Kami yang Kini Hidup Tanpa Cahaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 3 December 2021

Semenjak fajar dibunuh oleh kegelapan malam dalam sebuah tragedi suram, kami hidup tanpa mengenal cahaya. Hanya kelam muram tersisa, tiada lagi suka bahagia. Orang-orang tiada lagi boleh tertawa.

Hari-hari gelap datang, kami hanya dapat menyimpan pelita dalam dada. Tanpa boleh mengumbarnya. Atau pelita itu akan dihancur-leburkan begitu saja. Dan hilanglah satu per satu pelita karena diburu oleh mereka. Mereka, mereka! Mereka pemuja malam.

Mereka orang-orang berjubah hitam. Wajah-wajah mereka hitam seakan tak ada apapun di sana. Tak ada mata, hidung atau mulut. Hanya gelap dan muram, kami tiada dapat memandang wajah mereka.

Mereka kekalkan gelap malam dalam dunia kami. Tiada boleh setitik cahaya pun datang. Mereka akan menghancurkannya tanpa kami merasa, tanpa kami tahu bahwa kami ternyata membuka mata tanpa bimbingan cahaya. Mereka senandungkan lagu-lagu cinta. Membuai telinga kami semua, lalu kami akan terperdaya dan terlelap dalam pelukan malam.

Semua usaha mengobarkan pelita tiada berguna. Semua orang yang berusaha menentang kegelapan malam hanya akan jadi abu semata. Satu per satu orang-orang lelap dipeluk malam. Dan hanya sedikit dari kami yang berusaha menyimpan pelita dalam dada.

Biarpun bintang silih berganti mengerjap di langit kelam akan dibunuh oleh mereka. Tiada setitik bintang pun boleh menari, mereka akan datang memburunya, ke segenap jengkal langit, menelanjangi cahayanya dan menyisakan ia sebagai batu tak bercahaya lagi. Setiap ada yang mencoba menunjuk sebuah titik cahaya dan berucap,

“Lihatlah ada sinar terang di sana!”

Maka detik itu pula mereka para pemuja kelamnya malam datang dan mengejar sinar itu. Bagaimanapun caranya, sebuah cahaya harus lenyap. Orang-orang harus terus hidup dalam gelap.

Biarpun fajar-fajar lain silih berganti mencoba datang, mereka penyembah kelamnya malam sigap memburunya, memastikan tiada satupun cahaya tersisa. Mereka bilang cahaya akan membutakan mata kita. Mereka bilang tak ada satu pelita pun boleh membara. Kegelapan adalah kawan setia. Kegelapan malam yang kekal adalah Tuhan mereka.

Cipayung, 2021

Cerpen Karangan: Mas.ubi
Facebook: Facebook.com/ayyubi.kun
Seorang mahasiswa tingkat akhir.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 3 Desember 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kami yang Kini Hidup Tanpa Cahaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Hujan

Oleh:
Matanya menyipit memandang terik matahari, kaki kecilnya berjalan lincah, hatinya bergeming penuh harap. Ketika sampai di rumah reot mirip gubuk matanya melebar mencari-cari sesuatu. Dia berjalan dan mengambil sesuatu

Wild Zone

Oleh:
Sebuah kecelakaan pesawat terjadi pada 4 bulan lalu, pesawat udara berpenumpang 42 orang terjatuh di sebuah pulau kecil yang sangat terpencil, pesawat jatuh setelah mengalami kerusakan pada mesin di

Ke Tidak Abadian

Oleh:
“Ayah tolong, ikutlah dengan diriku dan hidup selamanya” “Anakku, diriku sudah hidup cukup lama. Aku mensyukuri 200 tahun hidupku ini” “Tapi mengapa ayah harus pergi?” “Karena kematian memang tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *