Berbagai alasan kerjaan sampai harus membenahi rumah kulontarkan padanya, tapi ia masih keras kepala.
“Ayolah, mas! Siapa tahu aku akan membuat secangkir kopi terlezat di dunia, dan mas tak akan pernah tahu karena mas gengsi untuk ke sini.” Katanya. Sekarang dia mulai sombong.
“Oke, oke. Aku janji akan kembali ke sini minggu depan, asalkan kau janji akan memberikan kopi terlezat di dunia.” Kataku yang akhirnya lelah dengan pintaannya.
“Oke! Deal!” Tidak ada jejak rasa sesal atau ragu di mukanya. Ia mengeluarkan tangannya untuk menjabat tanganku dengan keras. “Oh ya! Nama saya Darwis, mas. Mas sendiri dengan siapa, ya?”
Sebelum ia bertanya-tanya lebih lanjut, aku memancing sebuah kartu nama dari kantung setelanku dan meletakkannya di atas meja. Darwis memungut kartu tersebut dan sebuah ekspresi muncul di wajahnya.
“Mas kerja di Beans & Brew? Yang punya grup kafe-kafe itu?” Tanyanya.
“Bukan kerja. Saya yang punya.” Aku sudah melangkah keluar dan tak sempat melihat wajahnya yang terkaget-kaget. Aku hanya sempat mendegarnya berseru sebuah ungkapan “Waduh!” dengan kagum.

Aku menepati janji yang kubuat dengan Darwis malam itu. Tepat seminggu setelah pertemuan kami yang pertama, aku menemukan diriku berdiri di tempat yang sama seperti malam itu. Kali ini, karena ada waktu luang, aku sudah sampai di Kafe Kafein di sore hari. Beda dengan kali pertama, Kafe Kafein sekarang dipenuhi dengan pemuda-pemudi kota dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Kebanyakan dari mereka sedang memegang laptop, sebagian yang lainnya lebih memilih untuk berbincang kepada kerabat-kerabat yang duduk di sebelah mereka. Suara tawa dan perbincangan terdengar menutupi musik jazz yang samar. Aku melangkah memasuki Kafe Kafein dan menemukan Darwis sedang sibuk meracik kopi untuk pelanggan-pelanggannya. Atmosfer Kafe Kafein seakan-akan berubah dari kafe remang dan tenang yang kukenal.

“Eh! Mas! Datang juga rupanya!” Sebuah tangan menepukku di bahu. Tiba-tiba Darwis sudah berada di sampingku. “Duduk, duduk! Bentar, saya carikan kursi. Lagi full house, mas. Hehehehe.”

Akhirnya kami berdua duduk di bangku tinggi yang terletak di sebelah jendela kafe. Jalan di luar Kafe Kafein terlihat ramai dan ricuh. Di antara suara peluit tukang parkir dan mobil yang berlalu-lalang, kesibukkan kota Jakarta terlihat semakin menjadi-jadi.

“Untung saya sudah berangkat dari siang. Coba saja jika saya berangkat satu jam lebih telat, bisa kejebak macet parah.” Kataku mencoba memulai perbincangan.
“Hehehe… Iya, mas.”
Raut muka Darwis menyembunyikan suatu ekspresi yang tidak dapat kubaca dengan jelas, seperti ia ingin mengatakan kabar buruk tetapi ia tidak bisa mengungkapnya.

“Darwis, kenapa kamu? Sakit? Kok lemas sih?” Tanyaku.
“Hehe. Bukan, mas. Cuman mau bertanya doang sih. Kalau mas sendiri tidak merasa ingin jawab, gak usah, kok.”
“Oh? Pertanyaan apa?”
Darwis terus-menerus menunduki kepalanya. Entah mengapa ia tidak mau menatapku. Ia duduk terdiam sampai akhirnya ia menarik nafas yang panjang.
“Mas sebenarnya datang ke saya karena mencari kopi terbaik yang bisa mengalahkan rasa kopi ibu mas. Benar?”
“Iya, benar. Ada apa?”
“Kalau boleh saya tanya, sebetapa enak kopi buatan ibunya mas sampai-sampai mas merantau keliling dunia demi mencari penggantinya?”

Pertanyaan tersebut aku sering tanyakan pada diriku sendiri. Tak terhitung berapa malam aku habiskan untuk merenungi alasan di balik misiku yang satu ini. Anehnya, setiap kali terlintas di benakku, pertanyaan ini hanya dapat kuhindari lagi dan lagi, entah tidak dapat menjawab atau tidak ingin menjawab. Sekarang, seorang lain selain diriku sendiri akhirnya dapat menyuarakan pertanyaan yang membayangi benakku, dan aku sendiri tidak bisa lari dari konfrontasi ini.
Sejenak kupikirkan jawabanku. Tidak ada yang mengisi kepalaku.

Cerpen Karangan: Dyandra Malika

Cerpen Kafe Kafein (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arief Jadi Pengantin

Oleh:
Pagi masih berkabut. Embun masih bergelayut manja di tepian rerumputan seolah enggan untuk turun membasuh tanah. Hunian serasa sepi ngelangut meski samar-samar terdengar suara beberapa ibu tadarus bergantian di

Sebuah Jawaban diujung Jurang

Oleh:
“Setiap orang berhak bahagia”. Itu kata-kata yang sering aku dengar dari mulut orang-orang. Dan aku fikir itu adalah perkataan yang benar. Karena aku pernah merasakan kebahagiaan itu. Dulu, aku

My Brother

Oleh:
Mataku yang sedang berat dibuka tiba-tiba langsung terbuka lebar ketika melihat seseorang di samping tempat tidurku. Seseorang yang selama ini aku rindukan sudah ada di sampingku, bahkan di hadapanku.

Mimpi Yang Tak Pernah Usai

Oleh:
Semua ini merupakan perjalanan seorang gadis kecil yang beranjak dewasa ia bernama Andin. Dulu sewaktu dia masih duduk dibangku taman kanak kanak hidupnya amatlah senang, sepeti yang dirasakan anak

Jalan Tak Berujung

Oleh:
Tumpukan Masalah itu memberi kamu dua pilihan To be someone better Atau To be someone broke Pilihan ada di tangan kalian. Sejak kecil, aku hanya dapat merasakan kasih sayang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *