Kakek Petunjuk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 12 September 2020

Sebagai freelance photograper, kemanapun aku pergi pastinya kameraku akan selalu setia menemani, terlebih untuk tujuan mencari spot alam yang unik nan indah sesuai dengan selera potretku. Jarak sejauh apapun rasanya tak pernah jadi masalah, karena selalu saja akan terbayarkan saat keindahan dari sang pencipta itu sudah kudapat.

Seperti sekarang, aku rela jauh-jauh datang dari Jakarta demi menyempatkan diri untuk ikut hadir menyaksikan fenomena alam yang hanya akan muncul dalam 33 tahun sekali, yang memang juga hanya bisa dinikmati di beberapa titik kota di Indonesia. Salah satunya di kota Palembang.

Hari masih pagi ketika aku mempersiapkan tempat yang tepat untuk kameraku berdiri, mengatur lensa panjang mengarah ke atas demi mengabadikan momen langka yang akan terjadi beberapa saat lagi. Anemo masyarakat terhadap keajaiban alam ini sungguh luar biasa. Posisiku sedikit berada di tengah-tengah sebuah jembatan yang cukup terkenal di kota Palembang, yakni di jembatan Ampera. Tak terbayang seberapa lebar dan panjangnya jembatan ini, yang biasanya cukup lengang untuk hilir kendaraan yang lewat, kini mendadak menjadi lautan manusia yang berjejal penuh di sepanjang jembatan. Hampir semua telah bersiap dengan kacamata khususnya masing-masing.

“Nak, kok tidak pakai kacamata? Bisa bahaya lho kalo dilihat secara langsung tanpa pelindung?”

Seorang kakek tiba-tiba menegurku. Aku yang sedang sibuk dan tak ingin diganggu hanya membalasnya dengan senyuman acuhku. Toh kakek itu juga hanya bicara dan berlalu, seperti tak ingin menunggu jawaban dariku, lenyap begitu saja tersapu di tengah orang yang berdesakan.

Ketika detik-detik keajaiban alam itu akan terjadi, di tengah lautan manusia layaknya ribuan semut yang berjejalan dalam sarangnya, kubidikkan lensaku ke segala arah lebih dulu untuk mengabadikan moment terpenting dalam sejarah dunia yang mungkin tak akan datang untuk kedua kali seumur hidup. Lalu sesaat kemudian cepat-cepat kupindahkan fokus ke arah langit ketika normalitas cahaya mendadak redup, semakin gelap, dan akhirnya berpuncak pada sebuah fenomena menakjubkan. Aku menganga terpesona. Sang surya di pagi hari yang sebelumnya cerah dan terang, kini telah berubah gelap karena seluruh permukaanya tertutup rapat oleh dewi rembulan. Cukup petang persis di malam hari.

Lalu kemudian riuh gemuruh semua orang pun pecah menggelegar menggetarkan sekujur tubuhku. Ada yang bersorak takjub, ada juga yang riang bertepuk tangan penuh kekaguman. Semua melebur membaur menjadi satu.

“Aduh!” kameraku tiba-tiba bergoyang dan hampir jatuh.
“Jangan pandangi terlalu lama, Nak.”

Ah, Kakek ini lagi. Maunya apa sih! Kameraku jadi bergeser dan menyorot ke arah lain, tapi Kuabaikan saja kakek itu, aku kembali merekam. Sesekali kutatap langsung bulatan abnormal sang surya itu. Tapi mendadak seperti ada yang menggerakan kedua netraku, aku menoleh ke arah kakek tadi, yang ternyata lagi-lagi hanya berlalu dan menghilang di tengah orang-orang yang semakin menghimpit. Kemana lagi dia? Ah, sudahlah, gak penting.

Aku kembali mendoangakan pandang ke arah langit, menyaksikan sisa-sisa gerhana matahari total yang sebentar lagi akan segera berakhir dan kembali normal. Sungguh keajaiban yang luar biasa dari sang maha pemilik jagat raya. Benar-benar menakjubkan dan mempesona.

Setahun kemudian di sebuah pepohonan yang rindang, aku terpekur mengingat masa itu. Kini hidupku telah sempurna berubah. Bukan lagi setiap kemana membawa kamera, tapi akan tetiba gelisah kalau-kalau tongkat penunjuk jalan di tanganku ini sampai hilang atau tertinggal entah di mana.

Aku terisak dalam tunduk, mungkinkah kakek bertongkat putih perak setahun lalu sebenarnya petunjuk bagiku?

“Betul, Nak. Seharusnya kau dengarkan ucapan kakek waktu itu.”
“Astaga!! Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu apa yang kupikirkan?”
“Jangan takut, Nak. Kakek memang beda dengan orang lain pada umumnya. Tapi kakek sama sepertimu. Kita sama-sama tak bisa lagi menikmati keindahan cahaya dunia.”
“Maksud kakek?” Aku terhenyak dan menatap gelap ke sumber suara.

Cerpen Karangan: Owy Ahmad
Blog: owyachmadz.blogspot.com

Cerpen Kakek Petunjuk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Culun ke Ganteng

Oleh:
Hendry namanya. Anak kedua dari 2 bersaudara. Kakaknya Herlina atau disapa Herli. Hendry kelas 4-1 SDIT Cahaya Islami. Ia Hendry anak yang selalu juara 1 setiap kelas dan semester.

Penyair dan Musisi

Oleh:
Ga banyak yang bisa gua lakuin di sini….. Semua terasa ga berguna bagi gua, hmm apalagi gua, terasa sangat ga berguna buat semua. Hidup gua terasa sangat hampa, “monoton”

Wanita Kertas

Oleh:
Sebuah catatan kecil seorang wanita yang memiliki sifat seperti kertas, lembut dan penuh lekukan. sebuah cerita seorang wanita yang hidup sendiri tanpa ada 1 cinta pun yang ia punya

Jalan Hidup Si Bungsu

Oleh:
Dalam mencari jodoh, orang tua bukan berarti memaksa anaknya untuk cepat-cepat dinikahi hanya karena ingin menggendong seorang cucu, akan tetapi orang tua punya keinginan untuk melihat anaknya dalam kehidupan

Tiga Pohon di Padang Rumput

Oleh:
Orang-orang desa suka mencari rumput gajah untuk makan ternak di padang rumput sebelah sana, di pinggir perkampungan. Padang rumput yang luas, luas sekali… mereka tidak berani ambil rumput jauh-jauh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *