Karena Dunia Terlalu Angkuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 June 2017

Aku berjalan di sela-sela lorong. Tumpukan-tumpukan pasir di tepi jalan. Debu mencengkram pernapasan. Sesekali kuusap peluhku yang berjatuhan. Besarnya seperti biji jagung. Tentu saja peluh seorang pekerja. Matahari tepat di atas ubun-ubun. Haus menggerogoti tenggorokan. Baju kotor dan bau menyengat. Aku telah terbiasa untuk hal yang seperti ini.

Kulirik anak kecil di ujung lorong sana. Bajunya robek di bagian belakang. Ia berusaha mengangkat tumpukan pasir di kepala mungilnya. Ah kasian sekali, pikirku. Umurnya baru enam tahun mungkin. Lebih muda dariku yang berumur tiga belas tahun. Kemana orangtuanya? Apa nasibnya sama sepertiku? Ditinggalkan?

Brummm.. mobil pengangkut pasir datang. Membawa pasir yang baru ditambang dari atas gunung Meratus. Debu pekat bertebaran. Pabrik pasir ini, entah sebuah tempat bermain yang telalu dewasa untukku atau aku yang terlalu kecil untuk berada di sini. Semua ini untuk membungkam gemuruh perutku. Sialnya, perut ini selalu meronta. Padahal uangnya tak seberapa jika dibandingkan dengan makan 3 kali sehari.

“Noni, ini upahmu selama tiga hari.” Ucap wanita berbadan gemuk itu sambil menghitung uang-uang kucel di tangannya. Hanya uang ribuan. Ia memberikan uang itu padaku, aku menghitungnya. Hanya delapan ribu rupiah?
“Maaf, bu. Kenapa hanya delapan ribu?” suaraku terdengar gemetar. Wanita itu berdiri seraya melotot padaku. Bibir dengan lipstik tebal dan baju ketat memperlihatkan lemak-lemaknya itu terkesan sangat aneh. Dia adalah istri dari pemilik pabrik pasir ini.
“Syukur kau aku gaji, kalau tidak apa yang akan kau makan heh. Pasir?” teriaknya. “Sudah sana jauhkan wajahmu itu, muak aku melihatnya.”

Aku mundur perlahan meninggalkan antrian, kulihat wajah anak-anak lainnya sama sepertiku. Mereka kecewa. Ya, bagaimana tidak kecewa. Tenaga telah dikerahkan semaksimal mungkin selama tiga hari ini mengangkat pasir di kepala yang beratnya mungkin tak dapat kau bayangkan untuk anak sekecil kami. Dan hanya mendapat delapan ribu rupiah.
Menjadi kuli pasir atau budak lebih tepatnya. Entahlah, jangan bertanya di mana masa kecil kami. Masa kecil yang kami inginkan, sekolah atau sekadar melihat wajah orangtua kami. Haha, hanya menjadi khayalan kami disela-sela bekerja. Bahkan kami tidak mempunyai waktu untuk mengeluh. Kulit yang hitam pekat, peluh, pegal ini atau tangan yang kasar menjadi bukti kami mencintai mereka, semoga mereka selalu dalam lindungan Tuhan. Semoga mereka melihat putri kecil mereka telah tumbuh setegar ini.
Ayah, ibu. Apakah kalian bangga melihat putri kecil kalian ini yang sekarang telah menjadi kuli pasir?

Seluruh pekerja menggerumbunginya, entah siapakah orang itu. aku berlari menghampir. Tepat di sebelah tumpukan pasir kedua. Kulihat seorang anak lelaki terbaring lemas sambil sesegukan. Wajahnya hitam karena debu, air mata memberi bekas vertikal di pipinya, ah aku mengenalnya. Bukankah ini adalah anak kecil yang kulihat kemarin? Anak kecil yang memanggul setumpuk pasir dengan susah payah di kepala kecilnya. Ya Tuhan. Ada apa dengannya?

Kudekati ia perlahan, mata sayu itu menatapku. Bengkak dan kosong. Kantung matanya besar dan hitam. Badannya yang kurus kerontang. Kasihan sekali sungguh. Ia menangis, tangannya meremas perut. Kurasa ia kelaparan. Bibirnya membiru. Sesegukannya semakin jelas.

Aku menggenggam tangannya, tangannya sedingin es. Ia mencengkram tanganku dengan kuat. Tak berapa lama matanya tak lagi berkedip, ia perlahan berhenti sesegukan. perlahan pula genggaman tangannya melemah. Entah kenapa aku merasakan air hangat mengalir di pipiku, tak henti-hentinya. Aku tidak kuat lagi, aku memeluknya. Adik kecil yang malang.

“Dia mati! Dia mati!”
Tiba-tiba ada yang menarikku dengan kencang dari belakang. Aku terlempar ke tumpukan pasir. Para pekerja yang lebih tua menggotong tubuh adik kecil yang malang itu. tubuhnya mulai kaku. Matanya masih terbuka, di sudut matanya masih tersimpan bulir air yang tak jatuh. Dia akan dibawa ke mana?

“Uang gajinya kemarin dirampas para pekerja tua.”
“Kurasa ia tidak makan bersama neneknya yang renta di rumah.”
“Bagaimana nasib neneknya nanti?”
“Kudengar tadi, mayatnya akan dibuang ke hutan. Kalau sampai pemerintah tahu, pabrik ini akan ditutup segera.”
Desas-desus dari mulut-mulut kecil anak pekerja lainnya. Tambah menusuk jantungku, rasanya. Ada gejolak dalam dadaku. Sesak, penuh jejal. Napasku memburu. Tidakkah ada rasa manusiawinya? Bedebah! Jangan tanyakan keadilan. karena dunia ini terlalu sombong untuk peduli. Terlalu angkuh untuk berbuat adil.

Cerpen Karangan: Rhema Yuniar
Blog / Facebook: rhemyun.blogspot.co.id / facebook.com/rhemayuniar
Twitter: @rhema_yuniar, Instagram: rhemayuniar_ Line id: rhemayuniar_
Tulisan saya ini jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran saya terima dengan tangan terbuka. Terima kasih sudah membaca. 🙂

Cerpen Karena Dunia Terlalu Angkuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1966

Oleh:
IBU: Ibu masih bayi saat itu, paling cuma bisa menangis. Kata kakekmu, saat itu, ibu dibawa oleh kakek dan nenekmu mengungsi ke kebun kami yang ada di timur desa.

Jangan Pergi Lagi

Oleh:
Namaku Eliza Humairah. Biasa dipanggil Liza. Aku terlahir dari keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Aku punya seorang adik laki-laki yang keren yang bernama Ryan dan seorang adik

Cinta Winda

Oleh:
Kos winda masih tampak sepi.Gerbang pintunya masih terkunci rapat dan tampak orang-orang berlalu lalang lewat depan kos.Selang beberapa menit kemudian ada seorang perempuan yang membuka pintu kos dari dalam

Derita Andi Si Pengamen Cilik

Oleh:
“Bintang kecil di langit yang biru…” nyanyian Andi yang serak karena kerongkongannya belum dilewati air sejak pagi. Dari jendela-jendela mobil, Andi mengais rezeki hanya untuk membeli sebungkus nasi. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *