Kami Terpinggir, Kami Tersingkir

Judul Cerpen Kami Terpinggir, Kami Tersingkir
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 25 May 2016

“Memang zaman sudah edan, siang begini terasa panas nanti sore malah hujan.”
“Lalu ini salah siapa? sudah takdir Tuhan toh.”
“Bukan takdir ini nasib, mungkin teguran dari Pencipta karena ulah orang-orang tak bertanggung jawab.”
“Kita berteduh sejenak di bawah pohon itu.”
Dua orang pejalan kaki yang masing-masing membawa tas besar di pundak mereka mengistirahatkan diri di bawah pohon besar yang pucuknya tinggi menjulang.
“Panas begini karena pohon sudah banyak ditebang untuk komersial. Ya itu ulah pengusaha real estate yang kerasukan membangun tapi tidak pernah memerhatikan akibatnya.”
“Kita bisa apa?”

Kemudian setelah mendapat udara sejuk sebentar mereka kembali mencari peruntungan di atas bumi dengan udara terik yang panas. Sebuah pohon memiliki banyak manfaat kendatipun demikian siapa yang peduli? Hanya segelintir insan yang akan mengerti. Sebuah pohon di dekat perkampungan Ibukota menjadi bingung dengan tanggapan khalayak. Jika dia bisa berpendapat bisakah kita mendengar suara jeritan itu? Aku hanya bisa mendengar pujian, ejekan, cacian dari semua tapi tak dapat mengutarakan opini terbaik. Aku hanya sebuah pohon yang terabaikan, pohon yang semakin hari semakin condong ke depan. Akar ini sudah hampir tak kuat menahan pohon tua sepertiku ini. Argumen dua pedagang yang berteduh sejenak tadi mengisyaratkan bahwa akulah sang idola mereka yang bukan hanya memberikan sedikit udara segar sebagai penyemangat melainkan menjadi paru-paru dunia.

Kembali ke diriku, aku ditanam dengan sejuta harapan dan doa. Tumbuh tanpa pengawasan dan banyak kendala. Setelah kami ditanam dengan harapan akan memberi solusi untuk kedepannya. Dengan cara menjadikannya sebuah berita dan disebar ke seluruh pelosok negeri bahwa para wakilnya telah berbuat untuk negeri ini. Namun apa dikata, kami dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Tak pernah disiram, diberi pupuk, apalagi diperhatikan. Kami tumbuh dengan usaha sendiri, mencari kehidupan. Meskipun banyak kendala, kami akhirnya bisa tumbuh menjulang seperti ingin menggapai langit biru.

Esoknya di saat banyak orang lalu lalang di pinggiran jalanan aku melihat seseorang membawa gerobak lusuh ke arahku. Seperti biasanya laki-laki bertubuh kurus itu berhenti mendorong gerobaknya di sampingku dan segera merapikan isi gerobaknya, terakhir ia meletakkan papan bertuliskan tambal ban. Memang efektif menjajakan jasa tambal ban di pinggir jalan yang ramai seperti ini. Ku rasa dia juga tak akan kepanasan.

“Hey..”

Suara teriakan laki-laki paruh baya yang sedari tadi ku dengar sedang bersenandung ria melengking hebat. Aku terperangah melihat insiden yang terjadi tepat di hadapanku. Penjual jasa tambal ban ini berteriak pada pemilik mobil sedan yang baru saja melempar botol air mineral di bawah tubuhku. “Ini bukan tempat sampah, di depan sana ada tempat sampah Pak jangan buang sembarangan!” tukasnya dengan nada tegas. Sementara si bapak pengendara mobil sedan acuh tak acuh atas perkara ini. Dia menancap gas dan pergi meninggalkan penjual jasa tambal ban dan sampah miliknya.

“Pak Aji..” teriak orang di seberang jalan dan segera menghampiri penjual jasa tambal ban.
“Oh, Pak Afif ada apa?” sembari tangannya memegang botol air mineral.
“Kenapa sama Bapak yang tadi? kenapa bapak marah-marah?”
“Ya, dia buang sampah di bawah pohon. Saya tidak suka orang yang buang sampah di dekat pohon padahal kan tempat sampah ada di depan sana.”
“Aduh Pak, seantero ibukota juga tahu pengendara memang suka begitu, tidak usah terlalu dipikir.”

Apa yang telah dipikir lelaki di seberang jalan tadi sangat ironis. Kebiasaan buruk bukan hal baru dan juga bukan hal yang perlu diperbaiki. Walaupun mayoritas orang tak peduli terhadap lingkungan mereka masih ada orang-orang yang berjiwa patriot dan bertindak heroik demi menyelamatkan bumi ini. Terkenang suasana dua puluh tahun silam. Embun pagi masih setia menemani hingga pukul setengah tujuh pagi. Jalanan banyak didominasi pejalan kaki yang taat aturan dan perjalanan menjadi sangat bernada dengan banyaknya corak kembang di setiap jengkalnya. Puspita-puspita itu terawat dengan baik dan dirawat dengan penuh cinta. Pohon-pohon yang rindang dan hijau melengkapi semuanya. Semua rasa itu terasa seperti kembali muncul.

Kemudian dalam beberapa hari ini banyak pengendara motor ataupun mobil melempariku dengan sampah mereka, jalanan ini memang sering dijadikan sebagai jalur mudik ke beberapa daerah. Aku sudah merasa biasa dengan kelakuan itu karena pagi-pagi sekali petugas kebersihan pasti datang dan membersihkan sampah itu. Tapi penjual jasa tambal ban tak mau menunggu hingga esok. Pohon bukan tempat sampah, itulah kritik pedas terhadap para pelanggar aturan. Dan tanggapan mereka bermacam-macam.

“Norak,”
“Sok punya moral tinggi,”
“Petugas pasti bersihkan sampahnya Pak, enggak usah sok mau membantu.”
Tanggapan itu membuat penjual jasa tambal ban yang biasa dipanggil Pak Aji merasa resah dan gelisah. Meskipun itu tugas dari petugas kebersihan tapi itu juga tugas yang seharusnya dipikul bersama.

Mentari semakin meninggi terdengar suara riuh rendah dari kejauhan. Dipikir mungkin tawuran anak sekolah namun justru belasan laki-laki berseragam hijau lengkap dengan sepatu hitam mengkilap. “Ada Satpol PP,” Asumsiku hari ini ada razia PKL di sekitar jalan ini. Dan benar saja banyak yang terjaring razia, semua barang dagangan diangkut ke mobil petugas. Tak terkecuali Pak Aji, dia tidak sempat kabur. Dengan pasrah dia mengikuti arahan petugas Satpol PP. Dan sekarang tak ada lagi lelaki paruh baya memarahi pengendara yang melempariku dengan sampah mereka. Dan beberapa hari tumpukan ini lama kelamaan semakin menggunung. Ini bukan hanya mengganggu pemandangan tetapi juga membuat udara tercemar. Petugas kebersihan jarang datang kembali, ku dengar dari orang yang lalu lalang bahwa mereka mogok kerja dikarenakan upah yang tak sesuai. Hanya seminggu sekali beberapa orang petugas kebersihan datang untuk membersihkan sampah jalanan.

Senja kembali menyapa langit semakin menguning, burung-burung kembali ke sarangnya. Anak manusia menuju rumahnya. Jalanan terlihat padat merayap karena para pekerja mulai kembali ke rumahnya. Mobil pick-up hitam tampak menepi di dekat diriku dan beberapa laki-laki langsung menurunkan bawaan mereka. Lalu meletakkannya di tubuhku. Satu di antaranya memberi arahan agar tidak salah. Ketika sudah tepat, palu dan paku pun digunakan. Paku besar tertancap kokoh di tubuh pohon tua milikku, menyisakan beberapa getah lengket. “Kerja bagus, pasti kelihatan orang jika diletakkan di sini. Ayo segera beres-beres kita pulang.”

Dengan hanya satu perintah mereka semua bersiap untuk pergi setelah menyelesaikan kemauan mereka. Aku memandangi kepergian orang-orang itu. Aku adalah pohon sekalipun besar dan kuat apalagi letakku yang strategis itu bukan berarti tubuhku ini harus menjadi tempat spanduk para calon wakil rakyat. Bahkan mungkin banyak pohon lain yang mengalami hal yang sama. Kalian harus mendengar suara kami, kami harus dijaga bukan dimusnahkan secara perlahan. Seminggu sebelum pemilihan, spanduk itu dibersihkan dari tempatnya termasuk dari diriku. Krak …

“Awas!!”

Semua menyingkir berlarian untuk menghindar. Salah satu dahanku patah dan terjatuh ketika Satpol PP membersihkan spanduk para calon wakil rakyat, Satpol PP segera membersihkan dahan-dahan itu dan pergi. Aku sadar aku sudah semakin tua, itu wajar karena sudah ratusan kali pemilihan wakil rakyat seperti ini. Tak ada yang perlu diharapkan. Aku adalah pohon bermasa depan suram. Gerimis di sore hari membuat orang-orang berlarian menyelamatkan diri tak terkecuali dua orang pemuda yang mendorong motornya ke arahku.

“Aduh, motor sudah mogok ditambah hujan lagi,” keluh salah satunya.
“Pak Aji ke mana ya? Biasanya kan nambal di sini?”
“Dia pulang kampung setelah digusur Satpol PP, tapi ada yang aneh sama Pak Aji, Fred,”
“Aneh kenapa?”
“Dia mendedikasikan hidupnya untuk menanam pohon dan membersihkan lingkungan,”
“Bukannya hebat Ronal?”
“Iya. Gue dengar juga itu karena sebelumnya ada longsor di daerah rumah Pak Aji dan rumahnya tertimbun longsor. Jadi mungkin itu adalah salah satu alasan.”
“Terus kita nambal ban di mana nih?”
“Di ujung sana, dorong lagi yuk.”

Di tengah derai hujan dua pemuda tadi mendorong motor mereka. Dan karena mereka aku tahu mengapa Pak Aji tak pernah datang kembali. Dia fokus untuk berkontribusi menyelamatkan lingkungan di daerahnya.

Hujan deras menyambut datangnya bulan Desember. Air menggenang di mana-mana dan karena hal itu banyak daunku yang berguguran. Hari ini awan hitam dan udara dingin terjadi seharian, hanya sedikit orang yang ke luar rumah itu terlihat dari sedikitnya pengendara yang lewat di hadapanku. Malam yang begitu kelam, bukan hanya hujan yang menemani tapi keluarga guntur pun ikut berpartisipasi. Malam yang begitu dingin dan aku merasa tak kuat dengan hal ini, aku akhirnya menyerah pada alam ini. Tubuhku roboh dengan sendirinya, dan hal ini telah terjadi pada pepohonan lainnya sebelum aku. Tak ada kicauan burung menyambut pagi ini hanya beberapa kicauan dari orang-orang yang menatapku aneh.

“Duh.. pohon ini mengganggu jalan, mana sih petugas? dibersihkan seharusnya,”
“Pohon sudah tua seharusnya ditebang jangan membuat susah orang,”
“Pohon tumbang lagi.”

Dan bahkan di akhir hidupku ini, aku masih menyisakan ejekan dan cacian. Namun, setidaknya aku telah memberikan banyak manfaat untuk semua.

Cerpen Karangan: Nurhidayah Tanjung
Facebook: Nurhidayah Tanjung

Cerita Kami Terpinggir, Kami Tersingkir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perempuan Misterius

Oleh:
Pagi yang cerah ini kusambut dengan senyum yang cerah juga. Tentu! Rencananya pagi ini aku pergi ke coffe shop, tempat yang paling menyenangkan bagiku. Coffe shop adalah rumah keduaku.

Mutiara Hitam

Oleh:
“tidak nduk. Bapak tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi ke kota”, ujar lelaki setengah tua itu sambil menegguk kopinya. Pak Mardi namanya. “tapi Pak, Sekar ingin sekali memperbaiki perekonomian

Islamphobia dan Toleransi Beragama

Oleh:
Setiap umat muslim pasti mengetahui bahwa agama Islam mengajarkan kebaikan. Kebaikan tidak hanya di haruskan dalam interaksi sesama muslim bahkan lebih dari itu. Umat muslim harus menghargai non muslim

100 Meter

Oleh:
10 Km Matahari pagi itu begitu terik, membakar kulit yang notabenenya belum di mandikan. Pagi itu suasana lumayan ramai di depan rumah Ummi, begitu kami menyebut ibu angkat kami

Harapan Dari Sepasang Figura

Oleh:
Pagi yang tenang di daerah pedesaan yang masih terbilang kumuh, hembusan angin pagi terasa begitu sejuk dan syahdu melambaikan setiap pepohonan yang berjejer rapi di jalan yang penuh krikil,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *