Karena Loncat Tali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Hari ini aku duduk termenung di teras rumahku, aku memikirkan nasibku yang hingga sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Saat ku termenung sendiri, kulihat tiga anak kecil berlari hilir mudik tepat di depanku. Aku tersenyum melihat tingkah laku mereka, membuatku rindu dengan masa kecilku yang tidak bisa aku rasakan lagi. Sewaktu kecil aku sangatlah nakal, aku pernah pulang ke rumah dengan tubuh yang kotor, berguling-guling di atas rumput, memanjat pohon, berkejaran kian kemari, sungguh menggelitikku untuk tersenyum kecil saat teringat kembali masa itu.

Aku pun terhanyut oleh lamunanku, tiba-tiba salah satu anak kecil yang sedang bermain itu mengampiriku. “Kak, mau bermain tidak dengan kita?” Permintaan anak itu kepadaku. Dengan sedikit ragu akhirnya aku menjawab “hmmm… boleh dik.” lalu tanganku ditarik olehnya. Dan ternyata aku diminta untuk memegang tali yang sudah mereka ikat sebelumnya ke sebuah tiang yang berada di dekat mereka. Aku tertawa geli karena mereka sangatlah cerdik, mereka mengajakku bermain hanya untuk memegang tali yang akan mereka mainkan bersama. “hahaha… jadi, adik-adik meminta kakak memegang tali ini saja?” Ujarku kepada mereka, dengan suara yang cukup lantang salah satu anak tersebut menjawab “tidak kak, kakak pegang talinya dulu ya, nanti baru digantikan dengan yang lain jika ada yang tidak bisa meloncati talinya”. Aku pun terdiam dan seakan terbawa oleh omongan mereka.

Permainanpun dimulai, aku yang sedang duduk memegang tali melihat mereka yang asyik meloncati tali. Anak pertama bermain dengan hebatnya, anak ke dua pun juga demikian, lalu anak ketiga bernasip malang, ia tidak bisa meloncati tali tersebut karena tinggi badannya yang lumayan rendah. Saya pun bersorak dengan suara lumayan keras“ yaaa… adik kalah!, sekarang giliran kakak ya” ucapku senang. Akhirnya anak itu menggantikan posisiku memegang talinya. Saat ini tibalah giliranku, aku yang sudah tidak pernah bermain tali akhirnya kucoba untuk meloncatinya.

Sewaktu kecil aku sangat jago bermain loncat tali dengan teman-temanku, tetapi sekarang ini rasanya aku kesulitan meloncat, karena usiaku yang sudah dewasa, apalagi aku memiliki tubuh yang cukup berisi. Tetapi aku tetap percaya diri, semoga saja aku masih bisa bermain dengan baik seperti waktu saat kecilku. Aku pun mulai meloncati tali, dan tiba-tiba sesuatu terjadi padaku, aku terjatuh dan tanganku terluka serta mengelaurkan darah yang cukup banyak. “kakak….” teriak ketiga anak yang melihatku terjatuh, “kakak tidak apa-apa kan?, mari kita bawa ke puskesmas terdekat”, kata salah satu anak kepada yang lainnya. Sakit yang aku rasakan lumayan perih, tetapi karena di antara mereka akulah yang paling besar makanya aku tidak ingin mempertihatkan kelemahanku. “tidak apa-apa dik tenang saja, cuma luka sedikit” kataku kepada adik-adik itu sambil menatap ke arah mereka.

Tidak kusangka ketiga adik itu penuh perhatian kepadaku, mereka yang melihatku terjatuh bersedia menghentikan permainannya untuk memapah lalu mengantarku duduk di ruang tamu. Aku yang tidak memiliki adik tersenyum saat kulihat perlakuan mereka terhadapku. Di rumah aku tinggal seorang diri, Ibu dan bapakku sedang ada urusan ke rumah saudaranya. Saat ku telah terbaring di sofa yang berada di ruang tamu, tiba-tiba salah satu adik itu bertanya kepadaku “kak, toilet kakak di mana? Aku terdiam lalu menatap adik itu, dengan suara yang terbata-bata aku menajawab “hm… Di sana dik, sambil kutunjuk kamar mandi yang berada di belakang kamarku. Ternyata tak kusangka adik tersebut mengambil air untuk membersihkan lukaku, tanganku dibersihkan oleh adik itu, “kak, di rumah kakak ada kotak P3K tidak? aku pun kembali terdiam dengan pertanyaan adik yang berikutnya. “hm… ada dik, ada di laci lemari itu, sambil kutunjuk lemari yang berada di sebelah pintu kamarku. Adik pun berjalan ke arah lemari itu, ternyata ia mengambil obat merah dan sebuah perban untuk membalut lukaku.

Sekarang hanya tinggal satu orang adik yang belum bertanya kepadaku, dan disaat kutatap adik itu, lagi-lagi aku diberikan sebuah pertanyaan, ia mendekatiku lalu berkata “kak, kakak ada persediaan obat tidak di rumah? Tanya adik kepadaku. Dengan suara yang agak becanda aku menjawab “kakak tahu kamu ingin memberikan kakak obat untuk diminum kan? Tidak usah repot-repot lagi untuk mengurus kakak. Kakak salut dengan kalian semua adik-adik yang baik, diumur kalian yang masih dini ini, kalian tahu betul apa yang dibutuhkan oleh orang yang sedang terluka. Kakak jadi terharu melihat kalian yang senantiasa mengobati kakak.” Tuturku kepada adik-adik itu, “hehehe… iya kakak, kami kan di sekolah diajari sama guru kami, jika ada orang yang sedang terluka dan membutuhkan pertolongan kita harus membantunya” jawab adik-adik itu serempak.

Aku terkejut oleh kata-kata mereka, aku seakan tidak percaya dengan apa yang sedang aku dengar dari mulut adik-adik kecil itu. Aku tegakkan kepalaku, dan kugerakkan tubuhku yang sudah berangsur membaik, aku dekatkan adik-adik tersebut dan kupeluk ketiganya sambil mengucapkan terimakasihku kepada mereka semua. “terimakasih ya adik-adik kalian sungguh baik, sudah mau membantu kakak”, sedari dulu kakak ingin sekali memiliki adik, apa kalian bersedia menjadi adikku?” Tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu dengan serempak lagi, adik-adik itu menjawab dengan riang gembira “ya kakak.. kami juga ingin menjadi adik kakak”. Akhirnya aku yang tidak memiliki adik saat itu juga memiliki tiga orang adik yang sangatlah baik.

Cerpen Karangan: Nike Resti

Cerpen Karena Loncat Tali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fiksi Hukum

Oleh:
Siang itu di fakultas hukum, Hukum sedang mendengarkan penjelasan dosen senior yang membawakan meteri Hukum Pidana. Sesekali Hukum mengerutkan keningnya pertanda ada hal-hal yang mengganggu pemahamannya. Suasana ruang hening

Bintang Fajarku

Oleh:
Zainab terjaga dari tidurnya akibat serbuan nyamuk-nyamuk nakal yang kelaparan. Padahal tubuhnya sudah kurus kering tetapi anehnya setiap malam nyamuk-nyamuk itu masih saja mengincar darahnya. Mungkin darah yang mengalir

Buku Harian Seorang Tapol

Oleh:
Namaku Parto Giman. Aku hanyalah seorang guru SD ndeso. Aku tinggal di kampung, di rumah warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Disini aku

Tentang Bara

Oleh:
Namaku Abi. Umurku 9 tahun. Aku masih duduk di kelas 3 SD. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumahku. Biasanya aku berangkat sekolah dengan teman-teman. Pulang sekolah juga begitu. Setelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *