Karma Sang Begal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 August 2021

Adalah Gempi dan Jaka sebentuk sosok begal terbegis di sebuah pelosok desa. Sudah berulangkali mereka melakukan tindakan hina itu, mana kala mereka seringkali lolos dari kejaran polisi. Jelas, dia bukan begal kelas karbitan. Walaupun polisi tidak bisa menangkap atau membuat mereka jera namun, Tuhan punya cara lain agar membuat mereka tersadar.

“Jek. Mana hasil begal kemarin?!”
Gempi mendudukan tubuhnya di kursi kayu di bawah pohon kina. Kedua begal itu duduk berdampingan.
“Nih bos.” Jaka menyerahkan hasil begal kemarin. Sebuah tas selempang handbag bermotif barik-barik, warnanya merah hati.

Sembari menjempit sebatang rokok kretek di bibirnya. Gempi mulai mengeluarkan satu persatu barang yang ada didalamnya.
Hp, dompet, cincin, kutang.
*kenapa harus kutang sih?*

Gempi menyerahkan hasil begalnya kepada Jaka. Nantiya barang-barang itu pindah tangan ke penadah. *kutang gak termasuk*
“Tapi … Bos gapapa?!” Jaka heran dan kagum dengan kondisi Gempi sampai sekarang Gempi masih diberi kesehatan. *persoalan*

Gempi terdiam seperti selonjor kayu. Ia melamun, pikirnnya terbelesit memasuki kilas balik waktu.
Setelah Gempi sukses jambret tas selempang itu, kendaran roda dua dalam kecepatan bak kilat yang mereka kendarai mengalami pecah ban. Jaka pun hilang kendali pada saat menghindari truk yang terisi pasir, hingga sampai motor itu menabrak pohon pisang di tepi jalan.

Namun, alangkah kagetnya saat Jaka melihat tubuh Gempi tergeletak di tengah jalan raya dan, GRAAAASS!! Perut Gempi dilindas truk bermuatan pasir, lalu apa yang terjadi kemudian?!
Gempi buru-buru lari ke arah Jaka yang sedang terperangah melihat Gempi masih dalam keadaan sehat.
Kaos putih Gempi ada bekas lindasan ban truk, di area perut ke bawah. Itu sangat membuktikan kalau Gempi memang benar-benar kelindas barusan.

“Elo tenang aja. Gue gapapa.” Lamunan Gempi pecah! Ia kembali ke alam nyata.
Jaka mengangguk ragu sebab, ia melihat kalau kesehatan Gempi kurang baik. Terutama siaratan kedua bola matanya meredup dan bibirnya pucat kesi.
“Mending bos pulang aja. Terus istirahat di rumah.” kata Jaka mulai cemas dengan kesehatan Gempi.

Dengan sudut pandang yang berbeda. Mendengar runtutan kalimat di atas, Hati Gempi serasa tersulut bara emosi, dalam pikiran Gempi. Ia dibanding-bandingkan layaknya anak kecil disuruh pulang karena hari sudah sore.

Gempi berdiri tegap membusungkan dada. Tatapannya yang menyimpan emosional mengurung gestur tubuh Jaka tengah diserang gigil lantaran takut.
Dengan tanaga yang tak lemah, tangan Gempi mencengkam kuat-kuat kerah baju Jaka.
“GUE BUKAN BOCAH YANG HARUS ELO PERHATIIN” Suara Gempi bak guntur bergema di langit. Kilatan cahaya pelir. Baca: Petir. Menyambar nyali Gempi hingga hangus terbakar!
“Maa … Maaf bos.” Suara Jaka terbata-bata.

Di detik berikutnya. Cengkeraman Gempi mulai mengendur. Bola matanya membulat kecang menunduk ke bawah, bibirnya mengangah bak orang tengah merasakan sakratul maut. Dia kelihatan mengerang hebat sambil mememang perutnya.

Kedua kakinya juga bergetar seperti ada sesuatu yang menjalar di kakinya sampai ke bagian area perut. Dan…
Sendi-sendi lututnya terasa lemas. Ia tidak tahan merasakan semua penyiksaan yang ia alami. Entah karma apa yang akan ia terima dari Tuhan. Hingga seketika tubuh Gempi tersungkur ke tanah.

Setelah 3 jam. Gempi pingsan.
Kejanggalan mulai dirasain Gempi semakin parah. Di hari yang sama, Jaka membawa Gempi ke Rumah Sakit.
Di dalam kamar rumah sakit. Jaka duduk tercenung sembari menunggu hasil ronsen. Sedangkan Gempi hanya bisa berbaring dan merintih hebat.

“Perut gue sakit banget Jek, gue udah gak kuat. Pengen buru-buru mati aja. Daripada tersiksa kayak gini.” Rintihan Gempi membatin sembari mencengkam perutnya kuat-kuat.
“Elo harus sabar, mungkin ini cobaan dari Tuhan.” kata Jaka mencoba menguatkan jiwa Gempi.

Selepas dari itu, dokter pun masuk kedalam ruangan. Menyerahkan hasil ronsennya. Setelah dironsen, hasilnya sangat mengejutkan. Organ dalam Gempi benar-benar makin rusak dan membusuk. Jelas Gempi dan Jaka shock banget.
Isi perut Gempi ternyata sudah hancur dan membusuk Ginjal Gempi rusak parah. Lambungnya pecah berantakan. Ususnya menghitam. Saluran kemihnya membelatung karena pembusukan itu. Benar-benar mengerikan.

“Kerusakannya terlalu parah. Sama seperti kasus luka di kaki pada penderita diabetes. Solusinya amputasi. Itu tak mungkin kita lakukan … Jika kerusakannya ada di area perut. Saya benar-benar tidak paham. Belum pernah saya menjumpai infeksi separah ini pada organ dalam.” Kata dokter.

Gempi masih bertahan, bertahan dalam kesakitan yang ga bisa dijelasin sama kata-kata. Dicabut nyawa bakal sejuta kali lebih baik daripada bertahan. Tapi Tuhan sepertinya ga mengizinkan.

2 hari kemudian.
Semua keluarganya berkumpul disitu. Tiap hari mereka memanjatkan doa buat Gempi. Bukan buat kesembuhannya, melainkan buat meminta izin-Nya supaya Gempi berpulang dengan tenang.

Beberapa jam kemudian, ketika doa-doa masih terpanjat buat Gempi, datanglah Ustad Pi’i yang udah cukup uzur. Dia didampingi Jaka. Orangtua itu mendekati Gempi.

“Gempi, Coba ingat-ingat lagi apa dosamu?” Tanyanya. Gempi menggelengkan kepalanya. Dia masih merintih hebat. Sedangkan Jaka terperanjat mendengar pertanyaan itu, pikirnya berkelana mengingat kejadian beberapa tahun silam.

“5 tahun lalu, saya mengantar Gempi. Memasangkan susuk di tubuhnya. Mungin ini yang membuatnya menderita seperti ini” Jaka menangis kerung.
“sekarang saya akan mencoba melepas susuknya. Mudah-mudahan ini akan mengakhiri penderitaan Gempi.” kata ustad Pi’i

Tidak ingin membuang waktu, orang tua itu mengambil posisi. Dia mengelus-elus perut Gempi perlahan. Mulutnya komat kamit, seperti membacakan mantera. Semua yang menyaksikan adegan itu terlihat tegang. Apa ini akan berhasil? Benarkah susuk itu penyebab penderitaan Gempi?

Orang tua itu terlihat seperti mencabut sesuatu dari perut dan lengan, 4 kali. Mungkin susuk yang dimaksud.
“Saya sudah mencabut semua susukmu. Kamu beristirahatlah dengan tenang.” Tutup orang tua itu. Dia mengelus dahi Gempi.

Ternyata benar. Tidak kurang dari 15 detik kemudian, Gempi pun meregang nyawa. Berkat orang tua itu, akhirnya Gempi menghebuskan napasnya yang terakhir. Penderitaan Gempi berakhir. Kepergiannya tentu aja disambut isak tangis keluarga. Mudah mudahan semua dosa-dosanya diampuni.

2 hari selepas kepergian Gempi.
Pemuda yang bernama Jaka, dia tersungkur, bersujud meminta ampun
kepada Tuhan.

Cerpen Karangan: Faisal fajri
IG: @xfaisalfajrix
Faisal fajri masih tetap 1% MANUSIA 99% UNTAIAN KATA

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 6 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Karma Sang Begal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salah

Oleh:
Apakah kalian percaya akan adanya Tuhan? Hahahaha…. lelucon macam apa itu? Tuhan? Aku tak percaya itu semua. Bukan tak percaya, tapi berhenti untuk percaya. Aku tak lagi menganggap Something

Banjir

Oleh:
Sore itu, kota Tuban terasa lebih sejuk. Bulan penghujan sudah mulai datang. Tanah persawahan sudah mulai lembab. Di tengah kesejukan sore itu, terdengar suara anak-anak yang sedang bermain sepak

Ada Yang Hilang

Oleh:
22 November 2006 Semuanya berakhir hari ini. Penantian buta itu terhempas begitu saja sore tadi, entah keberanian darimana yang membuatku mampu mengucap selamat tinggal dan semua yang kurasakan. Padahal

Sebungkus Nasi

Oleh:
Meski harus mandi keringat, bermain dengan debu, itu semua tak menyurutkan semangat Nino untuk menjajakkan dagangannya. Semua itu ia lakukan untuk makan keluarga, meski hasilnya tidak sebanding dengan usahanya

Luh Sari

Oleh:
BALI… Tak pernah terbayang olehku kalau aku akan kembali menginjakan kaki di Pulau ini. Tanah tempat aku dilahirkan 32 tahun yang lalu. Hari ini untuk pertama kalinya sejak 12

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *