Kara Bagian 1 Sore itu di Tepi Hutan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 July 2015

Seekor jalak terbang dan hinggap di antara kerumunan kawanannya. Ia mengangkat kepalanya awas, mencari-cari tanda bahaya yang mungkin mengintai di sekelilingnya. Jalak itu mengawasi padang rumput, kubangan dan dataran serta belukar dengan teliti. Tapi tidak ada apa-apa yang mencuri perhatiannya. Semilir dingin angin musim nemor yang kontras dengan hangatnya sinar matahari sore itu sungguh melenakan. Pada akhirnya burung itu mengendorkan urat syarafnya, dan tenggelam dalam ritual bersama kawannya, mematuki batu hitam tempatnya mendarat.

Kawanan jalak itu tidak menyadari bahwa di balik ilalang tinggi, sepasang mata mengawasi dengan jeli. Seorang bocah lelaki merayap sunyi di atas beceknya tanah, merambat dari balik belukar ke belukar. Di punggungnya ia membawa setengah lusin bangkai hewan buruannya: tupai, berbagai jenis burung hutan dan seekor ayam hutan gemuk. Kesemuanya diikat dengan tali daun tal. Bocah itu merayap melawan arah angin. Tubuhnya penuh coreng moreng arang dan lumpur, menjadikannya sulit dilihat jika dilirik dari sudut mata, sekaligus membuat bau tubuhnya tersamar. Setelah berjarak sepuluh depa, ia membuka lilitan bandring pengumban yang ia belitkan di pergelangan tangan.

Salah satu ujung tali umban yang bersimpul ia selipkan ke jari manis tangan kanannya, sementara ujung satunya yang tidak bersimpul ia jepit dengan ibu jari dan telunjuk kanannya. Sesenyap mungkin bocah itu merogoh buntalan yang ia ikatkan pada bengkung di pinggangnya. Ia mengambil sebutir kerakal kali bundar sebesar buah sawo kecik. Diletakkannya kerakal itu ke dalam kantung kulit umban. Perlahan bocah itu berdiri, dengan pandangan tajam membidik jalak terdekat yang bertengger di puncak batu. Ia mengayunkan umbannya dengan tangan kanan, mengangkat tangan kirinya lurus ke depan untuk membantu membidik sasaran. Sekuat tenaga bocah itu melontarkan proyektil, melepaskan jepitan ujung umban di telunjuk dan jempolnya. Namun…

“aw!” seru bocah itu. “buk!” tembakannya meleset, mengenai batu di bawah jalak tersebut. Kawanan jalak langsung bubar, terbang berhamburan. Rupanya ada seekor lipan yang menggigit betis si bocah. Langsung saja si bocah mengusap betisnya yang nyeri, walau belum bengkak.

“aduh, sial. Padahal sekilan lagi pasti kena burung itu!” pikirnya.

Kemudian ia menyadari sesuatu, suara batu menghantam batu seharusnya bukan ‘buk!’.

Benar saja, ketika si bocah berdiri, ia sudah berhadapan dengan kerbau jantan hitam besar yang naik pitam karena ditimpuk batu selagi enak-enakan tidur.

“yaelah eyaaang!” seru si bocah gemetar.

“nguuuuhh!!” kerbau itu melenguh, menundukkan kepalannya dan mengais tanah penuh emosi.

Bocah itu pelan-pelan menyurut mundur ke belakang. Satu, dua… Empat langkah ia mundur, lalu ia berbalik, berlari sekencang yang ia bisa.

“aaaaaaaaa toloooong!!!”

Kerbau tersebut, yang sudah kepalang tanggung, rupanya memegang teguh prinsip ‘kalau basah, nyebur aja sekalian’. Maka kerbau itu juga berderap mengejar si bocah, berniat menyundul sedikit saja bocah bengal itu supaya kapok.

Si bocah berlari ke dalam hutan, segera ia melompat dan meraih cabang pohon yang melintang di atas kepalanya. Ia mengangkat tubuhnya ke atas cabang itu dengan sedikit mengayun. Lalu si bocah memanjat pohon itu, dahan demi dahan, semakin lama semakin tinggi, sampai kira-kira ia berada pada ketinggian sekitar dua tombak dari tanah. Duduklah bocah itu di atas dahan pohon, sementara sang kerbau hanya bisa melongo.

Sang kerbau tidak mau pulang begitu saja, ia mundur beberapa langkah dari pohon, lalu sekencang yang ia bisa, kerbau itu menyeruduk batang pohon tersebut. Saking keras goncangannya, si bocah sampai limbung di atas dahan, beruntung ia sempat berpegangan pada liana merambat yang tumbuh melilit batang pohon itu. Saking kerasnya pula tubrukan itu, kerbau menjadi limbung, pusing kepalanya. Sang kerbau mendadak amnesia, lupa apa tujuannya masuk hutan. Yang dia ingat hanyalah menyeruduk pohon besar bukan merupakan ide seekor kerbau jenius. Ia menyerah, lagipula matahari juga sudah mulai terbenam. Kerbau itu tidak mau berkeliaran di hutan malam-malam. Ia takut diterkam macan. Maka dengan menggerutu sekaligus pening, si kerbau kembali ke kawanannya. Tidur di padang terbuka, diterangi gugusan bima sakti.

Si bocah bergegas kembali ke pondok kakeknya. Ternyata, kakeknya sudah menunggu sedari tadi di atas lencak di depan pondoknya.

“dari mana saja kamu kara?”

Cerpen Karangan: Arpio
Facebook: https://www.facebook.com/rahadianpanjioki
Seorang pecinta sejarah, peminat arkeologi eksperimental

Cerpen Kara Bagian 1 Sore itu di Tepi Hutan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keris

Oleh:
Keris itu telah menjadi obyek sengketa dan pemicu perselisihan dalam keluarga kami, tiga bersaudara ahli waris Joyo Wijoyo. Menurut Mas Bardi, keris itu adalah pusaka turun temurun, karena itu

Penghujung Senja

Oleh:
Adam berjalan menelusuri rel kereta api, sebuah ransel besar menggantung pada bahu kanannya. sesekali ia berhenti, memeriksa keadaan rel yang membentang pada sisi kiri dan kanannya. melihat pada baut-baut

Hunting My Sister

Oleh:
Sebuah cahaya muncul dari balik sebuah pohon besar yang mereka temukan. Para pemburu itu sesegera mungkin menghampiri pohon besar itu. Salah seorang pemburu yang bernama Hidra menyentuh cahaya itu

Clouds

Oleh:
Hari ini terlihat hujan yang sangat deras. Jalananpun basah olehnya dan daun daun pun juga basah. Hari ini cuaca memang sangat tidak mendukung, meski begitu aku tetap berniat mengunjungi

Ada Batas Yang Membuat Kita Mengerti

Oleh:
Ia masih memegang sapu, ketika ada seorang pria terengah-engah bersembunyi di balik pagar tinggi rumahnya. Dari jauh terdengar teriakan maling… maling… terdengar kian mendekat. “Tolong saya, mas” kata orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *